7. Menari

2477 Kata
Hari mulai petang saat Jasmin baru sampai di rumah Bu Katri. Untunglah perempuan paruh baya itu sudah punya tape yang sudah siap makan. Jasmin tidak menyangka, di antara banyaknya penghuni asrama yang berjumlah 30. Wanita itu ternyata mengenali dirinya. Katanya sudah hapal dengan wajah Jasmin. Wajah cantiknya cukup mencolok. Membuat siapa saja mudah mengingatnya. Bu Katri tertawa saat Jasmin menceritakan keadaan Clarissa.  jika kakaknya mengalami sawan karena tape dari Bu Katri. Wanita itu pun menjelaskan, dalam adat Jawa kuno, kejadian seperti itu memang sudah lumrah terjadi. Wanita hamil yang memakan makanan pantangan hamil bisa saja mengalami sawan. Wanita hamil di larang makan tape, sate, s**u mentah, telur setengah matang. Semua itu pada dasarnya memang tidak di rekomendasikan oleh medis. Namun orang jaman dahulu meyakini menempelkan makanan di perut ibu yang sawan dapat menyembuhkan sakitnya. Dan pada kenyataannya 70 persen bisa menyembuhkannya.  Jasmin pun hanya menganggukkan kepala mendengar penjelasan Bu Katri. Setelah membeli beberapa bungkus tape. Jasmin segera pulang. Selama dalam perjalanan pulang, hati Jasmin tak henti-hentinya mengomel. Tidak percaya jika tape itu bisa mengobati sakit perut kakaknya.  Sesampainya di rumah, sebelum ia masuk. Jasmin menelpon Calvin. Mengatakan jika perut Clarissa sakit. Konyolnya Clarissa bukannya menelpon dokter yang sedang senggang waktunya. Tapi, ia justru menganggap sakit perutnya bagian dari sawan. Cara mengobatinya pun cukup dengan menempelkan tape yang dia makan ke perutnya. Calvin setuju jika menempelkan tape di perut sangat  tidak masuk akal. Itu hanya mitos takhayul.  Suara Calvin terdengar gelisah. Tidak tenang setelah mendengar berita tentang Clarissa. Ia yang sejatinya akan pulang besok, mengatakan jika ia akan pulang sekarang juga.  Di rumah Jasmin segera ke kamar kakaknya. Wajahnya berkerut khawatir ketika melihat Clarissa sedang duduk gelisah di atas ranjang. Berulang kali ia memegangi perutnya, mengelus-elusnya, terlihat berusaha menahan sakitnya. Wajah sendunya seketika berubah sumringah ketika melihat  Jasmin masuk kamar. Mak Atun pun dengan cepat mengambil tape dari tangan Jasmin. Dengan cekatan menaruh tape itu di perut Clarissa. Wanita paruh baya itu selalu berucap bismillah, lalu memgatakan 'obat datang sakit pergi' ketika mengusap-usap kan tape di perut Clarissa.  Ajaib, tidak berapa lama, kakak Jasmin sudah terlihat tenang. Guratan kesakitan di wajahnya perlahan mulai menghilang. Jasmin sulit mempercayainya. Tapi memang itulah yang terjadi. Clarissa terlihat membaik.  Jasmin lalu keluar kamar. Menelpon Calvin, bahwa Clarissa sudah membaik, jadi ia tidak perlu khawatir lagi, bisa pulang sesuai rencana awal. Calvin pun berpesan, walau begitu Clarissa tetap harus di periksa dokter. Untuk memastikan keadaan ibu dan bayinya.  Jam menunjuk angka tujuh malam saat Dokter Nana datang ke rumah. Dia adalah dokter kandungan pribadi khusus untuk Clarissa. Selalu memantau perkembangan sang jabang bayi di perut wanita itu.  Syukurlah, menurut sang dokter Clarissa maupun sang bayi baik-baik saja. Clarissa bahkan dapat merasakan bayinya menendang-nendang.  "Syukurlah sayang, kamu baik-baik aja." Ucap Jasmin sembari tiduran di atas ranjang bersama Clarissa dan Vino keponakannya. Waktu itu sang dokter baru saja pulang. Jasmin membelai sayang perut kakaknya yang membesar. "Kamu harus sehat dan kuat kayak kak Vino ya, Sayang?" Jasmin tiba-tiba mencubit gemas pipi gembil Vino. "Aw… Sakit." Pekik Vino protes. Ia ganti mencubit pipi Jasmin. Dua anak manusia beda generasi itu akhirnya saling bercanda. Cekikikan dan saling menggoda. Bahkan Vino kini menempel di bahu Jasmin yang sedang tiduran. Vino memperhatikan seksama layar ponsel Jasmin. Mengomentari setiap kali Jasmin menggeser-geser ponselnya. Mengomentari Jasmin yang sedang  memperbarui statusnya di sosmed. Memposting foto kebersamaannya dengan kakak dan keponakannya. Vino tak henti-hentinya tertarik dan terus bertanya ketika Jasmin membuka lembaran demi lembaran Ig nya.  "Vino bisa nari kayak gini?" Tanya Jasmin ketika ia membuka salah satu sosmed nya. Hanya berisi tentang berbagai macam video. Namun yang paling terkenal dari aplikasi itu adalah tariannya, banyak orang yang mengikuti challenge di aplikasi itu. Walau hanya sekedar menari atau pura-pura menyanyi.  "Aku bisa. Aku juga punya aplikasi begituan di hp ku. Semua temenku juga punya." Jawab Vino.  "Oh ya?"  "Iya, aku sama teman-teman ku juga pernah ikutan nari kayak gitu." Jawab Vino antusias. "Kalau tarian yang lagi viral kayak gini bisa nggak?" Tanya Jasmin lagi. Sedang Clarissa dari tadi hanya menyimak, ia tidak tertarik dengan aplikasi semacam itu. Walau ia tahu sekarang sebagian besar masyarakat punya, dari anak-anak sampai dewasa semua menikmatinya. Tapi Clarissa lebih senang melihat video dari yutub daripada melihat video di situ.  "Aku bisa. Tante yang nggak bisa kan? Tante kan kuno kayak mama, jadi nggak bakalan bisa joget kayak gitu. " "Enak aja Tante dibilang kuno. Kamu tuh yang sok kepedean, jogetanmu pasti kaku mirip robot. Tante ini eksis di dunia kayak gini tahu. Follower ku udah banyak banget. Kalau kamu udah lihat Video ku, kamu pasti ikut-ikutan jadi follower ku. Nari kayak gini mah kecil. Aku pernah nari yang lebih ribet dari ini." Clarissa lalu ikut menimpali. "Aku juga bisa joget kayak gitu." "Bohong!" Sahut Vino. "Mama kan nggak pernah nari. Waktu senam aja kaku banget, apalagi nari kayak begini."  "Maksud Mama, mama juga bisa kalau di ajari. Hehe…"  Jasmin lalu menengahi. "Ya udah, gimana kalau sekarang kita bikin video nari kayak gini. Kakak ikutin aja sebisanya. Kalau ada wanita hamilnya kayak begini pasti jadi lebih lucu. Hihi… "  "Iya-iya, nanti video Tante biar trending" Vino berdiri, lalu melompat-lompat girang di atas ranjang. Tidak peduli dengan Clarissa yang menyuruhnya berhenti. Perutnya yang sedang mengandung terasa tidak nyaman, serasa di hentak-hentak. Setelah di tangkap dan di peluk Jasmin, barulah Vino mau berhenti. Tiga orang itu lalu berdiri di hadapan kamera yang sudah on. Vino dan Jasmin berada di depan, sedangkan Clarissa berada di belakang.  Putaran Video pun di mulai. Vino dan Jasmin dengan lincah menari, mengikuti alunan musik yang energik tersebut. Clarissa yang berada di belakang, hanya  mengikuti sebisanya.  Suara musik yang lumayan keras, otak dan tubuh tiga orang itu yang sedang fokus bergoyang mengikuti lagu, membuat mereka tidak menyadari kehadiran seseorang yang tiba-tiba muncul. Orang itu terkejut bukan main ketika baru saja membuka pintu. Melihat tiga orang yang sedang menari mengikuti irama lagu yang berdentum semangat. Dan matanya semakin melotot saat melihat Clarissa yang tengah hamil ikut bergoyang.  Buru-buru orang itu menghampiri Clarissa. Dengan cekatan tangannya memegangi perut Clarissa yang ikut bergoyang-goyang ketika tubuh nya bergerak-gerak. "Apa yang kamu lakukan, Rissa. Hati-hati!" gumam pria itu sembari memegangi sayang perut itu, raut wajahnya begitu khawatir, takut jika janin di perutnya pusing karena terlalu banyak gerakan.  "Sayang! Kamu udah pulang?" Clarissa terkejut ketika melihat Calvin. Ia tersenyum cantik. Lalu memeluk tubuh suaminya, mendaratkan ciuman manis di pipi suaminya. Setelah itu mencium tangannya. "Katanya kamu pulang besok? Kamu mau ku buatkan kopi?" Tanya Clarissa. Calvin menggeleng.  "Ya udah, aku menari lagi." Ucap Clarissa enteng. Ia lalu kembali mengikuti gerakan Jasmin.  "A-apa yang kamu lakukan Rissa? Berhenti menari kayak gini. Bahaya!"  Calvin dengan cepat memegangi perut Clarissa lagi. "Jas, berhenti menari. Matiin musiknya. Apa kamu nggak lihat, kakakmu kesulitan mengikuti gerakan mu. Apalagi gerakanmu lumayan cepat. Kamu mau sesutu terjadi sama bayi di kandungnya?" Calvin menghentikan tarian Vino. Menangkap bocah itu, lalu menggendongnya, agar anak itu tidak lagi menari-nari. "Aku cuma…,"  "Cuma apa?" Sela Calvin. "Kalau mau menari, pengen terkenal, pengen trending, lihat-lihat dulu kondisinya. Kalau ada wanita hamil, pilih lagu yang temponya agak lambat, pilih tarian yang tidak secepat tadi. Jangan cuma peduli dengan ketenaranmu, sampai lupa keadaan sekitarmu. Belajarlah jadi orang yang lebih peka!" Calvin nyerocos. Membuat Jasmin terdiam, tidak berani membantah.  "Maaf aku kurang hati-hati." Jawab Jasmin. Bibirnya mengerucut. Selalu saja dia yang di marahi. Kakak iparnya terlalu perhatian pada istrinya, terlalu memanjakan nya. Suka mengomeli dirinya ketika tahu dirinya berbuat tidak sesuai dengan kemauan nya. Pria itu sekarang benar-benar jadi ayah penggantinya. Tapi walau bagaimanapun dirinya, Jasmin tetap harus menghormatinya.  "Aku gak pa pa, Sayang. Kamu lelah kan? Sana mandi dulu, aku ambilkan makan buat kamu ya? Vino juga mau makan?" Tanya Clarissa.  "Aku mau nasi goreng" seru Vino ceria. Dia memang sangat menyukai nasi goreng Clarissa.  "Oke, Sayang" Clarissa menggosok lembut Surai Vino. "Jas, kamu mau makan apa?"  "Aku nggak makan malam. Aku…, ke kamar ku aja." Jasmin berbalik, lalu segera keluar dari kamar kakaknya.  "Aku mau ikut, Tante" Teriak Vino. Tubuhnya bergerak-gerak dalam gendongan Calvin. Setelah papanya menurunkan tubuhnya, kakinya segera berlari mengikuti Jasmin.  "Kamu nggak usah masak, Rissa. Suruh aja Mak Atun atau siapa saja masak. Ini sudah malam, apalagi perutmu baru sembuh" Calvin mencium sayang kening istrinya. Pria itu lalu berlutut di depan Clarissa. Membelai sayang perut istrinya. "Bagaiaman kabarmu, Sayang? Maaf, papa sudah meninggalkanmu sampai satu Minggu. Kamu nggak nakal kan?" Tanya Calvin pada perut Clarissa. Ia tertawa ketika merasakan tendangan-tendangan mungil menerjang tangannya. Setelah itu ia mendaratkan ciuman penuh kasih untuk sang jabang bayi  "Katanya kamu selalu kesulitan makan kalau bukan aku yang masak? Sampai-sampai kamu hanya makan satu kali kalau sedang keluar. Kamu selalu gini deh. Tubuhmu pasti cepat kurus kalau habis keluar jauh."  "Nggak pa pa, sebentar lagi juga berisi lagi." Calvin terdengar terkekeh.  "Maksudmu gendut lagi? Kamu ini aneh-aneh aja sih. Masak aku yang hamil kamu yang gendut?"  "Aku juga nggak tahu, kenapa bisa begini. Kamu nggak suka lihat tubuhku yang gendut? Maafkan aku, Rissa. Sejak kamu hamil, aku jadi sering muntah-muntah, sering pusing. Jadi aku nggak kuat lagi ikutan gym." "Kata siapa aku nggak menyukai mu. Aku nggak keberatan bobotmu naik sepuluh kilo, dua puluh kilo, lima puluh kilo. Selama kamu mencintaiku, aku juga tetap mencintaimu, Sayang"  "Tante! Kenapa berdiri di depan pintu terus sih? Katanya tadi mau ke kamar?" Suara Vino mengagetkan Jasmin. yang sejak tadi mematung di depan pintu. Menguping pembicaraan Clarissa dan Calvin dari luar.  "Ayo, Tante. Jangan lama-lama nguping mama sama papa" Vino menarik-narik baju Jasmin. Membuat gadis itu seketika melotot ke arah Vino.  "Ih, kebiasaan deh ini anak, mulutnya pedes banget. Terus terang banget sih!" Jasmin mencubit pelan bibir Vino. "Vino, lain kali kalau mau bicara di saring dulu ya omongannya. Di pikir dulu kalau mau bicara, kira-kira orang yang kamu ajak bicara nanti sakit hati apa nggak." ucap Jasmin seraya berjongkok di depan Vino.   "Tante salah. Bicara itu harus terus terang. Kata Bu guru, bohong itu dosa!" Vino berjalan melalui tubuh Jasmin. Berjalan duluan ke arah kamar gadis itu.  "Dasar bocil pintar!" Jasmin memutar matanya malas. Ia lalu berdiri, berjalan di belakang Vino, menuju kamarnya. Terus terang, Ia memang selalu penasaran dengan tingkah suami istri itu. Kisah cinta mereka membuat ia selalu iri. Dua manusia itu seolah tak terpisahkan. Diam-diam dia tahu, tingkah aneh kakak iparnya sebelum menikah dengan kakanya. Pria itu punya kepribadian menyimpang. Namun cinta kakaknya mampu mengubah pria itu. Kini mereka bahkan tak terpisahkan. Dalam mata mereka, selalu tersirat cinta yang mendalam, seolah tak pernah ada kata bosan untuk mengungkapkannya. Jasmin pesimis bisa menemukan cinta seindah milik kakaknya. Setelah ini ia harus tidur, besok ia akan kembali ke asrama. Terlalu lama di rumah kakaknya, bisa-bisa ia menjadi gila karena penasaran. Ingin tahu apa yang mereka lakukan setelah saling mengungkapkan cinta.  ****  Di dalam kamar, seorang gadis cantik dengan bentuk tubuh ideal tengah malas-malasan sejak dua hari kemarin. Di beri waktu istirahat tiga hari setelah magang nya selesai. Ia memilih leha-leha di kamar asramanya setelah pagi tadi memasak. Tiga hari ini ia memang sudah berniat ingin menghabiskan waktu liburnya hanya untuk nonton drama. Semakin betah mengubur diri di kamar, karena ia sedang datang bulan, jadi ia tidak melakukan sholat lima waktu.  Ia memang lebih senang jika waktu malas-malasannya ia lakukan di asrama daripada di rumah atau di rumah kakaknya. Kalau di sana, ia pasti dimarahi habis-habisan jika ketahuan hanya tiduran sepanjang hari, tidak peduli dengan alasannya yang ingin istirahat sejenak setelah melalui hari-harinya yang melelahkan. Menurut kakaknya, istirahat boleh saja tapi tetap ada batasnya, jangan hanya di gunakan untuk bermalas-malasn sepanjang hari, apalagi dirinya adalah seorang perempuan. Harus terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga. Jasmin akui, kakaknya memang the best dalam urusan mengurus orang, sangat telaten dan perhatian. Jadi sangat cocok di jadikan teladan, pengganti ibunya yang sudah meninggal.  Jam menunjukkan angka sembilan pagi saat ponsel Jasmin berdering Tangan nya lalu meraih ponsel nya yang terletak di samping laptop. Ogah-ogahan ketika menjawab panggilan di ponselnya. “Assalamualaikum kak, ada apa?” Suara Jasmin parau, ia tiduran di ranjang.  “Kamu di mana?” Tanya Clarissa. “Aku di asrama, ada apa? Kakak mau ke sini?” Jasmin balik bertanya.  “Pulang ke rumah ku, sekarang juga” tekan Clarissa. “Sekarang juga? Ada apa kak? Mendadak banget” Jasmin duduk, sepertinya memang tidak boleh ada kata tidak untuk menjawab permintaan kakaknya. “Nggak usah kebanyakan nanya, yang penting sekarang cepet siap-siap, kamu harus pulang” “Kalalu aku nggak mau?” Pancing Jasmin.    “Maka aku terpaksa kirim orang buat jemput kamu. Ayolah Jas, pulang sekarang! Ini menyangkut hidup dan mati kamu. Juga keberlangsungan kehidupan ku.” ucap Clarissa tidak sabar. “Emangnya ada apa sih kak? Kelihatannya penting banget.” “Dajjjripada kamu banyak tanya, mending sekarang kamu siap-siap, kita bicara di rumah.” “Oke-oke. Kalau gitu aku tutup ya? Aku mau mandi. ” Jasmin menaruh ponselnya, turun dari ranjang, lalu segera mandi dan bersiap-siap pulang. Seperti nya ini masalah yang serius. “Setelah meminta izin pulang, Jasmin segera menaiki motornya. Kepalanya segera menunduk hormat ketika melihat Bu Yuki, sang pemililk asrama, tengah berada di depan rumah bersama dengan Melani. Dua orang itu tengah berbincang dan tertawa, namun tawa Bu Yuki langsung lenyap ketika Jasmin menyapanya. Wanita itu hanya memngangkat alisnya untuk menjawab sapaan Jasmin. Tidak ada senyum ramah dari bibirnya. Jasmin tidak ambil pusing, segera ia lajukan motornya menembus jalan raya. Otak Jasmin kembali melayang pada sosok Bu Yuki, Jasmin tidak habis pikir, bingung, tidak mengerti, mengapa wanita itu sangat picik memandang dirinya dari sudut matanya sendiri, mengambil kesimpulan kehidupannya tanpa ada pertanyaan pada dirinya. Tahu-tahu wanita jepang itu menmberi cap dirinya sebagai Mahasiswicewek gampangan, suka                                                                                                                                              mu menyukai, ia jadi gonta-ganti cowok. Cewek nggak bener                             sering minta izin keluar asrama, pulang ke rumah, tapi kenyataannya ia pergi ke rumah pacarnya. Hufh…. Jasmin membuang nafasnya berat. Ia harus bersabar sedikit lagi. Dari sekian banyak asrama yang bertebaran di kota ini. Yang paling cocok di hatinya adalah asrama Bu Yuki. Semakin tidak bisa meninggalkan asrama itu, sebab ada bimbingan membuat sekripsi. Dan semua  yang dapat bimbingan itu dapat di pastikan ia langsung lulus. Namun Jasmin tidak mengerti, mengapa Bu Yuki mengcapnya sebagai gadis yang tidak baik. Sepertinya ia harus meluruskan ke salah pahaman b dengan wanita itu. Tapi kapan?  Tidak terasa, motor Jasmin sudah memasuki halaman besar rumah kakaknya. Kebanyakan melamun di jalan, membuat perjalannya terasa singkat. Hidung Jasmin berkerut ketika melillhat ada sebuah mobil mewah Italia warna putih, terparkir di depan rumah. Jasmin pun bergegas masuk. Dan langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu ketika melihat kakak dan kakak iparnya duduk di ruang tamu. Lalu seorang pria dan wanita yang sudah mulai sepuh duduk di sofa yang lain. Dan di ujung Sofa, ada pemuda yang ia kenali, Emir.  Clarissa yang melihat kedatangan Jasmin langsung menyuruhnya masuk, memintanya agar bersalaman dengan dua orang sepuh yang terlihat serasi tersebut. Jasmin pun segera masuk. Menyalami dan mencium tangan dua orsng sepuh itu. Jasmin yakin, dua orang tua ini adalah orang tua Emir.  Bersbung….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN