“Jasmin Astri Ramlan” Panggil seorang perawat wanita. Tubuh wanita yang duduk tak jauh dari perawat itu seketika mengeras. Peluh sedingin es mengucur dari sela-sela jemari lentiknya. Wajahnya sepucat mayat. Skak mat. Ia terjebak di tempat itu, Emir menggenggam tangannya erat. Mencegah dirinya melarikan diri. Jasmin ketakutan saat melihat senyum miring di bibir Emir. Baru kali ini gemetaran karena melihat senyumnya. Pandangan dalamya. Terasa mengancam kebahagiaannya. “Buktikan kalau kamu masih perawan, Jasmin” ujarnya. Jasmin melepas paksa genggaman tangan Emir. Ia lalu bangkit. "A-aku harus telpon kakak dulu. Dia pasti khawatir, aku tiba-tiba menghilang dari rumah" Jasmin hendak pergi. Namun Emir tiba-tiba mencekal tangannya. "Jangan sekarang, Jasmin. Dokter sedang menunggumu" Emir m

