8. Lamaran

3849 Kata
  “Masuk, Jas” Clarissa memanggil adiknya yang sedang berdiri mematung di depan pintu. “Eh, ah ya,” ucap Jasmin kikuk. Suara itu menyadarkan nya yang sedang berdiri termangu. Ia bingung melihat kehadiran Emir dan dua orang tua di sampingnya.   “Salim sama orang tua Emir, Jas” Sahut Calvin. ‘Apa? Mereka orang tua cowok sialan itu?’ Jasmin melirik Emir cepat. Setelah itu segera menyalami dua orang tua yang duduk bersebelahan tersebut. Ayah Emir orang Indonesia asli, sedangkan ibunya wanita berhijab, terlihat masih cantik di umurnya yang sudah tidak muda. Wajah cantiknya khas orang arab asli, tubuhnya tinggi, putih, cantik, jangan lupakan hidungnya yang mancung, dan matanya yang lebar, terlihat berbinar-binar melihat Jasmin.     “Kamu cantik sekali, Jasmin” Puji wanita itu ketika Jasmin menyalami, mencium tangannya.   “Nggak heran, Emir langsung minta nikah waktu lihat kamu.” Sahut ayah Emir yang mengenakan kemeja biru navy. Glundang…. Tiba-tiba ada panci besar menimpa kepala Jasmin. Mata wanita itu seketika melotot ke arah Emir. Namun Emir justru tersenyum padanya. ‘Sudah gila ya ini anak? Sadar umur nggak sih dia? Beraninya main kawin-kawinan sama aku.’ Jasmin menggigit bibirnya, menahan nya agar tidak memuntahkan kata-kata kotor. Sudah tidak tahan ingin memaki habis-habisan pria tampan yang duduk tidak jauh darinya. Ia yang awalnya hendak duduk, karena terlalu syok dan terkejut, Jasmin tetap berdiri mematung. Srak… Clarissa menarik paksa tangan Jasmin yang sedang berdiri di sampingnya. Memaksanya duduk. Tubuh jasmin pun terhempas di samping Clarissa. Orang-orang yang berada di ruang itu pun tertawa.   “Kenalin, Jas. Mereka ini orang tua Emir. Sengaja datang kesini untuk menemuimu.” Ucap Clarissa, dan Jasmin memaksakan senyumnya.  “Hai Jasmin, aku papanya Emir. Kamu bisa memanggilku Papa Ridwan. Dan ini Mamanya Emir. Panggil saja dia Mama Aishe. Jangan khawatir, dia ini sangat sabar, kamu pasti menyukainya” Ucap Pak Ridwan ramah.  Tidak ada yang bisa Jasmin lakukan selain mengangguk dan tersenyum kaku. ’Awas kau Emir, berani sekali kau bawa-bawa orang tua mu ke sini. Aku tidak akan mengampunimu,’ teriak Jasmin dalam hati. Ia meremas-remas tangannya yang sedingin es.    “Maafkan kedatangan kami yang sangat mendadak. Kami pasti sangat merepotkan kalian” Ujar Bu Aishe. ‘Iya, kalian memang sangat merepotkan, membuatku lari-larian dari asrama ke sini hanya untuk melihat acara nggak penting kayak gini’ teriak Jasmin, yang tentu saja hanya bisa ia lakukan dalam hati. “Merepotkan apa? Kalian sama sekali tidak merepotkan, kami justru tersanjung kedatangan pebisnis yang merajai pasar Turki” Ucap Calvin sopan. Mendengar ucapan Calvin suara bariton Pak RIdwan tertawa menggema. “Apa-apaan ini Pak Calvin. Siapa yang merajai pasar Turki? Kami hanya menguasainya, wahahaha… Aku justru kagum melihatmu, kamu masih muda, tapi pabrik elektronik mu sudah keliling dunia. Hampir ada di setiap negara, dan kau curang, produk-produkmu selalu bisa jadi yang nomer satu. Sepertinya istrimu membawa keberuntungan untukmu, semoga Jasmin juga bisa jadi jadi keberuntungan Emir.” “Uhuk-uhuk…,” Jasmin tiba-tiba terbatuk-batuk. Aneh, padahal dia tidak makan apapun, tapi kenapa bisa tersedak? Pikir Clarissa sembari menyodorkan gelas miliknya yang berisi teh camomile. Clarissa pun menggosok-gosok lembut punggung Jasmin. “Sepertinya Jasmin masih bingung dengan kedatangan kita, Pa” Timpal Bu Aishe, memperhatikan seksama wajah Jasmin yang pucat. “Baiklah Jasmin, kami akan memberitahumu, apa tujuan kami yang sebenarnya. Kamu siapkan?" Kedua alis Bu Aishe terangkat. Dan Jasmin hanya bisa mengangguk pasrah. Pandangan matanya beralih ke kakinya sendiri. Jasmin menebak, orang tua Emir pasti ingin melamarnya. Menjadikan dirinya istri untuk putranya. Berada di situasi seperti itu ternyata lebih menegangkan daripada sedang berdiri di depan seekor harimau. Harimau masih bisa ia halau dan ia gertak, tapi orang tua Emir? Jasmin tidak bisa mengusirnya.  "Jasmin, apa kamu punya pacar?" Suara Bu Aishe mengalun lembut, bertanya dengan dengan halus. Namun jawaban untuk pertanyaan itu terasa menekan Jasmin. "Tidak" jawab Jasmin jujur, seraya memandang mata Bu Aishe sekejap. Perempuan itu pun tersenyum hangat. pada Jasmin. "Kalau kamu tidak punya pacar, Emir boleh dong daftar?"  "Saya…," suara Jasmin tercekat di tenggorokan. "Saya…, sedang tidak ingin pacaran" jantung Jasmin terasa plong. Ia bisa menolak Emir dengan alasan tepat.  Bu Aishe tiba-tiba mendekat pada Jasmin. Duduk di sebelahnya. Kedua tangannya lalu menggenggam hangat tangan Jasmin "Aku senang kamu ternyata wanita yang baik, Jasmin. Emir bukan daftar jadi pacarmu, Sayang. Tapi dia daftar jadi suamimu." Kata-kata itu tidak mengejutkan Jasmin. Ia sudah bisa menebaknya, dua orang itu dari tadi selalu membahas tentang menikah.  "Jadi begini mbak Clarissa dan mas Calvin. Kedatangan kami kesini untuk melamar Jasmin." Ucap Pak Ridwan. "Emir kami sangat menyukai Jasmin. Sudah tiga hari ini dia memita kami untuk menemui kalian. Meminta secara khusus agar Jasmin menjadi istri nya." "Tapi, bukankah Emir masih sangat muda? Sikap Jasmin juga masih ke kanak-kanakan" Ucap Calvin. Dalam hati Jasmin tertawa girang. Baru kali ini, kakak iparnya se ide dengannya.  "Kami tahu mereka masih sangat muda" Pak Ridwan memandang Emir dan Jasmin secara bergantian. Setelah itu melanjutkan, "Tapi kalau Emir sudah menginginkannya, dan Jasmin mau menerimanya, untuk apa kita menundanya? Jangan sampai kita mendukung statement yang salah 'masih kuliah, jadi sebaiknya pacaran dulu' itu salah Mas Calvin. Itu artinya kita mendukung anak-anak kita mendekati perbuatan Zina. Awalnya mereka hanya melakukan perbuatan yang mendekati Zina. Seperti pelukan, ciuman. Pegang-pegangan. Lama-lama apa bisa pria tahan lama-lama seperti itu? Tidak bisa kan? Pria selalu menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Untuk itu, waktu Emir bilang ingin menikah sampai tiga kali, maka kami mengambil keputusan. Dan keputusan kami, ternyata cocok dengan Emir. Kami sama-sama menyukai Jasmin. Masalah kuliah, mereka bisa melanjutkannya setelah menikah. Kalau tidak ingin ribet tentang anak, tinggal menundanya. Apa ribetnya iya kan?"  Calvin menganggukkan kepalanya. Setuju dengan pendapat Pak Rudwan. "Anda benar. Daripada mereka pacaran, melakukan hal yang tidak-tidak. Lebih baik mereka kita halalkan saja." Ujar Calvin.  "Nah itu dia. Jangan sampai anak-anak melakukan yang di larang agama." Pak Ridwan menyilangkan kakinya. Mulai nyaman dengan keadaan. Ia lalu menyesap minumannya. "Mengingat umur Emir yang baru 22 tahun. Awalnya kami melarang Emir menikah sekarang, tunggulah umur sebentar lagi, lebih matang sedikit. Tapi, Emir tidak mau,terus mendesak untuk menanyakan Jasmin. karena dia terus meminta, meyakinkan kalau gadis pilihannya wanita yang baik dan sopan. Kami akhirnya menurutinya. Tahu kenapa kami cepat berubah pikiran?"  "Kenapa?" Tanya Clarissa. "Karena dulu aku dan Mama nya Emir juga menikah muda. Aku menikahi temanaku sendiri, posisi kami saat itu masih kuliah. Beda umur kami juga hanya satu tahun. Ternyata keinginan juga bisa tewarisi ya? Hahaha…. " Seisi rumah pun tertawa. Mata Pak Ridwan lalu menerawang jauh. "Aku masih ingat. Saat itu aku tidak bisa menerima kata tidak. Aku selalu bilang pada orang tuaku. Kalau aku mau menikah saat itu juga. Akhirnya orang tua ku mengabulkan permintaanku. Mereka khawatir, kalau aku nanti justru membawa lari Aishe. Lagipula untuk apa menunda kalau anak-anak sudah ingin menikah? Ini adalah niat yang baik. Menikah adalah bagian dari ibadah. Katakan sendiri pada Jasmin, Mir. Kapan kamu mau menikakhinya?” Ucap Pak Ridwan pada putranya. “Aku akan menikahi Jasmin, saat sekripsiku di nyatakan lulus.” Jawab Emir mantap. 'Memangnya siapa yang mau nikah sama kamu?' gerutu Jasmin dalam hati. “Kalau sekripsimu ternyata nggak lolos?” Pancing Pak Ridwan. “Aku akan beajar siang dan malam. Agar bisa memiiki Jasmin” Emir menatap Jasmin lekat yang sedang menunduk.  “Jangan khawatir untuk masalah ekonomi. Rencananya, setelah Emir menikah. Aku akan memberikan pabrik kain yang ada di sidoarjo untuk kalian. Di antara tiga bersaudara, Emir adalah anak kami yang ke dua, satu-satunya anak laki-laki yang kami punya, satu-satunya cucu kesayangan neneknya yang ada di Turki. Sejak dia SMP, dia rela pindah ke Turki, tinggal menemani neneknya yang sendirian. Tapi setelah neneknya meninggal beberapa bulan yang lalu. Dia kembali ke Indonesia. Neneknya mewarisi dia waralaba supermarket yang cukup terkeknal di Turki. Jadi untuk masalah Ekonomi kalian tidak perlu memikirkannya. Setelah menikah, kalian bisa memilih tinggal di sini atau pindah ke Turki juga tidak masalah.” jelas Pak Ridwan secara rinci. “Bagaimana, Jasmin? Kamu mau menerima Emir? Dia serius ingin menikahimu” ucap Bu Aishe berterus terang. “Emir adalah anak yang cukup dewasa pemikirannya, tidak suka grusa grusu. Selalu berpikir dalam-dalamm sebelum bertindak. Dia menyayangi dan menghormatiku. Aku yakin dia nanti juga akan menjadi suami dan ayah yang penyayang.”  Wajah Jasmin pucat, tangannya berkeringat dingin. Ia gugup, tidak enak menolaknya secara langsung. “Saya…, “ “Ku beri waktu untuk memikirkan permintaan ku sampai besok. Besok malam kita akan makan malam. Jawab saja permintaanku besok malam” ucap Emir santai. “Pikirkan saja dulu sampai matang, jangan mengambil tindakan terburu-buru” Pria itu tersenyum pada Jasmin.  “Kamu betul, Nak” Pak Ridwan menepuk bahu Emir. “Aku bangga padamu. Sikapmu sangat gentle, sikap pria sejati memang harus begini. Siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun." Tidak hanya Pak ridwan yang memuji sikap Emir. Calvin pun ikut memujinya. Mengatakan hanya pria dewasa yang bisa berlapang da*da, menerima apapun yang akan dia terima. Pertemuan itu berjalan dua jam lamanya. Setelah itu Emir dan kelularganya pulang, menolak tawaran Clarissa, agar makan siang dahulu.  Sepulang Emir dan keluarganya. Clarissa menyeret Jasmin ke kamar yang biasa di tempati oleh Jasmin.  “Ada apa sih kak? Kalau mau ngomong, kenapa harus masuk kamar segala?” Jasmin duduk di sofa panjang kamarnya. Memperhatikan kakaknya yang mengunci pintun kamar.  “Aku mau kamu fokus mendengar semua ucapanku. Lagipula tidak enak kalau ada orang-orang yang mendengar kita bicara” Clarissa duduk di samping Jasmin. “Bahaya kalau ada yang dengar, salah paham, terus di sebarin kemana-mana.” “Oke,” jawab Jasmin. “Apa jawabanmu buat Emir?” Tanya Clarissa to the point. “Jawabanku…,” mata Jasmin berputar, menyapu ruangan kamarnya, berpikir. “Rahasia! Pengen tahu aja ih, Kakak” Bibir Jasmin mengerucut. “Aku tahu jawabanmu, kamu menolaknya kan?” Mata Clarissa melotot ke arah Jasmin. “Kelihatan banget dari matamu, dasar bodoh!” Clarissa menjendul kepala Jasmin pelan. “Apaan sih, main jendul kepala orang aja. Ini kepala bukan bola” Sungut Jasmin tidak terima. Mengelus dahinya yang di jendul oleh kakaknya. “Habis ini kepala nggak ada otaknya, kayak bola. Bodoh banget kalau kamu nolak Emir tahu” “Kenapa? Karena dia kaya?” Jasmin memutar matanya malas. “Dia emang kaya, tapi kakak nggak bahas itu. Apa kamu nggak lihat, Emir itu caloln suami yang sempurna? Dia masih muda, tapi rasa tanggung jawabnya tinggi. Dia nggak mau mengajakmu pacaran, membuat ikatan yang nggak jelas. Tapi justru mengajakmu menikah, berani mengambil keputusan menanggung hidupmu. Bertanggungn jawab atas rasa cintanya. Seperti itu lah pria sejati, Jasmin. Cowok di luaran mah sedikit yang kayak gitu. Banyakan yang hanya ngajak pacaran. Terus di hamilin, habis itu di tinggalin. Kamu mau cari yang kayak gitu?”  “Tapi cinta itu nggak bisa di paksain, Kakak” Jasmin mengggeleng. “Sekarang kamu bisa bilang begini, nggak mencintai nya. Percayalah, cinta itu bisa datang setelah kalian menikah, Jasmin. Cinta akan cepat hadir ketika kalian sering bersama. Yang penting adalah, kamu harus punya prinsip nggak membantah kemauan suami. Apalagi Emir itu pria yang cukup penyababr, cocok banget sama kamu yang gak sabaran” “Aku nggak bisa. Aku nggak mencintainya” Jasmin melepas kuncir rambutnya tidak sabar. Membiarkan rambut lurus dan panjangnya terurai begitu saja.  “Kamu nggak mencintainya, karena kamu masih mikirin Aldi sial*an itu kan?” Suara Clarissa sedikit meninnggi.  Jasmin menunduk, hanya diam, tidak bisa membantah kakaknya. Percuma ia membantahnya, perempuan itu pasti bisa membaca dirinya yang berbohong. “Lupakan pria breng*sek tidak bertanggung jawab sepertinya. Hadapi kenyataan ini, Jas. Aku mohon lupakan dia. Kita nggak tahu seperti apa wajahnya, seperti apa kepribadiannya. Seperti apa akhlalknya. Seperti pergaulannya. Seperti apa keluarganya. Menurutkku, dari caranya dia yang meninggalkanmu begitu saja, tidak berusaha mencari mu, cukup menunjukakan kalaun dia pria yang tidak baik dan tidak bertanggung jawab. Beda dengan Emir yang udah jelas-jelas pria baik-baik, mencintaimu setulius hati.”  Tapi aku nggak mencintainya, Kak.” Lagi-lagi Jasmin menolak. Clarissa memutar tubuhnya, duduk menghadap Jasmin. Tangannya menggenggam lembut tangan adiknya “Misalkan kamu menolak Emir. Lalu memilih menunggu Aldi. Seandainya nanti Aldi benar-benar muncul, dia ternyata nggak sesuai dengan apa yang kamu pikirkan, jelek, playboy, tua, udah punya anak, lebih miskin dari Emir. Kamu masih mau sama dia?” Tanya Clarissa. Jasmin menundukkan wajahnya, tidak bisa membantah apa yang di ucapkan kakaknya. “Misalkan nanti kamu jadi menolak Emir. Lalu memilih menunggu Aldi. Sampai kapan kamu akan menunggunya? Kamu akan menghabiskan waktumu untuk menunggunya? Kalau kamu udah tua, siapa yang bakal mau sama kamu, Jas?” Jasmin tetap diam. Clarissa lalu melanjutkan, “Pikirkan matang-matang jawabanmu, pikirkan juga akibat dari keputusanmu. Kamu sudah dewasa, Jas. Aku nggak bisa maksa kamu. Baiklah, aku keluar dulu ya?Jangan menyesal kalau kamu menolak pria sebaik Emir.” Clarissa berdiri, membelai lembut rambut adiknya. “Jangan sampai kamu menyesal, Jasmin” pesan Clarissa yang terakhir sebelum ia melangkahkan kakinya keluar.  Setelah Clarissa keluar, menutup rapat pintu kamarnya. Jasmin beralih ke ranjang. Menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuknya, lalu menyembunyikan wajahnya di atas bantal. Emir benar-benar membuatnya bingung. Ia ingin sekali menolak Emir. Tapi apa yang di ucapkan kakaknya memang benar. Emir mendekati kata sempurna untuk di jadikan sebagai suami. Hanya wanita bodoh yang menyia-nyiakan Emir. Seandainya Emir datang setelah ia bosan menunggu Aldi. Jasmin pasti tidak akan menolak Emir, Tapi dia belum puas menungggu aldi. Jasmin yakin, ia harus menolak Emir, lebih memilih Aldi. Kalau dirinya berjodoh dengan Emir, dia pasti akan bertemu lagi dengan Emir. Lagipula dia tidak mau menyesali tentang Aldi. Entah mengapa Jasmin yakin. Jika Aldi adalah pria yang baik. *** Jasmin mengerjap-ngerjapkan matanya saat melihat jam di dinding. Tidak percaya ketika matanya menatap penunjuk waktu itu. Waktu menunjukkan angka enam sore. Benarkah? Nyawa Jasmin masih berserakan. Belum terkumpul semua dalam tubuhnya setelah ia ketiduran.  Satu menit berlalu, ketika telinganya mendengar sayup-sayup bunyi orang sedang menggoreng sesuatu di dapur. Kesadaran Jasmin akhirnya pulih. Buru-buru ia bangun, ia kesal setelah menyadari jika ia habis ketiduran. Jengkel, mengapa kakaknya tidak membangunkan dirinya? Untunglah dia masih datang bulan, jadi tidak melakukan sholat. Jasmin ingat, malam ini dia harus sudah ada di asrama, sudah janjian dengan Melani dan teman-tamannya untuk belajar bersama membuat makalah. Itulah senangnya tinggal di asrama, jika ada pekerjaan bisa di diskusikan secara langsung dengan teman-temannya.  Jasmin terburu-buru mandi sore, takut jika ia kemalaman. Gawat juga kalalu ia telat. Bakalan tangung sendiri sulitnya tugas makalah ilmiah tentang kesehatan. Setelah berdandan ekstra kilat, Jasmin menyambar tasnya, berjalan cepat keluar dari kamarnya yang berada di lntai dua. Kepala Jasmin celingukan mencari kakaknya di lantai dua, tapi ia tidak menemukan siapapun. Jasmin pun ke lantai satu, mencari kakaknya, hendak berpamitan. Tapi wanita itu tidak ada di manapun. Menurut salah seorang pembantu, Clarissa keluar bersama Calvin dan juga Vino. Sebenarnya tadi Jasmin sudah di banunkan oleh Clarissa, namun tidurnya yang terlalu nyenyak, membuat ia tidak sadar sudah di bangunnkan. Jasmin akhirnya berpesan, bahwa ia harus segera kembali ke asrama.   Adzan maghrib berkkumandang saat Jasmin melajukan motornya di jalan raya. Petangnya hari justru membuat jalanan di penuhi orang. Para pedagang pun menggelar dagangannya. tak lupa para pengamen malam yang ikut memeriahkan tepian jalanan yang ramai bagai pasar malam setiap hari.  Jasmin mampir sejenak membeli martabak manis dan martabak telur sebagai buah tangannya untuk teman-temannya. Setelah itu segera melanjutkan perjalanannya menuju asrama.    Mata bulat gadis itu melebar tatkala mendapati pintu gerbang asrama tertutup. Bahkan ada pula mobil yang terparkir di depan gerbang, tidak bisa masuk. Tepat berada di depan gerbang, Jasmin menghentikan motornya di sebelah mobil. Ia lalu turun, menghampiri gerbang yang terkunci rapat. Bibirnya berdecak kesal..  “Pak Budi?” Teriak Jasmin sembari melongokkan kepalanya ke dalam gerbang. Dia adalah penjaga gerbang di malam hari. Aneh tidak biasanya gerbang sudah di tutup saat jam baru menunujukkan setengah tujuh, tidak ada tulisan apapun di depan gerbang, tapi mengapa gerbang justru di tutup tanpa ada pemberi tahuan apa pun? Biasanya Gerbang di tutup saat jam menunjukkan angka sebelas malam.   Jasmin lalu menghubungi penjaga gerbang. Tapi sial, ia tidak punya nomer Pak Budi, ia hanya punya nomer pak Maman, penjaga gerbang di pagi hari. Jasmin pun menelpon Melani, tapi sahabatnya itu tidak mengangkatnya. Tidak kehabisan akal, ia pun menelpon penghuni asrama yang lainnya. Tapi sayang, semua nomer tidak ada yang menjawab telponnya. Jasmin bertanya-tanya, sebenarnya kemana semua orang? Jasmin akhirnya menulis pesan untuk Melani. memberitahunya jika ia sudah tiba di depan asrama, namun ia tidak bisa masuk karena pintu gerbang di tutup tanpa alasan yang jelas. Biasanya jika pintu gerbang terpaksa di tutup, selalu ada tulisan yang menggantung di pintu. Jika penjaga sedang sholat, atau apa pun itu.  Selesai meninggalkan pesan untuk Melani, Jasmin kembali berteriak-teriak memanggil nama penjaga gerbang. “Pak Budi… Bukain gerbangnya….” Teriak Jasmin melengking, Namun sia-sia, orang yang di panggil Jasmin, tak kunjung muncul. Jasmin tidak kehilangan semangat. Ia berteriak dan berteriak lagi. Mengumandangkan nama Pak Budi berkali-kali. Agar pria itu segera membukakan pintu. Tidak terasa hampir setengah jam lamanya, Jasmin berteriak dan menggedor-gedor pintu gerbang. Namun semua sia-sia. Tidak ada yang membukakan pintu itu. Jasmin kesal. Tanpa sadar, kakinya menghentak-hentak di lantai. berkali-kali ia berhteriak, tapi penjaga itu tak kunjung muncul. Akhirnya ia capek sendiri. Mungkin ia harus bersabar sedikit lagi. Duduk tenang di atas motornya sejenak. Menunggu sebentar lagi, mungkin pak Budi sedang pergi entah kemana, lalu segera kembali. Ia harus tenang seperti si pengemudi mobil di sebelahnya. Jasmin jadi bertanya-tanya mobil siapakah itu. Itu jelas bukan mobil Bu Yuki. Ia hafal ketiga mobil wanita itu.  Mpv mewah buatan Amerika warna putih itu sangat asing. Penasaran siapa tamu yang dari tadi bersikap tenang di dalam mobilnya. ‘Huh, Pak Budi mana sih? Kasihan kan tamu ini? Sudah berapa lama ya dia di sini? Aku yang baru datang aja langsung Emosi. Tapi dia malah nyantai aja di dalam mobilnya.' Jasmin kembali ke motornya, duduk istirahat di atas motornya. Ingin melirik siapa penghuni mobil itu, mengapa ia tetap tenang di mobilnya, padahal Jasmin tadi sangat heboh.  Krucuk-krucuk…. Perut Jasmin tiba-tiba berbunyi, protes jika ia belum di isi apapun sejak tadi siang. Untunglajh dia selalu membawa hand sanitizer kemanapun pergi. Jadi ia bisa membersihkan tangannya sebelum makan. Setelah membersihkan tangannya, Jasmin mencomot begitu saja martabak telurnya, sekalian ia beri saus cabe kesukaannya. Lalu memakannya lahap.  Sembari makan, mata Jasmin melirik ke mobil sebelahnya, kaca jendelanya terbuka, sehingga ia bisa leluasa melihat penghuninya. Jasmin tidak pernah menyangka sama sekali, jika pemilik mobil itu adalah pria tampan, rambutnya tersisir rapi ke belakang. Tubuhnya bersandar rileks di kursi mobilnya, sedangkan matanya menatap tenang layar ponselnya.  Selesai menghabiskan satu iris martabak. Jasmin menghampiri mobil itu. “Permisi” Ucap Jasmin pada pria di dalam mobil.  “Ya?” Jawab pria itu cepat, sembari mengangkat wajahnya.  ‘Ganteng banget, tapi biasa aja sih’ Jasmin sempat mengagumi ketampanan pria itu, tapi itu tidak mampu menggetarkan hatinya. Dalam hati ia masih menanti Aldi nya. “Anda tamu?” Tanya Jasmin basa basi. “Iya?” Jawab pria itu. “Bisa keluar dulu?” Enak banget dia, dari tadi aku teriak-teriak kesetanan, tapi dia malah duduk manis di mobilnya. Pria macam apa ini? Ada cewek kesusahan kok nggak di tolong sama sekali? Nggak kayak Emir yang sangat peka. Emir pasti langsung membantunya ketika tahu dirinya kesulitan. Tidak akan membiarkan dirinya kesusahan sedikitpun. Pria itu langsung berlari menghampirinya ketika belpennya terjatuh. Dengan sigap, tanpa di minta, langsung membantu mengeluarkan motornya ketika Jasmin ada di tempat parkir. Tidak peduli Jasmin yang tidak mau menerima bunganya. Pria itu tetap tersenyum ramah padanya. ‘Apa aku menerima Emir aja ya? Benar kata kakak, tidak banyak pria seperti Emir. Cinta pasti hadir, ketika mereka sering bersama. Pria tampan dalam mobil itu akhirnya keluar dari mobil. Jasmin berjalan cepat menghampirinya. Pria itu ternyata sangat tinggi, sama tingginya dengan Emir. Wajah tampannya sedikit lebih tua dari Emir. Mungkin sekitar tiga puluh tahunan. Dan wajah tampannya khas seperti orang Cina. “Anda bisa teriak kan?” Todong Jasmin tanpa aling-aling.  “A-aku teriak?” Pria itu menunjuk dirinya sendiri.  “Iya, anda harus teriak menggantikan saya. Karena teriak-teriak tadi. Tenggorokan saya sampai sakit” Jasmin terganggu, pria itu justru menatapnya intens. Dalam hati, ia tertawa, sudah biasa dengan para pria yang selalu menatapnya seperti itu. Terpesona dengan kecantikannya.  “Kok masih diam? Ayo anda harus bantu saya teriak” Jasmin tidak sabaran. “Aku teriak?” Pria itu tertawa, membuang muka, meremehkan Jasmin. Pandangan mata nya lalu kembali terarah pada Jasmin. “Daripada aku teriak, lebih baik aku menghubungi orang dalam. Itu lebih efektif, daripada teriak-teriak seperti anak kecil” Ucap pria itu sembari menatap jasmin dalam, mata pria itu terasa menusuk hatinya. Kini justru Jasmin membuang muka. Tidak nyaman rasanya jika saling bertatap muka, apalagi jarak mereka tidak jauh. Dengan kaki menghentak kesal. Jasmin kekmbali berjalan ke arah gerbang. ‘Apa tadi? Aku teriak kayak anak kecil? Dasar pria aneh. Lebih baik aku teriak dan berusaha memanggil penjaga gerbang daripada diam saja. 'Aku juga udah menghubungi orang-orang dalam. Tapi tidak ada yang menjawab ku.' Aneh memang telpon-telplon yang ia lakukan tadi tidak ada satu pun yang mengangkatnya. Jasmin pun tidak punya pilihan selain teriak-teriak memanggil Pak Budi. Tidak peduli, jika dirinya terlihat seperti anak kecil. Daripada pria itu yang terlihat sudah dewasa, tapi sifatnya belum dewasa. Lebih dewasa Emir yang lebih muda. Kini Jasmin tahu, Umur bukan jaminan kedewasaan seseorang.  “Pak Budi… Bukain pintunya….” Jasmin berteriak-teriak seperti itu berulang kali. tapi sayang Pak Budi masih saja tidak muncul. Jasmin semakin gemas dengan pria yang sedari tadi hanya mengutek-utek ponselnya. Jasmin memnghampirinya. “Mas?” Panggil Jasmin pada pria itu. Ia sebal, melihat pria itu yang menyandar di mobilnya sembari menggeser-geser ponselnya. Lebih jengkel lagi, karena pria itu tidak menggubrisnya, memainkan ponselnya, seolah tak mendengar suaranya Jasmin. “Mas?” Panggil Jasmin lagi. Kali ini lebih keras. Tapi tetap saja, pria itu diam tidak merespons.  Dugh…. Tanpa peringatan, Jasmin tiba-tiba menginjak keras kaki pria itu, mengotori sepatu pantofel nya yang mahal. Sontak pria itu mengangkat kakinya yang di injak Jasmin. Wajahnya meringis kesakitan.  “Kenapa kamu menginjak kaki ku? Tidak sopan” ucap pria itu sembari menurunkan kakinya, menahan sakit di kakinya yang berdenyut-denyut.  “Kamu itu yang keterlaluan, sudah tahu aku memanggilmu. Tapi kamu malah diam aja” “Aku mendengarmu tadi, seharusnya kamu langsung bicara saja, bisa kan?” Kembali pria itu menatap Jasmin lekat. Membuat Jasmin risih, ingin sekali mencolok matanya yang tidak tahu sopan santun.  “Mana aku tahu, kamu mendengarku, makanya kalau ada orang manggil, jawab dulu. Ayo ah sini. Kelamaan nunggu kamu." Jasmin menarik lengan kemeja putih pria itu. Mau tidak mau, pria itu pun berjalan mengikuti Jasmin mendekat pada gerbang.  "Ayo teriak." Perintah Jasmin. Jengkel, pria itu justru menertawakannya, dan menurut Jasmin, garis tawanya sangat tampan. Hanya untuk dipandang. Karena ia tidak berniat ingin memilikinya. "Maaf, aku tidak akan teriak" jawab pria itu.  "A-apa? Kamu nggak mau teriak? Nyebelin banget sih. Mas, suara bas kamu itu kalau buat teriak pasti sangat kencang. Coba deh"  "Suara bas itu tidak cocok untuk teriak neng, yang cocok untuk teriak itu suara perempuan, seperti suara mu yang cempreng"  'Apa? Aku cempreng? Ih, ngeselin banget sih. Padahal banyak yang bilang kalau suaraku lembut.' Sungut Jasmin jengkel. "Ya udah, kalau kamu nggak mau teriak. Jongkok!" Perintah Jasmin. "Jongkok?" Pria itu merasa salah dengar.  "Iya jongkok. Kamu jongkok di depan gerbang. Aku nanti naik ke gerbang pakai pundakmu." Bersambung….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN