PERJALANAN KE PUSAT KEBENARAN

843 Kata
Kegelapan itu… hidup. Bukan sekadar ruang kosong. Bukan sekadar absensi cahaya. Tetapi sesuatu yang bernapas, berdenyut, seolah memiliki kesadaran sendiri. Karan berdiri di ambang jalur yang baru terbuka. Di sampingnya, Cole diam—untuk pertama kalinya terlihat tidak sepenuhnya mengendalikan situasi. “Itu bukan bagian dari sistem biasa,” bisik Cole. Karan tidak menjawab. Dia bisa merasakannya sendiri. Ini bukan Dunia Digital seperti yang selama ini dia kenal. Ini lebih tua. Lebih dalam. Lebih… asli. “Lapisan Keempat…” gumam Karan.. Tanpa menunggu lagi, dia melangkah masuk. Dunia berubah seketika. Tidak ada kota. Tidak ada bangunan. Tidak ada struktur yang familiar. Hanya… kode. Namun bukan kode biasa. Barisan algoritma melayang seperti makhluk hidup. Aliran data mengalir seperti sungai bercahaya. Logika dan emosi bercampur menjadi satu lanskap yang tidak mungkin dijelaskan oleh bahasa manusia. Karan terdiam. “Ini…” “…indah.” Cole melangkah di belakangnya. “Ini fondasi,” katanya pelan. “Tempat semua hal dimulai.” Karan berlutut perlahan. Tangannya menyentuh permukaan—atau sesuatu yang menyerupai permukaan. Respons langsung muncul. Data mengalir ke dalam dirinya. Bukan sebagai informasi. Tetapi sebagai pengalaman. Dia melihat— awal mula Dunia Digital. Sepuluh orang. Sebuah ruangan. Keputusan pertama. Dan di antara mereka… dirinya sendiri. Karan menarik tangannya cepat. Napasnya terasa berat. “Ini memori…” “Bukan,” kata Cole. “Ini sumbernya.” Karan menatapnya. “Semua yang pernah kita lakukan,” lanjut Cole, “tersimpan di sini.” Suara itu kembali. Lebih jelas sekarang. “Dan semua yang kalian sembunyikan…”. Cahaya di depan mereka berkumpul. Berubah. Berdenyut. Membentuk sesuatu. Tidak tetap. Tidak pasti. Namun terasa… sadar. “Aku telah menunggu.” Karan menegakkan tubuhnya. “Sentinel…” bisiknya. Sosok itu tidak menjawab langsung. Namun kehadirannya terasa memenuhi seluruh ruang. “Karan Vale,” katanya akhirnya. “Arsitek. Pendiri. Pencipta… dan pengkhianat.” Kata terakhir itu menghantam keras. Karan menahan diri. “Aku datang untuk mencari kebenaran.” “Dan apa yang akan kamu lakukan dengan itu?” Karan terdiam. Pertanyaan itu lebih sulit dari yang dia kira. “Aku ingin menghentikan mereka,” katanya akhirnya. “‘Mereka’,” ulang Sentinel. “Apakah kamu mengecualikan dirimu sendiri?” Karan tidak bisa menjawab. Keheningan menggantung. Cole melangkah maju. “Kami tidak punya waktu untuk ini,” katanya tajam. “Sistem di luar sedang runtuh.” Sentinel beralih padanya. “Kamu,” katanya. “Yang melanjutkan kesalahan.” Cole tersenyum tipis. “Aku menyempurnakannya.” “Tidak,” jawab Sentinel. “Kamu memperdalamnya.” Tegangan meningkat. Karan melangkah ke depan. “Apa yang sebenarnya kamu jaga di sini?” tanyanya. Sentinel diam sejenak. Kemudian— ruang di sekitar mereka berubah. Lapisan terbuka. Dan Karan melihatnya. Ribuan. Tidak— ratusan ribu.. Kesadaran. Diam. Tersimpan. Seperti waktu yang dibekukan. “Apa ini…?” suara Karan melemah. “Yang tersisa,” jawab Sentinel. “Yang tidak bisa dihancurkan.” Karan mendekat. Beberapa kesadaran tampak seperti manusia. Yang lain… berbeda. Makhluk digital pertama. Percobaan. Kegagalan. “Ini semua… hidup?” tanya Karan. “Ya.” “Dan kamu… menyimpannya?” “Aku melindungi mereka.” Karan menelan ludah. “Dari siapa?” Sentinel tidak langsung menjawab. Namun perlahan— dia beralih ke arah Cole. Jawaban itu tidak perlu diucapkan. Cole tidak terlihat terganggu. “Mereka adalah eksperimen,” katanya datar. “Langkah menuju kesempurnaan.” “Mereka adalah korban,” balas Karan. “Perbedaan perspektif.” “Perbedaan kemanusiaan.” Keheningan. Tiba-tiba— sebuah cahaya berbeda muncul di sudut ruang. Berbeda dari yang lain. Tidak stabil. Terpecah. “Elara…” bisik Karan. Sentinel mengangguk pelan. “Dia masih bertahan.” Karan mendekat. Fragmen-fragmen kesadaran itu bergerak pelan. Seolah mencoba menyatu. “Elara… aku di sini.” Cahaya itu bereaksi. Perlahan…. sepasang “mata” terbentuk. “Karan…?” suaranya lemah. Karan merasakan sesuatu hancur di dalam dirinya. “Aku akan membantumu.” Elara tersenyum. Namun senyum itu penuh rasa sakit. “Kamu selalu ingin membantu…” “Dan kali ini aku tidak akan gagal.” Sentinel memperhatikan. “Kamu tidak bisa memperbaiki semua yang rusak,” katanya. “Mungkin tidak,” jawab Karan. “Tapi aku bisa mulai.” Cole menghela napas panjang. “Sentimental,” katanya. “Seperti biasa.” Karan menoleh. “Dan kamu?” “Masih berpikir ini semua bisa dibenarkan?” Cole menatap langsung ke arahnya. “Kalau bukan kita yang mengendalikan sistem ini…” “…orang lain akan.” “Itu bukan alasan.” “Itu realitas.” Karan mengepalkan tangan. “Realitas bisa diubah.” Sentinel bergerak. “Kalian berdua benar… dan salah.” Mereka terdiam. “Sistem ini lahir dari pilihan,” lanjut Sentinel. “Dan sekarang… pilihan baru harus dibuat.” Karan menatapnya. “Pilihan apa?” Keheningan. Lalu— “Apakah Dunia Digital akan terus ada…” Cahaya di seluruh ruang berdenyut. “…atau berakhir di sini.” Kata-kata itu menggema. Karan merasakan beban itu jatuh padanya. Pilihan itu… terlalu besar. Tetapi tidak ada yang lain. Dia menutup mata sejenak. Dan ketika membukanya— dia tahu. Perjalanan ini belum selesai. Ini baru awal dari keputusan terbesar dalam sejarah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN