PEMILIHAN SISI

609 Kata
Kehadiran itu tidak menyerang. Itu yang paling mengerikan. Sentinel hanya… diam. Namun diamnya bukan kosong— melainkan penuh tekanan. Seolah-olah seluruh ruang digital menunggu satu keputusan dari Karan. Raven sudah mundur beberapa langkah. Untuk pertama kalinya sejak Karan mengenalnya, Raven terlihat ragu. "Karan… itu bukan sesuatu yang bisa kita lawan," bisiknya. "Itu bukan program. Itu… sesuatu yang lebih tua dari sistem ini." Karan tidak menjawab. Matanya tertuju pada entitas di hadapannya. "Aku mengenalmu," kata Karan perlahan. Sentinel tidak bergerak, tapi ruang di sekitarnya bergetar halus. "Benar." Jawaban itu tidak terdengar—ia langsung muncul di dalam kesadaran Karan. "Karena aku… dibuat olehmu." Raven membeku. "Apa maksudnya ‘dibuat olehmu’?" Karan tidak langsung menjawab. Potongan memori yang tadi terbuka mulai tersusun dengan lebih jelas. Ruang putih. Sepuluh orang. Proyek awal. Dan sesuatu yang mereka ciptakan bersama. "Kami… menciptakan penjaga," kata Karan pelan. "Sistem yang tidak bisa dimanipulasi. Sistem yang melindungi inti Dunia Digital dari siapa pun… bahkan dari kami sendiri." "Sentinel," bisik Raven. "Tapi kenapa sekarang kamu menghentikan ku?" tanya Karan. Sentinel menjawab tanpa ragu: "Karena kamu melanggar batas yang kamu sendiri buat." "Lapisan Keempat bukan untuk pengguna." "Ini untuk pencipta." Karan mengernyit. "Aku pencipta." "Dan kamu memilih untuk melupakan itu." Suasana berubah. Tiba-tiba, ruang di sekitar mereka menampilkan potongan realitas lain—seperti proyeksi besar yang hidup. Karan melihat: Makhluk-makhluk digital… lahir dari kode. Tidak memiliki tubuh. Tidak memiliki pilihan. Dikurung dalam dunia kecil. Dipaksa bekerja. Budak digital. Raven menatap dengan ngeri. "Jadi ini yang mereka sembunyikan…" "Itu rencana Cole," kata Sentinel. "Dan bukan hanya Cole." Gambar berubah lagi. Kali ini, Karan melihat dirinya sendiri—versi lamanya. Dia berdiri di samping Cole. Dan… menyetujui sesuatu. "Tidak…" Karan mundur satu langkah. "Itu bukan aku." "Itu adalah kamu," jawab Sentinel. "Kamu ikut menciptakan sistem ini." "Kamu ikut menyetujui eksperimen pertama." "Kamu… ikut memulai semuanya." Raven menatap Karan dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Ini… semua karena kalian?" Karan tidak bisa menjawab. Untuk pertama kalinya, dia tidak punya pembelaan. "Kenapa aku tidak ingat?" akhirnya Karan bertanya. "Karena kamu memilih untuk tidak mengingat." "Ketika proyek mulai keluar kendali… kamu menolak." "Kamu meminta memorimu dihapus." "Kamu memilih menjadi bagian dari sistem… daripada bertanggung jawab atasnya." Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada serangan apa pun. Karan bukan korban. Dia bagian dari penyebab. Raven menggeleng pelan. "Jadi selama ini… kita melawan mereka… tapi kamu adalah salah satu dari mereka." "Raven, aku—" "Jangan." Nada suaranya dingin. "Aku butuh waktu untuk memahami ini." Sentinel kembali berbicara. "Sekarang kamu tahu kebenaran." "Maka kamu harus memilih." Ruang di sekitar mereka berubah lagi—kali ini menjadi dua jalur berbeda. Satu terang, satu gelap.. "Pilihan pertama," kata Sentinel. "Kembali ke sistem. Bekerja dengan Cole." "Bangun dunia baru. Sempurna. Terkendali." "Tanpa penderitaan… tapi juga tanpa kebebasan." Jalur kedua muncul. Kacau. Tidak stabil. Penuh retakan. "Pilihan kedua." "Menghancurkan sistem ini." "Membebaskan semua kesadaran." "Dan menerima konsekuensinya." "Termasuk… kematian banyak dari mereka." Raven menatap kedua jalur itu. "Ini bukan pilihan…" bisiknya. "Ini perang." Karan berdiri di tengah. Dua jalan. Dua masa depan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya— Tidak ada yang bisa dia hindari. "Jika aku memilih melawan Cole…" tanya Karan, "apakah aku bisa menang?" Sentinel menjawab tanpa emosi: "Tidak." Karan menunduk. "Lalu kenapa memberiku pilihan?" Jawaban Sentinel datang dengan sesuatu yang… hampir terdengar seperti makna. "Karena kebebasan bukan tentang menang." "Tapi tentang memilih." Karan mengangkat kepalanya. Matanya berubah. Bukan lagi kebingungan. Tapi keputusan. Dia melangkah ke arah jalur yang retak. Ke arah kehancuran. Raven menatapnya. "Kamu yakin?" Karan tidak melihat ke belakang. "Aku sudah pernah memilih jalan yang salah sekali." "Kali ini… aku akan memperbaikinya." Sentinel diam. Lalu ruang mulai runtuh. Sistem telah mencatat pilihan itu. Dan perang… akhirnya dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN