Ngilu, sakit, dan perih. Itulah yang Jasmin rasakan di sekujur tubuhnya. Mulai dari ujung kaki hingga leher semua kaku, dan lemas ketika di gerakkan. Sakit semua, Seolah habis di gebukin orang sekampung. Air mata Jasmin mengalir sedih ketika ingat kejamnya Melani. Tidak habis pikir dengan sikapnya yang kasar. Tega sekali, menghina dirinya dengan air seninya yang menjijikkan. Sungguh, itu di luar nalar dan kelewatan. Sejujurnya, selama ini dirinya memang selalu menahan diri ketika bersama Melani, berusaha memahami sifatnya yang keras dan tidak pernah mengalah. Bahasanya yang kasar ketika bicara, dan selalu berteriak ketika marah. Mengira jika memang seperti itulah sifat dasar Melani. Tapi ternyata penilaiannya salah, wanita itu lebih dari kasar, lebih tepatnya ia preman yang menyamar m

