Tiara mematikan panggilan video, senyumnya yang tadi cerah langsung memudar. Dia menatap layar ponsel yang kini kembali gelap. "Cemburu? Benarkah Abimana cemburu?" Tiara menggeleng, berjalan ke jendela, menatap lampu-lampu kota yang sudah menyala. "Cemburu sama Surya? Itu kan tangan kanannya sendiri. Mana mungkin!" "Tapi caranya bikin kesal. Kenapa harus seolah-olah gue pengkhianat? Kenapa nggak bilang aja, 'Aku nggak suka kamu tanya ke orang lain, itu bikin aku merasa nggak penting.' Sial!" Tiara melihat jam digital di nakas. Sudah pukul delapan malam. Abimana belum pulang, dan ponselnya hening, tanpa pesan sama sekali. Amarah Tiara kembali memuncak. "Pria nggak bertanggung jawab! Sudah tahu istrinya pulang marah-marah, bukannya kasih kabar!" Dia mulai mondar-mandir di karpet. "Jan

