“Adam,” bisik Amber sembari mengguncang pundak suaminya, “Adam!” Diiringi erangan kecil, Adam memaksakan diri untuk membuka mata. “Ada apa, Precious? Bukankah kita sudah berencana untuk bangun lebih siang hari ini?” “Ya, tapi ini darurat! Kau tahu siapa yang sejak tadi mengetuk pintu?” Dalam sekejap, raut sang pria berubah serius. “Ada yang mengetuk pintu? Siapa?” “Wartawan! Entah siapa yang memberitahukan alamat kita. Mereka sudah berbaris di luar sana,” terang Amber dengan suara pelan yang penuh penekanan. Bukannya ikut gelisah, Adam malah memperdalam kerut alis. “Lalu, kenapa kau panik?” Sang wanita hamil sontak terdiam. Sembari memundurkan kepala, ia berkedip-kedip. “Bukankah selama ini kau tidak mau rumah kita diketahui oleh publik? Kau menginginkan kehidupan yang tenang?” T

