23. Terbongkarnya Pusaka Legendaris

2557 Kata
Tragedi pun tak bisa terhindarkan. Rumah itu runtuh dalam sekali tebasan pedang hitam kembar. Zee dan Fang terluka. Mereka terpental hingga menabrak tebing air terjun. Tubuh mereka basah kuyup, penglihatan seakan memudar di balik air terjun. Rasa sakit akibat luka bercampur air seakan mati ras. Mereka lebih memilih kembali maju karena hanya mereka yang bisa mengatasi pemberontak menyebalkan di depannya. Nasib pedang hitam kembar akan sangat mengerikan jika sihirnya telah kembali. Meskipun sedang dikendalikan, pedang itu sudah seperti iblis yang membabi buta sesuai keinginan penggunaannya. Karena itu lah Rey, Kal, dan Vay menjauh. Lebih jauh dari sebelumnya. Lokasi sekitar air terjun telah dikuasai oleh tiga orang itu. "Ini mengerikan! Kita tidak boleh diam saja!" Rey menggeleng tak kuasa melihat kedua temannya bertarung dengan cara yang tak lazim. Fang dengan gerakan yang begitu cepat menyamai pemberontak itu dan Zee yang terus menyerang dan menangkis tebasan pedang sihir ilmu hitam. Bahkan cemeti Zee hampir terpotong. Sekuat tenaga mereka mengendalikan diri sendiri. "Kau masih tidak mau bicara?! Katakan semuanya atau aku akan menjual kalian di pasar kalian sendiri!" Vay mengancam bahkan tidak tanggung-tanggung mengeluarkan belatinya sehingga pedagang ilegal yang diikat di pohon itu merengek ketakutan. Dia hanya merengek sedari tadi meskipun Vay menyuruhnya berbicara. Namun, dia sangat setia pada pemberontak itu. Vay berdecak, "Rey, dia tidak mau bicara. Bagaimana kalau kita potong saja bibirnya?" menatap Rey kesal bercampur penuh harap. "Hah?! Jangan! Jangan lakukan itu, aku mohon! Lepaskan aku, Vay Ijri! Aku hanya menculikmu, tidak berbuat kasar padamu. Kenapa kau kejam sekali padamu? Kasihanilah aku!" pemimpin pedagang ilegal itu mengeluarkan keringat dingin. Vay, Rey, dan Kal menoleh. Saling pandang seakan mempertimbangkan saran Vay membuat orang itu menelan ludahnya pahit. "Kalau begitu katakan dengan jujur apa susahnya? Setelah itu kulepaskan kau. Baku juga tidak akan mengganggu bisnismu." Vay mengibaskan tangannya. "Beri juga uang ganti rugi untuk ikan runcing yang kau curi," kata orang itu sedikit takut. "Tidak bisa!" Vay melotot dan orang itu mendelik ngeri. Rey mendesah panjang. Menepuk pundak Vay dua kali sebagai tanda meminta Vay untuk mundur dan berganti dirinya yang berbicara pada orang itu. Melihat Rey yang menatapnya tanpa ekspresi membuat orang itu sedikit meringis. Keringat dinginnya semakin bercucuran. Rey mengedipkan matanya setelah tepat berada di depan orang itu. Jarak tatap mereka hanya tiga puluh sentimeter. "Bisakah kau membantuku? Aku tidak akan menguntungkan bagi kalian meskipun aku jatuh dari langit. Kumohon!" ekspresi Rey sulit ditebak. Meskipun dirinya meminta dengan baik dan nada yang menusuk lembut di telinga, orang itu mengartikannya secara lain. Dia pikir Rey tengah mengancam sama seperti Vay. "Ba-baiklah, akan kuberi tau. Janji kalian akan melepaskan ku dan semua anak buahku?" orang itu masih tidak yakin. Rey tersenyum, tetapi Vay berteriak sambil menunjuk tak santai,"Tentu saja! Kau ini sulit sekali mengerti, ya?!" Kal segera membekap Vay agar suaranya tidak didengar oleh mereka yang sedang berkelahi. "Aku dengarkan." Rey mengangguk sambil mengedipkan mata teduh. Mendadak orang itu sedikit luluh. Dia berdeham dan memandang mereka bertiga, "Di dermaga ikan runcing setelah mendengar rumor tentangmu, aku mencarimu terlebih lagi kau kabur dengan Vay. Sekaligus ingin balas dendam dengan Vay. Tidak disangka bertemu dengan seorang bertopeng yang hendak menguasai negeri. Dia juga mendengar rumor tentangmu dan melihatmu sebagai ancaman. Yah, aku tidak tau bagaimana dia memandangmu sebagai ancaman, karena itulah kemarin kau diserang oleh anak buahku yang sebenarnya bukan anak buahku. Dia adalah mata-mata kerajaan yang mencarimu dan pemberontak itulah yang memberitahu jika kau sedang bersama Vay. Kami bekerja sama dengan syarat kami harus menjadi orang mereka. Oleh karena itu kami bisa menggunakan senjata panah karena diajari olehnya. Lalu, tentang peti mati dan pedang hitam kembar, mereka telah dirawat di luar daerah ini sama seperti yang dikatakan teman kalian. Itu membutuhkan waktu yang lama. Intinya, kau telah menjadi topik hangat di setiap mata-mata kerajaan. Rey Sann, bahkan aku sendiri tidak menyangka kau benar-benar ada." Gemuruh di hati pun melanda. Rey memundurkan kepalanya dan berpikir tenang. Tidak baik jika dia gegabah atau merasa takut. Vay dan Kal saling pandang dan mencerna semuanya. "Jadi, kau tidak akan mengincar Vay lagi, 'kan?" Rey kembali menatap orang itu. Orang itu menggeleng cepat, "Tidak, aku tidak akan mengganggunya lagi." "Tunggu, ada yang mengganjal. Kau pedagang ilegal, apa yang kau lakukan di pulau ini selama menunggu kami?" tanya Rey. Dia nampak tidak menghiraukan nasibnya yang bisa jatuh menjadi tersangka kejahatan yang bahkan tidak melakukan kejahatan apapun. Orang itu sedikit berpikir, "Emm, hanya menjual beberapa senjata yang sebenarnya terlarang bahkan tidak boleh dimiliki. Kami mendapatkannya dari pemberontak itu, jadi kami mendapat hasil yang besar." "Ternyata memang ada pasar gelap di pulau tenang ini," balas Rey. Napas orang itu tercekat. Dia meringis karena secara tidak sadar telah membenarkan asumsi Rey. Rey berbalik setelah tersenyum kecil dan kembali memandang perkelahian yang semakin tidak manusiawi. Alam bahkan rusak dan air terjun tak lagi menampakkan pelangi yang indah. "Dia menyimpan senjata sama seperti Zee dan Fang, tetapi digunakan untuk jalan yang salah. Sekarang, bagaimana cara menangkap pemberontak itu dan menghaluskan sihirnya? Itu sihir yang berbahaya," kata Rey pelan. Pandangannya tak lepas dari perkelahian di depannya. "Rey, bagaimana dengan nasibmu sendiri? Kau dikejar mata-mata secara resmi sekarang. Mungkin kemarin Zee menolongmu tepat waktu, tapi lain hari?" Vay memperingati. Rey hanya diam karena tidak punya jawaban di benaknya. Desahan Kal kembali terdengar, tandanya Zee dan Fang kalah lagi dan pedang hitam kembar seperti selalu dalam kondisi terbaiknya terlebih lagi setelah diberi perawatan khusus. "Oh, ada satu lagi. Karena perdagangan senjata itu, ketua kami menginginkan satu senjata terkuat yang bisa mewujudkan mimpinya. Senjata itu adalah pusaka legenda yang bahkan keberadaannya menjadi misteri sejak Raja Heng Louyan memimpin kerajaan. Jika berhasil mendapat pusaka legenda itu, maka tidak akan ada yang bisa menyainginya lagi bahkan Raja Heng Louyan sekalipun. Senjata itu bernama ..." pemimpin pedagang ilegal itu menggantung ucapannya karena sedang berpikir. Deg! Rey tersentak hebat. Vay dan Kal menanti dengan tatapan yang sudah tidak sabar. "Ayo, cepat katakan!" suruh Vay. "Aku lebih tertarik mendengar saran bagaimana menyelesaikan pertarungan ini." Kal menggeleng sedih. Rey diam, tetapi dadanya terlihat turun-naik. 'Senjata apa? Kedengarannya seperti sebuah kekuatan terbesar yang pernah ada di negeri sihir ini. Apa itu sama seperti kekuatan yang dikatakan kakek nelayan di pelabuhan waktu itu? Mengapa aku berpikir demikian di saat seperti ini? Ssshhh, itu terlintas begitu saja,' pikir Rey. "Ah, aku ingat!" orang itu kembali bicara. Rey sampai terjingkat dan mulutnya terbuka. Dia pun mengelus d**a. "Pusaka legendaris tiada banding dan tiada satu pun orang yang dapat menyentuhnya yaitu pedang Lizz. Pedang yang mampu menggetarkan seluruh pulau ini," sambungnya serius dan semangat. Sontak Rey terhuyung ke belakang membuat Vay dan Kal segera menahannya. Dia tak sanggup menahan gejolak di hatinya. "Rey, kau kenapa? Kau sakit?" tanya Vay khawatir. Rey segera berdiri tegak dan mengkontrol dirinya. Bahkan wajahnya kini terlihat pucat. "Hmm, sepertinya kau merasakan sesuatu. Apa ada petunjuk?" Kal mengetuk dagunya sekadar menebak. "Pedang Lizz?" kata itu yang terlontar dari bibir Rey yang gemetar pelan. Kerutan di dahinya muncul dan keringat dingin tiba-tiba keluar dari kedua pelipisnya. Mendengar pedang itu disebutkan sudah seakan menusuk jauh ke relung hatinya. Mengapa begitu mengganggu? Rey pun bertanya demikian. "Pastinya pedang itu sangat hebat? Jika tidak mana mungkin ketua menginginkannya? Dia rela melakukan apa saja demi mendapat pusaka itu," kata pemimpin pedagang ilegal lagi. Vay bertanya-tanya, "Apa senjata seperti itu benar-benar ada? Apa hebatnya?" "Ck, kau tidak tau apa-apa. Pedang Lizz adalah ..." belum sempat orang itu menjelaskan, sebuah pedang menusuk tepat ke arah pohon tempat mengikatnya, "Aaaa!" dia berteriak ketakutan. Ternyata salah satu dari pedang hitam kembar yang dilempar seolah melarang orang itu mengatakan lebih jelas tentang pusaka yang dikatakan legenda. Rey mencoba mencabutnya sekuat tenaga disertai Vay dan Kal, tetapi mereka kesulitan. Orang itu sudah ingin mengompol lantaran terlalu takut. Namun, ketika pedang itu tertancap di pohon, aura dari sihir gelapnya mulai menghilang. Rey menduga karena pohon itu menghilangkannya secara murni karena pohon yang sudah tidak memiliki sihir, jadi jika pedang itu tidak berada di tangan sang pemberontak, maka sihir yang dialirkan akan berhenti. Zee dan Fang mencoba menghentikan sang pemberontak di pertarungan putaran terakhir. "Pedang Lizz?" Zee melotot pada Fang. Napasnya yang tersengal-sengal mendadak berhenti sejenak. "Mengapa?" gigi Fang saling bertaut, "Mengapa dia tau mengenai pedang pusaka itu sedangkan apa yang kau inginkan dari pedang itu?!" Fang kembali menyerang ketika pertahanan musuhnya sedikit terbuka, tetapi serangan Fang masih bisa ditahan. "Menurutmu?" pemberontak itu tersenyum miring. "Dasar penghianat!" seru Zee dan Fang bersamaan. "Kita bisa menghindari kekalahan dengan melepaskan pedang ini darinya. Teman-teman, ayo tarik sekuat tenaga!" Rey memegang gagang pedang hitam kembar yang tertancap di pohon cukup erat sampai tangannya yang lembut terasa sakit. Begitu pula Kal dan Vay Yeng ikut membantunya. Kesulitan mereka terlihat jelas oleh Zee dan Fang sehingga mereka membagi tugas jika kini hanya Fang yang berhadapan dengan pemberontak itu dan Zee berlari menuju persembunyian teman-temannya. Rencananya adalah hanya membuang pedangnya dari jangkauan tangan si pemberontak. Ketika Zee datang, Rey dan yang lain terkejut sekaligus cemas karena tubuh Zee bukan lagi seperti gadis cantik, melainkan orang yang berada dalam medan perang besar. Tidak perlu waktu lama untuk menjelaskan maksud kedatangannya, dia langsung memukul pohon itu dari belakang dan seketika pedang hitam kembar keluar karena dorongan tenaga dalam Zee yang murni sebagai orang biasa. Suara pedang itu yang jatuh mampu menarik perhatian Fang dan si pemberontak. Saat itulah pemberontak itu mulai tidak siaga sehingga Fang dapat membuang pedang hitam kabar darinya hanya dengan menusukkan pedangnya ke gagang pedang hitam kembar dan melemparnya jauh di aliran air terjun. Sontak sihir hitam yang tersalur dalam pedang menghilang sempurna. Pemberontak itu marah sekaligus takut jika senjatanya diambil. Namun, dia sedikit lambat untuk mengambilnya lagi karena Zee dan Fang sudah memilikinya. "Semuanya, lari!" seru Rey memberi isyarat dan mereka lari sekencang mungkin tidak peduli akan masuk lebih dalam ke hutan atau keluar dengan nasib yang beruntung. "Tidak, tunggu! Lepaskan aku dulu! Hei, lepaskan aku!" orang yang diikat Vay di pohon berteriak sambil terjingkat-jingkat karena ditinggalkan. Dia sangat takut jika menjadi sasaran amarah. Ternyata dugaannya benar dan ketakutan semakin membuat wajahnya memucat. Pemberontak itu menghampirinya. "Mengapa mulutmu besar sekali? Sepertinya kau suka berbicara daripada berniaga, benar?" pemberontak itu mencengkeram udara dan membuat sesuatu. Lalu, melemparkannya ke wajah orang itu sehingga berteriak dan mampu didengar Rey dan teman-temannya. "Astaga! Aku lupa melepaskan ikatan orang itu!" Vay terkejut dan menoleh ke belakang tanpa berhenti berlari. "Sudah tidak ada waktu, Vay! Ayo lari sejauh mungkin! Saat ini sihirnya lebih mematikan dari pada apapun! Kalian hanya manusia biasa sepertiku sekarang!" Rey berseru memperingati. Vay mengangguk dan terus berlari, meskipun ada rasa tidak tega dalam dirinya. 'Maafkan aku, tapi kukira kau akan selamat karena kau sudah menjadi orang mereka sekarang. Jika ada peluang, kita pasti bertemu di pasar gelap suatu hari nanti. Bertahanlah!' batin Vay. Mereka sudah terlalu jauh dari air terjun dan suasana hutan semakin lembab. Tanpa adanya suara hewan liar ataupun serangga hutan, hanya ada langkah kaki mereka dan sepertinya tidak ada pengejaran lagi, tetapi mereka tidak bisa santai sehingga harus terus melaju. 'Di mana jalan keluar hutan? Di mana?' panik Rey dalam hati. Dia melihat Zee dan Fang yang sudah tidak sanggup berlari lagi karena luka mereka menjadi tidak tega. "Biar aku bantu." Rey memapah Fang yang masih memegang pedang di tangan kanannya. Pergerakannya menjadi sedikit sulit. "Tidak apa-apa. Aku masih baik, tapi Zee kesulitan berjalan. Kakinya sering terkena cemetinya sendiri. Bisakah kau gendong dia hanya sampai kita keluar dari hutan? Kita hanya perlu berjalan lurus tidak peduli seberapa jauhnya pasti akan keluar," kata Fang serius. "Baiklah!" Rey mengangguk tanpa pikir panjang. Seketika ingat jika dirinya terlalu lemah untuk bisa menggendong seorang gadis berbadan kecil. Fang mengerti hanya dengan melihat ekspresi Rey. Lalu, Kal mengambil alih tugasnya tanpa berbicara terlebih dahulu. Zee memekik ketika tubuhnya melayang dan berada di kedua lengan Kal sekarang. "Hanya perlu lurus, 'kan? Baiklah, ayo maju!" Kal berlari lebih cepat dari yang lain. Rey masih sempat meringis menunjukkan betapa bodohnya dia, "Maaf, aku tidak bis menggendongnya." Vay dan Fang mendengkus pasrah. Tidak perlu waktu yang sangat lama meskipun menguras tenaga dan napas yang berubah menjadi tidak beraturan, mereka berhasil menemukan tepian hutan dan cahaya yang cerah dari sebuah ladang besar tanpa rumah-rumah penduduk. Tidak tahu sudah keluar desa atau masih bagian dari desa Ranting Biru, yang jelas mereka dikatakan dalam kondisi aman. Mereka luruh di sebuah sumur buatan di tengah-tengah ladang labu yang sudah siap panen. "Akhirnya!" keluh Vay yang berbaring merentangkan tangan dan menatap langit yang masih terang tanpa takut silau. Dadanya turun-naik tak karuan. "Kita akan menjadi orang yang paling dicari setelah ini. Baik oleh musuh kalian dan juga mata-mata kerajaan," sambungnya. Vay menceritakan apa yang telah dikatakan oleh orang yang dia sekap. Fang dan Zee terkejut, tetapi hal itu mungkin juga bagus karena mereka tidak akan lagi dihantui rasa takut yang tidak pasti. Jika mata-mata kerajaan sudah mulai mencari ya sungguh-sungguh, maka keberadaan Rey dianggap sebagai ancaman yang berbahaya meskipun itu tidak masuk akal. Lalu, mereka bisa bersembunyi dengan bebas tanpa berprofesi sebagai rakyat biasa yang berkelana. "Luka dan kerja keras. Ini terbayar karena pedang hitam kembar berhasil berada di tangan kita, meskipun peti mati yang merupakan wadah aslinya tidak berhasil didapatkan dan kita gagal mengalahkan pemberontak itu. Mungkin Raja saat ini juga tidak peduli dengannya karena kejahatannya berada di luar kekuasaannya. Hal yang perlu kita khawatirkan sekarang adalah balas dendamnya," jelas Zee yang sedang menggulung kedua cemeti besinya. "Aku ... punya pertanyaan," tiba-tiba Rey bicara sedikit pelan. Pandangannya menunduk membuat mereka menatapnya. Lalu, Rey mendongak menatap Zee, "Apa itu pedang Lizz?" Sontak mata Zee melebar, "Kenapa kau pertanyakan hal itu?" "Karena hatiku gelisah memikirkannya. Terlintas daratan dan lautan yang menjadi kerajaan kalian di benakku hanya dengan memikirkan nama pusaka itu." Rey kembali menunduk heran. Kerutan di dahinya menjadi bukti jika perkataan Rey benar. Zee dan Fang saling pandang sebentar. "Sepertinya yang dikatakan si tua bau itu benar. Ada sebuah pusaka legendaris yang kehebatannya melebihi pusaka terhebat manapun dan keberadaannya sedang menjadi pertanyaan seluruh negeri. Kalian sangat-sangat mengetahuinya, bukan? Apa salahnya ditutupi sampai seperti ini?" Vay mengendikkan bahu. "Seperti apa?" Zee mendelik. "Seperti ekspresi kalian." balas Vay sambil melipat tangan di d**a. Kal menepuk pundak Vay dan bicara di belakang telinga Vay, "Hei, tidak baik membahasnya sekarang. Sepertinya itu sesuatu yang cukup mengganggu Zee dan Fang." "Rey yang memulainya duluan, aku hanya ikut saja. Lagipula aku juga penasaran karena baru kali ini aku mendengarnya. Bukankah ancaman besar jika senjata itu sampai jatuh di tangan orang jahat?" Vay menoleh ke belakang sedikit pada Kal. "Oh, benar juga! Zee, aku tau kalian lelah. Kumohon dengan sangat hati-hati, jelaskan tentang senjata legenda itu nanti setelah kita beristirahat sejenak dan kembali ke penginapan untuk mengambil barang dan kuda. Kita akan pergi dari desa ini menuju tengah pulau untuk bersembunyi," pinta Kal baik-baik. Zee pun mendesah, kemudian tersenyum. Mengangguk membuat Kal dan Vay tersenyum. Namun, senyum itu tidak bisa terlihat di bibir Rey. Dia ingin tersenyum, tetapi sesuatu menahan dirinya karena terpengaruh oleh logika dan perasaan yang tidak masuk akal. Dia terus terpikirkan nama senjata itu. 'Air yang jernih dapat menyimpan rahasia yang tidak bisa ditembus apapun dan tidak dapat ditemukan oleh siapapun. Terlepas dari segala sesuatu mengenai aku, Vay, Zee dan Fang yang terlibat dalam masalah, senjata itu muncul mampu membuat hatiku gundah. Sebenarnya apa ini?' pikir Rey. Mendadak pandangannya tertuju pada Kal yang secara tidak langsung hanya dia yang tidak memiliki kasus atau catatan luar biasa kecuali identitas yang jelas sebagai penyanyi jalanan. Kal mengatur napas yang mulai normal. Dia juga mengutak-atik buah labu di dekatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN