Coba Membuka Hati

1403 Kata
Jam istirahat akhirnya tiba, Adelia bersama kedua temannya segera menuju kantin. Suasana di sekitar mereka terasa hidup, riuh dengan obrolan teman-teman sekelas yang sudah lama menunggu momen ini. "Mau makan apa?" tanya Sasha dengan semangat, menggoda Adelia yang tampak tenggelam dalam layar ponselnya. "Biasa," jawab Adelia singkat, jarinya bergerak cepat, menggulir pesan yang baru saja masuk. Di layar ponselnya, ia melihat bukti transfer dari ayahnya. Uang. Hanya itu yang bisa diberikan lelaki itu, pikirnya. Rasa kesal merayapi hati. ‘Cuma uang yang bisa dia kasih!’ keluh Adelia dalam hati. "Del!" panggil Alya, menyadari perhatian Adelia yang tidak teralihkan. Ia memegang kantong keripik pedas, sesekali memakannya dengan kecepatan yang hanya bisa diikuti oleh seseorang yang tengah berusaha menutupi sesuatu. "Hmm!" gumam Adelia tanpa menoleh. "Di belakang kamu, Kenzie ngeliatin terus!" ujar Alya, nada suaranya mencampurkan kejutan dengan rasa ingin tahu. "Bodo amat!" seru Adelia dengan cuek, suaranya nyaris tenggelam di tengah hiruk-pikuk kantin. "Ya ampun, Del. Cowok sekeren Kenzie lo tolak?" Alya menambahkan, tidak bisa menahan rasa kagum sekaligus penasaran. "Ambil aja, kalau lo mau," jawab Adelia, nada suaranya datar, seolah apa yang sedang dibicarakan itu tidak lebih penting dari ribuan pesan yang harus dia balas. Tak lama kemudian, Sasha datang membawa tiga mangkuk mie pedas yang sudah ditunggu. Tanpa kata, mereka mulai makan, sibuk dengan dunia masing-masing, hanya terdengar suara sendok mengaduk mie dan gemericik air minum. "Pulang sekolah jalan yuk," ajak Sasha tiba-tiba, matanya cerah dengan rencana sederhana, mencoba melarikan diri dari kejenuhan rutinitas. "Boleh," sahut Alya antusias, wajahnya menyiratkan kegembiraan. "Lo, Del?" tanya Sasha lagi, menunggu jawaban dengan harapan. "Gue mau ambil motor ke rumah bokap gue," jawab Adelia, tanpa menatap teman-temannya, sesaat ada kekosongan di antara kata-kata itu. "Ambil motor?" tanya Sasha, masih agak terkejut mendengar kalimat itu. "Gue sekarang tinggal di apartemen, gak tinggal di sana lagi," jelas Adelia tanpa ada rasa penyesalan, suaranya rendah, seolah-olah itu adalah hal yang paling biasa dilakukan. "Lo diusir sama emak tiri lo, Del?" tuding Alya dengan nada menggoda, tapi ada ketegangan yang tak bisa dihindari. "Emak tirinya Adel gak sekejam itu ege, emang Adel aja yang gak mau coba terima," ujar Sasha dengan nada lebih bijak, seakan mencoba meredakan ketegangan yang ada. "Sampai kapan pun gue gak terima perempuan itu gantiin posisi nyokap gue!" seru Adelia, suara marahnya menggelegar, menciptakan jarak tak terlihat di antara mereka. Emosi itu mengalir begitu deras, mengikis dinding hatinya yang keras. "Serah lo lah, Del. Yang gue tau, Tante Erika baik banget sama lo, gue bisa liat itu kalau gue main ke rumah lo. Coba deh lo buka hati lo sedikit biar lo bisa lihat kebaikan orang lain," ujar Sasha dengan nada lembut, penuh harapan. "Gak usah sok tau!" seru Adelia, matanya menyala penuh amarah. Tidak ada ruang bagi siapa pun untuk mengajari dirinya tentang apa yang harus dia rasakan atau percayai. Alya dan Sasha saling bertukar pandang, merasakan ketegangan yang merayapi meja mereka. Mereka tahu bahwa Adelia sedang dilanda badai perasaan yang tak mudah dicerna, dan tidak ada kata-kata yang bisa langsung menyembuhkan luka itu. Namun, mereka tetap diam, membiarkan keheningan yang tidak nyaman mengisi ruang di sekitar mereka. Adelia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Namun, setiap detik yang berlalu terasa semakin berat, dan meskipun dia berusaha keras untuk tidak menunjukkan kelemahannya, ada bagian dalam dirinya yang merasa terjepit oleh kenyataan yang terus mengingatkannya tentang kehadiran Erika, wanita yang kini berusaha mengisi kekosongan yang ditinggalkan ibunya. "Alya, Sasha," kata Adelia tiba-tiba, suaranya lebih pelan daripada sebelumnya, hampir seperti bisikan. "Lo tahu gak sih, gue benci perasaan kayak gini, kayak selalu ada yang ngambil sesuatu dari gue." Alya menatapnya dengan hati-hati, merasa ada kesakralan dalam kata-kata itu, seperti ada bagian dari Adelia yang mulai membuka diri. Sasha tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk perlahan, memberi ruang bagi Adelia untuk melanjutkan. "Dia gak sempurna, tapi gue ... gue gak bisa terima kalau ada orang yang mencoba ngambil posisi itu," lanjut Adelia, suaranya kini lebih lembut, tapi ada rasa kesal yang masih menggantung. Sasha menarik kursinya lebih dekat, menatap Adelia dengan empati. "Lo gak harus terima semuanya dalam satu waktu, Del. Gak ada yang bilang lo harus langsung suka sama Tante Erika, atau suka sama apa yang terjadi sekarang. Tapi coba pikirin ini, lo gak sendirian. Kita ada di sini buat lo." Adelia menunduk, matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia berusaha keras untuk menahan air mata yang hendak keluar. "Lo gak ngerti, Sasha. Lo gak ngerti betapa susahnya ngelihat orang yang lo anggap bagian dari hidup lo, tiba-tiba jadi orang asing." Alya yang sejak tadi diam, akhirnya meletakkan keripik pedasnya dan berkata dengan nada lebih serius, "Del, gue ngerti kok. Kita semua pernah ngerasain kehilangan. Gue juga gak pernah bisa ngelepasin masa-masa itu. Tapi lo gak bisa terus-terusan hidup di bayang-bayang masa lalu. Terkadang, kita harus memberi kesempatan buat hal baru." Adelia terdiam, kata-kata Alya menggema dalam pikirannya. Di satu sisi, hatinya terasa hancur melihat ibunya digantikan oleh seorang wanita lain. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang membuatnya ragu, sesuatu yang mengusik hatinya tentang Erika, yang perlahan mulai menunjukkan perhatian yang tulus. "Kalian bener," kata Adelia akhirnya, dengan suara pelan, "Tapi gue butuh waktu." "Lo punya waktu," jawab Sasha, "Dan kita akan ada di sini buat lo." Perlahan, Adelia tersenyum kecil, meski belum sepenuhnya meyakinkan dirinya sendiri. Mungkin, hanya mungkin, ada harapan di tengah kekelaman yang terus membayangi hidupnya. Jam pelajaran akhirnya usai, dan suasana sekolah berubah seketika. Anak-anak berlarian keluar kelas, suara langkah kaki bercampur tawa memenuhi udara. Di tengah keramaian itu, Adelia berjalan santai dengan Sasha dan Alya di sisinya. Namun, ada sesuatu yang berbeda pada Adelia, tatapannya kosong, pikirannya melayang jauh entah ke mana. "Lo yakin gak mau jalan sama kita, Del?" tanya Sasha, matanya menyipit mencoba membaca ekspresi sahabatnya. Adelia menoleh sebentar, tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Enggak, lain kali aja." Suaranya pelan, seperti angin yang melintas tanpa meninggalkan jejak. Sebelum Sasha sempat bertanya lagi, Adelia sudah melangkah ke tepi jalan, menghentikan sebuah taksi. Tanpa basa-basi, dia masuk ke dalam mobil, dan pintu tertutup dengan bunyi yang terdengar seperti akhir dari sebuah perbincangan yang tak pernah selesai. Sasha dan Alya hanya bisa saling pandang. "Adel makin aneh belakangan ini," gumam Sasha, sedikit mengernyit. Belum sempat mereka mendiskusikan lebih lanjut, suara seseorang memanggil dari belakang. "Sasha, Alya!" Mereka menoleh bersamaan. Kenzie, dengan seragam yang sedikit berantakan dan raut wajah penuh harapan, berjalan cepat menghampiri mereka. "Kenapa?" tanya Sasha dengan nada setengah malas. "Bantuin gue dong!" ujar Kenzie tanpa basa-basi, nadanya hampir memohon. Sasha mendengus pelan, melipat tangan di depan d**a. "Kita udah berusaha bantu lo buat deket sama Adel, tapi lo aja yang ngeyel. Udah dibilang jangan lakuin itu, lo malah lakuin juga." "Tau nih, malah ngikutin dua manusia sinting itu!" tambah Alya sambil mengangkat alis, tatapannya tajam seperti pisau. Kenzie menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali, ekspresinya seperti anak kecil yang ketahuan salah. "Ya kan gue cuma coba. Siapa tau berhasil." Sasha menghela napas panjang, seolah sedang berusaha menahan diri untuk tidak memukul kepala Kenzie. "Makanya jangan coba-coba! Adel itu bukan cewek yang bisa dideketin pake drama-drama norak!" "Terus, gue harus gimana sekarang?" tanya Kenzie dengan nada frustasi, tatapannya berpindah dari Sasha ke Alya, berharap ada secercah harapan dari dua sahabat Adelia itu. "Lo minta maaf, langsung samperin Adelia. Jangan lebay, apalagi pake surat segala. Jaman udah canggih, lo masih aja pake cara kuno," ujar Sasha, melambaikan tangannya seolah memberikan solusi paling masuk akal di dunia. Tetapi, Alya tiba-tiba tersenyum licik, matanya berbinar seperti seseorang yang baru saja menemukan ide brilian. "Gue punya ide, Kenz!" serunya penuh semangat. Kenzie langsung menatapnya penuh harap. "Apa?" "Adel kan bukan tipe cewek yang suka kejutan romantis. Lo tau apa yang dia suka? Tantangan. Coba deh lo ajak dia balapan motor. Kalau lo menang, lo bisa minta apapun yang lo mau sama dia!" Alya menyeringai, tampak yakin dengan rencananya. Kenzie terdiam, menimbang-nimbang. Mata Sasha membulat, nyaris tidak percaya dengan ide gila itu. "Balapan motor? Lo serius, Al? Itu gila!" "Justru itu!" jawab Alya dengan percaya diri. "Adel suka sesuatu yang beda. Kalau lo mau dia ngeliat lo, lo harus main di dunia dia, bukan paksain dunia lo." Kenzie mulai tersenyum, bayangan dirinya memenangkan balapan dan melihat Adelia terpaksa menerima syaratnya melintas di pikirannya. "Kayaknya lo ada benernya juga!" Sasha hanya menghela napas, merasa tidak yakin ide ini akan berakhir baik. "Ya udah, terserah lo lah, Kenz. Tapi kalau lo jatuh, jangan salahin kita." Kenzie tertawa kecil, rasa percaya dirinya mulai tumbuh. "Gue gak bakal jatuh. Gue akan menang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN