Airin Kembali Kekampung Halaman

1372 Kata
Titip Benih BAB 13 Setelah menempuh perjalanan cukup lama akhirnya aku sampai di kampung halaman. Aku disini tidak memiliki sanak saudara. Jadi untuk pertama kali rumah yang aku tuju adalah rumah Pak Rt. Aku ingin menanyakan sebuah rumah yang bisa di kontrak. Setelah bertanya kepada warga, Akhirnya aku tahu dimana letak rumah Pak Rt. "Assalamualaikum... Permisi." "Waalaikum sallam... Mari masuk." jawab seorang wanita paruh baya " Maaf Bu... Apa benar ini rumah pak Rt?" "Benar... Mbak ada perlu apa dengan suami saya?" "Begini Bu... Saya ingin menanyakan kepada Beliau apa ada rumah didekat sini yang bisa di kontrak?" "Oalah... Mbak mau cari kontrakan? Disini tidak ada rumah yang di kontrakan Mbak. Karena rata-rata penduduk sini rumahnya hanya satu." Aku jadi bingung, Karena aku tidak tahu lagi harus kemana. "Memang Mbak datang dari mana?" "Saya, Airin, dulu orang tua Saya juga tinggal di desa ini Bu." "Benarkah? Kalau boleh tahu siapa namanya siapa tahu Ibu kenal?" "Ibu Winda dan Pak Budi." Ibu Rt terlihat sangat terkejut ketika aku menyebut nama kedua orang tuaku. "Ya Allah... Kamu anak Bu Winda dan pak Budi to? Coba ngomong dari tadi mbak," Aku hanya tersenyum mendengar Bu Rt. "Begini nak Airin, di desa ini tidak ada rumah yang di kontrakan, tapi, jika nak Airin berkenan, ada sebuah rumah yang di jual karena pemiliknya sudah tidak mau lagi tinggal di desa ini," "di sebelah mana Bu? Dan kira-kira berapa harganya? Karena uang tabungan saya tidak banyak." "Kemarin di tawarkan enam puluh juta nak. Tapi masih bisa di tawar kok, kalau nak Airin berminat biar nanti suami saya yang menghubungkan nak Airin dengan pemilik rumah itu." aku berpikir sejenak. Karena uangku hanya ada seratus juta. Jadi jika aku membeli rumah itu maka sisanya tinggal empat puluh juta, apakah cukup untuk aku membuka usaha? "Bagaimana Nak?" "Bu... Sejujurnya uang saya hanya seratus juta, dan sebenarnya saya berkeinginan membuka toko kecil-kecilan asalkan ada pemasukan setiap hari, karena saya sekarang sedang hamil dan saya sudah pisah dengan suami. Jadi saya harus bisa mencari uang untuk biaya persalinan nanti," "Begini saja nak. Nanti coba Ibu bicara sama suami dulu agar di kasih harga murah dan siapa tahu bisa di cicil dua kali bayarnya." Aku sangat senang mendengar ucapan Bu Rt. "Yang benar Bu? Ibu berkenan membantu saya?" "Iya Nak Airin. Untuk malam ini tidur disini saja, karena disini tidak ada penginapan." "Tapi Bu... Nanti takut merepotkan." "Tidak kok nak, sekalian menunggu suami saya pulang biar bisa ngomongin masalah rumah yang tadi itu." "Terima kasih banyak ya Bu..." Lalu Bu Rt menunjukkan sebuah kamar tamu kepadaku. Beliau menyuruhku untuk beristirahat sambil menunggu Pak Rt pulang. "Silahkan beristirahat, maaf kamarnya seperti ini," "Tidak apa-apa Bu , saya sudah bersyukur diterima disini dengan sangat baik," "Kalau ada apa-apa ngomong saja jangan sungkan," "Baik, Bu... Terima kasih banyak." "Ya sudah silahkan beristirahat," "Iya, Bu," Pukul delapan malam akhirnya Pak Rt pulang. Bu Rt langsung menceritakan semuanya kepada beliau. Ketika Pak Rt pulang, Bu Rt memanggilku. Aku yang mulai terlelap lalu terbangun dan bergegas untuk segera keluar dari kamar untuk menemui Pak Rt. Aku lalu mengenalkan diri kepada Pak Rt. "Selamat malam Pak, maaf jika saya sudah merepotkan dirumah Bapak," "Oh, tidak repot kom Nak," "Perkenalkan nama saya Airin anak Pak Budi dan Bu Winda," "Oh... Nak Airin ini anak mendiang Bu Winda dan Pak Budi." "Iya Pak..." "Keluarga nak Airin itu terkenal sangat baik, jadi warga di sini pasti tidak akan pernah lupa dengan Beliau itu. Dulu waktu nak Airin lahir kalau tidak salah umur tiga bulan keluarga pak Budi meninggalkan desa ini." "Iya pak benar sekali." "Jadi apa rencana nak Airin datang ke desa ini?" "Seperti yang Bu Rt cerita tadi pak. Semoga bapak berkenan membantu saya." "Begini saja nak. Besok coba bapak ke kota menemui pemilik rumah itu, atau lebih enaknya nak Airin ikut sekalian." "Iya pak sepertinya itu lebih baik. karena saya butuh cepat tempat tinggal." "Baiklah. Besok pagi kita berangkat. Jarak dari desa ke kota cukup jauh." "Iya Pak. terima kasih Bapak dan Ibu sudah menerima saya dan membantu saya." Ucapku dengan tulus. Baru kali ini ada orang yang benar-benar baik kepadaku. "Ini sudah malam sebaiknya nak Airin istirahat, besok pagi kita berangkat kekota," "Baik, Pak..." Setelah itu aku beristirahat karena memang aku sangat lelah. keesokan paginya kami bertiga berangkat ke kota untuk menemui pemilik rumah dan Alhamdulillah si pemilik ternyata orangnya sangat baik dan ramah. Pak Soleh adalah pemilik rumah itu. "Pak, apakah rumahnya tidak bisa kurang?"tanya Pak Rt kepada sipemilik rumah dengan sopan "Bisa saja kurang, Pak Rt," "Ini yang mau beli, anak Pak Budi," "Pak Budi?" "Iya, Pak Budi yang dulu pergi dari desa itu lho Pak Soleh, masak pak Soleh lupa," Pemilik rumah itu diam sejenak, sepertinya sedang mengingat sesuatu. "Oh, iya, baru ingat saya Pak, Pak Budi yang selalu ringan tangan itukan?" "Iya, Pak Soleh," "Keluarga saya banyak berhutang budi kepada keluarga pak Budi," "Nah, yang mau beli rumah itu adalah ini Airin anak pertama pak Budi," "Wah, kebetulan sekali ya, dunia ini memang sempit ya Pak Rt," "Betul itu Pak Soleh, bagaimana Pak? Kira-kira bisa tidak harganya sedikit turun, kasihan Nak Airin ini baru pisah dari suaminya dan sekarang dalam kondisi hamil, jadi uangnya tidak cukup jika harus bayar segitu," Pak Soleh diam sejenak, lalu tersenyum kearah kami. "Baiklah, harganya saya kasih lima puluh juta saja dan masalah pembayarannya bisa dicicil tiga kali, bagaiamana pak Rt? Hitung-hitung saat ini waktunya saya balas jasa kebaikan kelaurga pak Budi," "Bagaimana Nak Airin?" Aku tersenyum mendengar ucapan pak Soleh. Aku sangat senang karena akhirnya permasalahan ini terpecahkan. "Iya, Pak, Saya setuju, dengan cara dicicil, jadi saya tetap bisa buka usaha kecil-kecilan," "Nah, karena Nak Airin sudah setuju jadi kita deal inia ya?"ucap Pak Rt kepada kami berdua. "Iya, Pak, Deal."Jawabku serempak dengan pak Soleh. Beliau mau menurunkan harganya dan aku juga di perbolehkan mencicil dengan tiga kali bayar, ya Allah terima kasih banyak sudah mempertemukan aku dengan orang-orang yang sangat baik ini "ucapku penuh syukur dalam hati" Setelah semua urusan selesei kami langsung pulang, karena pak Rt mau ada pekerjaan. Bu Rt membantuku membersihkan rumah yang tadi aku beli. Rumah ini memang sangat sederhana namun aku merasa nyaman. "Nak, kamu catat saja apa saja yang ingin kamu beli untuk mengisi rumah, nanti biar Ibu yang belanjakan," "Apakah tidak merepotkan?" "Tidak, Nak, kasihan kamu sedang hamil muda tidak boleh terlalu capek," "Terima kasih banyak ya Bu," "Sama-sama Nak," Setelah selesai membersihkan rumah, aku lalu menuliskan apa saja yang ingin aku beli seperti, sembako, piring, gelas, kompor dan peralatan memasak, kasur dan keperluan mandi. Aku memang untuk sementara hanya membutuhkan itu saja, karena kasihan Bu Rt jika harus belanja banyak bahan. Takutnya ada pekerjaan yang tertunda karena harus membantuku. Waktu berjalan begitu cepat, Sudah empat bulan aku menempati rumah ini dan aku juga sudah membuka toko kecil-kecilan didepan rumah. Disini tokoku lumayan rame, karena memang di desa ini hanya tokoku yang menjual sembako, token listrik dan pulsa. Jadi, warga desa sini tidak harus pergi ke desa sebelah untuk membeli keperluan mereka. Aku bersyukur rumah ini sudah lunas. Jadi sertifikat pun sudah atas namaku. Usia kandunganku sudah menginjak lima bulan dan sudah sangat aktif bergerak. Jujur kadang aku merasa sangat kesepian. Jika aku mulai suntuk aku akan membuka ponselku untuk melihat foto mas Ikhsan. Rindu sudah pasti, aku rindu dengannya, tapi aku tidak mau bodoh dengan kembali lagi kepadanya. Aku yakin mereka pasti melakukan segala cara untuk mencariku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka sampai menemukanku. Pagi itu aku harus ke kota karena banyak stok barang yang habis dan sekalian aku mau memeriksakan kandunganku. Aku menyewa mobil orang desa sebelah, karena di desa ini belum ada yang memiliki mobil. Setelah sampai di toko tempat biasa aku memesan barang, aku langsung menyerahkan catatan apa saja yang aku butuhkan. Karena cukup lama menyiapkan barang pesananku, aku lalu pergi ke klinik tempat dimana aku biasa memeriksakan kandunganku. Setelah Dokter memeriksa kandungan ku dan aku selesei menebus vitamin, aku lalu kembali ke toko tadi. Namun ketika aku hendak turun, mataku melihat sosok seorang laki-laki yang sangat aku kenal yaitu mas Ikhsan sedang berdiri dengan dua orang laki-laki yang bertubuh kekar. jantungku berdegup kencang ketika melihatnya, keringatku mengucur deras membasahi keningku. Aku benar-benar takut saat ini. Apakah Mas Ikhsan tahu jika aku ada di sini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN