Curiga

1062 Kata
Adelia tak henti-hentinya memperhatikan Mira, matanya seolah berusaha mengurai misteri di balik wanita itu. Ada sesuatu yang membuatnya resah, meski ia tak tahu apa. Namun, belum sempat membuka mulut, Mira menyodorkan tangan dengan senyuman yang begitu hangat, seolah telah lama mengenalnya. “Senang akhirnya bisa bertemu kamu,” ujar Mira, lembut tapi penuh keyakinan. Adelia menjabat tangan itu perlahan, ragu-ragu. Senyum kecil menghiasi bibirnya, tapi dalam hati ia merasa seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak bicara oleh seseorang yang begitu ramah. “Aku juga senang bertemu Kak Mira.” Nadanya formal, hampir kaku, seperti ada tembok tak kasat mata yang menghalangi keakraban mereka. “Jangan sungkan, Adel. Panggil saja Mira,” balas Mira santai, suaranya mengalir seperti arus sungai yang menenangkan. Sesaat kemudian, ia menoleh pada Raffa yang berdiri di dekatnya. “Mas, aku bantu Adel cari tempat duduk, ya?” “Silakan, Sayang,” jawab Raffa, matanya menatap Mira dengan lembut, seolah berbicara dalam bahasa yang hanya mereka pahami. Tak lama kemudian, perhatiannya teralihkan oleh seseorang yang baru saja masuk ke ruangan. Adelia berjalan di samping Mira, masih merasa canggung. Ia mencoba mencari kata-kata yang tepat, tapi hanya satu kalimat yang keluar. “Maaf ya, kayaknya aku lebih nyaman panggil Kak Mira aja.” Mira tertawa kecil, nada suaranya penuh pengertian. “Senyamannya Adel saja,” ujarnya. Dari tas kecilnya, ia mengeluarkan sebuah kotak mungil berhiaskan pita emas. “Ini buat kamu,” kata Mira, menyerahkan kotak itu pada Adelia. "Maaf ya, aku nggak sempat datang ke pernikahan kamu sama Kak Arvan kemarin. Kakakku kecelakaan, dan Mas Raffa yang menangani dia di rumah sakit." Adelia menatap kotak itu dengan bingung, lalu beralih ke wajah Mira. “Kak Raffa dokter?” tanyanya, nada penasaran tak bisa disembunyikan. “Iya.” Mira mengangguk, tersenyum. “Mas Raffa seorang dokter, dan dia juga yang mengelola rumah sakit milik keluarga suami kita.” Adelia mengangguk perlahan, senyum tipis mengembang di bibirnya. Tapi, pikirannya jauh dari ketenangan. Siapa Mira ini sebenarnya? Mengapa ada perasaan asing sekaligus familiar yang ia rasakan? Berulang kali ia mencoba mengingat, tapi wajah Mira terasa seperti potongan puzzle yang belum pas di tempatnya. Entah kenapa, hal itu membuat jantungnya berdebar lebih cepat. "Akhirnya kamu datang, Sayang!" seru Yuna, dengan senyum lebar yang menyambut Mira dan Adelia. Mira segera bangkit dari tempat duduknya, menyambut Yuna dengan hangat. “Maaf, aku sama Mas Raffa datang terlambat, Ma. Tadi Mas Raffa harus menyelesaikan operasi darurat dulu di rumah sakit.” “Oh, gak apa-apa, Sayang. Mama ngerti,” balas Yuna lembut. “Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Zeil?” Mira tersenyum kecil, menghela napas lega. “Alhamdulillah, Ma. Udah jauh lebih baik.” “Syukurlah.” Yuna menepuk tangan Mira dengan lembut, ekspresi khawatir di wajahnya sedikit memudar. “Mama sempat kaget waktu dengar kabar kemarin.” “Biasalah, Ma. Kak Zeil tuh kalau cemburu suka gak pikir panjang. Kemarin ngebut naik motor, ya begitulah jadinya. Tapi lukanya gak terlalu parah kok, Ma.” Yuna mengangguk, seolah memastikan segala kekhawatirannya sirna. “Syukur kalau begitu. Mama tinggal dulu ya, Sayang. Mau temenin Papa ngobrol sama keluarga lain.” “Silakan, Ma,” ujar Mira sambil tersenyum. Ketika Yuna beranjak pergi, Mira menoleh pada Adelia yang duduk diam, tampak tenggelam dalam pikirannya. “Adel, kamu kenapa diam aja?” tanyanya lembut. Adelia tersentak. “Eh, gak apa-apa, Kak. Cuma lagi mikir aja,” balasnya dengan senyum yang terasa canggung. Mira yang cukup peka membaca gelagat, menggenggam tangan Adelia erat. “Aku tahu, tiba-tiba menikah dengan orang yang belum kamu kenal pasti berat. Tapi, jangan ragu cerita kalau Kak Arvan berbuat sesuatu yang gak baik. Semua keluarga kami di sini bakal berdiri di pihak kamu.” Adelia menatap Mira dengan mata melebar, bingung sekaligus tersentuh. Namun, sebelum ia bisa menjawab, Mira melanjutkan dengan nada serius. “Adel, ada hal yang mungkin belum keluarga kami sampaikan ke kamu soal Arvan. Aku gak mau kamu salah paham.” “Soal apa, Kak?” Adelia bertanya, mulai merasa ada sesuatu yang penting. Akan tetapi, sebelum Mira sempat membuka rahasia itu, suara berat yang familier menyela pembicaraan mereka. “Ternyata kamu di sini, Mira.” Arvan muncul tiba-tiba, tatapannya tak lepas dari Mira. Ada sesuatu di matanya, entah kekaguman atau sesuatu yang lebih gelap, yang membuat Mira bergidik. “Kak Arvan!” seru Mira kaget, melirik sekilas ke arah Adelia yang pura-pura tidak peduli. “Kamu cantik sekali,” gumam Arvan, seolah tidak peduli dengan siapa ia berbicara. Mira langsung tersadar, menegakkan punggungnya. “Kak Arvan mau bicara sama Mas Raffa, ya? Aku cari Mas Raffa dulu.” Ia menatap Adelia, memberi isyarat bahwa ia harus pergi. “Adel, aku tinggal dulu ya.” Adelia mengangguk pelan. “Iya, Kak.” Setelah Mira pergi, suasana berubah. Ketegangan tak kasat mata menggantung di antara Adelia dan Arvan. “Apa yang tadi kalian bicarakan?” tanya Arvan dingin, suaranya tajam seperti sembilu. Adelia mendongak santai, menguap lelah. “Gak ada. Ngapain juga lo mikir aneh-aneh?” “Jangan bohong!” Suara Arvan meninggi, tapi Adelia tidak gentar. “Gue gak bohong. Tadi Kak Mira cuma kasih kado ini,” jawabnya santai sambil menunjuk kotak kecil di meja. “Kenapa lo selalu curiga? Atau mungkin emang ada rahasia antara lo sama Kak Mira?” Wajah Arvan berubah. “Itu bukan urusan kamu!” desisnya dengan nada mengancam. Adelia mendengus, mendekatkan wajahnya ke arah Arvan. “Kalau itu bukan urusan gue, lo juga gak punya hak nanya-nanya gue!” ucapnya tajam sebelum berjalan pergi, meninggalkan Arvan yang terpaku dengan amarah yang tak tersampaikan. Ketika Adelia berlalu, langkahnya terhenti di ujung ruangan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tak karuan. Ada sesuatu tentang sikap Arvan yang semakin membuatnya curiga. Tatapan pria itu pada Mira tadi, seolah ada sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan keluarga biasa. Dia memandang kotak kecil di tangannya, jemarinya bermain-main dengan pita emas yang membungkusnya. Rasanya enggan membuka, tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya. Ia membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah bros antik berbentuk bunga mawar berhiaskan batu safir biru yang berkilauan. Indah, tapi entah kenapa membuat bulu kuduknya meremang. Adelia menatap bros itu dengan perasaan tak nyaman. Tiba-tiba, kilasan bayangan melintas di benaknya. Seorang wanita tersenyum dengan bros yang sama tersemat di kerah gaunnya. Namun, bayangan itu menghilang begitu cepat sebelum ia bisa mengenalinya. “Kenapa?” gumamnya pada diri sendiri, bingung dengan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN