Titip Benih
BAB 10
Mas Ikhsan melepas pelukannya. Mbak Laras begitu pias melihatku.
"Airin! Kamu mau bunuh anakku ha!"
"Maksud Mbak apa?"
"Kamu sengaja tidak makan agar anak ku mati!"
"Mbak! Aku tidak berselera makan juga karena ulahmu! Jadi jangan selalu menyalahkan aku. Jangan egois!"
"Memang salah apa aku ha!"
"Mbak! Aku hanya ingin makan disuapi Mas Ikhsan sekali saja, tapi kamu marah lalu merendahkanku dan menamparku, lalu mbak tanya salahnya apa? Mbak waras tidak sich!"
"Halah! Itu hanya alasan kamu saja. Kamu itu mau mengambil kesempatan dengan cara menggunakan kehamilanmu. Kamu pikir aku ini orang b*d*h! Perempuan murahan seperti kamu itu pasti akan menghalalkan segala cara agar bisa merebut hati mas Ikhsan. Dan lambat laun kamu akan membuat mas Ikhsan lupa denganku dan bahkan bisa juga kamu akan meminta mas Ikhsan menceraikan aku. Kamu pasti akan memanfaatkan kendunganmu itu untuk menjerat suamiku!"
"Mbak! Aku memang memiliki masa lalu yang buruk. Tapi, aku bukan orang yang seperti Mbak tuduhkan. Jika Mbak seperti ini terus denganku, maka, aku akan gugurkan kandungan ini!" Ancamku. Aku melihat wajah mereka berdua menjadi tegang, mungkin mereka pikir aku hanya akan diam tanpa melawan.
Mas Ikhsan langsung beringsut mendekatiku.
"Dek... Jangan bicara seperti itu. Tidak baik."
"Mas! Kamu yang membawaku ke pernikahan ini, maka aku menuntutmu untuk bersikap adil."
"Adil seperti apa yang Adek inginkan?"
"Aku juga ingin Mas perlakukan seperti Mas memperlakukan Mbak Laras. Aku ini juga istrimu bukan simpananmu!"
Mbak Laras nampak tidak suka dengan permintaanku.
"Baiklah Dek... Mas akan berusaha adil untukmu, tapi tolong jangan pernah punya pikiran sedikitpun tentang menggugurkan anakku,"Jawab Mas Ikhsan, Mbak Laras sepertinya akan mengucapkan sesuatu namun langsung di tarik keluar dari ruanganku oleh mas Ikhsan.
Sebenarnya ingin sekali aku menguping pembicaraan mereka, tapi, karena kondisi ku yang masih lemah maka aku urungkan niatku.
( Pembicaraan Ikhsan dan Laras )
"Mas! Apa maksudmu!?"
"Sayang... Ijinkan Mas untuk menyenangkan Airin untuk sementara waktu, sampai kandungannya benar-benar kuat."
"Tapi Mas! Untuk apa? Bukankah Dia sudah hamil. Jadi kita tinggal menunggu kelahiran anak kita saja."
"kamu lupa apa kata Dokter tadi? bukankah Dokter mengatakan jika Airin tidak boleh stres. Jadi ijinkan Mas untuk sementara waktu membuatnya senang. Jika Airin terus tertekan dan stres maka kita juga yang akan kehilangan anak itu, kamu mau?"
" Ya tidaklah Mas, aku tidak mau kehilangan anak kita, tapi, Mas apa kamu sudah menaruh hati kepadanya?"
"Tidak Sayang... Sedikit pun Mas tidak memiliki perasaan terhadap Airin. Bagi mas, kamu lah satu-satunya bidadari yang ada di hati mas."
"apakah kata-katamu bisa aku pegang Mas?"
"Sayang... Bukankah Mas sudah membuktikan cinta mas selama ini. Apakah itu semua belum membuatmu yakin?"
"Aku mulai sedikit ragu kepadamu, aku takut kamu jatuh hati dengan perempuan itu, terlebih lagi perempuan itu saat ini sedang mengandung benihmu."
"Sayang... Jangan kotori pikiranmu dengan hal yang seperti itu. Mas tetap setia kepadamu, cinta Mas hanya untukmu."
Aku langsung memeluk istriku Laras, agar Dia tidak cemburu dan aku diijinkan olehnya untuk membuat Airin senang.
Aku tidak mau jika harus kehilangan darah dagingku. Bagaimana pun juga, aku sudah bersusah payah untuk mendapatkan keturunan. Jadi, aku akan menghalalkan segala cara agar anakku baik-baik saja sampai Dia lahir kedunia ini.
????????????
Satu minggu aku dirawat. Dan hari ini aku sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter.
"Dek. Mulai hari ini Mas akan tinggal bersamamu. Mas akan menjadi seorang suami yang baik untukmu."
Aku sangat terkejut ketika mendengar hal itu.
"Tapi Mas. Bagaimana dengan Mbak Laras?"
"Laras sedang keluar negeri Dek."
"Keluar negeri?"
"Iya Dek. Laras keluar negeri ada pekerjaan yang harus di selesaikan dan kemungkinan disana cukup lama."
"Oh... Tapi apa Mbak Laras tidak marah jika Mas nanti tinggal bersamaku?"
"Ya tidak dong Dek. Kan Laras tidak ada di sini. Jadi ya Mas bebas mau serumah sama kamu."
Aku lega mendengar hal itu. Aku tidak mau jika nanti mereka bertengkar karena ujungnya pasti aku yang akan disalahkan.
Dokter sudah mewanti-wanti aku tidak boleh stres karena kandungan sangat riskan. Jadi, aku harus sebisa mungkin menghindari pertengkaran dengan Mbak Laras maupun Mas Ikhsan. Aku harus tenang.
Setelah menyelesaikan administrasi kami langsung pulang. Sebelum sampai rumah Mas Ikhsan mengajakku untuk makan di sebuah restoran.
Ketika kami sedang menunggu pesanan, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang cukup aku kenal.
"Airin!" Serunya cukup keras.
Mas Ikhsan menatapku dengan tatapan tajam. Sepertinya Dia meminta sebuah penjelasanku tentang laki-laki yang memanggilku itu.
Laki-laki itu mendekat ke meja kami.
"Airin. Aku sudah lama mencari keberadaan mu."
"Maaf Mas... Aku sekarang sudah menikah dan perkenalkan ini suamiku."
"Menikah? Ah! Rasanya tidak mungkin jika kamu menikah. Atau kamu hanya simpanan laki-laki ini." Ucap Anton merendahkan ku.
Mendengar ucapan Anton, Mas Ikhsan langsung berdiri dan memegang kerah baju Anton.
"Jaga bicaramu! Airin adalah istriku. Dan kamu tidak berhak merendahkan istri ku!"
"Hahahaha... Kamu tidak tahu Airin ini siapa? Atau jangan-jangan kamu sudah di tipu olehnya."
"Memangnya kamu tahu apa tentang istriku!"
"Oooo... Aku sangat tahu siapa Airin. Dia adalah seorang w************n yang menjajakan tu**hnya demi uang."
Mas Ikhsan langsung melayangkan sebuah tamparan dipipi kanan Anton.
"Jaga mulut Mu! Jika aku masih mendengar kamu merendahkan istriku maka aku akan berbuat yang lebih dari ini!"
"Kamu itu sedang dibodohi sama perempuan m*r*h*n ini. Nanti kalau hartamu sudah habis maka kamu akan dicampakkan olehnya."
"Jaga bicaramu jika masih mau hidup!" Ancam mas Ikhsan dengan tatapan nyalang kearah Anton. Anton terlihat nyalinya mulai menciut.
Mas Ikhsan langsung menarik tanganku dan kami meninggalkan meja itu. Sedangkan Anton masih memegang pipinya yang memerah. Dan melihat kami pergi.
Setelah sampai mobil. Mas Ikhsan masih terlihat kesal.
"Mas... maafkan aku."
"Untuk apa kamu meminta maaf?"
"Mungkin jika aku wanita baik-baik kamu tidak akan di permalukan seperti tadi."
"Bukan aku yang di permalukan tapi kamu."
"Kalau aku sudah biasa Mas. Karena hampir semua orang yang mengetahui pekerjaan ku, mereka akan mencibir ku dan merendahkan ku." ucapku sambil menyeka air mataku.
"Mulai sekarang tidak akan ada lagi yang bisa merendahkanmu. Mas berjanji akan membuatmu jadi wanita yang sangat bahagia telah meninggalkan pekerjaan itu." jawabnya sambil mengelus rambutku. Aku senang Mas Ikhsan memperlakukan aku selembut ini.
Kami langsung pulang ke rumah. Setelah sampai rumah aku langsung beristirahat. Sedangkan Mas Ikhsan menyuruh Mbok Minah untuk menyiapkan makanan.
Setelah makanan siap, kami lalu makan bersama. Mas Ikhsan sangat perhatian denganku.
Setelah selesai makan kami kembali ke kamar. Karena aku harus banyak istirahat.
Sedangkan Mas Ikhsan duduk di meja kerjanya. Sepertinya Dia sedang bekerja karena matanya sangat fokus ke layar leptopnya.
Aku terbangun ketika merasakan sebuah kecupan di keningku. Aku lalu membuka mata.
Ternyata Mas Ikhsan membawakan ku segelas s**u hangat.
"Dek... Ayo bangun dulu minum s**u agar si kecil tumbuh dengan sehat dan kuat." ucapnya dengan sangat lembut. sama persis seperti Mas Ikhsan berbicara dengan Mbak Laras.
Jujur hati ku sangat senang di perlakukan seperti ini oleh Mas Ikhsan. Semoga apa yang aku rasa saat ini bukanlah sebuah mimpi. Dan semoga sikap Mas Ikhsan seperti ini bukan karena sandiwara atau karena Mbak Laras tidak ada disini.
Aku langsung meminum s**u yang di berikan oleh Mas Ikhsan. Setelah gelas itu kosong Mas Ikhsan mengambilnya dari tangan ku.
"Dek... Apakah kamu senang dengan perubahan Mas?"
"Iya Mas... Aku sangat senang. Semoga perubahan Mas ini bukan karena Mbak Laras tidak ada disini."
"Dek... Mas itu sayang sama kamu. Tapi Mas juga sangat mencintai Laras. Mas tidak bisa hidup tanpa Laras. Jadi tolong mengertilah posisi Mas, Mas itu bukan tidak peduli denganmu, tapi, Mas harus menjaga perasaan Laras."
"Mas... Apakah kamu tidak pernah mau tahu bagaimana perasaanku? Dan apakah perasaanku tidak lah penting bagimu?"
"Perasaan mu? Apa yang Mas harus jaga. Bukankah dari awal Adek sudah tahu jika Mas sudah memiliki seorang istri. Mas itu menikah bukan untuk kesenangan Mas tapi untuk memiliki keturunan."
"Aku tahu Mas! Tapi tidak bisakah kamu menjaga juga bagaimana perasaan ku jika melihat mu bermesraan dengan Mbak Laras. Setidaknya jangan di depanku!.
Mas Ikhsan langsung pergi meninggalkanku. Dia memilih keluar dari kamar.