Perang Dingin Ayah dan Anak

1211 Kata
Adelia menelan ludah, mencoba menahan gemetar yang mulai merambat di tubuhnya. Namun, ia tidak akan membiarkan rasa takut itu menguasai dirinya. "Hak lo? Gue bukan barang yang bisa lo klaim semaunya!" sergahnya, nada suaranya setengah bergetar tapi tetap mencoba tegas. Arvan menyipitkan mata, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang penuh ironi. "Benarkah?" tanyanya pelan, tapi nadanya sarat ancaman. "Karena dari cara kamu bicara, kamu lupa satu hal, Adelia. Saya tidak meminta izin untuk mengambil apa yang sudah menjadi milik saya." Adelia mematung, dadanya naik-turun cepat seiring dengan detak jantungnya yang berpacu. "Lo gila," gumamnya, mencoba mencari celah untuk melarikan diri dari aura mendominasi pria itu. Akan tetapi, sebelum ia bisa bergerak, Arvan melangkah mundur tiba-tiba, menarik napas panjang seolah mencoba meredam emosinya sendiri. "Jangan salah paham," ujarnya, kali ini dengan nada lebih tenang, meski matanya tetap menatapnya tajam. "Saya tidak akan menyentuhmu tanpa persetujuanmu. Tapi jangan pernah lupa, Adelia, bahwa setiap keputusanmu sekarang akan selalu berujung padaku." Adelia merasa campuran antara lega dan marah. "Gue nggak akan pernah tunduk sama lo," katanya, suaranya bergetar tapi matanya penuh tekad. "Lo bisa kontrol keadaan ini, tapi lo nggak akan pernah bisa kontrol gue." Arvan terkekeh pelan, suara itu terdengar seperti ejekan yang tajam. "Kita lihat saja, Sayang," ujarnya sambil berbalik dan meninggalkan kamar, membiarkan Adelia berdiri sendirian dengan napas tersengal. *** Malam harinya, rumah keluarga Kusuma memancarkan kemegahan dengan gemerlap lampu taman yang menghiasi setiap sudut, membingkai malam dengan kehangatan semu. Musik klasik mengalun lembut dari arah aula, menambah kesan mewah yang hampir mencekik Adelia saat ia melangkah masuk bersama Arvan. Gaun sederhana yang ia gunakan terasa terlalu biasa di tengah kilauan busana mewah para tamu. Namun, ia tak punya pilihan lain. Ini adalah yang paling netral menurutnya. Namun, ketika langkah mereka menyusuri lantai marmer yang dingin, semua mata di ruangan itu seolah menatap tajam ke arahnya, menguliti setiap inci dari penampilannya. Arvan, di sisi lain, tetap tenang. Senyumnya tipis, hampir seperti tameng. Namun, di mata Adelia, ia melihat sesuatu yang hampa, bahkan sedikit mencemooh. Tatapan itu tak memberinya rasa aman, hanya menguatkan perasaan bahwa ia tengah berjalan di atas tali tipis yang siap putus kapan saja. Dari keramaian, seorang wanita paruh baya dengan anggun mendekati mereka. Senyum hangat menghiasi wajahnya, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang sulit diartikan. "Adelia," panggilnya lembut, dengan nada yang hampir seperti bisikan. Adelia mengenali suara itu. Yuna. Wanita yang baru ia kenal dari balik percakapan telepon. Perlahan, Adelia mencium tangan ibu mertuanya, mencoba menyembunyikan kegugupan di balik senyumnya yang sedikit kaku. "Terima kasih, Ma," katanya dengan suara bergetar. Yuna menggenggam tangannya lebih erat, lalu berbisik pelan, "Jangan khawatir, Sayang. Mama akan temani kamu terus." Kata-kata itu membuat Adelia terpaku. Ada sesuatu yang tak ia pahami sepenuhnya. Namun, sebelum ia sempat bertanya, langkah seorang pria dengan postur tegap dan sorot mata tajam menghampiri mereka. "Derdy Kusuma," batin Adelia, mengenali sosok yang selama ini hanya ia dengar namanya. "Adelia!" Suaranya berat, nyaris menggema. Adelia merasakan telapak tangannya berkeringat. "Om," jawabnya, sedikit kaku saat menyambut salam pria paruh baya itu. Derdy tersenyum kecil, tetapi sorot matanya tak melunak. "Panggil Papa. Saya ayahnya Arvan. Kemarin kita belum sempat berbicara apa-apa," katanya, suaranya tegas, tanpa ruang untuk penolakan. "I-iya, Pa," jawab Adelia, hampir berbisik. Derdy mengangguk perlahan. "Nikmati malam ini. Jangan dengarkan apa pun yang mereka katakan," ucapnya dengan nada yang terdengar seperti peringatan. Sebelum Adelia sempat meresapi ucapan itu, Yuna menyela dengan suara lembut, "Adelia, ayo ikut Mama. Akan Mama perkenalkan dengan anggota keluarga yang lain." Adelia mengangguk, mencoba tersenyum meski rasa gugupnya semakin menggerogoti. Ia mengikuti Yuna, meninggalkan Arvan dan Derdy yang kini berdiri berdampingan. Keheningan di antara mereka hanya bertahan sejenak sebelum Derdy berbicara. "Jangan sia-siakan kesempatan yang Papa berikan, Arvan," ucapnya dengan nada sarat makna. Arvan tersenyum sinis, tatapannya dingin. "Kesempatan?" katanya, suaranya mengandung ejekan halus. "Kesempatan untuk menghancurkan hidupku, Pa?" Sorot mata Derdy mengeras. "Tidak ada orang tua yang ingin menghancurkan hidup anaknya," balasnya tegas. "Suatu hari nanti, kamu akan mengerti." Ia melangkah lebih dekat, suaranya merendah tetapi penuh ancaman. "Jaga Adelia baik-baik, Arvan. Jika terjadi sesuatu padanya, Papa akan jadi orang pertama yang memberimu pelajaran." Arvan tak menjawab, hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak mengandung apa pun selain perlawanan yang terselubung. Di tengah gemerlap lampu dan alunan musik klasik, perang dingin antara ayah dan anak itu terasa lebih menggelegar dibandingkan pesta mewah yang mengelilingi mereka. Adelia menggenggam erat jemarinya sendiri, berusaha menenangkan hati yang belum sepenuhnya menerima situasi ini. "Adel, perkenalkan. Ini Aluna, adiknya Arvan." Suara Yuna memecah lamunannya, membuat Adelia menoleh dengan cepat. Seorang gadis dengan senyuman ceria berdiri di hadapannya. "Hai, Adel!" sapanya penuh semangat, seolah sudah mengenalnya lama. Adelia mencoba membalas senyuman itu, namun keraguan menyelimutinya. "Ha-hai!" jawabnya kaku. Aluna terkekeh kecil, ekspresinya hangat. "Santai aja, umur kita gak jauh beda kok. Aku cuma dua tahun lebih tua. Kayaknya seru kalau kita jadi teman, bukan cuma saudara ipar," katanya dengan nada ringan. Adelia mengangguk kikuk. "Tentu," gumamnya, meski dalam hati ia bertanya-tanya bagaimana cara mencairkan suasana yang aneh ini. "Aluna, temani Adelia dulu ya. Mama mau cari Abang kamu," ujar Yuna, sambil melirik sekitar. "Abang belum datang, Ma! Mungkin masih di rumah sakit," sahut Aluna cepat. Yuna menghela napas, lalu melangkah menjauh sambil merogoh ponselnya. "Baiklah, Mama telepon dia dulu." Setelah Yuna pergi, Aluna kembali menatap Adelia dengan penuh perhatian. "Adel, kamu gak perlu khawatir. Papa udah bilang pada semua keluarga untuk merahasiakan dulu pernikahan kamu sama Kak Arvan," katanya, berusaha menenangkan. Adelia hanya tersenyum kecil, mengangguk. Meski hatinya lega, rasa canggung itu masih menyelimutinya. "Oh iya!" seru Aluna tiba-tiba. "Aku lupa! Tunggu di sini ya, aku mau ambil hadiah buat kamu." Sebelum Adelia sempat menahannya, Aluna sudah berlari kecil ke dalam rumah. Adelia menarik napas panjang, mencoba mengusir kegelisahan. Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil minuman sendiri di meja sudut. Saat ia hendak mengambil segelas jus, tangannya bersentuhan dengan tangan lain. Refleks, Adelia menoleh. Di hadapannya berdiri seorang pria dengan kemeja rapi dan aura yang begitu berbeda dari siapa pun di rumah ini. Pria itu mengangkat alis, sedikit bingung. "Maaf, saya duluan," katanya sopan, suaranya tenang. Adelia memicingkan mata, merasakan sesuatu yang familiar. "Ganti baju?" tanyanya tiba-tiba, membuat pria itu terkejut. "Apa maksud Anda?" jawabnya, dahinya berkerut. Adelia mengerucutkan bibir, merasa pria di depannya sedang berpura-pura. "Jangan pura-pura lupa!" sungutnya. Pria itu mendadak tertawa, tawa rendah yang penuh percaya diri. "Kamu istrinya Arvan, ya?" tanyanya setelah beberapa detik. "Kamu siapa?" Adelia terpaku. "Saya, Raffa," jawab pria itu dengan senyum yang nyaris identik dengan Arvan, tapi jauh lebih hangat. "Kembarannya Arvan. Tapi saya lahir tujuh menit lebih awal, jadi secara teknis saya kakaknya." Adelia hanya bisa memandangi Raffa dengan heran. 'Ya ampun, mirip banget, tapi beda sama Arvan yang mukanya selalu jutek!' gumamnya dalam hati. "Kamu Adelia, kan?" tanya Raffa memastikan. "I-iya," jawab Adelia gugup, seolah berada di bawah tatapan seorang selebritas. Tiba-tiba, suara seorang wanita memanggil dari kejauhan. "Mas!" Raffa menoleh, senyumannya makin lebar saat melihat sosok wanita bergaun sederhana berjalan mendekat. "Sayang, sini. Kenalin, ini Adelia, istrinya Arvan." Wanita itu tersenyum ramah. "Hai, Adelia. Aku Mira. Maaf, kemarin gak sempat datang ke acara kalian." Adelia terdiam, matanya tak lepas dari wajah Mira. Ada sesuatu yang terasa begitu familiar, tapi ia tak bisa mengingatnya dengan jelas. "Kayak pernah lihat wajah ini, tapi di mana, ya?" gumam Adelia pelan, mencoba mengurai ingatannya yang samar-samar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN