Liam melangkah santai menuju meja kerja Aileen, menatap wanita itu dengan senyuman licik yang sudah jadi ciri khasnya. Aileen yang sedang sibuk menggambar desain di tabletnya, mendongak dengan ekspresi jengkel saat melihat Liam mendekat.
“Ada apa lagi, Liam? Aku sedang sibuk,” ujar Aileen ketus tanpa menyembunyikan nada kesalnya.
Liam hanya terkekeh kecil dan berbisik. “Aaron memintamu masuk ke ruangannya sekarang. Ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan.”
Aileen mendengus pelan, membalik tabletnya dengan sedikit kasar. “Selalu ada saja hal penting yang dibuat-buat oleh manusia robot itu,” gumamnya sambil berdiri. Dia mengambil buku catatan kecilnya, lalu melangkah menuju pintu ruangan Aaron dengan tatapan dingin.
Setibanya di sana, Aileen membuka pintu tanpa mengetuk, seperti sengaja ingin menunjukkan sikapnya yang tidak peduli. Dia masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan suara yang sedikit keras. Aaron, yang sedang berdiri di dekat jendela, menoleh dengan ekspresi tenang namun penuh otoritas.
“Ada apa?” tanya Aileen dengan nada tajam, kedua tangannya bersilang di d**a. Tatapannya penuh kebencian, membuat suasana di ruangan itu terasa semakin dingin.
Aaron berdecak, "Lama-lama kau sama seperti Liam, masuk ke dalam ruanganku tanpa mengetuk pintu dulu," ocehnya. Dia berjalan perlahan ke mejanya, mengambil sebuah map, dan menyerahkannya pada Aileen dengan gestur yang tegas. “Baca ini,” titahnya tanpa basa-basi.
Dahi Aileen mengernyit saat menerima map itu. Dia membukanya dan mulai membaca isinya. Ekspresinya berubah drastis ketika matanya menangkap judul kontrak itu dan angka besar yang tercetak tebal di dalamnya. Dia menutup map itu dengan keras, menatap Aaron dengan tatapan tajam.
“Apa maksudnya ini? Kau masih bersikeras ingin menikah denganku?” tanyanya sinis, bibirnya menyunggingkan senyum mengejek. “Jangan bilang kau jatuh cinta padaku, Aaron Smith.”
Aaron mendecih, lalu tersenyum miring. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Aileen, membuat jarak di antara mereka hampir terkikis. Suaranya merendah menjadi bisikan dingin. “Jangan mimpi, Nona Moretz.”
Aileen berdecak kesal dan mundur selangkah. “Lalu apa maksud kontrak ini? Aku sudah bilang sebelumnya, aku tidak akan pernah menikah dengan pria ingin dan kaku seperti dirimu.”
Aaron tidak terpengaruh oleh penolakan Aileen. Dia kembali ke tempatnya, menyandarkan tubuhnya pada meja dengan kedua tangan. “Aku tidak peduli apa katamu. Aku memberimu waktu satu minggu untuk berpikir. Tepat satu jam sebelum pernikahan yang sudah direncanakan ibuku berlangsung, aku ingin mendengar jawabanmu.”
Aileen mendelik. “Dan jika jawabanku tetap tidak? Apa kau tidak malu jika pernikahan itu batal?”
Aaron menatapnya tajam. “Tidak. Karena aku pun tidak menginginkan pernikahan ini, Aileen. Semua ini aku lakukan hanya untuk formalitas saja untuk menuruti keinginan ibuku.”
Tidak ingin berlama-lama di ruangan itu, Aileen langsung melangkah keluar dengan kepala tegak, tanpa sepatah kata lagi.
Saat berada di meja kerjanya, dia melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 5 sore. Tanpa membuang waktu, dia merapikan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.
Di perjalanan menuju lift, pikirannya dipenuhi dengan berbagai emosi. Antara marah, kesal, dan sedikit rasa penasaran dengan niat Aaron yang sebenarnya. Satu hal yang pasti, dia tidak akan menyerah begitu saja, dan mengorbankan dirinya untuk menjadi istri dari bosnya yang arogan dan supemenyebalkan itu.
Aileen, yang masih dengan raut wajah kesal, keluar dari taksi di ujung jalan dekat toko bunga milik bibinya, Annastasia Moretz. Angin sore yang sejuk tidak mampu meredakan emosinya. Dia berjalan kaki menuju toko bunga itu, mencoba menenangkan pikirannya yang masih dipenuhi amarah terhadap Aaron. Namun, ketika jaraknya semakin dekat, telinganya menangkap suara gaduh dari dalam toko.
Rasa panik menyelinap di hatinya. Dia mempercepat langkah dan langsung masuk ke toko, yang kondisinya sudah hancur berantakan. Pot-pot bunga pecah berserakan di lantai, rak-rak terbalik, dan bunga-bunga berserakan di mana-mana. Di tengah kekacauan itu, tiga pria berbadan besar berdiri mengancam di depan bibinya yang tampak ketakutan.
"Aunty!" seru Aileen, berlari ke arah Anna untuk melindunginya. Dia berdiri tegak di depan bibinya dengan tatapan tajam mengarah ke ketiga pria itu. "Apa-apaan ini? Kenapa kalian menghancurkan toko ini?"
Salah satu pria, yang tampaknya pemimpin mereka, terkekeh sinis. "Ini urusan kami dengan wanita tua ini. Bukan urusanmu, nona kecil."
Aileen mendengus kesal. "Tidak peduli urusan siapa ini! Kalian sudah merusak properti kami, dan aku akan melaporkan kalian ke polisi."
Pria-pria itu malah tertawa keras, seolah ancaman Aileen adalah lelucon. Pemimpin mereka mendekat, matanya menatap Aileen dengan pandangan meremehkan. "Lapor polisi? Lucu sekali. Justru kami yang akan membawa Annastasia Moretz ke kantor polisi kalau dia tidak segera melunasi hutangnya."
Aileen tertegun. "Hutang? Hutang apa? Jangan asal bicara!"
Pria itu mengeluarkan selembar kertas dari sakunya dan mengibaskannya ke arah Aileen. "Lihat sendiri. Seratus ribu dolar. Dan jika tidak dibayar dalam waktu seminggu, bunga akan bertambah."
"Seratus ribu dolar?!" pekik Aileen, menoleh ke arah bibinya dengan tatapan penuh tanya. "Aunty, apa maksud mereka? Sejak kapan aunty punya hutang sebesar itu? Dan untuk apa uangnya?"
Anna menunduk, air matanya mengalir di pipinya. Dia menggenggam tangan Aileen dengan gemetar. "Aileen, maafkan Aunty. Uang itu... untuk biaya hidup kita. Dari kamu SMA sampai lulus kuliah. Aku tidak punya pilihan lain."
Mata Aileen melebar, napasnya tercekat. "Apa? Aku pikir selama ini toko bunga ini cukup untuk menghidupi kita. Kenapa Aunty tidak pernah bilang?"
"Aku tidak mau kamu khawatir. Aku ingin kamu fokus pada pendidikanmu," jawab Anna lirih, suaranya dipenuhi penyesalan.
Aileen terduduk lemas di kursi dekatnya, kedua tangannya menutupi wajahnya. Pikirannya berkecamuk, mencoba mencari cara untuk melunasi hutang yang begitu besar itu. Ketiga pria itu hanya menonton dengan sikap dingin, tidak peduli dengan drama keluarga yang berlangsung di depan mereka.
"Aileen," Anna duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat. "Maafkan Aunty. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi."
Aileen menghela napas dalam, mencoba menenangkan gemuruh di hatinya. Dia menggenggam tangan Anna dengan lembut, menatap wanita yang telah menjadi segalanya baginya sejak usia tujuh tahun, setelah kehilangan kedua orang tuanya. Bibinya inilah yang merawatnya, mendidiknya, dan memberikan kasih sayang tanpa batas.
“Aunty,” ucap Aileen, suaranya lirih namun penuh emosi. “Aunty tidak perlu meminta maaf. Justru aku yang seharusnya meminta maaf karena sudah menjadi beban untukmu selama ini.”
Anna menggeleng cepat, air matanya semakin deras mengalir. “Tidak, sayang. Kau sama sekali bukan beban. Aunty sangat mencintaimu. Kau adalah satu-satunya harta berharga bagiku.”
Mata Aileen berkaca-kaca mendengar pengakuan itu. Dia menundukkan kepala, menggigit bibirnya untuk menahan tangis. Sebelum dia sempat menjawab, salah satu pria berbadan besar itu berdecak keras, suaranya memecah momen haru di antara mereka.
“Cukup dengan pertunjukan drama ini,” ujarnya kasar, matanya melirik sinis ke arah mereka. “Kami tidak peduli dengan hubungan keluarga kalian. Kami hanya peduli dengan uang kami.”
Aileen bangkit berdiri, kembali menatap mereka dengan penuh keberanian meski hatinya gemetar. “Berikan kami waktu satu minggu. Aku akan mencari cara untuk melunasi hutang-hutang ini.”
Pria itu mendengus, lalu melangkah mendekat dengan gerakan mengintimidasi. “Satu minggu? Kau pikir ini pasar malam? Kami hanya memberikan waktu tiga hari, tiga hari, untuk melunasi hutang ini. Kalau tidak, kami akan mengambil rumah dan toko bunga ini. Dan jika perlu, kami akan menyeret kalian berdua keluar dari sini.”
Anna memekik kecil mendengar ancaman itu, tetapi Aileen tetap berdiri tegak. Dia menatap pria itu dengan mata yang berkobar-kobar penuh tekad.
“Baiklah,” jawab Aileen dengan tegas, meski suaranya sedikit bergetar. “Tiga hari. Kalian akan mendapatkan uang kalian. Tapi jika kalian menyentuh toko ini atau bibiku lagi sebelum waktunya, aku bersumpah akan melibatkan polisi.”
Pria itu menyeringai, lalu memberi isyarat pada kedua rekannya untuk pergi. “Tiga hari. Jangan membuat kami menunggu lebih lama.” Mereka berbalik, meninggalkan toko bunga yang kini penuh kekacauan.
Begitu mereka pergi, Aileen langsung merosot ke lantai, memegang dadanya yang terasa sesak. Anna menghampirinya dan memeluknya erat.
“Aileen, aku minta maaf...,” bisik Anna dengan suara serak.
Aileen menggenggam tangan bibinya dan berbisik, “Kita akan melewati ini, Aunty. Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi aku janji, kita akan baik-baik saja.”
Namun, di dalam hatinya, Aileen bertanya-tanya, dari mana dia bisa mendapatkan seratus ribu dolar dalam tiga hari?
Setelah ketiga pria itu pergi, Aileen langsung bangkit dan membantu bibinya merapikan toko yang porak-poranda. Dia memunguti pot-pot bunga yang pecah, membersihkan pecahan kaca, dan mengatur ulang rak-rak yang terbalik. Anna ingin membantu, tetapi Aileen memaksanya untuk duduk dan beristirahat.
"Aunty, biar aku saja yang bereskan ini," kata Aileen dengan lembut. "Aunty sudah cukup stres hari ini. Istirahatlah, ya."
Anna mengangguk pelan, meski rasa bersalah masih tampak jelas di wajahnya. "Aileen, maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi."
Aileen berhenti sejenak, menatap bibinya dengan senyuman kecil yang berusaha menguatkan. "Aunty, jangan khawatir. Kita akan melewati ini bersama."
Setelah toko beres, Aileen naik ke kamarnya di lantai dua. Kamarnya kecil, tapi nyaman, dengan dinding berwarna krem dan jendela besar yang menghadap ke jalanan. Dia duduk di tepi ranjangnya, kepalanya tertunduk, dan pikirannya kacau.
"Seratus ribu dolar..." gumamnya, tangan menggenggam rambutnya. "Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam tiga hari?"
Dia menutup matanya, mencoba mencari solusi, tetapi satu-satunya yang terlintas adalah kegelapan. Sampai tiba-tiba, pikirannya melayang ke sebuah dokumen yang tadi pagi dilemparkan Aaron ke meja di depannya.
Kontrak Pernikahan.
Aileen tertegun, tubuhnya membeku. Dia memejamkan mata lebih erat, berusaha mengusir pikiran itu, tetapi angka besar yang tertera di kontrak itu terus menghantuinya, $500,000.
“Kalau aku menandatangani kontrak itu …,” pikirnya menggantung, tetapi kalimat itu terputus oleh perasaan bimbang yang menyergapnya.
Dia bangkit dari ranjang dan mulai mondar-mandir di kamar. Di satu sisi, tawaran itu adalah jalan keluar paling cepat dan mudah. Tapi di sisi lain, apakah dia benar-benar sanggup menjalani pernikahan kontrak dengan Aaron, pria yang membuat darahnya mendidih setiap kali bertemu?
Aileen berhenti di depan jendela, menatap langit yang mulai gelap. Hatinya berdebar kencang. Dia memegang ponselnya, jemarinya ragu-ragu mengetik pesan untuk Aaron.
Namun, sebelum pesan itu terkirim, dia memejamkan mata dan menghela napas panjang. Apakah dia siap menyerahkan kebebasannya demi melindungi bibinya?