Sehelai benang putus dari kain pengikat kepala. Rey hanya menutup matanya sebentar dengan lengan yang menindih dahinya. Zee melihatnya. Semua jerih payah termasuk benang itu. Dia menunduk, berdiri sembari menutupi wajah Rey yang silau dengan buah yang terbungkus kain. Getaran itu hadir kembali. Seolah dahinya terangkat, detak jantung Zee bertambah cepat. Dia segera berpaling. Menjatuhkan buah-buahan itu dengan rapi. Lalu, menepuk pipinya berkali-kali. 'Tidak, tidak, lupakan saja, Zee! Kau tidak berhak untuk itu,' batin Zee lirih. Pesona Rey tidak bisa ditolak lagi. Dia yang terbuka dengan wajahnya sangat mempengaruhi emosional bagaimana pun juga. Zee memaki diri sendiri yang telah sama seperti para gadis yang mengejar Rey. Namun, dia bukan hanya terkesan pada ketampanan itu, melainkan

