“Kamu bawa minyak kayu putihmu?” Tanya Emir tiba-tiba.
“Bawa, eh maksudku nggak bawa!” elak Jasmin cepat. ‘Ngapain dia tiba-tiba nanyain minyak kayu putihku?’ Perasaan Jasmin tidak enak.
“Masa sih?” Sela Melani sembari menggeledah tas Jasmin. Melani tidak peduli mata Jasmin mengerjap- ngerjap padanya penuh arti. Memberinya isyarat, agar mulut Melani tidak ember, merahasiakan jika Jasmin selalu membawa minyak kayu putih nya kemana-mana. Dan bibir Jasmin mencebik kecewa ketika Melani melanjutkan ucapannya. “Jangan bohong, Jas. Aku tadi lihat kamu bawa minyak kayu putihmu kok. Nah ini dia” Bibir Melani mengulas senyum senang saat menemukan minyak itu, lalu memberikannya pada Emir.
“Buat apa kamu bohong? Hm?” tanya Emir, sembari mendekatkan wajahnya pada Jasmin. Sontak kepala Jasmin pun mundur. Tidak menjawab pertanyaan pria di depannya. Ia justru membuang muka. Emir pun tersenyum.
Dengan tisu dari tas Jasmin, Emir telaten membersihkan darah Jasmin, lalu mengoleskan minyak kayu putih di luka gadis itu.
“Aw…, sakit Emir, perih tau!” Jasmin menyingkirkan tangan Emir, tapi tidak bisa, pria itu bersikeras membasahi seluruh luka Jasmin dengan minyak kayu putih. “Hu… kamu jahat, sakit! Kamu balas dendam kan. Lepasin, sakit….” Jasmin menangis tersedu, merasakan kakinya yang perih juga berdenyut-denyut sakit. Tanpa sadar memukuli lengan Emir, namun pria itu tidak peduli, justru kini emir meniup-niup nya penuh perhatian. Sesekali matanya menatap Jasmin penuh cinta. menenangkan tangis wanita itu, menyuruhnya bersabar sedikit lagi.
Melihat Jasmin yang menangis tersedu. Emir justru tersenyum, menganggap Jasmin semakin imut sekaligus lucu. Beberapa hari yang lalu gadis itu bahkan menyuruhnya untuk tidak takut dengan minyak kayu putih. Tapi nyatanya dia justru yang paling ketakutan. “Siapa bilang aku balas dendam? Aku justru ingin membalas kebaikanmu. Terima kasih, sudah menolongku waktu aku jatuh dari motor” ucap Emir.
“Tau ah, aku benci kamu. Udah di bilang sakit, masih aja di kasih minyak kayu putih” Jasmin menyeka air matanya.
“Aku hanya pengen kamu cepat sembuh aja. Kamu benar, minyak kayu putih ternyata emang bisa buat pertolongan pertama” Emir membuang stocking Jasmin yang berlubang ke tempat sampah.
“Kamu ngasih nya kebanyakan”
“Oalah Jasmin-jasmin…., kemarin aja kamu bilangin Emir nggak boleh nangis, nggak boleh ngerengek waktu kamu ngobatin dia pakai minyak kayu putih. Sekarang giliran kamu yang di obatin pakai kayu putih, kamu malah lebih parah dari Emir. Nangis kayak anak kecil”
“Ini emang Sakit tahu!” Hardik Jasmin emosi. “Awas aja kalau kamu luka, aku akan mandiin kamu pakai minyak kayu putih, kalau perlu ku ganti aja sekalian pakai minyak angin.”
“Duh jahatnya hatimu, Jas. Sakit aja masih galak kayak begini, gimana kalau waktu nggak sakit?”
“Aku akan mengejarmu sampai dapat, ke ujung dunia sekalipun kamu akan tetap kucari, setelah itu ku jambak rambutmu sampai rontok semua, nggak ada yang tersisa. Beraninya bilang kalau aku nangis kayak anak kecil, kamu aja yang belum ngerasain gimana sakitnya di obatin minyak kayu putih. Aw…. Terus tiupin, Emir. Sakit… ini kan gara-gara kamu ngasih minyak kayu putih kebanyakan.” Rengek Jasmin.
“Oke, aku akan meniupnya terus, dengan satu syarat, kamu harus terima cintaku.” Emir menatap mata Jasmin penuh cinta.
“Curang! Nggak mau, enak aja kamu yang naburin minyak ini banyak-banyak, dan aku yang harus tanggung akibatnya. Dasar cowok nggak punya rasa tanggung jawab!”
“Tuh kan, Mir. Dia ini cewek paling sulit di atur. Jahatnya minta ampun. Macan aja lewat. Kamu yakin, masih mau sama dia? nyesel kamu nanti. Bisa-bisa hidupmu bakal sengsara kalau nikah sama dia. kamu bisa mati ngenes di bentakin dia setiap hari”
“Nyantai aja, Dik. Aku tahu nanganin cewek kayak dia. Kalau dia macan betina, maka aku akan jadi pawang macannya. Sejahat-jahatnya macan, dia pasti tunduk di depan pawangnya. Karena pawang tahu apa yang macannya mau ”
“Enak aja, aku di panggil macan” gerutu jasmin.
Jasmin kini sudah tenang. Lama-lama ia malu juga, karena Emir tanpa risih memegang kakinya, mengangkatnya hingga sejajar dengan wajahnya, meniup kakinya penuh cinta. Membuat dirinya menjadi pusat perhatian, tontonan gratis para karyawan kantor yang sedang melintas. Mereka memuji Emir dan menyemangatinya, agar terus berjuang memperjuangkan cintanya.
“Aku…, udah nggak pa-pa, aku mau pulang” tanpa aba-aba, Jasmin menarik kakinya cepat, berdiri begitu saja. “Aw…,” pekik Jasmin kesakitan. Ia lupa jika kakinya belum bisa di ajak kompromi. Lukanya masih terasa berdenyut-denyut sakit.
Bruk…
Jasmin jatuh tepat pada tangkapan tangan Emir. “hati-hati, Sayang” bisik Emir pelan. Hup… tanpa permisi Emir tiba-tiba membopong tubuh Jasmin keluar dari area gedung perusahaan.
“A-apa yang kamu lakukan Emir, turunin aku” Pekik Jasmin malu. Emir menggendongnya bagai seorang pengantin. Membuat mata-mata kembali tersita pada dirinya.
Emir membawa tubuh Jasmin keluar dari gerbang, berjalan menuju mobilnya. Lalu meletakkan hati-hati tubuh Jasmin ke dalam mobilnya. Meletakkannya di kursi depan. “Firasatku untuk membawa mobil ternyata benar. Sekarang duduk dan diamlah, Sayang. Aku akan mengantarmu pulang. Motormu biar di urus Dika” Emir tersenyum.
“A-apa? Nggak mau. Aku masih bisa pulang sendiri.” Jasmin hendak turun dari mobil, tapi tidak bisa, Emir berdiri di pintu, menghalangi JAsmin yang hendak keluar.
“Aku yang akan mengantarmu. Kakimu sakit” Emir menggelengkan kepalanya.
“Kalau aku pulang sama kamu, terus Melani pulang sama siapa? Ajak dia sekalian” Kilah Jasmin. Jasmin panik. kepalanya celingukan mencari sosok sahabatnya yang belum terlihat. “Melani, ayo naik sini, kita pulang naik mobil Emir”
Melani yang berada di luar mobil, berjalan mendekat, melongok ke dalam. “Kamu pulang aja sama Emir. Aku pulang naik ojek. ” Melani tersenyum. kepalanya menoleh pada Emir yang masih berdiri di luar mobil. “lagian aku nggak mau jadi obat nyamuk kalian”
“O-obat nyamuk apaan? Aku sama Emir nggak ada apa-apa. Jadi kamu nggak ganggu siapa-siapa. Jangan naik ojek, Mel. Buang-buang uang aja. Ayo naik sini sama aku” Jasmin menarik-narik tangan Melani agar naik ke mobil. namun melani menggelengkan kepalanya. Tidak mau naik.
“Nggak apa-apa, Jas. Jangan ngerasa bersalah gini dong" Melani menarik tangannya. "Biasa aja kali. Lagian aku udah biasa kan, naik ojek.”
“Jangan gini, Mel. Ayo… ikut naik” Jasmin tidak mungkin meninggalkan Melani begitu saja. Padahal mereka tadi berangkat bersama, maka pulang nya juga harus bersama.
“Udah nggak usah mikirin aku” Melani tersenyum, lalu menutup pintu mobil. “Pulang aja sama Emir, aku nggak mau ganggu kalian." Melani tersenyum tulus.
“Ganggu apaan sih? Sahabat itu nggak ada yang ganggu, Mel” Jasmin meraih lengan Melani. Menahannya. Buru-buru Jasmin merogoh tasnya. Menarik acak uang di dompetnya.
"Bawa ini, Mel. Maaf, gara-gara aku, kamu naik ojek" Jasmin menelusupkan uang seratus ribuan di tangan Melani. Ketika Melani hendak mengembalikan uang Jasmin. Buru-buru Jasmin menutup kaca jendela.
Emir tersenyum, senang. Jasmin akhirnya menurut, duduk tenang di dalam mobil. Sebelum Emir masuk. Dia basa basi, bertanya apa Melani serius tidak ikut naik mobil. Dan Melani tetap mengatakan tidak mau.
Jantung Jasmin hampir copot karena terkejut. Di dalam mobil, Emir tiba-tiba mendekat padanya, mencondongkan tubuhnya ke arah dirinya.
Srek…
Emir menarik seat belt Jasmin, memasangkan nya dengan hati-hati. ‘Huf…, kirain mau apa dia. Awas aja kalau dia mau macem-macem sama aku, aku nggak akan segan menggampar wajah tampannya sampai berubah jelek’ batin Jasmin.
Tidak lama kemudian. Mobil pun melaju. "Kita ke rumah dulu" Celetuk Emir.
"Nggak usah, kaki ku udah mendingan kok"
"Nggak pa-pa gimana? Kamu tadi nangis sampai meraung-raung kesakitan. Kamu bilang nggak pa-pa?"
"Tapi sekarang emang udah nggak pa-pa kok" Jasmin ngotot.
"Kamu yakin?" Emir tiba-tiba menepikan mobilnya. Menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Aku sekarang udah nggak nangis. Itu tandanya kalau aku baik-baik aja."
"Kalau kamu ngotot udah sembuh ya terserah kamu lah. Nanti kalau ada apa-apa hubungi aku saja. Aku siap jadi suami siaga mu." Emir mengerlingkan sebelah matanya. Menggoda Jasmin dengan senyuman memabukkannya.
"Pret…" Jasmin membuang muka. Otaknya mengatakan jika senyum itu memang indah, sesuai dengan apa yang di katakan mayoritas mahasiswi kampusnya. Senyum itu memang indah, membuat Emir di gilai banyak cewek. Tapi tidak dengan Jasmin. Ia justru merindukan pria yang telah menodainya. Penasaran seperti apakah senyumnya? Apakah lebih baik dari Emir? Atau mungkin Emir lah yang terbaik. Tapi Jasmin tidak peduli, tidak masalah jika pada akhirnya senyum Aldi tak seindah milik Emir. Jasmin sadar. Ia bagaikan bebek bodoh yang merindukan elang pemangsanya.
"Kita langsung ke asrama, atau jalan-jalan dulu?" Pancing Emir. Tangannya menghidupkan kembali mobil.
"Ke asrama"
"Siap, calon istri" goda Emir sembari melajukan mobilnya. Tidak peduli dengan mata Jasmin yang melotot. Menatap Emir sengit.
Di sepanjang jalan, Jasmin memilih membuang muka. Ogah dengan gombalan pria di sampingnya.
Tring, tring, tring….
Ponsel Jasmin berdering. Dengan cekatan Jasmin merogoh tasnya. Mencari benda ajaib itu. Bagaimana tidak ajaib. Mau makan, minum, belanja, pulang kuliah, berangkat kuliah tinggal bilang sama benda itu. Ajaib kan? Benda itu bisa melakukan semua yang Jasmin pinta. Satu-satunya yang tidak bisa dia lakukan untuk Jasmin adalah, mencari pria yang telah menodai dirinya.
"Assalamualaikum kak. Ada apa?" Tumben kakaknya telpon. Biasanya kan dirinya yang selalu telpon. Minta ini, itu, semua keperluannya selalu di tanggung oleh kakaknya. Ya, sejak ibunya meninggal, Clarissa kini bagai seorang ibu. Mengurus segala keperluan Jasmin. Mulai dari uang jajan sampai uang kuliah, di tanggung oleh kakak nya, lebih tepatnya kakak iparnya yang kaya raya.
"Jas, bisa tolong ke rumah? Perut kakak sakit…" Suara Clarissa pelan.
"Sakit kenapa kak? Kakak mau lahiran?" Tapi perut Clarissa belum besar-besar amat, masak dia sudah mau melahirkan? Seingatnya, umur janin kakaknya baru enam bulan.
"Nggak tahu, Jas. Tapi semoga aja nggak lahiran sekarang, kandunganku masih enam bulan. Cepat ke sini ya?" PInta Clarissa lagi.
"Gi-gimana kalau langsung ke rumah sakit aja kak? Kenapa nggak minta tolong sama kak Calvin?"
"Calvin lagi ke Thailand. Lusa, dia baru pulang. Aduh Jas… sakit ini… cepat pulang ya?"
"Di rumah emang nggak ada siapa-siapa? Kenapa harus nungguin aku? Minta tolong sama supir atau siapa aja bisa kan? Aku akan segera nyusul ke rumah sakit" Jasmin panik. Sambungan telponnya tiba-tiba terputus. "Halo? Kakak? Kakak?"
Tut tut tut…
“Kok udah di putusin? Aku kan belum selesai ngomong.” gerutu Jasmin.
“Ada apa. Jas? Kelihatannya ada yang serius. Mau ku bantu?” Emir menawarkan bantuannya. Wajah tampannya terlihat khawatir.
Jasmin menggigit bibirnya gelisah, ragu. Apakah harus minta tolong pada Emir atau tidak. “Pertigaan di depan, tolong belok ke kanan aja.” Kata Jasmin akhirnya. Rumah kakaknya memang tidak jauh lagi.
Emir menurut, segera di belokannya mobil sesuai permintaan Jasmin. Mobil Emir lalu berjalan sesuai arahan dari Jasmin, hingga akhirnya tiba di sebuah rumah megah. “Ini rumahmu?” tanya Emir tidak percaya. Mobilnya nya masuk ke dalam halaman luas. Kalau rumahnya semewah itu, harusnya penampilan Jasmin bagai putri raja. kendaraannya pun mewah, bukannya sebuah motor biasa.
“Ini bukan rumahku, tapi rumah kakak ku. Dia menikah sama orang kaya.” Jawab Jasmin.
“Kalau kamu nikah sam aku. kamu juga bisa punya rumah kayak gini.” ucap Emir enteng. Mobil berhenti tepat di depan tangga rumah Clarissa.
Jasmin menoleh pada Emir. Enggan menanggapi ocehan Emir. Tangannya lalu saling menangkup di depan da*da, bibir merah mudanya lalu berucap, “terima kasih udah ngantar aku sampai rumah. Terima kasih udah nolongin aku. Terima kasih juga untuk semua tawaranmu. Aku sangat menghargainya.” Jasmin mengulas senyuman manis untuk Emir. Ia lalu keluar dari mobil.
“Tunggu, Jasmin!” Seru Emir sebelum Jasmin menaiki tangga. Emir keluar dari mobil, menghampiri Jasmin. “Aku ikut masuk. kayaknya kakakmu butuh bantuanku.” Tanpa menunggu persetujuan jasmin. Emir langsung menaiki tangga. mendahului Jasmin.
“Tunggu, kamu mau apa?” Jasmin menghentikan tangan Emir yang hendak memencet bel. “Gila ya, Kamu, aku harus jawab apa, kalau kakak tanya siapa kamu?” Mata Jasmin mendelik tak suka.
Nafas Emir menghela nafas tak sabar. “Terserah kamu mau bilang apa. Pacar, calon suami, sahabat, atau teman juga boleh. “Ayo cepat masuk, kakakmu menunggu mu kan?” Peringat Emir.
“Tapi awas jangan macem-macem ya?” Mata Jasmin melotot mengancam. Dan Emir hanya mengangkat bahunya sekilas.
Jasmin pun masuk, di ikuti oleh Emir di belakangnya. “Kakak….” Teriak Jamin, kakinya berjalan cepat menaiki tangga.
“Mbak Jasmin, sini!” Mak Atun, pembantu rumah Clarissa berteriak memanggil Jasmin dari lantai dua, tepat di depan kamar Clarissa. Jasmin segera ke kamar kakaknya, mengomel pada mak Atun, mengapa tidak membawa kakaknya ke rumah sakit, atau memanggilkan dokter saja, malah menunggu dirinya datang.
Bukannya mendengar omelan Jasmin atau meminta maaf, wanita itu tanpa sungkan, masuk kamar Clarissa sembari menggoda Jasmin. Mengatakan bahwa Jasmin datang sambil membawa pacar. Bertanya siapa pria tampan yang mengekor di belakang nya.
Jasmin pun menggelengkan kepalanya. Hafal betul kebiasaan Mak Atun yang suka ikut campur orang lain. Jasmin lalu duduk di sisi ranjang. Ada juga Vino, keponakannya yang berumur 5 tahun sedang duduk di atas ranjang, melihat Jasmin langsung mengadu, bahwa perut mamanya kesakitan setelah makan tape.
“Apa? Makan tape? Bukannya wanita hamil nggak boleh makan tape?” Jasmin pernah dengar bahwa wanita hamil dilarang makan tape. Entah itu benar atau tidak.
“Iya tuh mbak Jas. Kemarin waktu nyonya pergi ke asrama kamu, pulang nya dia beli tape lumayan banyak punya ibu-ibu yang jualan tape keliling dekat asrama mu, di bawa pulang, katanya buat orang-orang rumah. Kemarin kami memang makan tape, tapi krena tape itu sisa, saya masukkan ke kulkas. Dan tadi aku lihat nyonya memakannya habis dua bungkus. Menurutku nyonya ini kena sawan.
“Kena sawan?” Jasmin membeo, tidak yakin dengan pendengarannya. “Apa itu sawan?” Tanya nya.
“Sawan itu kayak trauma gitu, untuk mengobatinya, harus nempelin benda penyebab sawan ke perut nyonya.” Jawab Mak Atun.
“Kepercayaan apa tuh Mak? Nggak masuk akal” gerutu Jasmin. “Kita ke dokter aja yuk, Kak?” Tanya Jasmin pada Clarissa yang sedang duduk di atas ranjangnya.
“Mak Atun betul, Jas. Kakak percaya itu. Kamu bisa kan carikan tape itu?” Ucap Clarissa sambil mengerutkan keningnya, menahan sakit di perut.
“Apa-apaan sih Kakak ini, berpikir yang logis dong. Itu cuman mitos. Belum tentu benar”
“Mbak Jasmin kok ngeyel sih? ini beneran loh mbak. Aku dulu juga pernah ngalamin kayak gini, makan sate, eh nggak berapa lama, perutku suakit… terus sama suamiku, di beliin sate itu, terus tape itu di usap-usapin ke perut Nyonya.
Jasmin enggan mempercayainya, namun tidak enak juga kalau terlalu mem bantahnya, Mak atun sudah tua, tidak baik terlalu membantahnya.
“Kalau gitu sekarang tempelin aja tape itu ke perut Kakak. Ambilin tape itu, Mak!” Begitu saja kok repot.
“Masalahnya tape itu sekarang udah habis, Jas.” ucap Clarissa.
“Ya tinggal beli aja ke pasar, bisa kan? Panggilin Deni, Mak. Suruh dia beli ke pasar.“
“Deni nya sudah pulang, Mbak Jasmin.” Terang Mak Atun.
“Aku…, bisa membelikannya,” Sahut Emir yang sejak tadi hanya diam.
“Eh, mas ganteng pacar mbak Jasmin emang pernah ke pasar?” Goda Mak Atun.
“Pacar apaan sih, Mak Emir ini teman ku.” Sela Jasmin. tidak terima.
“Teman, apa temannya teman?” Desak mak Atun.
“Nggak lucu ah, Mak. Kalau aku bilang teman ya temanlah. Aku di anterin sama dia karena tiba-tiba motorku mogok.” Jasmin lalu menghadap Emir. “Kamu nggak usah repot-repot beliin kakak ku tape, Mir. Aku bisa beli sendiri.”
“Lagian, yang bisa beli tape ini cuman Mbak Jasmin, soalnya yang tahu rumah penjual tape ini cuma dia”
“Cuman aku? Kok bisa?”
“Gini mbak Jas. Tape yang di buat olesin perutnya Nyonya nanti harus makai tape yang sama. Karena tape itu di beli di depan asrama mu, maka cuman kamu yang bisa beliin tape itu.”
“Oh..., tapenya Bu Katri yang jualan di depan asrama itu? Tapi jam segini dia udah pulang”
“Kamu nggak ngerti rumahnya?” Tanya Clarissa, wajahnya pucat menahan sakit. Sesekali jemari lentiknya membelai perutnya.
“Tahu, rumahnya dekat sama komplek. Dia sering bantuin warung makan khusus dhuafa. Semua anak asrama tahu dimana rumahnya.” Bibir Jasmin berdecak malas, menyapu kasar, kebelakang anak rambutnya yang nakal, sedikit berantakan karena dari tadi belum sempat merapikan penampilannya. Sudah waktunya membersihkan diri. “Hhh…, repot banget sih, mesti nyariin Bu Katri segala” Jasmin menggaruk pelipisnya. “Kita panggil dokter kakak aja kenapa sih? Kak Calvin pasti marah kalau tahu kakak nggak segera manggil dokter.” Vino yang merasa jenuh di kamar, ia pun turun dari ranjang. Keluar kamar sambil berlari-lari.
“Dokerku udah di hubungi sama Mak Atun, tapi dia baru datang jam tujuh malam nanti, dia masih di luar kota. Ku mohon, Jas. cariin tape itu ya? Perutku sakit banget nih” Keluh Clarissa.
“Cari doker yang lain bisa kan?” Jasmin tidak sabaran.
“Ayolah, Jas. Cariin tape itu, perutku sakit banget nih, auh… Sakitnya ini rasanya aneh. Kayak nyeri haid gitu. Gimana kalau nanti sama dokter malah suruh ngeluarin? Aku nggak mau” Clarissa menggelengkan kepalanya sedih. Membuat Jasmin tidak tega. Ia pun frustasi dengan keadaan itu. Ingin rasanya ia menggendong paksa kakaknya lalu melemparkannya ke rumah sakit. Memeriksakannya ke dokter langsung. mencari tahu keadaan kakaknya secara ilmiah. bukannya hanya mengira-ngira saja seperti ini. Kakaknya lama-lama semakin kolot saja, terlalu lama bersama Mak Atun membuat wanita itu semakin tidak akal pemikirannya. Mak Atun mengingatkannya pada mendiang ibunya yang percaya pada mitos-mitos seperti ini. Jasmin menghela nafasnya, memilih mengalah. “Baiklah, aku akan beliin tapenya Bu Katri. Tapi nanti kalau nggak ada perubahan, Kakak harus ke rumah sakit”
Clarissa pun mengangguk pelan, sedikit bicara karena menahan rasa sakit di perutnya.
“Aku akan mengantar mu, Jas.” Ucap Emir. Masih ngotot ingin mendekati Jasmin.
“Emir.” Panggil Clarissa tiba-tiba.
“Ya?” Jawab Emir singkat.
“Apa…, hubungan kamu sama adikku?” Tanya Clarissa sambil menahan sakit di perutnya. tidak percaya begitu saja jawaban dari Jasmin.
“Mmm kami memang hanya teman.”
“Masa sih? Aku kok nggak percaya ya?” Seloroh Mak Atun. “Baru kali ini loh Mbak Jasmin ke sini sambil bawa cowok. nggak mungkin kan kalau cuman teman?”
“Udah ah, stop nginterogasi Emir terus. Beneran deh, kami emang nggak ada apa-apa. kamu pulang aja deh, Mir. Aku bisa beli tape sendiri.” Jasmin berdiri, memegang lengan baju Emir, lalu menariknya keluar kamar. “Mendingan kamu sekarang pulang aja deh, aku nggak mau mereka semakin salah faham sama kamu.” Ucap Jasmin pelan di depan kamar kakaknya.
“Aku nggak keberatan mereka salah faham tentang kita” Jawab Emir sembari tersenyum lembut.
“Itu maumu. Udah ah pulang aja”
“Oke. kalau ada apa-apa telpon aja aku”
“Iya”Jawab Jasmin singkat, tidak ingin berlama-lama melihat Emir.
Setelah pamit pada Clarissa dan Mak Atun. Dengan langkah malas, Emir menuruni tangga. Ia lalu keluar rumah. Di dalam mobil, Emir tersenyum penuh arti menatap rumah besar milik kakak Jasmin. Berencana secepatnya kembali ke rumah megah itu.
Bersambung...