24. Penghuni Batu

2524 Kata
Memutari ladang labu hingga ke ladang padi dan bertemu dengan pemukiman yang berjarak cukup jauh dari semua ladang tersebut, mereka berhasil menemukan tempat berteduh. Untunglah Zee membawa ranting biru yang dia keringkan, sehingga dapat mengobati lukanya dan Fang. Di sebuah gubuk yang dipenuhi rumput dan tanaman buah, mereka singgah di sana sampai matahari terbenam. Bertanya pada penduduk sekitar jika mereka telah berada di luar desa Ranting Biru. Nampaknya hutan tersebut sebagai area perbatasan antara desa. Untuk kembali ke desa pada waktu malam, mereka memerlukan kendaraan yang bisa mengantar mereka tanpa menambah rasa lelah. Di samping dalam masa pencarian kendaraan, Rey terus bertanya dan meminta Zee untuk menceritakan tentang pusaka dari para senjata pusaka di negeri sihir. Terlihat dari raut wajah Zee yang sedikit ragu, membuat Rey semakin mendesaknya. "Aku mohon, katakan sesuatu tentang itu." wajah memelas Rey memperdayai Vay dan Kal. Mereka menjadi mengikuti keresahan Rey. "Zee? Apa sesulit itu mengatakan sebuah pusaka legenda? Karena pemberontak tadi hampir membunuh si tua bau saat mengatakan nama pusakanya." Vay memandang Zee meminta penjelasan. Zee memalingkan wajah. Tindakan Zee semakin memperkuat asumsi mereka. "Fang, kau juga tidak mau bicara? Kita bahkan sudah tau namanya. Pedang Lizz!" Kal menengadahkan tangan pada Fang. Namun, Fang hanya tersenyum sampai matanya terpejam. "Hah? Jawaban macam apa itu?" Kal melipat tangan di d**a kesal. Rey menggeleng pasrah karena berpikir mereka tidak akan mengatakannya kecuali mereka akan memberitahu dengan sendirinya. 'Kurasa senjata pusaka legendaris bagaikan mitos yang tak diketahui khalayak ramai. Pantas kalau Zee dan Fang bungkam. Aku harus mencari cara lain agar dia mau mengatakannya sendiri. Sungguh, hatiku tidak menentu. Ini tidak enak,' batin Rey. Suara hewan-hewan kecil menjadi musik alami. Rey menoleh ke kanan-kiri. Menyeka keringat yang tiba-tiba muncul di dahinya. Tidak sengaja anak rambutnya ikut tersingkap. Vay dan Zee tersentak karenanya. Anehnya, Rey tidak mengurai rambutnya lagi ke depan. Perasaannya kini bagaikan pantai yang diterjang ombak. Beberapa kata-kata dari kakek yang dia temui di pelabuhan pulau sebelumnya terus terngiang tanpa persetujuan Rey. Apa itu pengendalian pulau bahkan laut sekalipun, apa itu sihir yang terkuat sehingga menjadi ancaman terbesar yang pernah ada, dan juga senjata yang misterius bagai tertelan bumi. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, kecuali jika dugaan Rey benar, yaitu temannya yang seorang pelindung utama istana kerajaan Leazova mengetahui kebenarannya. "Ini hari yang luar biasa. Apa kita kembali sekarang?" "Eh?" Rey mendadak bergeming membuat Vay dan Zee sedikit bingung. Mereka bahkan membalas gumaman Rey bersamaan. Lalu, Rey menatap mereka dengan senyuman. "Ini melelahkan," Rey mengatakannya sambil menghela napas panjang. Mata Vay dan Zee melebar seketika. Kemudian Fang berdiri dan pergi tanpa berbicara. Rey memandangnya penuh kebingungan. Kemudian, Kal ikut berdiri setelah menepuk pundak Rey. "Ah, aku dan dia akan mencari kendaraan. Mungkin masih ada yang mau mengantarkan kita sampai ke desa sebelumnya. Tunggu di sini, ya." Kal tersenyum kaku selayaknya meminta pengertian untuk sikap dingin Fang. Rey mengangguk paham. Mereka bertiga sibuk bergelut dengan pemikirannya sendiri. Semuanya telah berakhir kecuali pemberontak itu mengejar ditambah mata-mata kerajaan yang semakin jelas mencari Rey. "Emm, ini sedikit dingin." Vay menggosok telapak tangannya sambil meringis. Sekadar memecah keheningan. "Iya, aku jauh merasa dingin darimu." Rey ikut memperlihatkan deretan giginya. Zee hanya menatap mereka dengan tatapan polos. Rey mengetahuinya. Tercermin dari bola mata Zee yang seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi sesuatu itu pun menahannya. Vay berbisik pada Rey membuat Rey mengerutkan dahi, "Lihatlah sikap Zee yang diam. Menurutmu bagaimana? Aku sedikit takut sekarang. Apa yang akan terjadi pada kita kedepannya?" "Ssttt! Semuanya akan baik-baik saja." Rey berbisik sambil menaruh telunjuknya di bibir. Vay mencebikkan bibirnya dan mengangguk. Aksi mereka membuat Zee penasaran. "Apa yang kalian bicarakan?" Zee mengerjap sekali. Rey menyilangkan tangan ramah, "Ah, bukan apa-apa. Dia hanya takut akan diculik lagi." Zee ikut tersenyum, "Begitu? Jangan khawatir, Vay. Aku akan melindungimu meskipun kau juga kuat." Vay tertawa kaku, "Iya-iya, terima kasih. Lupakan hal itu dan mari berpikir tentang perut. Aku lapas sekali!" meringis memegang perut. Zee tertawa kecil, "Semoga Fang dan Kal menemukan kendaraan dengan cepat agar kita bisa makan banyak segera." Rey dan Vay setuju dengan senyuman mereka sebagai jawaban. Tidak lama setelahnya, Fang dan Kal datang menaiki sebuah kereta kuda yang cukup besar dan ditarik oleh dua kuda. Seseorang yang mengendalikan kendaraan itu duduk di belakang kuda dan menarik tali yang terikat pada kuda. Mereka sangat senang melihat kedatangan Fang dan Kal. Sontak meninggalkan gubuk itu tanpa peduli hari semakin gelap dan dingin. Di dalam kereta mereka hanya diam dan saling melempar senyum. Setidaknya itu terjadi sampai tiba di penginapan mereka. Makanan hangat yang dibuat Zee dan Fang habis seketika. Luka mereka juga terobati dengan baik. Setelah itu tidak membuang waktu lagi untuk bermain lebih lama di desa tersebut. Mereka pergi ke penginapan kuda sambil membawa barang-barang mereka. Mengambil paksa kuda yang telah dirawat dengan baik. Kemudian, mereka pergi lagi. Tentunya tidak mengarah pada hutan sebelumnya yang sangat indah. Lelahnya jalan kaki hingga berhasil melewati sebuah gapura yang mengarah ke sebuah batu besar. Mirip seperti gua, tetapi memiliki pintu dan lubang-lubang yang sangat banyak. Lubang tersebut terlihat sangat kecil dari jauh, tetapi begitu besar jika dari dekat. Gua itu bersinar dari tanahnya, sinar yang berwarna biru seperti lautan. Senyum tak bisa berhenti terpancar. Keceriaan yang tiada habisnya dari tempat tersebut. Rey dan yang lain telah memasuki lingkungan bebatuan itu. Bahkan pohon yang berada di sekitarnya melambai dan bercahaya seakan menyambut setiap orang yang memasuki kawasan itu. Seperti cermin yang memantulkan sinar matahari dan mengenai objek terdekat, begitulah cara pohon dan batu besar itu bersinar. Di bawahnya terdapat cermin dan air yang saling memantul sehingga menimbulkan cahaya biru. Rey bertanya-tanya mengapa mereka membuat desa yang unik dan begitu menarik seperti gua. "Kita memasuki sebuah desa yang diselimuti oleh ketenangan. Di dalam batu mengelilingi sebuah air yang bersumber dari air laut. Air tersebut seperti danau yang tenang dan tak berpenghuni, tetapi penduduk di batu itu sangat menjaganya. Jangan takut, di sini bebas dari penjahat dan hal negatif. Bahkan huru-hara tidak masuk kedalamnya." Fang berbicara sangat panjang dengan sekali helaan napas. Rey terkesan tanpa merasa puas untuk pulau ini, "Menakjubkan!" Dia segera masuk dan disusul Kal. Kal mengajak Rey berbicara sampai membuat Rey mengangguk menanggapi. Lagi dan lagi Zee dan Fang saling pandang sebelum mengikuti mereka. Jika bukan karena Vay mengajak dan menyadarkan mereka, mungkin tidak akan menyusul dengan segera. Sambutan hangat seakan tamu adalah yang terhormat, Rey diperlakukan seperti Raja yang dijamu dengan banyak makanan mewah. Mereka sedang mengadakan acara memasak yang begitu besar. Di dalam batu tersebut, terdapat kemegahan tiada banding. Itu bukanlah gua, melainkan benteng persembunyian yang menyimpan rumah-rumah warga. Tidak jauh berbeda dengan penduduk sebelumnya, di sini tempat orang ramah dan saling menghargai. Sempat berpikir jika Fang salah menjelaskan tentang desanya karena ini tidaklah dalam suasana tenang. Ketika Fang memasuki gua dan disambut sama seperti Rey, sudut matanya sampai berkedut karena tak percaya. 'Di mana ketenangan mereka selama ini?' pikir Fang. Duduk di antara warga yang ramah dan menyaksikan hangatnya makanan yang baru dimasak serta mencium setiap aroma yang keluar dari panci besar mereka. Rey terus bertanya tentang apa yang terjadi. "Terima kasih atas sambutannya! Kami hanya pengelana yang singgah di pulau indah ini. Emm, apa yang sedang kalian lakukan? Terlihat sibuk dan lumayan meriah," tanya Rey pada salah satu orang yang mengepungnya. Kal sibuk berada di antara gadis-gadis dan mulai merayu menggunakan nada dan lagunya. Sedangkan Vay ikut mengamati cara orang-orang memasak. Dia kagum terlihat dari ekspresi wajahnya. Zee dan Fang duduk tidak jauh Rey dan selalu memperhatikan pembicaraan Rey yang akrab dengan penduduk desa. "Oh, selamat datang! Kami senang kalian datang, apalagi di waktu yang tepat. Kami memiliki panen yang melimpah kemarin, sehingga mengadakan perayaan kecil yaitu makan besar bersama seluruh penghuni batu ini. Kalian bisa bergabung!" orang yang diajak bicara Rey tersenyum ramah. "Oh, benarkah?! Mengesankan sekali! Kalian panen apa?" tanya Rey antusias. Fang dan Zee semakin memperhatikannya. "Hanya beberapa tanaman pokok dan s**u dari peternakan yang terjual laris. Ini adalah salah satu makanan dari peternakan kami. s**u sapi murni yang dicampur dengan sari buah asli dan madu. Cobalah! Ini dapat menambah stamina. Terlebih lagi untuk anak muda tampan dan memiliki masa depan cerah seperti kalian." orang itu memberi Rey sebuah mangkuk berisi semua bahan yang dijelaskan. Rey tersentak dan menerimanya, "Ah, terima kasih! Wah, ini terlihat sangat enak dan bergizi! Ngomong-ngomong apa kalian punya peternakan? Apa itu ikan? Temanku yang di sana sangat menyukai ikan. Dia seorang penjual ikan." menunjuk Vay yang semangat bertanya tanpa ingin membantu memasak karena takut mengacaukan segalanya. Orang itu mengikuti arah telunjuk Rey dan seketika tertawa, "Yah, tentu saja ada. Setelah acaranya selesai kalian boleh berkeliling sesuka kalian." "Sungguh? Terima kasih sekali lagi, Paman!" Rey tersenyum manis. Orang itu tertawa lagi, "Kau terlihat berbeda dari yang lain, Anak muda. Apa kau memiliki tujuan yang besar? Wajahmu sangat cerah bahkan tanpa terpancar sinar air laut sekalipun." Tak segan-segan orang itu menyentuh dagu Rey membuat Rey sedikit memundurkan kepalanya. Lalu, dia pergi setelah mengatakan hal itu. Senyum Rey sedikit memudar, "Banyak yang berkata demikian, Paman. Meskipun aku tidak tau takdir apa yang akan aku bawa." Setelah itu, Rey meminum minuman di mangkuk yang begitu menyegarkan. Orang itu berkata benar, ada rasa berbagai macam sari buah segar dan madu di dalamnya. Rey juga bisa melihat ada banyak orang yang telah menyajikan minuman tersebut untuk semua orang. "Mereka ramai sejenak dan melepas keheningan di hari-hari biasa," kata Rey pelan meskipun masih bisa didengar Fang dan Zee. Seketika mereka berdua memalingkan wajahnya. "Bagaimana ini, Fang?" Zee menggeleng dan bersuara lirih. "Tidak ada salahnya dicoba. Lagipula, kau selalu gagal memanggil kekuatanmu. Mungkin ada jalannya setelah ini," kata Fang tenang. "Tapi dia tidak begitu kuat. Yah, aku percaya sepenuhnya padanya, tapi ini bukan mainan. Walaupun harapan kita adalah dia dan memang hanya dia." Zee menunduk di akhir ucapannya. "Sesuatu akan berubah. Keajaiban akan muncul di manapun dia ingin muncul," jawab Fang membuat Zee mendesah. Mereka terlihat sedang berbisik bagi Rey dan reaksi Rey justru jauh lebih santai daripada mereka. Dia menikmati acara yang disajikan. Hingga Vay muncul membawa beberapa makanan lezat. Lubang-lubang di batu ternyata sebuah jendela untuk setiap rumah. Baik di atas, tengah, maupun bawah, semuanya menempel di batu dan memiliki tangga tersendiri sebagai jalan di tepi batu agar mereka bisa mengakses jalan dengan baik. Batu itu sangat luas sampai tak terhitung jumlah rumahnya jika dihitung menggunakan tangan. "Rey, lihat! Mereka membuat ayam besar di panci yang besar! Kuah kentalnya sangat lezat! Aku sudah mencicipinya tadi. Cobalah!" Vay semangat memberikan makanan itu pada Rey. Dia duduk di samping Rey dan bersiap makan, tetapi tidak sengaja pandangannya jatuh pada Fang dan Zee yang hanya diam, "Hei, kalian! Ayo sini makan! Sia-sia jika makanan seenak ini diabaikan!" Berkat keramahan Vay, Fang dan Zee bergabung dan mereka makan tanpa menunggu Kal. Tidak perlu mengajak Kal karena laki-laki itu telah kenyang hanya dengan merayu banyak gadis dan membuat hatinya dipenuhi warna biru laut seperti syair nadanya. "Benar! Makanan di sini enak-enak! Selain itu membuat tubuh kita bertenaga seketika. Bagaimana cara mereka membuatnya? Kau sudah belajar dari mereka, Vay?" tanya Rey karena mereka diam dan terus makan. "Hmm? Aku hanya diam dan mengganggu mereka dengan berbagai pertanyaan. Cara mereka memasak sedikit aneh dari Zee, tapi sangat lezat!" Vay berseru senang. "Hahaha! Kau ini!" Rey tergelak. Vay ikut tertawa sambil mengira Rey begitu terbuka hari ini. Ketika acara sudah berlalu. Mereka berpencar untuk mengelilingi tempat itu. Rey berjalan dengan seseorang yang menuntunnya sambil menjelaskan keadaan lokasinya. Fang dan Zee pun ikut di belakang Rey. Vay masih senang belajar tentang aneka ragam masakan bahkan ketika mencuci semua peralatan dapur mereka dia pun ikut membantu. Kal sendiri sudah terlarut dalam kegembiraan. Dia hampir pingsan di tengah kerumunan para gadis. "Bibi, apa semua orang benar-benar tinggal di rumah dinding batu itu?" tanya Rey seiring berjalan. Wanita paruh baya di sampingnya pun tersenyum, "Yah, tentu saja!" "Oh, bagaimana rasanya? Apa tidak dingin?" Rey memandang rumah-rumah itu sampai mendongak. "Sedikit, tapi mengapa kau berpikir ini dingin? Bukannya kau berasal dari pulau lain?" giliran wanita itu yang bertanya. "Karena ini mirip gua yang ditinggali. Bukankah gua itu dingin dan lembab?" balas Rey masih memandang sekeliling. "Hahaha, itu benar! Kami punya alat canggih yang disebut kincir angin di setiap halaman rumah dan jendela. Membuat udara segar masuk dan tempat tidak sedingin yang kau kira. Seperti yang kau lihat, ada banyak kincir angin kecil di setiap rumah. Lalu, ada yang berjenis raksasa di antara jalan yang kita lewati. Kau akan tau nanti," jawab wanita itu ramah. "Wah, kalian cerdas sekali! Dari mana kalian mengetahui hal ini?" barulah Rey menatap wanita itu. Wajahnya begitu ceria sampai wanita itu tak berhenti tersenyum. "Kau ini anak yang antusias, ya! Hal itu terjadi secara turun-temurun. Mungkin ini tradisi dan keistimewaan tempat ini daripada tempat lain. Semua bisa terjadi di pulau Biru Laut. Kami hanya bagian kecil dari keistimewaannya saja." wanita paruh baya itu menengadahkan tangannya. Rey mendongak, "Apa itu benar?" "Tentu saja!" wanita itu mengangguk kuat. "Ini penuh misteri, ya?" Rey tersenyum membayangkan sesuatu. Wanita itu mengangguk dan terus merespon Rey. "Baiklah, apa selanjutnya? Wow, itu dia kincir angin raksasa! Ada dua dari mereka. Apa akan ada lagi di depan sana?" Rey menunjuk kincir angin besar di jalan depannya. Tidak tahu gua ini akan berakhir di mana, tetapi begitu panjang seperti sebuah desa yang terkurung di dalam batu. Selain itu, Rey bisa mencium sumber mata air. Sangat sejuk dan napasnya menerpa udara dingin tersebut. 'Ini dia! Mungkin air laut yang membentuk danau alami di dalam gua ini. Memang alam yang luar biasa! Aku ingin melihatnya!' pekik Rey dalam hati. Di belakangnya, Zee dan Fang masih tidak berkutik. Mereka pun melihat beberapa hal yang unik di tempat ini. Lalu, ketika mereka melangkah lebih jauh, ketenangan mulai muncul. Tandanya acara mereka benar-benar sudah selesai. Mungkin Vay dan Kal mencari mereka sekarang, tetapi mereka sudah berjalan terlalu jauh. Sebentar lagi, mereka tiba di tengah-tengah tempat itu. "Hei, Bodoh! Sampai kapan kau akan mabuk dalam halusinasi? Gadis-gadismu sudah pergi dari tadi. Dasar tidak tau malu! Ayo cari Rey dan yang lain! Mereka dibawa pergi oleh wanita yang selalu tersenyum." Vay menarik lengan Kal yang tidak mau berdiri dari tempat duduknya sambil memandang sekeliling. 'Di mana Rey? Bisa-bisanya meninggalkanku,' batin Vay. Kal berdiri sempoyongan. Vay hampir tertarik olehnya. "Aduh! Kau ini tidak bisa berdiri tegak, ya?!" Vay membentaknya. "Hmm? Mana mereka?" Kal memutar pandangannya. "Sudah pergi tau!" Vay geram. "Bukan, maksudku para gadis di sini. Tega sekali meninggalkanku. Padahal aku sudah menemukan lagu yang bagus untuk mereka. Oh, benar-benar surga pulau yang indah!" Kal mulai tersenyum gila di imajinasinya sendiri. Vay ternganga dan menepuk dahinya, "Aarghh! Ingin sekali kuremas mulut orang ini! Ayo cari Rey!" menarik Kal tanpa ampun. "Ah, hatiku terjebak dalam irama indah!" Kal masih bicara hal yang tidak jelas. Setelahnya, tidak ada sesuatu yang terjadi. Tempat itu senyap. Kebingungan melanda Rey dan teman-temannya. Wanita itu menghilang ketika Rey asik bertanya bahkan Zee dan Fang tidak menyadari kepergian wanita itu. Lantas mereka sendirian di tengah-tengah masyarakat yang mulai diam. Hanya ada sedikit suara meskipun senyum masih terpancar di wajah setiap orang. Tidak ada yang aneh, hanya saja keadaan yang sebenarnya telah dimulai. Keberadaan Vay dan Kal sendiri masih jauh dari mereka. Saat berjalan, Vay menyadari betapa sunyinya tempat itu seiring langkahnya semakin menjauh. Kal pun kembali pada kesadarannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN