Semua staf yang sedang bekerja menoleh ke ruangan Aaron mendengar teriakan Liam.
Aaron pun refleks melempar bolpoin yang digenggamnya dan mendarat tepat di dahi Liam, hingga membuat Liam meringis.
"f**k! Kau tidak perlu berteriak seperti itu!" omelnya.
Liam pun tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maaf, aku terlalu terkejut mendengar pertanyaanmu yang tiba-tiba itu. Apa maksudmu menikah? Kenapa kau tiba-tiba ingin menikahi Aileen?"
"Bukan aku yang menginginkannya, tapi Mommy-ku. Dia tiba-tiba mengatakan bahwa kami berdua akan menikah minggu depan," jelas Aaron, lalu mendesah dengan raut wajah frustasi.
"Jadi, ini ide Nyonya Sophia?" tanya Liam lagi memastikan. Aaron hanya menjawabnya dengan mengerjapkan matanya sekali. "Woah, aku benar-benar tidak menyangka jika ibumu benar-benar tidak sesabar itu ingin melihatmu menikah lagi."
"Ya, aku juga tidak menyangka dia benar-benar melakukan hal di luar batas seperti ini," balas Aaron. "Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkan Aileen agar dia mau menikah denganku sesuai dengan rencana Mommy-ku? Tolong berikan aku solusinya. Atau ... mungkin solusi untuk ... membatalkan rencana Mommy-ku."
Liam tersenyum usil sambil mengamati raut wajah Aaron yang tampak berseberangan dengan kalimat yang terakhir dia ucapkan. Pria arogan itu tampak tidak setuju dengan perkataannya sendiri. "Kau yakin ingin membuat Mommy-mu membatalkan pernikahan itu? Aku rasa ... kau justru ingin pernikahan itu benar-benar dilaksanakan," katanya menggoda Aaron.
"Entahlah ...," jawab Aaron menggantung.
Liam tertegun dan berpikir sejenak. "Emm ... dari yang pernah aku dengar saat Aileen berbincang dengan seseorang di telepon sambil membuat kopi di pantry, sepertinya dia masih virgin. Biasanya jika gadis seusia Aileen belum pernah melakukan hubungan s3ksual, dia hanya akan menyerahkan keperawanannya pada pria yang akan menjadi suaminya. Jadi, bagaimana jika aku membuatmu dan Aileen terjebak di kamar hotel yang sama, dan kalian melakukan one night stand? Atau ... mungkin aku bisa menaruh obat perangsang di minumannya agar dia secara sukarela memohon padamu untuk menuntaskan hasratnya. Dan setelah dia kehilangan mahkota yang dia pertahankan itu, mau tidak mau dia bersedia menikah denganmu. Bagaimana?"
Aaron kembali mendecak, lalu menghela napas panjang, dan berkata dengan jujur. "Kami sudah melakukannya dua kali. Dan dia tetap menolak."
"What? Dua kali?" Liam kembali berteriak saking terkejutnya.
Aaron langsung meremas kertas di atas meja dan melemparkannya pada Liam, yang langsung refleks Liam tangkap. "Sekali lagi kau berteriak. Akan aku pastikan kau dipecat tanpa pesangon sepeserpun!" ancamnya dengan rahang yang mengetat.
Liam mengacak rambutnya sendiri. "Sorry, Sorry! Aku benar-benar sangat terkejut mendengar pengakuanmu barusan. Sejak kapan kalian melakukan itu? Kenapa aku tidak tahu? Eh, maksudku ... kenapa bisa kalian melakukan itu, sementara kalian sering bertengkar masalah pekerjaan."
Akhirnya Aaron pun menjelaskan apa yang terjadi saat dia pertama kali terjebak dalam situasi di mana Aileen dalam pengaruh obat yang dimasukkan Alan Walters ke dalam minumannya.
"Oh, jadi itu alasanmu memutuskan membatalkan proyek dengan keluarga Walters?" tanya Liam setelah mendengar penjelasan Aaron. Aaron hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.
"Lalu, kapan dan di mana kalian melakukan untuk yang kedua kalinya?" tanyanya berbisik. Takut jika Aileen dan staf lain mendengar percakapan mereka.
"Tadi malam," jawab Aaron lagi.
Liam membuka mulutnya lagi hendak berteriak seperti sebelumnya, tapi karena tatapan tajam Aaron, dia langsung membungkam mulutnya sendiri.
"Ba-bagaimana bisa tadi malam kalian ...."
"Itu karena ulah Mommy-ku!" potong Aaron. Kemudian dia pun menceritakan tentang kejadian semalam. Liam menyimak penjelasan Aaron dengan mulut menganga, tidak menyangka jika ibunya Aaron sampai melakukan hal nekat seperti itu.
Liam menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bersandar di kursi dengan ekspresi penuh kekaguman. “Pantas saja Ibumu langsung menentukan hari pernikahan kalian. Pasti dia sudah merencanakannya sebelum dia menghubungimu dan memintamu untuk membawa Aileen ke mansion. Kalau dipikir-pikir, ini sangat masuk akal. Dia tahu aturan keluarga kalian, 'kan? Siapa pun pria dari keluarga Smith yang mengambil kep3rawanan seorang gadis, dia harus menikahi gadis itu.”
Aaron mengerutkan kening. “Kau yakin dia sengaja melibatkan Aileen dalam rencana ini?”
Liam tertawa kecil. “Aku yakin Nyonya Sophia sudah menyelidiki latar belakang Aileen. Dia pasti tahu kalau Aileen adalah tipe gadis yang keras kepala dan sulit didekati. Dia juga pasti sudah tahu tentang apa yang terjadi di antara kau dan Aileen di hotel waktu itu. Jadi, kupikir dia sebenarnya sudah tahu kalau kau sudah melanggar aturan keluarga. Dia melakukannya lagi mungkin untuk memastikan hubungan kalian, dengan begitu, kau tidak punya pilihan selain menikahi Aileen.”
Aaron menghela napas panjang sambil meremas rambutnya. “Itu juga yang ada di pikiranku. Tapi sekarang aku harus bagaimana? Aku sudah bicara pada Aileen tadi pagi, mencoba meyakinkannya, tapi dia tetap menolak menikah denganku. Bahkan setelah semua yang terjadi di antara kami. Dia terlihat tidak peduli.”
Liam berpikir sejenak, lalu tersenyum licik. “Bagaimana kalau kau menawarkan pernikahan kontrak?”
Aaron mendongak, alisnya terangkat. “Pernikahan kontrak? Kau serius?”
“Tentu saja,” jawab Liam menjawab sambil menyilangkan tangan di d**a. “Kau tahu Aileen tipe yang sangat logis, 'kan? Kalau kau menjelaskan bahwa ini hanya sementara untuk memenuhi keinginan keluargamu, dia mungkin akan setuju. Katakan saja bahwa setelah satu atau dua tahun, kalian bisa bercerai tanpa masalah. Dia tetap bisa menjalani hidupnya seperti biasa, dan kau pun terbebas dari tekanan keluargamu. Dan berikan Aileen imbalan dengan nominal yang tinggi, yang membuatnya tidak akan menolak tawaran itu. Kau tahu, kan, tidak ada wanita yang tidak suka uang.”
Aaron tampak ragu, tapi ada kilatan harapan di matanya. “Tapi bagaimana kalau dia masih menolak? Kau tahu dia tidak suka ikut campur dalam drama keluargaku. Dia juga berbeda dengan wanita lain. Dia menyukai uang, tapi jika itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Bukan uang yang didapat secara cuma-cuma. Bahkan ketika aku memberikannya cek kemarin untuk menebus kesalahanku karena mengakui dia sebagai kekasihku di depan ibuku, dia menolaknya mentah-mentah dan melemparkan cek itu padaku.”
“Aileen memang wanita yang unik dan spesial. Kau sangat beruntung jika berhasil mendapatkan hatinya, Aaron,” kata Liam santai. “Kau tidak punya pilihan lain selain menawarkan pernikahan kontrak padanya. Lagipula, apa pilihan lain yang kau punya? Jika kau membiarkan ini berlarut-larut, Mommy-mu mungkin akan menemukan cara lain yang lebih gila untuk memastikan pernikahan kalian terjadi.”
Aaron termenung sejenak, lalu akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah, kau buatkan kontraknya. Dan aku akan mencoba bicara dengannya lagi setelah kau membawa surat kontrak itu padaku. Tapi kalau dia tetap menolak, aku akan pastikan kau tidak akan mendapatkan bonusmu bulan ini.”
Liam tertawa keras. “Okay, deal! Tapi aku yakin kau akan berterima kasih padaku nanti.”
Aaron menghela napas panjang sambil berdiri. “Kau terlalu percaya diri, Liam. Tapi aku harap kau benar.”
Dia menghela napas lega dan meminta Liam untuk pergi meninggalkan ruangannya. "Cepat kembali ke ruanganmu, dan buat kontraknya. Aku harus menyelesaikan desainku untuk proyek selanjutnya."
Lima jam kemudian ....
Aaron tengah sibuk menyelesaikan desainnya ketika pintu ruangannya terbuka tanpa mengetuk. Liam masuk dengan ekspresi bangga sambil membawa sebuah map.
“Sudah selesai,” ujar Liam santai sambil menjatuhkan map itu ke meja Aaron.
Aaron menatap map tersebut dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, lalu membukanya. Dia membaca isi kontrak itu dengan seksama. Di sana tertera syarat-syarat, termasuk durasi pernikahan kontrak selama satu tahun, nominal satu juta dolar sebagai imbalan untuk Aileen, dan poin terakhir yang membuat alis Aaron berkerut dalam.
Aaron menatap Liam tajam. “Kenapa kau menambahkan poin terakhir ini?” tanyanya, menunjuk kalimat yang berbunyi, ‘Jika dalam masa pernikahan kontrak kedua belah pihak saling mencintai, maka kontrak ini otomatis dibatalkan.’
Liam terkekeh kecil, duduk di kursi depan Aaron, dan menatap Aaron sambil menopang dagunya. “Kenapa? Kau tidak suka? Ayolah, Aaron. Bukankah itu hanya formalitas? Lagipula, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Siapa tahu kalian benar-benar saling jatuh cinta.”
Aaron mendecakkan lidah sambil melemparkan map itu kembali ke meja. “Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya. Jangan konyol, Liam.”
Dengan senyum liciknya, Liam menjawab, “Aaron, tidak ada yang tidak mungkin. Apalagi jika kalian sudah tinggal satu atap. Aku yakin, tidak sampai seratus hari, kau pasti sudah jatuh cinta pada pesona Aileen.”
Aaron mendengus sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. “Itu tidak mungkin. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada wanita keras kepala sepertinya.”
“Justru itu daya tarik seorang Aileen Moretz,” balas Liam cepat.
Aaron hanya diam, malas melanjutkan perdebatan dengan Liam. Namun, Liam tampaknya tidak puas sampai di situ.
“Aku ada ide bagus, Aaron,” ujar Liam sambil menyilangkan tangan di d**a. “Aku menantangmu.”
Aaron memicingkan mata. “Tantangan apa?”
“Jika tebakanku benar dan kau jatuh cinta pada Aileen sebelum seratus hari pernikahan kontrak kalian, kau harus memberiku bonus sebesar lima ratus ribu dollar.”
Aaron tertawa miring, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. “Dan jika itu tidak terjadi, kau akan menjadi asistenku seumur hidup. Setuju?”
Liam terdiam sejenak, lalu mengulurkan tangan dengan senyum penuh percaya diri. “Deal!”
Aaron menyambut uluran tangan itu dengan smirk di wajahnya. “Kau baru saja menandatangani nasibmu, Liam.”
“Tunggu saja, Aaron,” balas Liam sambil berdiri dan merapikan jasnya. “Aku yakin kau akan berterima kasih padaku nanti. Sekarang, waktunya kau bicara pada Aileen.”
"Panggil dia ke ruanganku!" titah Aaron sambil membaca kembali kontrak pernikahan itu.
Aaron menghela napas panjang saat Liam keluar dari ruangannya. Dia tahu ini bukan tugas yang mudah. Tapi dia tetap harus mencobanya.
Saat Liam menghampiri meja Aileen yang berada di depan ruangannya, pikirannya terus memutar skenario kemungkinan. Namun, satu hal yang tidak dia sadari—jauh di lubuk hatinya, dia sangat penasaran dengan bagaimana Aileen akan merespons tawaran ini.