Kerja Sama

1481 Kata
Keesokan Harinya Pagi menjelang dengan enggan, mentari mengintip malu-malu di balik tirai tebal kamar pengantin yang sepi. Adelia membuka matanya perlahan, rasa berat membebani kelopak matanya seolah ingin mengunci dirinya dalam kegelapan. Gaun pengantin berwarna putih gading terlipat rapi di sudut ruangan, tetapi kilasan memori semalam menghantui benaknya seperti bayangan yang tak mau pergi. Ia memutar pandangan ke arah jendela. Semalam, Arvan berdiri di sana, menyatu dengan kelam malam. Kini, hanya ada abu rokok yang berserakan di lantai, menjadi jejak bisu dari keberadaannya. Pintu berderit pelan tanpa permisi, mengundang Erika masuk dengan langkah penuh kehati-hatian. Di tangannya, sebuah nampan berisi teh hangat dan roti panggang, aroma mentega yang menguar tidak cukup untuk mengusir dingin yang merasuk di ruangan itu. “Adel, Tante bawakan sarapan. Kamu harus makan,” ucap Erika lembut, suaranya nyaris seperti bisikan. Adelia bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang, menatap Erika dengan pandangan kosong, tak ada emosi di sorot matanya. “Kenapa lo repot-repot? Bukannya ini bagian dari permainan lo juga?” Nada suaranya tajam, menusuk. “Adel, dengarkan Tante.” Erika mencoba membela diri, suaranya bergetar dengan ketulusan yang hampir menyerupai harapan. “Tante nggak pernah setuju dengan keputusan ini.” Adelia tertawa sinis. “Simpan aja dramanya, Tante.” Tanpa menunggu jawaban, ia bangkit dan melangkah menuju kamar mandi. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, lalu berkata tanpa menoleh, “Gue akan cari cara keluar dari mimpi buruk ini.” *** Di Ruang Kerja Vikram Ruangan itu dipenuhi keheningan yang menekan. Arvan berdiri di hadapan meja kerja Vikram, kedua tangannya terselip di saku celana. Wajahnya tampak tenang, tapi ketegangan di matanya memancarkan badai yang tak bisa ia sembunyikan. “Apa rencana selanjutnya, Pak Vikram?” tanyanya, dingin. “Apa Anda punya tujuan khusus menerima tawaran orang tua saya?” Vikram, dengan sikap yang berwibawa, menatap Arvan penuh perhitungan. “Tidak ada tujuan tersembunyi, Arvan. Saya hanya berusaha membantu sahabat saya yang ingin melihat putranya berubah demi keluarga kalian.” Senyuman tipis penuh ejekan tersungging di bibir Arvan. “Seharusnya Anda tidak ikut campur, apalagi melibatkan putri Anda untuk urusan saya.” Nada suara Vikram berubah tajam, memotong kata-kata Arvan. “Saya juga punya harapan besar padamu,” katanya tegas, meski bayang-bayang keraguan tampak samar di matanya. Arvan tertawa pelan, getir. “Harapan untuk menghancurkan hidup putri Anda?” Tatapan Vikram berubah dingin, seperti batu karang yang melawan ombak. “Tidak ada orang tua yang ingin menghancurkan hidup anaknya. Saya setuju dengan perjodohan ini karena Fira ...." Suaranya terhenti sejenak, ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Karena Fira buta oleh lelaki yang hanya ingin memanfaatkannya. Ketika itu, istri saya sangat resah, dan akhirnya ...." Arvan menyipitkan mata, membaca gelagat yang tak terucap dari wajah Vikram. "Saya meminta Adelia menggantikan Fira." Vikram melanjutkan, berat. Ia terdiam sesaat, sebelum membuka tabir rahasia yang tampaknya telah lama terkubur. “Fira bukan anak kandung saya. Dia putri adik Erika. Ibunya meninggal setelah melahirkannya, sementara ayahnya entah di mana. Dan Adelia ....” Vikram menarik napas dalam. “Adelia juga bukan anak kandung Erika. Dia anak sambungnya. Istri saya meninggal, dan saya menikahi Erika setahun kemudian. Itu sebabnya Adelia sangat membencinya.” Arvan menatapnya dengan tatapan tajam, nyaris tidak percaya. “Saya tahu kamu membenci pernikahan ini." Vikram melanjutkan, suaranya melunak. “Tapi sebagai seorang ayah, saya mengerti kegelisahan Derdi. Untuk saat ini, jaga Adelia. Biarkan dia mengejar mimpinya, seperti anak seusianya. Jangan bebani dia dengan masalah kita." Arvan tersenyum pahit, menggelengkan kepala. “Aku bukan boneka yang bisa kalian pindahkan dari satu perempuan ke perempuan lain.” Ia menatap tajam ke arah Vikram. “Dan satu hal lagi. Jangan pernah percaya padaku untuk menjaga putrimu.” Tanpa menunggu jawaban, Arvan membalikkan badan dan melangkah keluar, meninggalkan ruangan itu dalam kesunyian yang menggantung. *** Adelia berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap pantulan dirinya yang tampak jauh lebih rapuh daripada yang ia rasakan. Wajahnya pucat, matanya sembab, tetapi di balik semua itu, ada nyala kecil kemarahan yang terus bertahan. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, berusaha menghapus jejak air mata yang tidak pernah ia izinkan terlihat oleh orang lain. Ketika ia melangkah keluar, Erika masih menunggunya, duduk di tepi ranjang dengan nampan sarapan yang belum tersentuh. "Adel, kita harus bicara." Adelia berhenti di ambang pintu, tangannya memegang kusen, seolah butuh sandaran untuk menjaga dirinya tetap berdiri tegak. "Kalau lo masih mau ceramah, mending keluar dari sini." Erika menghela napas, menundukkan kepala sejenak sebelum kembali menatap putri sambungnya. "Kamu nggak harus percaya sama Tante, Adel. Tapi kamu harus tahu, ada hal yang selama ini kamu salah pahami." Adelia tersenyum sinis. "Hal seperti apa? Kalau lo mau bilang lo bukan penyebab kematian nyokap gue, nggak usah capek-capek jelasin. Gue nggak butuh klarifikasi." "Adel!" Suara Erika terdengar pecah, hampir seperti seseorang yang menyerah tetapi tetap ingin mencoba. "Mama kamu meninggal bukan karena saya. Dia pergi karena penyakit yang selama ini dia sembunyikan. Dia nggak mau kamu tahu karena dia nggak mau kamu khawatir. Saya tahu kamu nggak akan percaya. Tapi, Papamu tahu semuanya." Adelia berdiri kaku di ambang pintu, kedua tangannya menggenggam kusen kayu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia mencoba menahan badai emosi yang bergolak di dadanya. “Jadi, lo pikir cerita lo ini bakal bikin gue kasihan?” tanya Adelia dengan nada mencemooh, tapi matanya menyala penuh amarah yang tertahan. Erika menghela napas, raut wajahnya pias tapi tetap tenang. “Enggak. Saya nggak butuh belas kasihan kamu, Adelia. Tapi kamu perlu tahu, saya nggak pernah niat merebut tempat ibu kamu. Kalau saya bisa mengubah semua ini, saya pasti akan melakukannya.” Adelia menatap Erika lekat-lekat, matanya mencari-cari celah, kebohongan, atau alasan untuk membenci wanita itu lebih dalam. Tapi yang ia temukan hanyalah sorot kelelahan dan kesedihan yang begitu jujur hingga membuat dadanya sesak. Sebelum ia sempat berkata apa-apa, pintu kamar terbuka lebar dengan suara dentuman yang memecah keheningan. Arvan melangkah masuk, tubuh tegapnya memancarkan aura dingin dan otoritatif. Matanya yang gelap menatap Adelia tanpa ampun, tapi ada sesuatu di balik tatapan itu, sesuatu yang sulit ditebak. “Adelia!" ucapnya pendek, suaranya rendah tapi menggema di ruangan itu. Ia sama sekali tidak memperhatikan keberadaan Erika, seolah wanita itu hanyalah bayangan di sudut matanya. “Kita harus bicara. Sekarang.” Adelia menyilangkan tangan di depan dadanya. Ia tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri. “Kalau soal drama pernikahan ini, gue nggak tertarik.” Sebuah geraman pelan lolos dari tenggorokan Arvan, matanya menyipit, dan rahangnya mengeras. “Ini bukan soal pernikahan, Adelia. Ini soal Kamu." Adelia tertegun sesaat. Ada sesuatu dalam nada bicaranya, tegas tapi penuh desakan yang membuatnya terhenti. Tapi, ia segera menyembunyikan keterkejutannya dengan sikap dingin. "Soal gue? Apa maksud lo?" Tatapan Arvan melirik tajam ke arah Erika. Tanpa perlu kata-kata, Erika mengerti dan segera meninggalkan ruangan itu. “Apa yang lo mau?” tanya Adelia saat pintu tertutup. “Kerja sama,” jawab Arvan, matanya menatap langsung ke dalam mata Adelia, seolah menantang dirinya untuk menolak. “Kalau kamu benar-benar mau bebas dari pernikahan ini, kita harus punya rencana. Tapi, dengan satu syarat." Arvan mendekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. Adelia melangkah mundur, ekspresinya berubah risih. “Lo nggak bisa lebih jauh sedikit?” desisnya sambil mencoba mendorong tubuh Arvan. Arvan mendengus kecil, tapi tangannya menahan dorongan Adelia dengan mudah. "Kamu pikir saya suka dekat-dekat sama kamu?" balasnya tajam. “Dasar gadis manja!” “b******n!” maki Adelia, tangannya terangkat hendak mendorongnya sekali lagi. Tapi sebelum ia sempat bergerak, Arvan menangkap pergelangan tangannya dengan cekatan. Matanya menatap tajam ke arahnya, penuh peringatan. “Berhenti main-main, Adelia. Jangan sampai semua rencana saya gagal gara-gara kebodohan kamu. Kalau itu terjadi, saya pastikan kamu menyesal seumur hidup.” Adelia menelan ludah, rasa takut dan marah beradu dalam dirinya. “Dengerkan saya baik-baik,” lanjut Arvan, suaranya kini lebih rendah, nyaris seperti bisikan di telinganya. “Jalani pernikahan ini seperti yang diinginkan orang tua kita. Saya akan kasih kamu kebebasan. Kamu boleh lakukan apa pun yang kamu mau. Tapi jangan pernah campuri urusan saya. Setelah semua ini selesai, saya akan lepaskan kamu. Kamu bisa hidup sesuai keinginan kamu.” Adelia terdiam, pikirannya penuh dengan keraguan. Kata-kata Arvan terasa seperti jebakan manis, menawarkan kebebasan tapi dengan harga yang belum ia pahami sepenuhnya. “Lo pikir gue bisa percaya sama lo?” tantangnya. Arvan mengangkat bahu, ekspresinya penuh percaya diri. “Pilihannya cuma dua, percaya atau terjebak di sini selamanya. Keputusan ada di tangan kamu.” Adelia menatapnya, matanya penuh dengan kebencian yang bercampur dengan keraguan. Ia tahu ini mungkin satu-satunya jalan keluar, tapi apakah ia sanggup mempercayai pria seperti Arvan? “Gue akan pikir-pikir dulu,” katanya akhirnya, suaranya nyaris bergetar. Arvan tersenyum tipis, tapi bukan senyum yang menenangkan. “Ingat, Adelia. Jangan pernah macam-macam. Kalau kamu membuat saya kehilangan kendali ....” Ia berhenti sejenak, menatapnya dengan intensitas yang membuat darah Adelia membeku. “Kamu tahu apa yang akan terjadi.” Arvan menyeringai sinis sebelum melanjutkan ucapannya, "Maybe, you wanna have a baby?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN