Balapan

1106 Kata
Sore itu, langit menyala jingga, membingkai hiruk pikuk trek balapan dengan nuansa dramatis. Adelia berdiri di tepi lintasan, tangannya terlipat erat seolah menahan emosi yang bercampur aduk. Suara deru mesin yang memekakkan telinga menggema, bercampur dengan sorak-sorai penonton yang meluap-luap. Namun, di tengah riuhnya suasana, matanya justru terpaku pada kerumunan di garis start. Ada sesuatu yang menariknya, sesuatu yang tak mampu ia abaikan. Di sampingnya, Alya dan Sasha sibuk mengunyah jajanan, sesekali saling bercanda dengan ringan. Tapi Adelia tetap diam, hanya menatap ke depan tanpa ekspresi. "Lo gak penasaran kenapa gue bawa lo ke sini?" Alya akhirnya membuka percakapan, suaranya penuh teka-teki. Adelia hanya melirik sekilas. "Kalau mau ngomong, ngomong aja. Gue gak suka nebak-nebak." Alya tertawa kecil, tapi tak segera menjawab. Seakan sengaja mempermainkan rasa penasaran temannya. Pengumuman terdengar, menggema di udara. Balapan akan segera dimulai. Mata Adelia tanpa sadar mencari sosok-sosok di garis start, dan tiba-tiba jantungnya berhenti berdetak sejenak. Kenzie. "Dia ngapain di sini?" gumamnya pelan, hampir seperti bisikan, tapi cukup bagi Alya untuk mendengarnya. Alya menyeringai penuh arti. "Surprise! Dia ikutan balapan." Adelia mengerutkan kening, tak percaya. "Lo serius?" Sasha, yang sejak tadi diam, angkat bicara. "Dia cuma mau buktiin sesuatu." Adelia memandang Kenzie yang kini tengah mengenakan helm. Detak jantungnya kian tak karuan. Buktiin sesuatu? Untuk siapa? Kenapa? Balapan dimulai. Motor-motor melesat bagai kilat di atas lintasan, suara mesinnya menderu seperti singa kelaparan. Tapi mata Adelia hanya tertuju pada satu orang. Kenzie. Ia memacu motornya dengan percaya diri, seolah medan ini adalah panggungnya. Di tikungan terakhir, Kenzie menunjukkan keberaniannya. Ia menyalip dua peserta dengan manuver berbahaya, memacu hingga garis finish dan keluar sebagai juara. Penonton bersorak, tapi Adelia justru menatap tajam pria itu. Kenzie turun dari motornya, melepas helm, dan langsung mencarinya di tengah kerumunan. Ketika pandangan mereka bertemu, Adelia semakin memandangnya sinis. "Apa yang lo lakuin, Kenzie?" Suaranya terdengar setengah kesal, setengah bingung. Kenzie berjalan mendekat, senyum kemenangan menghiasi wajahnya. "Gue cuma mau lo tahu, Del. Gue gak akan berhenti sampai lo ngelihat gue." Adelia terdiam, mencoba menyembunyikan gejolak dalam dadanya. Tapi, seperti biasa, ia tak bisa membiarkan dirinya terlihat lemah. "Alya yang nyuruh lo, ya?" tanyanya dingin. Kenzie tertawa kecil. "Mungkin. Tapi gue gak akan ngelakuin ini kalau gue gak serius." "Serius buat apa?" tantangnya. Kenzie menarik napas panjang, tatapannya melembut. "Gue minta maaf buat waktu itu." Adelia mendengus. "Gak semudah itu, Kenzie. Lo udah buat gue malu!" "Gue harus gimana lagi buat lo maafin gue?" tanyanya, frustrasi. Adelia tersenyum sinis, matanya memancarkan kilau penuh tantangan. "Satu kali pertandingan. Lo dan gue!" Alya dan Sasha terkejut. "Del, lo serius?" "Kalau lo menang, gue maafin lo dan gue kabulin apa pun yang lo mau. Tapi, kalau gue menang, lo harus turutin semua kemauan gue." Kenzie terdiam, tampak bimbang. "Del, ini terlalu berbahaya!" "Lo ngeremehin gue?" Adelia menatapnya tajam, sorot matanya seperti api yang berkobar. "Bukan gitu, tapi ...." Kenzie menghela napas, mencoba mencari kata-kata. "Kalau lo gak mau, gue pulang. Ngapain gue di sini cuma buat liatin cowok pengecut kayak lo!" Adelia berbalik, bersiap pergi, tapi suara Kenzie menghentikannya. "Baik. Gue terima tantangan lo!" Sorakan kecil keluar dari Alya dan Sasha, sementara Adelia tersenyum tipis. Di balik ketenangannya, ia tahu ini bukan sekadar balapan. Ini tentang harga diri. Sorak-sorai menggema di udara ketika Adelia melangkah ke garis start. Tubuhnya tegap, sorot matanya penuh keyakinan. Kenzie berdiri di sebelahnya, masih mencoba membaca ekspresi dingin di wajahnya. "Lo yakin mau ngelakuin ini, Del?" tanya Kenzie sekali lagi, meski jawabannya sudah jelas. "Lo terlalu banyak ngomong," balas Adelia sambil memasang helmnya. "Lihat aja nanti siapa yang menang!" Mesin motor mereka menderu, menggetarkan udara. Penonton berkumpul di tepi lintasan, menyaksikan dua sosok yang siap bertarung, bukan hanya untuk kecepatan, tapi juga untuk sesuatu yang jauh lebih dalam. Lampu start menyala. Adelia melesat lebih dulu, mengambil posisi terdepan. Angin dingin menerpa wajahnya, tapi ia tak peduli. Fokusnya hanya pada lintasan di depannya. Setiap tikungan ia taklukkan dengan cekatan, roda motornya mencengkeram aspal dengan sempurna. Kenzie membuntuti di belakangnya, mencoba menyalip, tapi Adelia tak memberi celah sedikit pun. Ia tahu Kenzie lebih berpengalaman, tapi itu tidak membuatnya gentar. Di tikungan tajam terakhir, Kenzie berhasil menyusul, roda mereka hampir bersentuhan. Namun, Adelia tidak panik. Ia menarik napas dalam-dalam, mengingat strategi yang telah ia susun di kepalanya. "Lo gak bakal menangin ini, Del," gumam Kenzie dari belakang, meski ia tahu Adelia takkan mendengarnya. Tetapi, Adelia punya rencana lain. Ia mempercepat laju motornya di detik-detik terakhir, memanfaatkan kelincahan dan keberaniannya. Dengan manuver tajam, ia menyalip Kenzie di garis akhir. Penonton terdiam sesaat, lalu meledak dalam sorakan. Adelia telah menang. Adelia turun dari motornya, membuka helm, dan melangkah mendekati Kenzie yang masih tertegun di motornya. Napasnya terengah-engah, tapi senyumnya penuh kemenangan. "Jadi, siapa yang kalah sekarang?" tanyanya, nadanya penuh ejekan. Kenzie turun dari motornya, menghela napas panjang. Wajahnya menyiratkan kekalahan, tapi ada juga kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan. "Gue gak nyangka lo bakal sebaik itu," katanya akhirnya. "Lo lupa kalau gue bukan cewek biasa?" Adelia melipat tangan di d**a, tatapannya tajam namun penuh percaya diri. Kenzie menunduk, lalu mengangkat pandangannya lagi dengan senyum kecil. "Baiklah. Gue terima kekalahan gue. Jadi, apa yang lo mau?" Adelia tersenyum tipis. "Gue akan kasih tahu nanti. Tapi, buat sekarang ...." Ia mendekatkan diri, menatap langsung ke mata Kenzie. "Gue harap lo belajar satu hal, Kenzie. Gue bukan seseorang yang bisa lo anggap remeh!" Kenzie tertawa kecil, meski ia tahu tawa itu hanyalah upaya untuk menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam. "Gue gak pernah ngeremehin lo, Del. Gue cuma pengen lo tahu, lo lebih dari apa yang lo pikirin tentang diri lo sendiri." Adelia memiringkan kepala, menatap Kenzie dengan ekspresi penuh teka-teki. "Kalau lo beneran percaya itu, lo harus buktiin sesuatu lagi buat gue!" Kenzie mengangkat alis. "Lagi? Gue baru aja kalah balapan sama lo, Del. Lo mau apa lagi?" Adelia tersenyum tipis, matanya berkilat penuh tantangan. "Gue mau lo jadi pacar gue!" Kenzie menatap Adelia lama, alisnya terangkat, jelas terkejut. "Pacar lo?" Adelia mengangguk mantap, lalu menambahkan dengan nada santai yang justru membuat kata-katanya terdengar lebih menusuk. "Pacar pura-pura, sampai misi gue berhasil!" Alya dan Sasha saling melirik, bingung sekaligus penasaran. Sasha sampai berbisik ke Alya, "Ini cewek lagi mau balas dendam apa gimana, sih?" Kenzie berkedip beberapa kali, mencoba membaca maksud tersembunyi di balik tatapan Adelia. "Lo, serius? Lo mau kita pura-pura pacaran? Buat apa?" Adelia tersenyum tipis, ekspresinya sulit ditebak. "Itu urusan gue. Lo cuma perlu main peran, bikin semua orang percaya kita beneran pacaran. Lo udah janji mau turutin semua kemauan gue kalau kalah, kan?" Kenzie menghela napas panjang, matanya menyipit seolah mencoba menebak permainan apa yang sedang direncanakan Adelia. "Kenapa nggak pacaran beneran aja?" "Jangan mimpi! Lo bukan tipe gue!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN