Di bawah langit malam Grindelwald yang dingin, Maura duduk di teras vila sambil memandangi kalung Dragon’s Blood yang melingkar di lehernya. Kilauan merah darah dari batu permata di kalung itu tampak begitu memukau, namun kata-kata ibunya terus berputar di dalam kepalanya. "Kutukan," ucap Helen tadi. "Setiap pemilik Dragon’s Blood akan mengalami kesialan, atau bahkan bisa lebih buruk lagi, mati mendadak." Maura menggigit bibirnya dengan benak yang dipenuhi oleh keraguan. Kalung ini adalah pemberian Raven. Bukankah Raven memberikannya sebagai simbol perlindungan, alih-alih sebagai kutukan? Gadis itu pun berusaha untuk menenangkan hatinya serta meyakinkan diri, bahwa ibunya itu mungkin hanya menakut-nakutinya dengan alasan yang ia tak mengerti bertujuan untuk apa. Apakah Helen ingin m

