4. Asrama Mahasiswi

1915 Kata
Yang belum tap Love, silahkan tap love sekarang... plis... dukung karya aku ya? Novel ini ikut event FTW. . ---- . Grudak gruduk…. Jasmin berlari-lari tergopoh keluar dari kamar, menuruni tangga asrama dengan lincah. Melewati dapur yang menyatu dengan ruang makan. "Jas, sarapan dulu…" Panggil Risma. Salah seorang mahasiswi semester 5 meneriaki Jasmin dari ruang makan. "Kena omel Bu Yuki, gak tanggung jawab aku" teriak Risma lagi. Membuat Jasmin yang sudah berada di depan pintu, mengeluarkan sepatunya dari rak, berhenti melakukan kegiatannya. Buru-buru ia lari ke dalam lagi. Hingga membuat tas ranselnya berbunyi brak bruk ketika ia berlari. Setelah mencuci tangannya, Jasmin segera ke meja makan. Mengambil roti, lalu mengolesinya dengan selai cokelat. Setelah itu mengunyah nya cepat. "Kok cuman sarapan roti?" Keke menatap heran Jasmin. "Kamu tadi susah-susah bikin oseng-oseng kangkung banyak banget cuman makan roti? Oseng kangkung ini kan juga bisa buat sarapan sama nasi, sambel terasi buatan ku, dan tempe bacem nya Adil" Asrama itu memang mewajibkan semua mahasiswi masak bergiliran setiap hari. Selain untuk stok makanan di asrama, juga untuk menyediakan stok makanan di warung murah khusus dhuafa milik Bu Yuki. Melatih juga mental mandiri dan pengalaman mahasiswi. "Kalau sarapan nasi kelamaan." Jawab Jasmin sembari mengunyah rotinya tergesa. "Keburu telat magang aku nanti. Mam.pus deh kalau telat lagi. Bu Ainun bisa-bisa mencak-mencak lagi dan ngasih aku nilai serendah jurang gunung jaya wijaya." Jasmin lalu menenggak air mineral. "Lebay kamu. Ini kan masih jam setengah enam. Mau mandiin satpam perusahaan?” Sahut Yanti sambil mengunyah nasinya. “Setengah enam gimana? Sekarang udah setengah tujuh” Jasmin melihat arlojinya. Wajah cantik yang awalnya cemas, seketika berubah merah karena malu. Benar, jam menunjuk angka setengah enam. Untunglah ada yang memberitahunya. Jika tidak, bisa-bisa satpam perusahaan malah mencurigainya sebagai pencuri. Dulu, sewaktu masih sekolah, Jasmin pernah datang kepagian, tidak percaya walau ibu dan kakaknya mengingatkannya. Akhirnya dia harus pulang lagi karena takut sendirian di sekolah. Ia selalu takut melihat pohon beringin tua besar di halaman sekolah. Tidak hanya sekali, Jasmin pernah berkali-kali mengalami hal seperti itu, entahlah, mengapa ia tidak sadar. “Aku tahu, kemarin kamu telat magang gara-gara chattingan semalaman sama pacar mu, Iya kan? Makanya, Jas. Kalau pacaran itu, tahu waktu dong” tuduh keke. "Pacaran apaan? Gebetan aja nggak punya" seru Jasmin sambil mencuci tangannya. Setelah itu ia duduk, bergabung dengan yang lain. "Masa sih? Dari sekian banyaknya cowok yang naksir sama kamu, nggak ada satupun yang nyangkut di hatimu?” Gadis bongsor yang sedang melahap sarapannya, bertanya ingin tahu. “Emir yang kemarin ngajakin kamu kenalan juga nggak ngaruh di hatimu?” Melani langsung menyahut saat ia memasuki dapur. Mengambil nasi serta lauknya, setelah itu duduk di sisi Jasmin. “Apa? Emir anak Ekonomi yang ganteng banget, pindahan dari Turki itu akhirnya ngajakin jasmin kenalan langsung? Biasanya kan dia cuman kirim-kirim salam sama kamu, Jas” Timpal Keke. “Duh beruntung banget sih jadi kamu. Cowok tinggal pilih yang mana paling ganteng, dan paling tajir. Sekali pasang status lagi sedih, cowok-cowok pasti langsung ngantri tanya, kamu minta di beliin apa Jas? Biar nggak sedih lagi? Nggak kayak aku. Kalau aku mah, sekali pasang status lagi sedih, teman-teman cowok aku langsung pada ngirimin aku pesan, ke gunung yuk, ke pantai yuk, jalan-jalan ke Dubai yuk” “Enak dong. Aku juga mau jadi kamu,” timpal Yanti. “Enak apanya? Mereka ngajak ke gunung terus mau nunjukin jurang, katanya aku bisa loncat ke jurang itu biar nggak sedih lagi. Ngajak ke pantai, terus jalan-jalan ke tengah laut, di tengah laut nanti, katanya aku bisa loncat di samping ikan hiu, dan kalau ke Dubai, dia nyuruh aku pergi ke lantai paling atas, terus nyuruh aku lompat. Mereka emang udah gila, tega banget mau habisin nyawaku.” Orang-orang di dapur pun tergelak mendengar cerita Keke. "Mereka bercanda kali, Ke. Siapa sih yang tega ngabisin nyawamu. Enakan juga ngabisin baksonya Bang Jono. Iya kan, Jas?” ucap Risma. “Bagi-bagi tips dong Jas, gimana caranya biar cowok-cowok pada klepek-klepek liatin kita?” Beberapa orang di dapur pun mengiyakan ucapan Risma. “Apalagi alasannya? Ya jelas karena Jasmin punya wajah cantik di atas rata-rata lah” Timpal Melani sembari minum kopi milik Keke. “Ah, belum tentu juga wajah cantik jadi jaminan di gilain banyak cowok.” Tutur Keke. “Buktinya Rika anak Akuntansi. Dia itu cantik luar biasa. Bodinya pun bohay depan belakang. Tapi penggemarnya sedikit, banyakan juga Jasmin. Mungkin karena dia itu ganjen, sama cowok mana aja mau, dia juga pernah di gosipin jadi sugar baby nya salah satu dosen (sugar baby = cewek muda jadi pacarnya pria tua). Makanya dia itu selalu dapat nilai tinggi, hihi menjual tubuhnya demi nilai bagus” Seloroh Keke. “Jadi, menurutku, selain punya wajah cantik, hati juga harus cantik kayak Jasmin nih. Suka nolongin teman yang kesusahan, mudah maafin kesalahan orang, nggak kecentilan, nggak suka dendam, kalau ada temen yang ngutang langsung di kasih” “Cie-cie…, curhat nih ye? Yang punya utang banyak sama Jasmin, Pasti ada udang di balik rempeyek nih. Kenapa Ke, ngomong gini biar nggak ditagih kan? Ayo Jas, Tagih sekarang” Melani ganti menyoraki Keke. “Hehe… Tahu aja kalian” Keke menggaruk rambutnya, senyum-senyum malu. “Jangan sekarang ya, Jas? Sebulan lagi ya? Hehe... kamu kan cantik dan baik. Pantes lah Emir yang super ganteng itu sukanya sama kamu. Ayolah, Jas, terima mantanku itu, ku jamin kamu nanti bakalan bahagia deh sama dia ” Rayu Keke sambil cengar cengir. Seluruh penghuni dapur yang mendengar bahwa Emir adalah mantan Keke langsung menyorakinya serempak, begitupun dengan Jasmin. Ia selalu tertawa sejak tadi, terhibur dengan banyolan Keke. “ Bisa aja deh kamu, Ke. Selalu lebay.” Senyum manis tak pernah luput dari bibir Jasmin sejak tadi, terhibur dengan tingkah Keke yang berlebihan. “Emang kenapa kalau mantanmu itu super ganteng, Ke? Aku nggak ngaruh tuh,” Jasmin mengedikkan bahu rampingnya sekilas. “Aku juga nggak akan ngaruh, walaupun dia anak presiden Amerika sekalipun. Nggak ada yang spesial selain wajahnya yang ganteng” Entah mengapa, hati kecil Jasmin selalu meronta tidak terima ketika ada pria yang mendekatinya. Berharap sosok Aldi lah yang hanya boleh menemuinya. Jasmin tidak mengerti, mengapa ia begitu yakin pria bersuara lembut itu suatu saat akan menemuinya. Jasmin tidak peduli jika dirinya seperti keledai bodoh, mengharap cinta yang tidak pasti dari singa pemangsanya. Hanya bermodal suara lembut menenangkan lalu mengatakan mencintainya, berjanji suatu saat akan bertanggung jawab pada dirinya, Jasmin sudah terjatuh tidak berdaya, mencintai Aldi secara membabi buta. "Tapi Emir beda, Jas" ujar Risma. "Dia itu alim dan sholeh banget tau, saking alimnya, banyak temen-temen yang jamaah dhuhur sama dia. Denger-denger, katanya Emir itu pinter ngaji loh, suaranya juga enak banget” “Enak? Bakso kali…,” cibir Jasmin.“Memangnya kamu pernah dengar sendiri, suara dia ngaji?” Jasmin tidak percaya begitu saja. “Ih Jasmin kenapa nggak percayaan sih? Aku pernah kok jamaah Maghrib sama dia di masjid kampus, Masih ingat acara diklat jurnalistik bulan kemarin? Waktu sholat Maghrib Emir jadi imam loh, gara-gara suaranya bagus banget, isya nya masjid jadi full, apalagi ruangan buat wanita sampai nggak cukup gara-gara kepenuhan, cewek-cewek sholat cuman karena penasaran sama suaranya si Emir. Aduh, Jas… suaranya itu loh, membuatku meleleh. Ngomong Allahu akbar aja merdu banget. Serasa sholat di Makkah aku tuh." Risma yang bertubuh tambun heri (heboh sendiri). “Duh Emir bikin aku gemes aja. Udah ganteng, kaya, sholeh, suaranya merdu, nggak playboy, bukan penganut kehidupan bebas. Dia sempurna banget buat di jadiin imam. Kurang apa coba dia? ” ‘ Karena dia bukan Aldi’ batin Jasmin “Tahu tuh, Jasmin. Kalau Emir bukan tipe nya, mungkin tipe kesukaannya kayak Pak Mehmed kali.” Melani mengolok Jasmin. "Yang benar aja. Emir aja nggak, apalagi pak Mehmed. Nggak lah. Geli aku." Jasmin bergidik. "Lagian, Pak Mehmed tuh sukanya sama kamu kan, Mel? Hahaha…." Seisi dapur pun tertawa meriah. Sedangkan Melani cemberut sambil melirik Jasmin. Jasmin tidak peduli, ia justru tertawa terbahak bahak. Hingga akhirnya dia kesedak. Lalu buru-buru minum. Melani pun ganti menertawakan Jasmin. Mengatai Jasmin kualat. "Kalau Emir aja nggak ngaruh sama kamu. Terus kamu maunya sama siapa, Jas? Ya elah tinggi banget seleramu" Sinta yang sedari tadi diam, ia angkat bicara. "Gimana ya? Bukannya gantengnya itu gak ngaruh. Hanya aja, aku nggak klik aja sama dia.. Mel, kamu nggak bareng sama aku? " Jasmin memperhatikan melani yang masih memakai baju santai. ”Nggak, kamu duluan aja, aku bareng sama Alya, katanya dia mau jemput aku.” Jawab Melani yang masih mengenakan handuk di kepalanya. Sudah mandi tapi belum bersiap. “Ya udah deh terserah kamu. Kalau gitu aku berangkat dulu ya. Bye semua….” Tangan Jasmin melambai sejenak, lalu bergegas ke depan, mengeluarkan motor dari garasi. Jasmin menarik nafasnya kasar saat sudah ada di depan asrama, keluar dari gerbang. Pak maman sang penjaga gerbang seperti biasa, menggoda dirinya, mengatakan jika penggemarnya sudah antri di depan geerbang. Mata Jasmin menatap jengah beberapa pria yang berdiri tidak jauh dari gerbang. Tanpa sungkan, mereka yang berjumlah lima orang melempar senyum terbaiknya untuk Jasmin. Para lelaki itu ada yang satu kampus dengannya, ada yang berasal dari universitas lain. Ada juga karyawan perusahaan tempat Jasmin magang. Mereka memang berbeda latar belakang. Namun sama-sama memperjuangkan cinta Jasmin. Namun seperti biasa, jasmin tidak memedulikan mereka, melewati nya begitu saja. dia selalu mengatakan tidak untuk tawaran-tawaran mereka. Menolak tawararan mensetaterkan motornya, menolak pemberian bensin, menolak jasa supir gratis. Dan yang paling sering ia tolak adalah, tawaran makan siang bersama. Mata Jasmin menatap gugup motornya, tatkala matanya bertubruk pandang dengan mata Bu Yuki, pemilik asrama. Wanita cantik asli Jepang yang sudah berumur setengah abad, pemilik beberapa yayasan sosial tersebut, terkenal karena kemurahan hatinya, kedermawanannya, baik pada seluruh penghuni asrama, kecuali pada Jasmin. Jasmin tidak mengerti mengapa Bu Yuki tidak menyukainya, selalu mencari cari kesalahannya ketika melihat Jasmin. Lalu menyalahkannya secara membabi buta, tidak peduli apapun alasan Jasmin. Jasmin tahu, hari ini bu Yuki hanya pura-pura sedang belanja. Yang sebenarnya terjadi adalah, dokter itu sebenarnya hanya ingin ngerumpi dengan tetangga komplek perumahan. Dari gelagat wanita itu dan para pelanggan pak gimin, menatap dirinya secara bergantian, lalu menatap para pria yang mengerumuninya. Jasmin yakin, bu yuki dan para tetangganya sedang membicarakan dirinya. Bu Yuki entah sejak kapan, wanita itu menjulukinya sebagai gadis tidak punya sopan santun, cewek gegatelan, cewek nggak benar, menganggap dirinya punya banyak pacar. Jasmin tidak peduli, buru-buru ia menaiki motor nya, meninggalkan para pemuda itu, dan sekumpulan para ibu-ibu dan pembantu yang membicarakan keburukannya . Saat motor Jasmin baru saja melaju, tiba-tiba pandangannya menyapu sesuatu yang lain. Sebuah motor ducati gagah warna hitam terparkir di tepi jalan. Di atasnya duduk pria tampan seusianya tengah menyeruput kopi yang ia beli di warung sebelahnya, di belakang tubuhnya, sebuah ransel hitam menggantung manja di balik punggung atletisnya. Wajah nya sangat tampan, perpaduan turki-indonesia. Sorot mata pria itu langsung mengerjap semangat tatkala melihat Jasmin. “Ngapain Emir di sini? Tumben banget” gumam Jasmin saat motornya melesat, pergi meninggalkan asrama, menuju tempat magang nya. Di tengah perjalanannya, mata Jasmin melebar ketika melihat pantulan spionnya, Emir membuntutinya.’Ngapain dia ngikutin aku terus? Sial banget tuh cowok. Awas aja kalau berani deket-deket waktu aku di perusahaan, mana magang ku tinggal seminggu lagi, matilah aku kalau bu ainun tahu aku bawa cowok dari pluto ke perusahaan. Tapi untunglah, Emir ternyata hanya mengikutinya sampai di depan perusahaan. Cowok itu langsung berbalik arah, saat melihat jasmin masuk area gedung perusahaan. Jasmin bernafas lega. Bersambung…. Plis. Komen - komen - komen…. komenmu adalah penyemangatku...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN