5. Hari Terakhir Magang

2042 Kata
Tepat pukul  4 sore. Jasmin melangkah ringan keluar dari kantor, berjalan beriringan dengan Melani sahabatnya. Sebulan sudah ia magang di perusahaan itu. Barusan ia sudah pamit pada para pegawai yang bekerja di sekitarnya. Mengatakan banyak terima kasih karena sudah sabar mengajari dan membimbing dirinya selama sebulan ini. Pembawaan Jasmin yang ceria, sering membawa makanan serta membagikannya secara gratis, membuatnya cepat populer di kantor itu. Di tambah dengan wajahnya yang cantik namun tidak kemayu membuat dia banyak disukai orang-orang, khususnya para pegawai pria. Ada saja pegawai kantor yang berusaha mendekatinya, namun lagi-lagi jasmin menolaknya secara halus. Melani hanya bisa menggelengkan kepalanya,  sudah tidak heran dengan sikap Jasmin yang selalu menolak pria-pria yang mengerumuninya. Jasmin dan Melani berjalan bersama melewati lobi kantor. Sesekali mereka bercanda dan tertawa. Dan kedua pasang mata itu sudah tidak terkejut, ketika kaki mereka melangkah keluar dari gedung. Pemandangan baru di Area kantor seminggu terakhir memang beda dari biasanya. Bahkan para karyawan perusahaan mulai terbiasa, memakluminya. Dengan alasan memperjuangkan cinta, sang security mengizinkan pria tampan bertubuh tinggi itu masuk ke area perkantoran. Lalu menyambut Jasmin dengan sebuket bunga mawar di tangannya. Terkadang pria itu membawa boneka besar. Tidak peduli Jasmin yang tak pernah menerimanya. Melewatinya begitu saja. Dalam hati Jasmin memuji mental pria itu yang tak malu walau ia menolaknya berkali-kali, apalagi Emir tidak pernah memaksakan kehendaknya. Ia hanya tersenyum ketika Jasmin hanya melewatinya, orang-orang justru menghibur pria itu dengan menepuk pelan bahu nya. menyuruhnya bersabar.   Dan sore ini, pria itu tidak seperti  biasanya, tidak membawa bunga maupun boneka. Ia justru membawa buku gambar besar berukuran A3, pria itu langsung melempar senyuman menawannya saat pandangan mata mereka bertemu, memperlihatkan lesung pipitnya yang manis.  “Hhh…, Emir lagi, Emir lagi” sungut Jasmin sembari menghela nafasnya panjang. Buru-buru ia membuang mukanya. Tidak ingin terlalu lama bertukar pandang dengan pria itu. Ingin rasanya ia mengusir Emir, tapi apalah daya, dia bukan siapa- siapa, seisi kantor saja tidak ada yang mengusirnya. Mereka justru terlihat mendukung Emir memperjuangkan cintanya.   Sudah seminggu ini, pria tampan berwajah ke arab-araban tersebut selalu menunggu Jasmin pulang dari magang. Bahkan kehadirannya justru menjadi angin segar tersendiri bagi para karyawati. Cukup menyegarkan mata dan otak mereka yang lelah, setelah seharian bekerja. Semakin memanjakan mata, dengan sikap Emir yang ramah, selalu menyunggingkan senyumnya yang menawan ketika di sapa. Ia hanya tertawa ketika ada karyawati yang menggodanya. Menyebutnya dengan brondong tampan, bahwa ia juga mau di beri bunga yang di bawa Emir. Tahu pada akhirnya, bunga atau boneka yang dibawa Emir, akan di tolak Jasmin. Setelah Jasmin pergi. Emir selalu memberikan hadiahnya pada karyawati manapun. “Huh, dasar sok kegantengan,”  gerutu Jasmin.  “Dia emang ganteng kali.” Melani menyikut Jasmin tak terima. “Jas, Emir ngelihatin kamu terus tuh” “Bodo amat” Jasmin tetap membuang muka. Dengan lincah kaki-kakinya lalu menuruni tangga. Berjalan cepat ke tempat parkir, meneriaki Melani yang berjalan lambat. Jasmin membuang nafasnya kesal saat melihat sahabatnya, karena dia tidak berjalan dengan benar, bahkan ia memekik khawatir saat sahabatnya itu berjalan dengan tidak melihat tangga di bawah nya, hampir saja jatuh dari tangga karena matanya justru menatap tempat lain. Nereng melihat ke arah Emir. Jasmin memutar bola matanya malas saat melihat Melani tersenyam senyum ketika berjalan ke tempat parkiran.     “Min-min… kamu ini bodoh apa buta sih, cowok setampan dan setajir Emir kamu tolak gitu aja? Nyesel nanti loh” ucap Melani sesampainya di tempat parkir. “Lebih nyesel lagi kalau aku nerima cintanya” Jasmin naik ke atas motornya. Belum sempat ia menyalakan motornya, tiba-tiba ada seorang karyawan memberi dirinya setangkai mawar merah. Dahi Jasmin berkerut bingung, bertanya-tanya, ‘ada apa lagi ini? Sudah cukup hanya Emir yang mengganggunya.  Karena Jasmin tak kunjung menerima bunga itu, karyawan itu lalu memegang paksa tangan Jasmin, lalu memaksa Jasmin menerima bunganya. Jasmin pun terpaksa menerimanya. Dan ia semakin tidak mengerti saat karyawan itu pergi begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah katapun,     “Apa maksud dia?” Tanya Jasmin pada Melani. Namun  Melani hanya mengangkat bahunya, ia juga tidak mengerti.     Tidak berapa lama, seorang karyawati juga menghampiri Jasmin, memberinya setangkai mawar merah. Setelah itu dia pergi tanpa mengatakan apapun. Sama persis dengan apa yang di lakukan pria sebelumnya.   Setelah wanita itu, beberapa orang pun melakukan hal yang sama pada Jasmin. Memberi dan melakukan hal yang sama pada Jasmin hingga bunga-bunga itu menjadi banyak, hinggga Jasmin harus memeluk bunga-bunga mawar di tangannya.   “Sepertinya aku  tahu siapa yang ngelakuin ini” ucap jasmin pada Melani.  “Emir?” Tebak Melani.                                                                “Siapa lagi yang ngelakuin ini, kalau bukan dia” Jasmin enggan menoleh ke tempat Emir berada.  “Habisnya, kamu sih selalu nolak bunga yang dia berikan. Dia pikir mungkin kalau bukan dia yang ngasih, kamu mau nerimanya” Melani mengangkat kedua alisnya.   “Mau gimana lagi, aku emang nggak suka sama dia. Nggak mungkin kan aku nerima bunganya” Jasmin mengangkat bahunya cuek.   “Bukannya kamu selalu nolak karena bunganya cuman satu?” Melani memperhatikan bunga-bunga yang harus di peluk Jasmin, saking banyaknya  tidak muat jika hanya menggenggamnya. “LIhat Emir , Jas!” Melani tiba-tiba menunjuk ke arah tempat Emir berada.    Jasmin pun mengikuti arah tangan Melani, melihat pada Emir yang tampan, dengan setelan  kemeja merah maroon tengah memegang buku besar berukuran A3. Lalu tersenyum pada Jasmin. Setelah yakin Jasmin memandang kearah dirinya. Emir membuka buku besarnya. Memperlihatkan tulisan berukuran besar. Jasmin pun bisa membacanya dengan jelas.     ‘JASMIN… PLEASE, LOOK AT ME’ – ku mohon lihatlah aku Jasmin. Buku lalu di balik.   ‘YOU ARE SO VERY BEAUTIFULL’ – kamu sangat cantik. Buku lalu di balik. ‘YOU ARE VERY GOOD WOMEN’ – kamu wanita yang baik. ‘MUNGKIN KAMU TIDAK INGAT PERTEMUAN PERTAMA KITA.” tulis Emir dalam bahasa Inggris. Buku lalu di balik. ‘TAPI AKU SELALU INGAT’. Buku lalu terus dibalik dan dibalik setelah Jasmin membacanya.  DI BAWAH PURNAMA LANGIT EROPA. WAJAH CANTIKMU SUDAH TERTANAM JAUH DI LUBUK HATIKU. DENGAN SEENAKNYA KAMU TIDUR DI BAHU KU. BAGAIMANA AKU BISA MENGABAIKANMU, SETELAH KAMU BERBISIK, SELALU MENGATAKAN BAHWA AKU TIDAK BOLEH MENINGGALKANMU, KATAMU DUNIAMU AKAN HANCUR, MASA DEPANMU TELAH USAI . TIDAK JASMIN. YANG BENAR ADALAH MASA DEPANMU BARU SAJA AKAN DI MUAI DENGANKU. JASMIN…, halaman terakhir di buka emir.  I LOVE YOU. Mata Jasmin menatap tak percaya ke arah Emir. Mata bening nya seketika membulat, perlahan mengembun, ‘tidak mungkin, dia bukan Aldi’ Air mata mulai berdesakan di kelopak matanya. Buru-buru Jasmin menyekanya. ‘Tidak, dia bukan Aldi. Kalau dia memang pria itu, dia pasti sudah terus terang sejak awal’. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, tidak dipungkiri bahwa ia memang tersentuh dengan cara Emir mengungkapkan cintanya. Bahwa dia memang contoh pria sejati sesungguhnya. Tidak pernah memaksakan kemauannya. Berjuang dengan caranya yang lembut dan romantis. Tidak mudah menyerah. Perempuan mana yang bisa menolak pesona Emir. Dan Jasmin mengutuk dirinya sendiri yang bodoh, karena terjebak dalam pesona Aldi yang tidak jelas. Emir bahkan lebih romantis dari Calvin, kakak iparnya. ‘Eropa? Apa maksud dia eropa? Kapan dirinya pernah bertemu Emir di eropa?   Mengingat kata Eropa. Membuat luka di hati Jasmin kembali berdarah. Kehilangan keperawanannya  adalah luka yang tidak bisa di obati, dan Aldi yang telah merenggut mahkotanya, hingga sekarang tidak tahu entah ada di mana. Jasmin tidak tahu, entah sampai kapan ia akan menunggunya. Jasmin sedih. Ia pun membuang muka. Mengabaikan Emir yang berdiri penuh penantian. Tidak peduli tatapan semua orang yang tertuju padanya. Berharap Jasmin menerima pernyataan hati Emir.   ‘Maafkan aku, Emir. Cinta tidak bisa di paksa’ pikir Jasmin dalam hati. Tubuhnya kembali naik ke atas motor maticnya. Meminta agar melani segera naik.   Jasmin lalu segera menstarter motor matic nya. Tapi aneh, entah kenapa motornya tiba-tiba tidak mau hidup. Jasmin pun mengulanginya, menghidupkan kembali motornya. Namun sia-sia, motornya  tetap mati. Perlahan wajah cantiknya memerah malu. Niatnya ingin melarikan diri dari Emir terancam gagal.   “Ini pasti karma dari tuhan. Dia menghukummu karena udah sia-siain Emir tanpa alasan gak jelas.” Gerutu Melani, ia lalu turun dari motor. Jasmin pun mengerucutkan bibirnya.   “Ehm… Ada yang bisa kubantu?” Sebuah deheman terdengar menggoda. Jasmin pun menoleh, ia terkejut, entah sejak kapan pria keturunan Turki tersebut sudah berada di sampingnya. Di sebelahnya ada Dika yang berambut gondrong.     “Nggak ada.” Jawab Jasmin gengsi. Ia lalu turun dari motor. Pura-pura membenahi tasnya. Dan ia terganggu karena Emir tak kunjung pergi meninggalkannya. Padahal dia sudah jelas-jelas mengatakan tidak ada yang perlu di bantu. “Ngapain masih di sini?” Mata Jasmin memandang sengit ke arah Emir, terganggu dengan kehadiran pria itu. “Aku bersiaga aja di sini, siapa tahu kamu butuh bantuanku” Jawab Emir enteng, senyum manis tak penah lekang dari kedua  sudut bibirnya.                 “ Aku bilang nggak perlu, ya nggak perlu!” ketus Jasmin. Ia berlalu dari hadapan Emir seraya menuntun motor maticnya.                 “Ayolah Jasmin jangan jual mahal kayak gini” Dika membuntuti Jasmin. “Bilang  aja terus terang kalau kamu butuh  bantuan dia. Harusnya kamu itu peka jadi cewek. Dari sekian banyaknya cewek di kampus. Emir justru milih kamu. Apa kamu nggak tahu, kalau Emir itu hampir mendekati kata sempurna? Selain dia tampan, tubuhnya juga tinggi, tajir, setia, alim, apa kurangnya dia coba? Dia ini makhluk langka, kesempatan kayak gini nggak bakalan datang dua kali. Jasmin ayolah, jangan keras kepala kayak gini. Aha aku kayak nya tahu apa yang kamu takutkan. Kamu takut kalau itunya Emir gak jumbo kan? Hahaha… Nyantai aja, aku pernah mandi di tempat futsal bareng sama dia. dan aku sempet nengokin terongnya dia. mantep, Jas. Punya dia gede banget, mirip sama ukurannya orang Afrika” Dukh… Tanpa aba-aba, Jasmin tiba-tiba menendang tulang kering Dika. “Aw… sakit …” erangnya. Dika pun seketika membungkukkan badan menahan sakit. Tangannya menggosok-gosok tulang kakinya. "Kira-kira dong, Jas. Kalau nendang. Sakit tahu. Cewek macam apaan nih, kasar banget sama cowok. Mata Emir pasti udah juling udah menyukaimu." Tubuh Dika langsung keder ketika melihat mata Jasmin melotot padanya.  “Beraninya ya kamu promosiin terong nya dia ke aku. Emang siapa yang nanya ukuran dia, hah? Kamu di bayar berapa sama dia? Sampai terong nya juga pamerin ke aku. Mau kamu pamerin duitnya dia. Berapa banyak kendaraannya. Aku nggak bakalan peduli!” Jasmin mendengus kesal. Ia berbalik, menuntun motornya lagi. Dari tempatnya, Emir tersenyum memandang kepergian Jasmin. Ia mulai hapal dengan sikap Jasmin. Mulanya ia pasti menolak cowok dengan baik, tapi ia tidak segan bersikap kasar jika ada yang  keterlaluan menggodanya. Namun di mata Emir, Jasmin tetap menawan. Dia bukan gadis biasa, bukan gadis gampangan. Menandakan jika dia pribadi yang tangguh, mencintai dirinya sendiri, menghargai apa yang ada dalam dirinya, tidak mudah tergoda iming-iming duniawi. Jasmin adalah jelmaan Cleopatra yang agung. Tidak mudah di sentuh. Wanita yang mahal. Dug…. “Aw…,” pekik Jasmin kesakitan. Tiba-tiba tubuhnya berjongkok, tangannya memegangi sepatu hills nya. Refleks Melani, Emir dan Dika  menghampiri Jasmin yang menangis secara tiba-tiba. “ Ada apa, Jas?” Tanya Emir khawatir. Ia menyingkirkan paksa  tangan Jasmin yang menggenggam sepatunya. Semakin khawatir saat melihat darah merembes dari stoking putih milik Jasmin. Buru-buru Emir melepas sepatu dan stoking Jasmin.  “Ya ampun,Jas. Kakimu berdarah. Kenapa tiba-tiba begini?” pekik melani syok. Tidak tega melihat darah dari punggung kaki Jasmin.  “Aduh… Sakit banget….” Jasmin menangis kesakitan. Air matanya berlinang. “Tenang ya, coba aku lihat dulu” ucap Emir lembut.  Berusaha menenangkan Jasmin dengan menyalurkan energi tenangnya. Jasmin pun menurut, duduk begitu saja di halaman gedung perusahaan yang terbuat dari paving blok.  Emir lalu meniup-niup luka itu, tidak masalah kepalanya sejajar dengan kaki Jasmin. “Makanya, hati-hati kalau jalan sambil bawa motor. Sebelum jalan di lihat dulu jagangnya, udah diangkat belum. Cerobohnya….” “Kalau nggak ikhlas nolong, nggak usah nolong juga gak pa pa.” potong Jasmin cepat. Ia menarik kakinya yang sedang di pegang Emir. Tapi Emir justru memegangnya erat.  “Iya-iya maaf. Bercanda aja. Kalau ngambek kamu tambah imut nih” Emir tersenyum simpul. Tangannya lalu memijit lembut sekitar luka Jasmin. Dan ketika Jasmin merintih lagi, segera Emir meniupnya lagi. Jasmin terlalu kasar ketika menuntun motornya, karena emosi, dia sampai lupa mengangkat jagang sebelum menuntun motornya. Akhirnya, karena kecerobohannya sendiri. Kakinya tersaruk oleh jagang motor, lumayan dalam, hingga mampu merobek sebagian stoking yang di pakai Jasmin. Membuat kulit di dalamnya mengelupas, lalu mengeluarkan darah. “Kamu bawa minyak kayu putihmu?” Tanya Emir. “Bawa, eh maksudku nggak bawa!” elak Jasmin cepat. Bersambung….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN