Ikhsan mengelus perut Airin

1308 Kata
Titip Benih BAB 11 Mas Ikhsan pergi meninggalkanku dikamar sendirian. Seperti itulah dirinya, setiap habis bertengkar pasti langsung pergi entah kemana. Aku juga tidak mau ambil pusing kemana Mas Ikhsan pergi. Palingan juga nanti juga pulang kalau hatinya sudah tenang. Benar saja tiga jam kemudian akhirnya Dia pulang. Mas Ikhsan datang dengan membawa beberapa paper bag. "Dek... Lihat apa yang Mas bawa." ucapnya dengan wajah sumringah sambil menunjukkan barang yang dia bawa. Aku hanya tersenyum melihat hal itu. Ya walaupun sebenarnya hatiku masih tidak suka dengan apa yang dia katakan tadi. "Terima kasih Mas." "Kok kamu seperti tidak suka dengan apa yang aku bawa ini Dek?" "Suka kok Mas." "Wajahmu memperlihatkan jika senyum itu paslu." "Mas tolong! Buat aku nyaman." "Iya dech... Maaf, bukan maksud Mas membuatmu tidak nyaman, mas hanya ingin berusaha membuatmu bahagia." "Aku pasti bahagia jika apa yang mas lakukan ini ikhlas bukan karena sesuatu," "Mas ikhlas sayang, Mas benar-benar ikhlas melakukan semua ini, mas ingin melihatmu bahagia," "Bahagiaku jika mas menganggapku sebagai seorang istri yang sesungguhnya." "Sayang... Kamu adalah istri mas, jadi apalagi yang harus mas lakukan agar kamu percaya jika mas itu tulus menikahimu." "Mas sudahlah aku tidak mau lagi mendengar bualan darimu." Aku lalu mengambil paper bag itu dari tangan Mas Ikhsan. Setelah melihat isinya aku sedikit terkejut karena semua barang yang di beli olehnya adalah barang-barang yang harganya sangat mahal. Biarlah aku simpan barang-barang ini, aku yakin suatu saat aku bisa menjualnya. Karena, jujur aku tidak suka barang-barang seperti itu. Lumayan juga nanti uangnya untuk bisa aku pakai, jika nanti aku benar-benar membutuhkan. Setelah menyimpan barang-barang itu. Aku kembali merebahkan tubuhku. Aku memang sekarang mudah sekali letih. Mungkin karena hamil muda jadi kondisi kesehatanku mudah capek. Ingin sekali aku dimanja, tapi, aku takut sekali menyampaikan hal itu kepada Mas Ikhsan. Aku takut kecewa lagi. Aku takut mendapatkan penolakan darinya, yang berujung hatiku akan terluka lagi. Ketika aku berbaring, ternyata, Mas Ikhsan ikut berbaring di sampingku. Aku sedikit terkejut ketika Dia tarik tubuhku agar merapat dan Dia tak menyia-nyiakan kesempatan ini, aku langsung di peluknya sangat erat. Aku tiba-tiba menangis, entah mengapa aku merasa terharu dengan apa yang Mas Ikhsan lakukan. "Sayang... Kenapa kamu menangis?" "Gak apa-apa Mas." jawabku sambil menyeka air mataku. "Kamu tidak suka Mas peluk seperti ini?" "Suka, aku suka. Peluk aku lebih erat." "Maafkan mas ya... Jika kurang perhatian kepadamu," "Mas, jangan bicara lagi, biarkan aku menikmati ini sebentar," Aku langsung memeluknya dengan erat. Entah mengapa aku sangat senang memeluknya. Aku sangat suka aroma tubuh Mas Ikhsan. Aku memeluknya hingga aku tertidur. Entah sudah berapa lama aku tertidur sambil memeluk tubuhnya. Ketika aku membuka mata, aku masih memeluknya, dan ketika aku akan bangkit Mas Ikhsan melarangku. Aku masih dalam dekapannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Aku sudah sangat tahu siapa yang menghubunginya. "Iya Sayang..." "Baiklah... Nanti Mas transfer." "Kamu tenang saja... Mas tidak akan mengecewakanmu kok." "Oh ya... Jangan lupa beli baju-baju yang lucu-lucu untuk anak kita." "Pokoknya apapun yang kamu pilih pasti bagus," "Ok, sayang... Love you..." Perih rasanya hati ini mendengar hal itu. Apakah Mas Ikhsan ini sebenarnya pemain? Sehingga sangat pandai bermain kata. Aku masih dalam pelukannya tapi Dia sangat santai menerima telepon dari mbak Laras. Seolah tidak ada aku dalam dekapannya. Aku mencoba untuk bangkit tapi lagi-lagi Dia menahanku. Setelah mematikan sambungan telepon. Mas Ikhsan langsung mendaratkan ciuman ke bibirku. "Jangan cemburu ya Dek... Karena beberapa bulan ini Mas akan menjadi milik mu." "Memang Mbak Laras lama disana?" "Iya... Sekalian mengunjungi orang tuanya." "Oh... Orang tua Mbak Laras tinggal di luar negeri?" "Iya Dek. Orang tua Laras tinggal di China jadi Laras hanya sebatang kara di Indonesia." "Apa karena itu Mas sangat menjaga perasaan Mbak Laras?" "Coba bayangkan Dek. Laras lebih memilih ikut Mas ke Indonesia daripada tinggal bersama orang tuanya. Begitu besar pengorbanan Laras untuk Mas dan cinta Laras untuk Mas juga sangat besar. Jadi tidak ada alasan Mas untuk menyakiti hatinya." "Tapi dengan Mas menikahiku pasti membuat Mbak Laras terlihat terluka?" "Tidak. Laras tidak terluka, karena Laras tahu jika Mas hanya mencintai Dia." Nyessss... Sakit... setiap membahas tentang Mbak Laras hatiku pasti akan sakit, karena Mas Ikhsan akan selalu menunjukkan betapa berharganya Mbak Laras baginya. Dan betapa besarnya rasa cintanya. "Jadi, Mas tidak pernah memiliki rasa sedikit pun untukku?" "Rasa? Rasa apa yang Adek maksud?" "Rasa seperti ke pada Mbak Laras." "Tidak! Bagi Mas, Laras itu segalanya. Dan tidak akan ada satu orang perempuan pun yang bisa menggantikan Dia di hatiku. Jadi Adek jangan pernah terbesit sedikit pun untuk menggantikan Laras." "Lalu Mas menganggap aku ini apa?" "Sebagai seorang perempuan yang aku titipkan benih untuk kau kandung." "Maksudnya???" "Ya seperti rahim pengganti. Jadi adek harus sadar diri akan posisimu disamping Mas." Tes... Air mataku menetes dengan sendirinya. "Jangan menangis Dek. Mas memberi tahu mu agar kamu tidak berharap lebih. Karena Mas rela melakukan segalanya demi Laras." "Mas! Jika aku tidak ada artinya bagimu. Tolong lepaskan saja aku. Ijinkan aku bisa bahagia menjalani kehidupan." "Tidak bisa seperti itu Dek. Aku butuh rahim mu untuk bisa melahirkan anak ku. Jadi sebagai gantinya aku akan membahagiakan mu dengan harta. Kamu bisa membeli apa saja yang kamu mau. Impaskan!" "Mas! Apa kamu pikir harta bisa membuat orang bahagia?" "Jelas! Coba Mas tanya, Siapa orang di dunia ini yang tidak suka memiliki banyak harta?" Aku malas membalas ucapan Mas Ikhsan. Aku bangkit dan pergi keluar kamar. Percuma saja aku berdebat dengan Mas Ikhsan. Pasti aku akan kalah dan salah juga. Aku membantu Mbok Minah menyiapkan makan malam. Setelah selesai memasak, aku kembali kekamar untuk membersihkan tubuhku dari aroma bawang. Ku lihat mas Ikhsan sedang melakukan video call dengan Mbak Laras. Aku langsung masuk kedalam kamar mandi. Aku tidak mau tahu apa yang mereka bicarakan, aku pasti akan terluka jika terus menguping pembicaraan mereka. Setelah selesai mandi, Aku memberi kode kepada mas Ikhsan bahwa aku menunggu di meja makan. Sekitar satu jam aku menunggu, Akhirnya mas Ikhsan turun juga. aku langsung menyajikan makanan di piring mas Ikhsan. "Hal seperti inilah yang tidak pernah aku dapat dari Laras." Gumamnya. "Dek... Teruslah seperti ini. Karena aku senang dengan apa yang kamu lakukan." Imbuhnya "Jika Mas senang aku layani seperti ini maka jadilah suami yang bisa menjaga perasaanku." Jawabku ketus "Ayo makan. Mas malas berdebat." Jawabnya. Mas Ikhsan langsung melahap makanan yang ada piringnya hingga habis. Tak ada lagi pembicaraan antara kami. Setelah selesai makan. Aku meminta Mbok Minah untuk mengupaskan aku buah apel. Mbok dengan cekatan mengupaskan tiga buah apel dan langsung memberikan kepada ku. Aku lalu membawa apel itu kekamar. Karena aku ingin memakannya sambil duduk di balkon. Ketika aku sedang menikmati apel. Mas Ikhsan mendatangi ku dan langsung menyuapi ku. "Makan yang banyak ya anak papa." Ucapnya sambil mengelus perut ku. "Jangan nakal ya sayang... Mama dan papa sudah tidak sabar menunggu mu lahir." Imbuhnya sambil mengecup perut ku. Jantungku berdegup kencang ketika Mas Ikhsan melakukan hal itu. Jujur sudah lama aku ingin hal seperti ini, Setelah mengecup perut ku kini Mas Ikhsan langsung memeluk ku dan mendaratkan sebuah ciuman di kening ku. "Dek... Apakah kamu senang jika Mas seperti ini?" "Andai semua ini tulus dari dalam hati mu. Aku pasti sangat bahagia." "Mas benar-benar tulus sangat menyayangi anak ini Dek. Tolong jaga dan rawatlah kandungan mu dengan baik. Mas sebagai suami menuntut mu untuk bisa lebih baik menjaganya." "Tanpa kamu suruh pun, Aku pasti menjaga kandungan ku. Karena bagaimanapun juga dia adalah anak ku darah daging ku. Dan aku sebagai seorang istri juga menuntutmu untuk bersikap adil." "Adil yang seperti apa lagi yang kamu tuntut dariku?" "Adil sebagaimana layaknya seorang suami yang memiliki istri lebih dari satu." "Mas itu sudah adil, tapi kamunya saja yang serakah." "Serakah? Apa aku tidak salah dengar!" "Jika kamu tidak serakah, pasti akan selalu menuntut keadilan itu dariku." "Aku menuntut itu wajar, karena aku adalah istrimu dan aku adalah Ibu dari anak yang sekarang aku kandung." "Itu anakku dan Laras! Bukan anakmu! Ingat itu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN