10. Menikah?!

2040 Kata
Aileen terbangun sepenuhnya dengan mode galak yang kembali aktif. Dia duduk tegak di atas ranjang, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos, dan menatap Aaron dengan mata menyala-nyala. “Bagaimana mungkin aku menikah dengan manusia robot sepertimu? Jangan mimpi! Aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu!” serunya penuh emosi, suaranya menggema di kamar yang sebelumnya dipenuhi keheningan. Aaron menatap Aileen tanpa panik, justru dengan seringai tipis yang seolah berkata, "Aku sudah tahu kau akan bereaksi seperti ini. Kau bilang begitu sekarang, tapi kau tahu kau tidak bisa menghindari setiap sentuhan dari manusia robot sepertiku, Aileen. Kau lupa bagaimana tadi malam kau berteri ...." "Stop it! Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi darimu! Apapun alasannya, aku tetap tidak akan pernah mau menikah dengan pria arogan sepertimu!" Aileen mendengus keras dengan wajahnya yang memerah karena malu, lalu bangkit dari ranjang dengan gerakan penuh tekad. Dia berjalan ke kamar mandi sambil memegangi perut bawahnya, meringis kecil menahan rasa perih di bagian inti tubuhnya. Aaron, yang langsung menyadari kondisinya, segera bangkit. “Aileen, tunggu. Biar aku—” “Jangan sentuh aku!” potong Aileen ketus sambil menoleh dengan tatapan tajam. “Kau sudah melakukan cukup banyak kerusakan pada tubuhku semalam!” Aaron mengangkat kedua tangannya menyerah, tetapi senyum tipis itu tetap menghiasi wajahnya. “Tapi kau menikmatinya, bukan?" godanya yang langsung mendapat tatapan sinis dari Aileen. "Baiklah, tapi kalau kau butuh bantuan, panggil aku.” “Bantuanmu hanya akan membuat semuanya lebih buruk,” gumam Aileen dengan sinis sebelum masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan keras. Di dalam kamar mandi, dia membersihkan tubuhnya sambil terus memaki dirinya sendiri dalam hati. "Kenapa aku bisa sebodoh itu tadi malam? Kenapa aku tidak bisa menahan diriku?" Setiap kali mengingat apa yang terjadi semalam—bukan hanya di kamar mandi, tetapi juga di ranjang panas itu—pipinya memerah. Karena mereka melakukannya lebih dari sekali. Setelah selesai mandi, dia mengambil bathrobe yang terlipat di dalam kabinet, dan keluar dengan rambut basah yang ditutupi handuk kecil. Aaron sedang duduk di ranjang, bersandar santai dengan tablet di tangannya, tetapi dia langsung mendongak begitu Aileen keluar. “Kau sudah selesai?” tanyanya ringan, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Aileen melipat kedua tangannya di d**a. “Pakaianku basah, Aaron. Apa yang harus kupakai untuk pulang?” Nada bicaranya ketus, menahan rasa frustrasi. Aaron meletakkan tabletnya dan menatap Aileen santai. “Aku sudah meminta Liam membelikan pakaian untukmu. Jadi tunggu saja. Lagi pula, kau tidak bisa pulang. Kita harus segera pergi bersama ke Powell Group. Kau sudah siap mempresentasikan desain lanskap taman vertikalnya, 'kan?” Aileen menghela napas panjang. “Tentu saja aku sudah siap. Semua bahan presentasi sudah aku selesaikan kemarin sore.” Aaron tersenyum puas. “Good job. Kalau begitu, aku akan mandi dulu.” Dia bangkit dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi hanya mengenakan celana boxer, memperlihatkan tubuhnya yang atletis dengan setiap langkah. Otot punggungnya bergerak selaras, dan tatapan matanya yang penuh percaya diri membuat Aileen langsung memalingkan pandangannya. Namun, jantungnya kembali berdegup kencang. “Damn!” jerit Aileen dalam batinnya sambil menatap ke arah lain. "Kenapa jantungku ini sering sekali aneh seperti ini?" Dia menggigit bibir, mencoba mengabaikan suara hatinya, tetapi bayangan otot-otot di perut Aaron yang hot tidak juga hilang dari pikirannya. Setelah Aaron selesai mandi dan Liam datang membawa pakaian untuk Aileen, mereka bersiap-siap untuk pergi. Aileen mengenakan pakaian yang dikirim oleh Liam—blus putih sederhana dan rok pensil hitam. Meski terkesan formal, pakaian itu memancarkan aura profesional dan keanggunan pada gadis itu. Namun, tatapan tajam yang ia berikan pada Aaron sepanjang waktu menunjukkan bahwa ia masih kesal. “Sudah selesai? Kita harus segera pergi,” kata Aaron, sambil memasang jasnya. Aileen mendengus kecil. “Aku sudah siap sejak tadi. Kau yang terlalu lama bersiap.” Aaron hanya tersenyum kecil, tidak terprovokasi. “Kalau begitu, ayo kita turun, pamit pada Mommy-ku.” Aileen tidak menjawab, hanya mengikuti langkah Aaron sambil menatap punggung pria itu dengan tatapan tajam. Di ruang tamu, Sophia menunggu mereka. Wanita paruh baya itu tersenyum lembut melihat keduanya. “Jadi, kalian benar-benar harus pergi sekarang?” Aaron mengangguk. “Ya, Mom. Ada pertemuan penting hari ini.” Sophia menatap Aileen dengan perhatian dan senyum penuh kebahagiaan. “Aileen, Sweety, kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat lelah.” Aileen tersenyum tipis, menutupi rasa malunya. “Aku baik-baik saja, Nyonya. Hanya kurang tidur saja.” Sophia seketika tersenyum lebar, merasa rencananya berhasil. "Yes, rencanaku berjalan dengan mulus. Mereka pasti sudah melewati malam yang panas tadi malam," batinnya. “Kalau begitu, jangan lupa sarapan nanti, ya,” pesan Sophia, mengusap lengan Aileen dengan lembut. “Jangan bekerja terlalu keras. Bilang padaku jika Aaron memaksamu bekerja terlalu keras.” Aaron menyela sambil menarik pinggul Aileen agar mendekat padanya. “Aku akan memastikan dia tidak bekerja terlalu keras, Mom. Jangan khawatir.” Aileen melirik Aaron dengan pandangan kesal, tapi Sophia tidak curiga dan tertawa kecil. “Baiklah. Hati-hati di jalan, kalian berdua.” Aileen hanya membalasnya dengan senyuman tipis, lalu menghela napas kasar saat mereka berjalan keluar mansion. Sophia menatap kepergian mereka dengan senyuman licik, dan melambaikan tangannya saat mobil mereka melaju meninggalkan pelataran mansion. "Aku yakin kalian sudah melakukannya tadi malam. Aku tidak peduli kalian hanya berpura-pura menjadi kekasih di depanku. Yang terpenting, rencanaku tadi malam berhasil. Dan aku harap, benih Aaron akan segera tumbuh di rahimmu, Aileen. Aku tidak sabar ingin memiliki cucu," gumamnya dengan senyum penuh kemenangan dan harapan. *** Di Powell Group, ruang konferensi sudah dipenuhi oleh para eksekutif dan beberapa klien penting. Aileen berjalan ke depan ruangan dengan percaya diri, membawa tablet dan pointer laser. Ia mengenakan senyumnya yang profesional, meskipun hatinya masih penuh gejolak akibat kejadian semalam. Aaron duduk di barisan depan, mengamati Aileen dengan tatapan penuh kebanggaan yang tidak mampu ia sembunyikan. Pria itu menyadari betapa berbakatnya Aileen, dan meskipun ia sering mempermainkan emosinya, ia tahu bahwa wanita itu adalah aset besar untuk perusahaan mereka. “Selamat pagi, semuanya,” Aileen memulai dengan suara yang jelas dan tegas. “Hari ini, aku akan mempresentasikan desain lanskap untuk proyek taman vertikal yang dirancang khusus untuk Powell Group.” Aileen membuka slide pertama, menampilkan desain konsep yang memukau. Semua orang di ruangan itu mulai memperhatikan dengan serius. “Proyek ini dirancang untuk memaksimalkan ruang terbatas di lingkungan perkotaan, sekaligus memberikan manfaat ekologis seperti peningkatan kualitas udara dan pengelolaan air hujan,” jelasnya sambil menunjukkan diagram dan animasi dari desain tersebut. Salah satu eksekutif mengangkat tangan. “Bagaimana dengan biaya pemeliharaannya? Proyek seperti ini biasanya membutuhkan biaya operasional yang tinggi.” Aileen tersenyum, sudah mengantisipasi pertanyaan itu. “Kami telah mempertimbangkan hal tersebut. Sistem irigasi otomatis yang hemat energi dan pemilihan tanaman yang tahan terhadap perubahan cuaca akan secara signifikan mengurangi biaya pemeliharaan.” Ruangan itu penuh dengan gumaman persetujuan. Bahkan beberapa eksekutif yang sebelumnya terlihat skeptis mulai mengangguk-angguk. Aaron mencatat betapa meyakinkan cara Aileen menjawab setiap pertanyaan. Ketika presentasi selesai, ruangan itu dipenuhi tepuk tangan. “Presentasi yang luar biasa,” kata CEO Powell Grup. “Desainnya inovatif, dan solusi yang ditawarkan sangat masuk akal. Aku sangat terkesan, Nona Moretz.” Aileen tersenyum lega, tetapi tetap menjaga sikap profesionalnya. “Terima kasih. Kami percaya proyek ini dapat memberikan manfaat besar, tidak hanya untuk Powell Group, tetapi juga untuk masyarakat secara keseluruhan.” Saat mereka meninggalkan ruang konferensi dan sedang berada di dalam lift, Liam mendekat ke Aileen. “Kau melakukannya dengan sangat baik.” Aileen melirik Aaron sekilas dengan tatapan datar. Tidak ada satu kalimat pujian pun dari bosnya itu. “Tentu saja. Aku selalu profesional, tidak seperti seseorang yang terlalu banyak mengatur dan mengubah desainku seenaknya.” Aaron hanya tersenyum tipis mendengar itu, tanpa menatapnya. Kemudian Liam kembali memujinya. “Kau selalu berhasil membuatku kagum dengan bakat desain yang kau miliki, Aileen. Mungkin seseorang itu harus mulai takut kau menyaingi popularitasnya sebagai arsitek berbakat terbaik.” “Percayalah, Liam,” balas Aileen dingin. “Itu belum ada dalam agendaku. Tapi, siapa yang tahu di masa depan?” katanya sambil mengedikkan bahu. Liam tertawa kecil, sementara Aileen melangkah cepat setelah pintu lift terbuka, meninggalkannya dan Aaron dengan senyum puas. Di lobi gedung Powell Group, Aileen melangkah keluar dengan langkah cepat, berusaha menghindari percakapan lebih lanjut dengan Aaron. Namun, Liam menyusulnya dari belakang dengan senyum santai, mendekatinya sambil merangkul bahu Aileen. “Kau benar-benar mengagumkan, Aileen,” puji Liam dengan nada tulus. “Aku jarang melihat klien yang langsung setuju tanpa satu pun keberatan seperti tadi.” Aileen hanya tersenyum tipis. “Terima kasih, Liam. Itu semua hasil kerja keras tim.” Liam menggeleng. “Kau terlalu rendah hati. Semua orang tahu siapa otak di balik desain itu.” Aaron, yang berjalan di belakang mereka, memasang ekspresi datar. Tapi dari tatapan tajamnya yang tertuju pada punggung mereka, sangat jelas ia merasa sangat tidak nyaman dengan kedekatan Liam dan Aileen. Saat tiba di mobil, Liam dengan sigap membukakan pintu untuk Aileen. “Silakan, Nona Moretz, desainer lanskap terbaik Art Life,” katanya dengan sedikit membungkuk, seperti seorang ksatria yang melayani seorang putri. Aileen tertawa kecil dan masuk ke kursi samping pengemudi, lalu segera sibuk memeriksa ponselnya. Liam kemudian berjalan ke pintu belakang untuk membuka pintu bagi Aaron. Namun, sebelum Liam sempat melakukannya, Aaron meraih remote kunci dari tangannya dan menutup pintu yang sudah Liam bukakan untuknya. “Biar aku yang mengendarainya,” perintah Aaron tegas. Liam tertegun. “Tapi, Aaron, aku—” Aaron tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. “Kau naik taksi saja.” Liam membuka mulutnya, ingin membantah, tetapi Aaron sudah masuk ke dalam mobil lebih dulu, menyalakan mesin, dan melaju pergi, meninggalkannya berdiri mematung dengan ekspresi bingung. Di dalam mobil, Aileen tidak menyadari apa yang terjadi. Matanya masih terpaku pada layar ponselnya. Tapi saat dia menoleh ke kursi pengemudi, dia terkejut melihat Aaron di sana. Alisnya berkerut. Lalu menoleh ke kursi belakang, dan ternyata tidak ada Liam di sana. “Di mana Liam?” tanyanya, matanya menyipit curiga. Aaron menjawab tanpa menoleh, nadanya dingin. “Dia naik taksi.” Aileen terbelalak. “Kau menyuruhnya naik taksi? Kenapa tidak ikut mobil ini seperti biasanya?” Aaron hanya mengangkat bahu. “Ini mobilku. Terserah aku jika aku tidak mengizinkannya naik.” Aileen mendecak kesal. “Kau sungguh aneh. Liam tidak melakukan kesalahan apa pun. Kenapa juga kau tiba-tiba kesal padanya seperti ini?” Aaron tetap diam, fokus pada jalan. Perjalanan mereka berlangsung dalam keheningan yang tegang. Begitu mobil berhenti di depan gedung perusahaan, Aileen segera turun tanpa menunggu Aaron. Dia melangkah cepat menuju lift, mengabaikan Aaron yang berjalan santai di belakangnya sambil memasukkan tangannya ke saku celana. Aileen memasuki lift dan buru-buru menekan tombol tutup pintu. Ketika pintu hampir tertutup, dia melihat Aaron masih berjalan mendekat dengan senyum miring di wajahnya. “Aku tidak akan naik lift bersamamu,” gumamnya pelan sambil menekan tombol berkali-kali. Aaron hanya tersenyum semakin lebar melihat itu. Dalam hati, ia bergumam, "Kau sepertinya lupa bagaimana kau memohon padaku dan menjerit-jerit memanggil namaku tadi malam, Aileen." Di ruangannya, Aaron duduk di kursinya dengan wajah lelah. Dari balik kaca ruangannya, ia melihat Aileen sibuk mengetik sesuatu di komputernya. Tatapan wanita itu serius, seolah melupakan semua yang terjadi sebelumnya. Aaron menghela napas panjang dan memijat pelipisnya. “Bagaimana aku menyelesaikan ini? Pernikahan yang diatur Mommy sungguh membuat semuanya menjadi lebih rumit.” Liam, yang baru saja tiba di kantor, langsung masuk ke ruangan Aaron tanpa mengetuk pintu. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya kesal. “Kau benar-benar tega meninggalkanku di sana! Serius, Aaron? Kau membiarkan sahabatmu ini naik taksi?” sungutnya pada Aaron dengan geram. Aaron hanya melirik sekilas, lalu meraih ponselnya di meja. Dia mengetik sesuatu dengan cepat. Tidak lama kemudian, ponsel Liam bergetar. Liam menatap ponselnya, dan matanya membesar saat membaca notifikasi dari bank. “Ada transfer masuk ... dua ribu dolar?” gumamnya bingung, lalu menatap Aaron. Aaron menatapnya datar. “Itu untuk ongkos taksi.” Liam, yang awalnya kesal, tiba-tiba tersenyum lebar. “Kalau seperti ini, sering-sering saja kau menyuruhku naik taksi,” katanya, menunjukkan deretan giginya seperti kuda. Aaron hanya mendengus kecil. Kemudian dia tiba-tiba berkata pada Liam. "Bantu aku mencari solusi, Liam." "Solusi? Tentang?" tanya Liam dengan dahi yang mengernyit. "Tentang bagaimana caranya membuat Aileen bersedia menikah denganku," jawab Aaron sambil memijat pelipisnya sambil memejamkan matanya. "What? Menikah?" teriak Liam yang begitu terkejut dengan pertanyaan Aaron yang tiba-tiba itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN