Ketegangan masih terasa ketika Adelia akhirnya menyeret koper keluar dari kamar pribadinya. Setiap langkahnya terasa berat, bukan karena beban koper, tetapi karena kehinaan yang membelenggu hatinya. Apalagi Vikram dan Erika tidak mengantarnya untuk pergi. Arvan menunggu di dekat mobil, tampak tak terpengaruh oleh protes atau kemarahan Adelia. Ia bahkan tidak berusaha menawarkan bantuan.
“Kamu sudah selesai mengeluh, atau mau saya tunggu lebih lama?” tanyanya, nada suaranya mulai tenang. Namun, terasa seperti ancaman.
Adelia menahan dorongan untuk melempar kopernya ke wajah pria itu. "Bantuin. Bukan liatin doang kayak gitu!"
Arvan hanya tersenyum tipis. "Apa kamu minta bantuan saya?"
Adelia mengepalkan tangannya erat. Benar-benar merasa geram. "Dasar cowok nggak peka!" Ia masuk ke modil, menutup pintu dengan kasar.
Arvan mendesah pelan, sebelum akhirnya ia ikut masuk ke mobil.
Perjalanan menuju apartemen Arvan diiringi keheningan yang penuh ketegangan. Adelia memalingkan wajah ke jendela, menatap kota yang terasa begitu asing, meski ia telah tinggal di sini selama bertahun-tahun. Di sudut pikirannya, ia menyusun rencana. Arvan mungkin mengira ia telah menang, tetapi Adelia tahu ia harus melawan dengan cara yang lebih cerdas.
Sesampainya di apartemen, Adelia disambut oleh kemewahan yang berlebihan. Dinding marmer putih, lampu gantung kristal, dan furnitur berdesain minimalis yang tampak seperti diambil langsung dari katalog interior mahal. Namun, semua itu hanya membuatnya semakin merasa terjebak dalam sangkar emas.
“Kamar kamu ada di sebelah kanan,” ujar Arvan dengan nada formal, seolah ia adalah tuan rumah yang menyambut tamu tak diundang.
Adelia mendengus pelan, menyeret kopernya ke arah yang ditunjuk tanpa membalas ucapan pria itu. Begitu pintu kamar terbuka, ia terdiam.
Di atas meja kecil dekat jendela, sebuah bingkai foto menarik perhatiannya. Adelia melangkah mendekat, rasa penasaran mengalahkan amarahnya untuk sesaat. Ia mengambil bingkai itu, dan jantungnya seolah berhenti berdetak.
Itu, foto seorang gadis.
Wajahnya yang cantik, dengan senyum lembut yang selalu terlihat tulus, terpampang jelas di sana. Adelia memucat. Ia menoleh ke arah Arvan, yang kini bersandar di ambang pintu dengan ekspresi tak terbaca.
“Kenapa ada foto ini di sini?” tanya Adelia, suaranya bergetar.
Arvan melangkah masuk, mendekatinya dengan perlahan. Ia meraih bingkai itu dari tangan Adelia, tatapannya melembut, sesuatu yang jarang terlihat darinya.
“Ini foto Mira, dia bagian dari hidup saya, jauh sebelum kamu datang,” jawabnya dengan nada rendah, hampir seperti bisikan.
Adelia tertegun, mencoba memahami makna di balik kata-kata pria itu. “Apa hubungan lo sama Mira?” tanyanya, mencoba terdengar tegas meski suaranya mulai lemah.
Arvan menatap foto itu selama beberapa detik sebelum menaruhnya kembali di atas meja. “Itu bukan urusan kamu,” katanya akhirnya, kembali memasang tembok tak terlihat di antara mereka.
“Tapi ini penting buat gue!” Adelia membalas, kali ini dengan nada yang lebih keras. “Gue nggak akan tinggal di sini tanpa tahu kenapa ada bayangan orang lain yang terus menghantui lo!”
Arvan menatapnya, mata gelapnya seperti jurang yang tak berdasar. “Kalau kamu ingin bertahan di sini, ada satu aturan sederhana yang harus kamu ingat. Jangan pernah mencampuri urusan saya.”
Adelia menggertakkan giginya, tetapi ia tahu, untuk saat ini, ia tidak akan mendapatkan jawaban.
Akan tetapi, jauh di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang tidak ia pahami. Sebuah perasaan yang membisikkan bahwa Mira bukan hanya masa lalu Arvan. Mira adalah kunci dari sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya.
Di tengah keheningan yang membalut pikirannya, suara bergetar dari ponsel Adelia memecah suasana. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar, membuatnya mengerutkan dahi.
Ia ragu sejenak, walau akhirnya menyentuh tombol hijau. "Halo, siapa ini?" tanyanya, suaranya sedikit waspada.
Di seberang sana, terdengar suara lembut tapi tegas, suara seorang wanita yang tidak asing tapi sulit dikenali. "Halo, Adelia. Ini Mama, Nak."
"Mama?" Adelia mengulang dengan bingung, alisnya berkerut dalam.
"Iya, ini Mama Yuna. Mama mertua kamu." Suara itu melanjutkan, kini jelas siapa yang berbicara.
"Oh, ibunya Arvan," gumam Adelia dalam hati, rasa campur aduk menyelimutinya.
Sebelum ia sempat merespons lebih jauh, suara Yuna kembali terdengar, kali ini dengan nada yang lebih akrab. "Sayang, malam ini Mama ingin kamu dan Arvan datang ke rumah untuk makan malam bersama. Kemarin saat acara, kamu belum sempat mengenal keluarga besar Arvan yang lain."
Adelia tercekat sejenak, mencoba menyusun kalimat. "Ba-baik, Ma. Tapi, Arvan ...." Suaranya ragu, berusaha menjelaskan sesuatu.
Yuna segera menyela dengan nada yang penuh kepastian. "Kamu tidak perlu khawatir, Nak. Mama sudah bicara dengan Arvan tadi. Kamu hanya perlu bersiap-siap."
"Baik, Ma," jawab Adelia, pasrah tapi tetap menjaga nada sopannya.
"Sampai ketemu di rumah keluarga Kusuma, Sayang," kata Yuna sebelum sambungan telepon diputus, menyisakan Adelia dalam diam yang penuh pikiran.
Ponsel di tangannya terasa berat. Adelia menatap layar yang kini gelap, pikirannya berputar. Undangan itu bukan hanya makan malam biasa, ada nuansa yang sulit dijelaskan, seperti angin yang membawa tanda sebelum badai tiba.
Arvan muncul tiba-tiba di ambang pintu kamar Adelia, siluetnya melawan cahaya koridor seperti bayangan yang mengancam. "Bersiaplah sebaik mungkin. Jangan pernah buat aku malu," ucapnya dingin, suara itu menggema seperti perintah yang tak bisa dibantah.
Adelia menoleh dengan sorot mata tajam, seolah ingin melawan, tapi keterkejutannya lebih dulu mengambil alih. "Bisa nggak sih, lo berhenti muncul tiba-tiba kayak hantu? Kaget tahu!" Suaranya meninggi, tapi Arvan hanya mengabaikannya. Tanpa banyak kata, dia melemparkan kartu ATM ke lantai, hingga benda itu berputar dan berhenti tepat di ujung kaki Adelia.
"Pakai itu. Beli apa saja yang kau mau," katanya datar, seolah uang adalah satu-satunya solusi untuk segalanya.
Adelia memandang kartu itu dengan tatapan dingin, bibirnya menekan, menggambarkan kemarahan yang mendidih di dalam dirinya. Dengan gerakan tegas, dia mengambil kartu itu, tetapi hanya untuk mematahkannya menjadi dua. Suara patahan plastik mengiris keheningan, membuat Arvan yang bersandar di kusen pintu menegakkan tubuhnya. Alisnya terangkat, jelas terkejut tapi tak mengucap sepatah kata pun.
"Lo pikir gue miskin sampai harus ngemis sama lo?" Adelia menatapnya penuh api, suaranya bergetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang tak lagi bisa dibendung.
Arvan melangkah masuk, auranya berubah menjadi lebih gelap. "Jangan mencoba menguji batas kesabaranku, Adelia," geramnya, suaranya rendah tapi penuh ancaman.
Adelia mendongak, mencoba mempertahankan keberanian yang mulai goyah. "Terus lo pikir lo berhak merendahkan gue? Apa karena lo merasa punya kuasa atas hidup gue?" tanyanya sengit, meski hatinya mulai bergetar.
Langkah Arvan semakin mendekat, matanya seperti bara yang menyala di kegelapan. "Kamu benar-benar ingin melihat sejauh mana saya bisa bersabar, ya?" desisnya, nada itu cukup untuk membuat udara di sekitar mereka terasa menyesakkan.
Adelia mundur selangkah, punggungnya kini menempel di dinding. "Ma-mau apa lo?" tanyanya dengan suara yang tak lagi setegas sebelumnya. Ada sesuatu di sorot mata Arvan yang membuatnya merasa seperti mangsa di hadapan pemangsa.
Arvan berhenti tepat di depannya, menunduk hingga wajah mereka hampir sejajar. "Mengambil apa yang menjadi hakku sebagai suamimu," jawabnya, suaranya bergetar dengan nada kepemilikan yang membuat darah Adelia membeku.