Hijau yang tak nampak seperti hijau. Hutan ini tidak terlepas dari nuansa biru meskipun semu. Bahkan air yang terjun dari bukit sebening laut di sekitar pulau Biru Laut. Meskipun murni berasal dari pegunungan, tetapi airnya biru dan bukan seperti air terjun lainnya. Layaknya pelangi setelah hujan, tempat itu memberi warna lain sebagai sumber kehidupan. Bola mata Rey hampir keluar ketika pertama kali kaki menginjak di persembunyian pohon dekat rumah kayu. Mereka tercengang, sulit rasanya mengatakan jika ini adalah tempat rahasia para penjahat.
"Indahnya! Aku tidak tau ada air terjun di sini," gumam Kal pelan. Mulutnya terbuka tak mampu mengungkapkan keindahan alam murni.
Senyuman Rey teralihkan oleh suara Kal. Lalu, mendengar adanya pembicaraan dari orang-orang yang membawa peti mati.
"Teman-teman, mereka mulai bergerak," kata Rey berbisik.
Pandangan mereka kembali pada titik tersangka. Nampak beberapa orang yang menculik Vay masih membawa busur dan panah, sedangkan pemimpinnya menggaruk kepala sambil bicara pada para pembawa peti mati. Kain yang menutupi peti tersebut dibuka. Senyum mereka merekah. Pemimpin penculik Vay meraba peti tersebut.
"Sungguh jenis yang hebat! Kokoh dan cantik tanpa ada cacat sedikitpun. Ketua pasti memberi kalian hadiah yang luar biasa untuk kerja keras kalian. Berapa harganya jika dijual, ya?" kata pemimpin penculik Vay.
"Ck, yang ada di pikirannya hanyalah uang. Aku masih bertanya-tanya, dari mana merek mempelajari panah?" gumam Vay setelah berdecak.
"Apa? Jadi sebenarnya mereka tidak bisa menggunakan senjata?" Rey menggeleng pada Vay.
"Iya, mereka hanya tau uang dan berniaga licik. Tidak kusangka akan bertemu dengan sendirinya setelah dicari-cari," jawab Vay.
Rey mengerjap untuk mencerna ucapan Vay. Jika para pedagang barang ilegal tersebut hanya pandai berniaga, lalu urusan apa yang membuat mereka bergabung dengan para pemberontak istana kerajaan?
Setelah orang-orang itu berbincang, pintu dibuka dan mereka dipersilahkan masuk. Pintu segera ditutup setelah mereka memasuki rumahnya.
"Gawat! Bagaimana kita bisa mengetahuinya?" Rey tersentak pelan.
"Ikuti aku." Fang melambaikan tangan sekali sebagai isyarat, lalu dia mengambil jalan lebih jauh untuk menuju rumah tersebut sehingga tiba di bagian belakang. Rey dan yang lain mengikutinya.
Tanpa pikir panjang Fang bergerak untuk memukul para penjaga dengan satu pukulan yang cepat di tengkuk mereka sehingga mereka pingsan. Gerakan yang cepat dalam tiga detik itu membuat Rey berkedip berkali-kali. Dia terkesan. Sekarang, tidak ada yang menghalangi mereka untuk menguping dan mengintip dari luar rumah.
"Aku tidak bisa mendengar apapun," Rey yang menempelkan telinganya di pintu masih tidak bisa mendengarkan satu suara pun. Sepertinya rumah itu kedap suara.
Zee dan Fang mencoba melihat dari celah-celah dan memang orang-orang tadi ada di dalam. Vay dan Kal memutari rumah ingin mencari jalan lain selain pintu depan agar dapat masuk.
"Kenapa suaranya tidak terdengar?" Rey bergumam lagi sambil berganti menempelkan telinganya yang sebelah.
Vay dan Kal memberi isyarat untuk mereka menuju kanan rumah. Di sana ada sebuah jendela yang tertutup rapat, tetapi suara ketukan di kayunya sangat berbeda seakan itu ruangan kosong yang tidak memiliki papan pembatas. Mereka berpikir pasti mudah merusaknya, tetapi menanggung resiko berurusan dengan penjahat langsung.
"Kita dobrak?" tanya Rey menatap mereka bergantian, tetapi tidak ada yang menjawabnya. Lalu, melihat Fang yang serius memandang dinding kayu rumah itu membuatnya menelan ludah sehingga bertanya lagi, "Kau akan mendobraknya?"
Tidak perlu menjawab karena tindakan Fang sudah mengatakan segalanya. Bola mata Rey seakan mencuat. Fang menendang dinding kayu itu dengan sekali tendangan dan seketika rubuh sesuai dugaan. Bagian tersebut tidak ada pembatas ruangan dan langsung terhubung dengan ruang depan di mana semua orang jahat telah berkumpul. Sepuluh orang yang membawa peti mati, pemimpin penculik Vay yang terkejut, dan seseorang yang memakai topeng dan hendak membuka peti mati. Mereka memandang Rey dan yang lainnya dengan ekspresi yang beragam. Sontak senjata diacungkan. Pedang-pedang mereka teramat tajam bahkan berkilau. Tidak ada pilihan lain, meskipun tangannya gemetar pemimpin penculik Vay itu memasang busur dan panahnya dan siap memanah. Kemudian, orang yang memakai topeng tersebut tenang saling pandang dengan Fang dan Zee.
"Postur tubuh itu, tidak salah lagi," desis Fang. Rahangnya bahkan bergetar.
"Bertahun-tahun hanya demi pedang hitam kembar dan sebuah peti mati, kau rela melakukannya sejauh ini. Demi apa? Katakan!" Zee berseru mengagetkan semua orang bahkan Rey dan yang lainnya.
"Cantik, tapi menakutkan," bisik Kal pada Rey sehingga Rey menyenggol Kal untuk diam.
"Aku masih bingung, apa yang sebenarnya terjadi?" kata Rey jujur. Dia menggeleng lugu membuat Kal mendesah pasrah.
Vay juga tidak mau hanya menjadi penonton dan diam. Dia menunjuk satu-satunya pendatang ilegal di depannya. Matanya sangat tajam, "Hei, bau! Jelaskan semuanya padaku! Ada hubungan apa kau bersama pemberontak? Lalu, siapa sepuluh orang berbadan besar ini? Menurut kalian dengan menunjukkan pedang besar dan setajam itu bisa membuatku takut, hah?!"
"Dia cerewet! Bicara yang jelas tidak bisa?" Kal menepuk dahinya karena Vay.
"Ba-bagaimana kalian bisa tau kami ada di sini?! Hah? Bagaimana?!" pekik orang yang ditunjuk Vay.
"Oh, kita kedatangan tamu yang sangat penting. Selamat datang para pelindung terkuat istana kerajaan. Maafkan kelalaian ku dalam menyambut kalian. Silahkan, duduk bersamaku." senyum tipis dan sapaan ramah yang hanya sandiwara dari seorang pemberontak bertopeng.
"Serahkan dirimu dan jelaskan semuanya nanti!" Fang tidak sanggup lagi untuk menahan diri. Dia menarik pedang dan bergerak menyerang orang bertopeng itu. Karena itu lawan Fang sampai berjalan mundur tanpa takut ditebas karena sorotan matanya tetap lurus memandang Fang.
"Ini tidak baik, Tuan Fang Xizan. Baiklah, aku akan menerima sambutan kecilmu. Biarkan aku mengambil pedangku dulu." orang bertopeng tersebut menggerakkan tangannya. Seketika Fang akan memotong tangan itu di udara, tetapi dalam sekejap orang itu berpindah bagaikan tak terlihat.
Fang terkejut meskipun sudah mengira hal itu akan terjadi. Satu detik kemudian orang itu muncul berada di dekat peti mati dan hampir membukanya. Gerakan cepat tak terduga itu menyihir setiap mata, akan tetapi tidak dengan Zee. Sebelum orang itu berhasil menyentuh peti, cemeti Zee menyambar peti hingga menyebabkan goresan serta orang itu mundur beberapa langkah. Sepertinya Zee telah membuat orang itu marah karena ekspresi yang telah berubah.
Rey tersentak dan mengelus dadanya segera. "Bagaimana dia bisa menghilang dan kembali secepat kilat? Luar biasa!" Rey memuji pemberontak tersebut.
Zee berhadapan dengan orang yang dia benci sehingga tidak tanggung-tanggung menyerang tanpa peduli sekitarnya sampai berhasil menyudutkan orang tersebut.
"Beraninya kau!" desis Zee seiring mengayunkan cemetinya.
Lalu, muak sudah terus menghindar tanpa adanya pembicaraan bahkan perlawanan, orang itu memegang cemeti Zee tanpa takut terluka dan tentu saja tangannya berdarah karenanya membuat Zee dan semua orang tersentak. Kemudian, tangan yang satunya terangkat untuk membuka topeng. Ketika topengnya terlepas, Zee dan Fang tidak terkejut sama sekali. Bekas luka bakar ada di pipi orang itu karena akibat dari kejadian kebakaran di gudang istana. Senyum yang selalu merekah tanpa takut apapun dan tanpa merasa bersalah. Semua itu membuat Zee semakin geram. Dia tidak bisa menggerakkan cemetinya karena masih dipegang kuat tanpa takut tangan lawannya terpotong.
"Sudah lama sekali sejak Raja terdahulu gugur dan berganti Raja baru. Nasib kerajaan sudah sekarat, kenapa kalian tidak bergabung denganku saja? Dengan pedang hitam kembar kita bisa membangkitkan kembali apa yang sudah diambil dari kerajaan ini," terang orang itu.
"Omong kosong! Kau pengguna sihir hitam, bukan?!" bentak Zee yang sudah menyadarinya.
Lantas orang tersebut tersenyum sinis. Melepaskan cemeti Zee sampai membuat Zee menarik cemetinya lagi dalam sekali ayunan dan orang itu menunjukkan tangannya yang berdarah. Seketika darahnya mulai hilang dan luka goresnya menutup dengan sendirinya.
"Astaga!" lagi dan lagi semua yang ada di rumah itu tercengang bahkan sepuluh orang yang baru datang.
Senyuman pun berubah menjadi keseriusan tanpa ragu. Membuang topeng dan bergerak lagi dengan cepat dan tanpa kesadaran orang-orang, dia membuka peti dan mengambil pedang hitam kembar yang tersimpan rapi di dalamnya. Muncul kembali dalam keadaan siap bertarung di depan Zee. Nyatanya Zee tidak terkejut lagi, pedang itu terawat dengan rapi. Zee dapat menyimpulkan sesuatu, tetapi dugaannya tidak wajar tentang apa yang dilakukan pemberontak tersebut.
"Pedang hitam kembar bukanlah mainan untuk orang d***u sepertimu. Meskipun kau merawatnya di tempat yang jauh, tetapi kau tidak akan bisa menguasai tekniknya meskipun kau memiliki sihir hitam. Aku tidak tau kalau kau masih memiliki sihirmu." Fang berjalan menuju Zee dengan perlahan.
"Oh, begitukah? Kalau begitu, maukah kau mengajari aku?" orang itu berkata tanpa bermain-main lagi.
Fang berdecih, "Apa maksud semua ini?!"
Pemberontak itu menatap pedang hitam kembar dengan penuh kenangan dan tujuan, "Saat itu di tengah besarnya api yang melahap gudang, bayangan masa depan terlihat. Raja Heng Louyan seakan datang sebagai bayangan gelap yang menakuti semua orang. Aku bisa melihatnya. Tanganku tergerak untuk membawa pedang iblis ini bersamaku dan melarikan diri ke kerajaan lain. Karena itu aku selamat dari ancaman sihir yang diambil oleh Raja penyihir jahat. Namun, pedang ini tidak. Kuasanya hilang karena dia masih pusaka leluhur yang melekat dengan istana. Sihirnya lenyap dan membuat usahaku sia-sia. Berbagai cara telah kulakukan untuk membangkitkan kembali kekuatan pedang ini, tetapi tidak ada hasil. Meskipun Nona Zee terus mencoba untuk mengendalikan kuasa pedang ini, aku yakin akan percuma karena sihir ya saja sudah tiada. Demi menjadi yang terkuat dan menghancurkan tahta Raja Heng Louyan, aku harus dapat menguasai pedang hitam kembar dan membuat semua orang memohon padaku untuk keselamatannya. Lalu, aku akan menjadi raja dari negeri sihir selanjutnya, hahahaha!"
Penjelasan yang sangat sesuai dengan prediksi Zee dan Fang. Semua itu karena tahta.
"Kau melarikan diri ke negeri lain dan merawat pedang itu di negeri lain, 'kan? Sebab itu juga kau butuh waktu lama karena perawatan pedang hitam kembar bukanlah mudah serta peti mati yang seharusnya kayunya telah lapuk, tetapi masih kuat tanpa adanya kekurangan satu pun juga karena ulahmu yang telah merawatnya di tukang kayu dan pandai besi ternama. Sepuluh orang berpedang ini kau tugaskan untuk mengantar mereka hingga ke sini dengan perjalanan sangat jauh. Nasib berkata manis pada kami karena kami mengetahuinya tepat pedang itu diantarkan. Sedangkan aku tidak mengerti apa hubunganmu dengan par pedagang ilegal dari pasar gelap di pulau Ikan Runcing." tatapan Fang semakin menajam.
"Pemikiran yang luar biasa! Kau pintar seperti dulu, Tuan Fang. Meskipun masih muda, tetapi keawasanmu membuatku gemetar. Kalau tidak salah, pedang yang kau bawa setara dengan pedang iblis lainnya. Apa kuasanya juga sudah hilang? Sayang sekali, jika masih ada mungkin akan menjadi lawan berat bagi pedang hitam kembar," ujar pemberontak itu yang membuat dahi Fang berkerut.
"Aku tidak mengerti maksudmu." kata Fang sambil meremas gagang pedangnya.
"Maksudku, kita akan bisa bertarung seperti ini!" pemberontak itu melawan dengan pedang hitam kembar yang diliputi aura hitam dari penggunaanya. Mungkin membangkitkan sihir murninya memang tidak bisa, tetapi dia bisa menyalurkan energi sihirnya pada pedang sehingga pedangnya memiliki kuasa sihir hitam yang cukup mematikan.
Fang menangkisnya dengan sekuat tenaga. Dia mulai merasa kesakitan. Auranya begitu kuat untuk dirinya yang hanya manusia biasa.
"Kurang ajar!" desis Fang tajam. Mereka saling beradu pandangan dan bersilangan pedang.
Fang paham arti dari ucapan pemberontak jika dirinya tidak akan bisa menandingi pedang hitam kembar yang diliputi sihir sedangkan senjatanya hanya pedang hebat tanpa kuasa. Zee mundur dan menabrak peti mati. Dia membiarkan Fang menahan pemberontak, sedangkan dia menutup peti mati dan menendangnya hingga menerobos pintu. Sontak membuat sepuluh orang ditambah pedagang ilegal tersebut kembali terfokuskan padanya meskipun mereka tercengang dengan ulah ketuanya. Zee bersiap dengan senjatanya.
"Hei, dia bukan gadis biasa! Serang dia!" kata pemimpin dari sepuluh orang tersebut. Namun, mereka terlalu takut untuk menyerang Zee. Lalu, pedagang ilegal itu juga tidak bisa menarik anak panahnya karena terlalu gemetar. Dia sudah menyaksikan bagaimana Zee bertarung dan kini melihat ketuanya bertarung melawan remaja yang hilang kuasa sihirnya dengan penuh aura sihir. Itu membuatnya ketakutan setengah mati.
"Kau pelindung istana kerajaan, bukan? Kalau begitu kenapa tidak ikut dengan kami dan dapatkan sihirmu kembali? Kekuatanmu akan berguna bagi kami nanti," kata-kata itu yang keluar dari pedagang ilegal dengan sekuat tenaga.
Zee mengibaskan cemetinya membuat mereka takut, "Ambisi kalian bodoh!"
"Apa?!" mereka berteriak tak menyangka.
Gadis secantik Zee bisa berkata kasar dan menghancurkan pertahanan hati mereka. Merek berakhir berdebat tanpa adanya perlawanan. Rey yang masih tak berkutik dengan bola mata yang bergerak-gerak kini membasahi bibirnya dengan lidah dan memalingkan pandangan ke segala arah. Menyadarkan Vay dan Kal agar tidak terpengaruh keadaan terlalu lama.
"Apa yang harus kita lakukan? Fang saja kualahan. Bagaimana ini?" Rey panik menatap Vay dan Kal.
Kal memeluk alat musiknya, "Rey, ini diluar kendali ku. Bagaimana aku bisa tau?"
Tiba-tiba Vay menyingsingkan lengan bajunya dan maju menantang mereka. "Aku hanya pedagang ikan. Kalian mau melawanku?!" bentakan Vay membuat sepuluh orang dari negeri asing itu mendelik.
"Nak, turunkan pisaumu. Itu lucu," kata pemimpin dari mereka tanpa ekspresi.
Vay berdecih, "Sombong sekali kau! Terimalah ini!"
Vay menyerang tanpa ragu meskipun tahu mereka hebat dan kemungkinan besar Vay tidak bisa mengalahkannya. Namun,Vay cukup pintar untuk membuat tangan mereka terluka sehingga menjatuhkan pedang mereka saat berteriak kesakitan. Kal tidak mau diam meskipun tahu tidak akan bisa mengalahkan mereka, tapi kak mengetahui kondisi sehingga senjata orang-orang luar kerajaan yang jatuh tersebut dia ambil dan dijauhkan dari pemiliknya. Seketika Vay memukul mereka habis-habisan meskipun Vay dalam kepungan.
"Rey, cepat cari sesuatu untuk mengikat mereka!" perintah Vay.
Rey segera mengangguk meski seperti orang linglung. Dia mencari alat yang bisa mengikat, tetapi tidak menemukan apapun. Kemudian, Rey mengambil kain besar yang menutupi peti mati tergeletak di dekat pintu. Rey memberikannya pada Vay.
"Vay, tangkap!" seru Rey seraya melemparkan kain besar itu.
Vay menangkapnya dan membentuknya seperti tali yang diulir, lalu mengikat mereka menjadi satu. Pedagang ilegal yang semakin ketakutan tersebut dia melepaskan busur dan anak panahnya. Kakinya bergerak-gerak cukup jelas. Vay menghampirinya dan menahannya.
"Aaa! Jangan pukul aku! Kalian menakutkan sekali!" kata pedagang ilegal.
Vay memutar tangan orang itu ke belakang membuat orang itu semakin memekik, "Oh, benarkah? Terima kasih pujiannya. Bagaimana kalau kau ikut kami agar tau rasanya diculik? Ngomong-ngomong, teman-temanmu sudah pingsan." menunjuk pintu yang tertutup dengan santai.
Orang itu tercekat dan hampir menangis memohon untuk dilepaskan, tetapi Vay justru membentaknya. Rey dan Kal sampai meringis ngeri.
"Ikut dengan kami karena kami masih membutuhkanmu!" Vay mendorong orang itu tanpa melepaskan tangannya yang digenggam kuat.
Vay membawanya keluar, sedangkan Rey dan Kal masih berada di sana. Kini Zee ikut bertarung dengan Fang. Rey berdecak karena tidak tahu harus bagaimana. Lalu, dia memutuskan untuk membawa peti mati keluar ruangan bersama Kal. Berharap pemberontak tidak melihatnya dan terus fokus bertarung meskipun Zee dan Fang sudah sangat kesakitan. Beberapa kali mereka terkena goresan pedang hitam kembar. Namun, peti mati tersebut cukup berat untuk dibawa Rey. Meskipun mereka bisa menggerakkan peti mati itu sedikit demi sedikit, pergerakan mereka diketahui oleh sang pemberontak sehingga serangan tebasan jarak jauh yang menyilang menghampiri.
"Rey! Kal!" seru Zee memperingati.
Baik Rey maupun Kal melotot menatap serangan tebasan tersebut yang dalam beberapa detik langsung mengenainya, akan tetapi Zee menghadangnya dengan cepat dan menangkis serangan tersebut sehingga membuangnya ke bagian lain dan menebas dinding rumah dalam bentuk silang. Rey dan Kal seakan tidak bisa bernapas. Lain dengan Zee yang terengah.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Zee tanpa mengalihkan pandangan dari musuhnya. Rey dan Kal tidak menjawab. Lidah mereka kelu, "Cepat bawa petinya keluar. Itu sangat berguna!"
Titah Zee barulah berhasil menyadarkan mereka. Mereka mengangguk cepat.
"Terima kasih. Zee, berhati-hatilah!" Rey mengatakannya sambil gemetar. Kal terus mengangguk tidak bisa berkata-kata.
Mereka segera mendorong kembali peti mati hingga keluar dari dinding berlubang yang ditendang Fang. Di sana ternyata Vay telah meringkus semua orang dalam satu ikatan. Tangan mereka terikat di belakang dan saling berhubungan. Maka mereka tidak bisa lari atau menyerang ketika sadar. Sedangkan orang yang disandera Vay diam terpaku dengan tangan yang masih digenggam Vay. Rey dan Kal kelelahan mendorong peti tersebut. Menatap mereka yang ada di dalam rumah sambil mengatur napas.
"Rey, bagaimana menurutmu? Zee dan Fang bukan tandingannya. Aku tidak menyangka masih ada yang memiliki sihir dan itu sihir hitam seperti yang dimiliki Raja. Jujur, aku takut sekali!" Kal menggeleng lelah.
Mata Rey berkaca-kaca, "Aku pun ingin membantu, tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Sepertinya masalah akan semakin runyam."
Kal setuju dengan Rey. Dalam beberapa saat mereka hanya menjadi penonton sambil memikirkan strategi untuk menyelamatkan diri.