Pengganti Fira
Hari pernikahan yang seharusnya menjadi simbol penyatuan cinta berubah menjadi mimpi buruk keluarga Wiratama. Langit mendung seolah turut meresapi kekacauan yang melanda. Fira, sang pengantin, hilang tanpa jejak. Hanya gaun putihnya yang tertinggal, tergantung di lemari dan tak tersentuh.
Di ruang keluarga yang penuh ketegangan, Vikram Wiratama berdiri tegak, rahangnya mengeras. Matanya menyapu setiap sudut, tapi tak ada tanda kehadiran putri sulungnya di sana. Di sampingnya, Adelia Elsy Wiratama, gadis belia berseragam SMA, berdiri terpaku. Sepatunya masih berdebu, sisa perjalanan pulang yang tergesa.
"Adelia." Suara Vikram berat, seperti menanggung semua beban di dunia.
Adelia mendongak, menelan ludahnya kelat. “Ya, Pa?”
“Kamu yang akan menggantikan Fira.”
Waktu terasa berhenti. Kata-kata itu menghantam Adelia seperti gelombang pasang. “Apa?” bisiknya, seolah berharap telinganya salah dengar.
“Kamu satu-satunya harapan keluarga kita,” tegas Vikram tanpa ampun.
Adelia mundur selangkah. Dunia terasa bergeser. “Papa nggak serius, kan? Papa nggak lihat, aku masih pakai seragam SMA!” Suaranya meninggi, nyaris putus asa. “Apa kata orang kalau aku tiba-tiba menikah begini?”
“Adel, jaga bicara kamu sama Papa!” bentak Vikram, wajahnya memerah.
“Mas, jangan bentak Adel!” Erika, ibu tirinya, mencoba menenangkan situasi. Suaranya lembut tapi tegas. “Aku akan cari Fira. Jangan korbankan masa depan Adel.”
Adelia menatap Erika dengan mata menyala. “Nggak usah sok peduli! Gue nggak butuh pembelaan lo!”
“Adelia!”
"Kenapa, Pa? Kenapa aku selalu jadi kambing hitam? Fira yang kabur, kenapa aku yang harus bertanggung jawab?" teriak Adelia, suaranya pecah di ujung kalimat.
“Cukup! Hari ini kamu menikah, titik!” seru Vikram, seolah tak ada ruang untuk negosiasi.
Erika menggigit bibirnya. “Mas, tolong pikir ulang. Adel masih terlalu muda.”
Vikram tidak menggubris. “Jika Fira kembali, pernikahan dibatalkan. Tapi kalau tidak ....” Matanya menatap Erika tajam. “Persiapkan Adel.”
Adelia menghela napas panjang, tubuhnya bergetar, campuran amarah dan ketidakberdayaan. "Puas lo sekarang?” bisiknya kepada Erika. Tatapan bencinya menusuk.
“Adel, Tante cuma ....” Erika berusaha menjelaskan, tapi Adelia memotong.
“Omong kosong! Kalau gue benar-benar harus nikah, gue bersumpah gue bakal benci kalian seumur hidup!” Adelia berlari ke kamarnya, pintu tertutup keras.
Erika menunduk, memegang ponselnya. Nama Fira di layar, tetapi tak ada sinyal. “Fira, di mana kamu?” bisiknya putus asa.
Waktu berlalu seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai. Pencarian Fira sia-sia. Adelia kini berdiri di depan cermin, mengenakan gaun pengantin yang terlalu besar untuk tubuh remajanya. Gaun itu terasa seperti belenggu. Air matanya tertahan, hanya terlihat dari getaran di sudut bibirnya.
Di ruang tamu, Arvan menunggu. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi matanya menyiratkan kebencian. Saat Adelia mendekat, senyum sinis terukir di bibirnya.
“Jangan berharap gue bakal peduli sama lo,” desis Adelia, berusaha menutupi rasa takut yang mencengkeram.
Arvan mengangguk kecil, senyum mengejek tak pudar. “Tenang aja. Saya juga tidak tertarik.”
Kilatan kamera menyala. Suara penghulu terdengar samar di telinga Adelia. Dan di antara ribuan detik yang membeku, Adelia menyadari, kini hidupnya telah berubah selamanya.
***
Beberapa hari sebelum pernikahan
Langit senja memancarkan warna jingga yang suram, seolah meresapi ketegangan yang menggantung di perusahaan keluarga Kusuma. Derdi Kusuma duduk dengan tenang di sofa besar, tapi tatapan matanya dingin dan penuh perhitungan. Di depannya, Vikram Wiratama mencoba menyesap kopinya, walau kehangatan minuman itu tak mampu mengusir keresahan di dadanya.
“Arvan harus menikah.”
Kata-kata itu keluar seperti vonis dari bibir Derdi, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Vikram. Nada suaranya tegas, tak memberi ruang untuk penolakan.
Vikram mengangkat alis, menatap sahabat lamanya dengan keraguan. “Bukankah kau punya dua anak perempuan?” Derdi melanjutkan tanpa memandang Vikram, seperti sudah memiliki jawabannya sendiri.
“Ya, Fira. Usianya cukup matang, hanya terpaut tiga tahun dengan Arvan,” jawab Vikram, meski ada nada bimbang di ujung kalimatnya.
Derdi mengangguk, senyum kecil tersungging. “Bagus. Segera kita atur pertemuan mereka.”
Vikram terdiam sejenak, sebelum akhirnya bertanya, “Kau yakin?”
“Sangat yakin.” Derdi menatap Vikram dengan pandangan penuh keyakinan. “Tidak perlu basa-basi. Langsung saja kita rencanakan pernikahan mereka.”
“Tapi, Derdi, persiapan pernikahan tidak semudah itu. Ini bukan sekadar akad,” protes Vikram.
“Aku tahu.” Nada Derdi tak berubah. “Biarkan mereka menikah dulu. Ijab kabul. Setelah keadaan lebih kondusif, kita pikirkan pesta besar.”
Vikram menghela napas panjang. “Baiklah. Aku akan bicara dengan Erika.”
“Hubungi aku secepatnya,” balas Derdi singkat, sebelum mengakhiri percakapan.
Di Rumah Keluarga Kusuma
Suara pintu berderit tajam saat Arvan Raffisya Kusuma masuk ke ruang keluarga. Langkahnya berat, seperti enggan pulang. Setiap langkah terasa seperti palu yang menghantam lantai, menciptakan gema keheningan yang menyesakkan. Matanya, gelap dan penuh amarah, langsung tertuju pada Derdi.
“Papa mau aku menikah dengan gadis itu?” Suaranya rendah, hampir seperti geraman.
Derdi menatapnya tanpa gentar. “Ya. Fira Anaya. Dia pilihan terbaik.”
Arvan tertawa pendek, terdengar getir. “Pilihan terbaik untuk siapa? Untuk Papa?”
“Untuk kita semua. Untuk menyelamatkan nama keluarga."
Tatapan Arvan semakin tajam. “Nama keluarga?” desisnya. “Jangan bicara seolah-olah Papa peduli pada apa yang aku inginkan.”
Yuna, yang berdiri di sudut ruangan, mendekat dengan langkah ragu. “Arvan, kali ini dengarkan Papa. Ini demi kebaikanmu.”
Arvan berbalik, menatap ibunya dengan senyum sinis. “Kebaikanku? Sejak kapan kalian peduli dengan apa yang baik untukku?”
Yuna menghela napas panjang. “Papa dan Mama hanya ingin kamu berhenti mengejar bayangan masa lalu. Mira sudah menikah dengan saudaramu.” Suaranya pelan, tapi penuh luka.
Wajah Arvan mengeras. “Jangan coba meracuni pikiranku, Ma.”
“Arvan, tolong! Mama dan Papa hanya ingin yang terbaik,” ucap Yuna lirih. Namun, Arvan sudah melangkah pergi, meninggalkan mereka dengan pintu yang dibanting keras.
Derdi menghela napas, menatap istrinya dengan pandangan kosong. "Anak itu keras kepala. Tapi, dia akan menerima perjodohan ini."
Yuna hanya memejamkan mata, menyimpan harap dalam doa. Dan di balik dinding kamarnya, Arvan duduk di tepi ranjang, menatap gelap malam dengan tatapan kosong. Di hatinya, perang yang sebenarnya baru saja dimulai.
***
Lampu gantung kristal berkilauan di aula besar rumah keluarga Wiratama, tapi suasananya terasa dingin dan hampa. Para tamu berbicara dengan bisikan, menyimpan tanya yang tak berani mereka lontarkan. Adelia duduk di pelaminan, tubuhnya kaku seperti boneka porselen yang dipajang. Gaun pengantin itu masih terasa berat, membelenggu setiap gerakannya.
Arvan berdiri di sampingnya, wajahnya tanpa ekspresi, tapi matanya terus mengawasi setiap gerak-gerik Adelia. Ada ketegangan yang sulit dijelaskan di antara mereka, seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi nasib.
“Cukup duduk dan tersenyum. Kita hanya perlu bertahan malam ini,” bisik Arvan pelan, nyaris tak terdengar oleh siapa pun kecuali Adelia.
Adelia menoleh perlahan, menatap Arvan dengan pandangan penuh kebencian. “Lo pikir ini mudah? Lo bukan korban di sini,” jawabnya tajam, meski suaranya tetap rendah.
Arvan tersenyum miring. “Jangan salah paham. Aku juga tidak menginginkan ini."
Di Kamar Pengantin
Malam semakin larut. Adelia duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun pengantin. Arvan berdiri di dekat jendela, merokok dengan pandangan kosong ke luar. Keheningan di antara mereka terasa menyesakkan.
“Bagaimana rasanya jadi boneka keluarga?” Arvan memecah keheningan, suaranya penuh sarkasme.
Adelia tertawa pendek. “Lo sendiri bagaimana? Boneka atau pemain?”
Arvan memadamkan rokoknya. “Aku pemain. Tapi kali ini, aku sedang kalah.”