Terlambat

1102 Kata

"Untuk apa kau datang kemari? Bukankah kau sudah bahagia bersama perempuan itu? Tidak ada siapa pun yang mengganggu kalian lagi," bentak Amber ketika keluar dari pintu. Mata merahnya tampak begitu layu dan sendu. Sekalipun ia memaksakan pelupuk untuk terangkat lebih tinggi, kemarahannya tidak terlihat nyata bagi Adam. "Aku merindukanmu, Precious, sangat-sangat merindukanmu." Tanpa berpikir panjang, sang pria mengulurkan tangan. Ia sudah tidak sabar ingin merengkuh istrinya itu. Namun, sebelum jemari Adam tiba di lengan kurusnya, Amber melangkah mundur. "Jangan sentuh aku! Aku tidak mau dikotori oleh tanganmu yang hina itu." Seketika, sorot mata Adam kembali meredup. Senyumnya pecah bersamaan dengan desah kecewa. "Kenapa kau berkata begitu? Kau masih tidak percaya kalau aku tidak men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN