Titip Benih
BAB 12
"Itu hanya anakku dan Laras bukan anakmu!"
"Bagaimana bisa ini bukan anakku sedangkan aku yang mengandungnya."
"Kamu hanya berkewajiban mengandung dan melahirkan, selebihnya kamu tidak berhak apa-apa!"
"Bagaimana aku bisa tidak berhak?"
"Ya kerena dari awal kamu sudah mengetahui hal itu, jika aku menikahimu hanya ingin memiliki keturunan,"
"Benar, hanya ingin memiliki keturunan, tapi mas lupa, jika keturunanmu saat ini ada didalam perutku dan aku bisa pergi kapan saja darimu dan kamu maupun mbak Laras tidak akan pernah bisa melihatnya lagi."
"Kamu jangan main-main ya Dek! Mas tidak suka kamu ancam seperti itu!
"Aku tidak mengancammu, tapi aku bicara kenyataan, aku akan membawa pergi anak ini jika kamu selalu menyakiti hatiku,"
"Sakit hatimu itu tidak mendasar! Kamu terluka oleh perasaanmu sendiri jadi jangan libatkan anakku dalam hal ini!"
"Sudahlah Mas! Aku mau tidur saja. Muak aku dengan pertengkaran yang seperti ini terus!"
Aku langsung beranjak pergi meninggalkan Mas Ikhsan. Aku langsung masuk kedalam kamar dan langsung menghempaskan tubuhku di atas kasur.
Sepertinya aku memang harus segera pergi dari rumah ini. Mas Ikhsan tidak bisa aku harapkan lagi.
Semakin lama aku disini maka akan semakin sakit hatiku di buat mereka.
Aku akan mencari cara bagaimana bisa pergi jauh dari sini. Tabunganku sekarang sudah ada seratus juta. Pasti cukup untuk aku membuka usaha kecil-kecilan.
Aku tidak bisa menundanya lebih lama lagi. Begitu Mas Ikhsan lengah, aku akan pergi.
Hari demi hari kami lalui bersama. Hampir setiap hari ada perdebatan diantara kami.
Hari itu Mas Ikhsan harus pergi kekantor karena ada meeting mendadak. Sedangkan Bagas sedang ijin cuti.
Aku menyuruh Mbok Minah untuk kepasar, karena memang stok sayur sudah habis.
Setelah rumah benar-benar kosong. Aku langsung pergi, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena aku tidak tahu kapan lagi ada kesempatan datang. Aku berjalan dengan sedikit berlari sambil menunggu taksi yang lewat, dan setelah menunggu sambil berjalan, beberapa menit kemudian akhirnya ada sebuah taksi yang lewat, aku langsung menghentikan taksi itu dan langsung naik.
Ketika di dalam taksi aku jujur sangat bingung karena tidak tahu kemana arah yang akan aku tuju.
Aku meminta supir taksi itu untuk mengantarkan aku ke bandara. Aku akan pergi keluar kota agar mereka tidak bisa menemukanku. Semakin jauh aku pergi dari kota ini maka akan semakin kecil kemungkinanku akan ditemukan oleh mereka. Aku lebih baik pergi kesebuah desa yang terpencil agar tidak mudah ditemukan.
Berbekal uang tabungan, aku pasti bisa membuka usaha kecil-kecilan, disebuah desa.
Ya sepertinya aku akan pergi ke desa dimana aku dulu di lahirkan.
?????????????
POV
Ikhsan.
Aku adalah seorang pengusaha yang cukup terkenal. Aku minikah dengan Laras sudah sebelas tahun. Namun, sampai detik ini kami belum memiliki keturunan karena rahim Laras diangkat.
Rahim Laras diangkat karena sudah lima kali keguguran dan rahimnya bermasalah. Jadi demi kesehatan rahimnya harus diangkat.
Almarhum kedua orang tuaku menuliskan sebuah wasiat. Jika aku memiliki seorang anak maka perusahaan ini akan menjadi milikku sepenuhnya.
Aku tahu mengapa mereka menulis kan wasiat itu, karena mereka tahu jika rahim Laras diangkat. Jadi sangat mustahil bagiku untuk memiliki anak dari Laras.
Orang tua ku memang tidak setuju aku menikahi Laras, bagi mereka Laras bukanlah perempuan baik untuk menjadi istriku. Tapi, karena aku cinta mati dengan Laras maka, mereka dengan terpaksa merestui pernikahan kami.
Entah mengapa hatiku tidak tenang ketika meeting tadi. Aku mencoba menghubungi nomor Airin namun tidak aktif. Aku semakin khawatir takut terjadi sesuatu dengannya.
Setelah meeting selesei, aku langsung bergegas pulang. Aku melajukan mobilku dengan cukup kencang, karena ingin segera sampai di rumah. Dan benar saja ketika aku sampai rumah. Mbok Minah terlihat sedang kebingungan.
Aku langsung turun dan bergegas mendekati Mbok Minah.
"Tuan... Nyonya..." ucapnya dengan wajah cemas
"Ada apa dengan Airin, Mbok?"
"Nyonya kabur Tuan."
Bagai di sambar petir siang bolong ketika aku mendengar Airin kabur dari rumah.
Aku langsung tancap gas untuk mencari Airin. Aku susuri sepanjang jalan, Namun nihil. Aku prustasi, aku sangat takut jika harus kehilangan anak ku.
Aku benar-benar takut saat itu, karena aku sudah pasti akan kehilangan darah dagingku. Jika hanya kehilangan Airin, aku tidak akan setakut ini, karena aku bisa mencari sepuluh perempuan seperti Airin jika aku mau. Tapi kali ini sangat berbeda, Airin pergi membawa darah dagingku, anak yang aku tunggu kelahirannya, anak yang akan membuatku selalu tersenyum melihat tingkah lucunya, anak yang akan meramaikan rumahku, dan anak yang akan membuatku menjadi pemilik sah perusahaan Papa.
aku lalu menghubungi beberapa anak buah ku, aku meminta mereka untuk mencari tahu dimana keberadaan Airin. Aku mengirimkan foto Airin kepada mereka. Aku meminta mereka menyebar ke penjuru arah agar bisa segera menemukan Airin.
Jam terus berjalan, namun, belum ada tanda-tanda kabar dari anak buahku itu. Aku semakin takut dan kalut.
Aku lalu mencoba menghubungi mantan bos Airin, namun sama saja Dia tidak tahu kamana Airin pergi. Bahkan setelah keluar dari tempat itu, mereka tidak pernah lagi berkomunikasi ataupun bertemu.
Aku takut jika Airin nekat menggugurkan kandungannya, karena Dia sakit hati denganku. Apa yang akan aku katakan kepada Laras nanti jika dia bertanya kepadaku.
Waktu berjalan begitu cepat sudah satu bulan Airin pergi, aku berusaha semaksimal mungkin untuk mencari Airin namun tidak ada kabar berita dari orang-orang suruhanku. Airin seperti hilang di telan bumi.
Hari ini Laras memutuskan untuk kembali pulang ke Indonesia untuk membantu ku mencari Airin.
Awalnya Laras sangat marah kepadaku ketika aku mengatakan jika Airin kabur. Namun, dengan sedikit rayuan aku bisa meluluhkan hati Laras sehingga marahnya tidak berlanjut.
Karena sudah satu bulan Airin kabur. Laras menyarankan jika kami harus melapor ke polisi. Kami beralasan jika Airin kabur membawa uang kami.
Pagi itu kami resmi melaporkan Airin dengan tuduhan mencuri uang kami. Setelah selesai membuat laporan pihak kepolisian akan memberi kabar kami jika ada perkembangan.
Laras menggunakan media sosial untuk mencari Airin. Laras membuat sayembara jika ada yang bisa menemukan Airin akan di beri imbalan uang sebesar dua puluh lima juta.
Benar saja tak perlu menunggu waktu lama, sudah banyak orang yang menghubungi kami. Ada yang bilang melihat Airin, namun, kami harus membayar terlebih dahulu baru di tunjukkan tempatnya, namun setelah kami transfer nomor itu sudah tidak bisa di hubungi lagi.
Dan banyak lagi yang katanya melihat Airin, dikota A, B, C dan banyak lainnya. Berbekal pengalaman kemarin, kami tidak mau lagi membayar di awal. Kami ingin melihat Airin langsung baru akan memberikan uang itu. Namun, lagi-lagi kami di tipu, alamat yang mereka kasih kebanyakan rumah kosong. Bahkan ada juga yang memberikan alamat sebuah makam.
Waktu terus berjalan, sudah empat bulan aku mencari Airin. Jika Airin tidak menggugurkan kandungannya pasti sekarang usianya sudah lima bulan.
"Mas! Bagaimana ini sudah empat bulan kita mencari keberadaan wanita si**an itu tapi belum juga ada tanda-tanda." gerutu Laras
"Mas juga sudah berusaha semaksimal mungkin Dek. Bahkan Mas sudah habis uang banyak menyewa orang untuk mencari keberadaan Airin."
"Mas! Apa mungkin Airin pergi ke sebuah pedesaan sehingga tidak ada yang bisa melacaknya." ucapan Laras ada benarnya juga, kemungkinan Airin kabur kesebuah perkampungan yang terpencil sehingga tidak akan ada yang bisa menemukannya atau mengenalnya.
Aku lalu menyuruh orang suruhanku untuk mendatangi setiap kampung terpencil yang ada di beberapa daerah.
Tidak masalah aku menghabiskan uang banyak asalkan Airin bisa aku temukan dan aku tidak jadi kehilangan anakku.
Satu minggu telah berlalu, namun belum ada kabar dari mereka.
Sedangkan aku harus pergi ke luar kota karena di kantor cabang ada sedikit masalah. Harus aku yang menyelesaikan dan tidak bisa diwakilkan.
Awalnya Laras ingin ikut, namun, aku melarangnya karena takut jika orang suruhanku nanti menemukan Airin terus kami tidak ada di rumah.
Karena alasan itu Laras tidak jadi ikut. Sebenarnya aku juga malas pergi ke kantor cabang ini, karena tempatnya yang sedikit jauh dari kota.
Tapi karena urusan sangat mendesak akhirnya mau tidak mau aku harus kesana.
Semoga saja ketika aku balik dari sana ada kabar baik dari Laras tentang Airin.