Adelia memucat. Ucapan terakhir Arvan terdengar seperti ancaman yang tidak hanya menghantam kepercayaan dirinya, tetapi juga memantik rasa jijik yang luar biasa. Dengan cepat, ia merenggut pergelangannya dari genggaman pria itu, matanya membara penuh kemarahan.
"Lo gila!" serunya, nadanya bergetar meski ia berusaha mempertahankan ketenangan.
Arvan mengangkat alis, ekspresinya tetap dingin. "Saya cuma bilang fakta. Dalam permainan ini, siapa pun yang lengah akan kalah. Sepertinya kamu pintar, Adelia. Jangan bodohi diri kamu sendiri."
Adelia menggertakkan giginya, tubuhnya gemetar menahan amarah. Ia ingin membalas kata-kata pria itu, tapi logika memperingatkan bahwa setiap tindakan tergesa hanya akan memperburuk situasi.
“Keluar dari kamar gue,” desisnya akhirnya, suaranya rendah tapi penuh ketegasan.
Arvan menatapnya beberapa detik, ekspresinya sulit diartikan. Kemudian, dengan gerakan lambat, ia melangkah mundur. “Baiklah,” katanya. “Saya akan keluar. Tapi, jangan lupa apa yang saya bilang, Adelia. Waktu nggak akan menunggu.”
Tanpa menunggu jawaban, Arvan membuka pintu dan pergi, meninggalkan Adelia sendirian di kamar.
Adelia terhempas ke tempat tidur begitu pintu tertutup. Napasnya memburu, dan seluruh tubuhnya terasa lemah. Dia tidak tahu harus merasa apa, marah, takut, atau mungkin putus asa.
Pikiran tentang pernikahan ini seperti tali yang semakin mengikatnya erat, sementara bayangan Arvan menambah beban di pikirannya. Di satu sisi, ia tahu Arvan seseorang yang tidak bisa ia percayai. Tapi, di sisi lain tawaran ptia itu meski terdengar licik, mungkin ini satu-satunya jalan untuk meraih kebebasannya lagi.
Adelia menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menahan air mata. Ia harus memikirkan rencana. Ia harus kuat, untuk dirinya sendiri.
***
Sementara itu, di ruang kerja Vikram, Arvan kembali berdiri di ambang pintu, ekspresinya jauh lebih suram dibandingkan sebelumnya.
“Arvan." Suara Vikram memecah kesunyian, datar tapi penuh kewibawaan. “Apa kamu sudah berbicara dengan Adelia?”
Arvan berjalan mendekat, duduk di kursi di depan meja tanpa diundang. “Sudah,” jawabnya singkat.
Vikram memperhatikan ekspresinya, mencoba membaca pikiran pria muda itu. "Lalu?"
Arvan menyandarkan tubuhnya, senyum pahit menghiasi wajahnya. “Dia keras kepala."
Vikram mengangguk pelan, meski kerutan di dahinya menunjukkan kekhawatiran. “Saya harap kamu tidak memperkeruh keadaan. Saya hanya ingin Adelia bahagia.”
Arvan mendengus kecil, memandang pria tua itu dengan tatapan tajam. “Bahagia? Kalau itu tujuan Anda, Anda tidak akan pernah menyeret saya ke dalam hidupnya.”
Vikram tidak langsung menjawab. Matanya tetap menatap Arvan dengan penuh perhitungan. “Arvan, kadang orang-orang seperti kita harus membuat keputusan sulit demi orang-orang yang kita sayangi. Jangan pikir saya tidak tahu apa yang kamu sembunyikan.”
Tatapan Arvan mengeras, tapi ia tidak membalas. Sebaliknya, ia berdiri, bersiap meninggalkan ruangan.
“Jangan biarkan dia terluka, Arvan,” kata Vikram, suaranya terdengar seperti peringatan terakhir.
Arvan berhenti di depan pintu, tanpa menoleh, ia berkata, “Jika dia terluka, itu bukan karena saya. Tapi karena keputusan yang Anda buat.”
Tanpa menunggu balasan, ia membuka pintu dan keluar, meninggalkan Vikram dengan pikiran yang semakin berat.
***
"Ayo bersiap!" Suara berat Arvan memecah keheningan, menggema seperti tamparan di tengah pikiran Adelia yang sedang melayang. Ia mendongak dengan gerakan refleks, menatap pria itu yang kini berdiri di ambang pintu. Tubuhnya tegap, dengan aura tegas yang tak pernah gagal membuatnya merasa seperti anak kecil yang baru saja tertangkap basah melakukan kenakalan.
"Jangan sok asik nyelonong gitu aja!" Adelia menggerutu, mencoba menutupi keterkejutannya dengan nada ketus. Namun, matanya memancarkan kewaspadaan. Ia tahu, kedatangan Arvan tidak berakhir dengan berita baik.
Arvan melangkah masuk tanpa undangan, seolah kamar itu miliknya. Tatapannya tajam, menusuk seperti belati yang siap menembus dinding pertahanan Adelia. "Saya sudah bilang, kamu harus bersiap. Jadi, apa kamu sudah siap?"
Adelia memotong, suaranya nyaring, hampir seperti tantangan. "Iya, iya! Gue siap-siap. Tapi serius deh, nyuruh siap-siap emang mau ke mana sih?" Nada bicaranya penuh protes, tapi di baliknya, ada rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan.
Arvan tersenyum kecil, senyum yang lebih menyerupai ancaman daripada keramahan. Dengan tenang, ia menyampaikan keputusan yang sudah dipikirkannya matang-matang. "Kita akan pindah. Mulai sekarang, kamu akan tinggal di apartemen saya."
"APA!" Kata-kata itu menghantam Adelia seperti gelombang besar yang tiba-tiba menerjang pantai. Matanya membesar, napasnya tertahan. Ia melompat dari tempat duduknya, menatap Arvan seolah pria itu baru saja mengucapkan sesuatu yang mustahil.
Sedangkan Arvan tetap berdiri tenang, matanya dingin, tak tergoyahkan. Ia tahu, perlawanan Adelia hanyalah fase sementara. Segalanya sudah direncanakan, dan seperti biasa, ia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Adelia mendekat ke arah Arvan, menatap pria itu dengan tatapan penuh kebencian. "Lo pikir gue bakal nurut begitu aja? Pindah ke apartemen lo? Jangan mimpi, gue tahu ini jebakan!"
Arvan mendengus kecil, seolah reaksi Adelia sudah ia prediksi. "Adelia, ini bukan soal apa yang kamu mau. Ini soal apa yang harus kamu lakukan. Situasi kita, pernikahan ini, dan kesepakatan lainnya. Kalau kamu lupa, biar saya ingatkan lagi, ini demi menyelamatkan nama baik keluarga kamu. Kalau kamu kabur, kita berdua yang rugi."
"Nama baik keluarga?" Adelia mendesis, nadanya penuh sarkasme. "Jangan pakai alasan itu untuk mengontrol gue! Kalau lo mau main ancam, cari orang lain!"
Arvan hanya tersenyum tipis, senyum yang membuat darah Adelia mendidih. "Ini bukan ancaman, Adelia. Ini fakta. Kalau kamu tidak pindah, apa kamu yakin semua rahasia kecilmu akan tetap aman? Jangan lupa, saya tahu lebih banyak dari yang kamu kira."
Adelia terdiam, tubuhnya terasa seperti membatu. Ancaman tersirat dalam ucapan Arvan membuatnya gemetar. "Lo nggak berhak ngatur hidup gue," katanya akhirnya, suaranya melemah. "Lo nggak punya hak sama sekali."
"Salah!" Arvan membalas dengan nada datar. "Saya suami kamu. Sudah mengerti maksud saya?"
Adelia meremas kedua tangannya, mencoba menahan dorongan untuk menyerang pria itu. "Lo nggak pernah jadi suami gue. Ini cuma kesepakatan yang dipaksain! Lo nggak pernah peduli sama gue, sama apa yang gue rasain, atau sama apa yang gue mau!"
Arvan menatapnya, ekspresinya dingin, tapi ada kilatan sesuatu di matanya, mungkin rasa bersalah, atau rasa marah. "Apa kamu pikir saya senang dengan ini semua? Saya nggak minta pernikahan ini, Adelia. Tapi, pernikahan ini terjadi, dan saya hanya mencoba membuat semuanya berjalan sesuai rencana."
Adelia menelan ludah, menahan air mata yang mulai menggenang. "Kalau gitu, lepaskan gue. Biarkan gue pergi."
Arvan menggeleng pelan, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. "Saya tidak bisa, dan kamu tahu itu."
Keheningan menemani mereka, penuh dengan ketegangan yang hampir terasa di udara. Adelia ingin melawan, tapi rasa putus asa mulai menguasainya. Ia tahu, di dalam permainan ini, Arvan memegang kendali. Tapi, ia tidak boleh menyerah begitu saja.
"Ada satu hal yang harus lo tahu," katanya akhirnya. "Kalau lo pikir lo bisa mengendalikan gue, lo salah besar. Gue nggak akan semudah itu tunduk dalam aturan lo."
Bibir Arvan melengkung tipis. Senyuman sinis hadir di wajah tampannya. "Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan memenangkan pertarungan ini."