Titip Benih
BAB 14
Aku benar-benar takut. Bagaimana jika mas Ikhsan menemukanku?
Aku meminta supir untuk segera pergi dari toko itu.
"Pak Slamet. Ayo kita pergi dari toko ini."
"Lho! kenapa yo Nduk?"
"Tolong pak, kita pergi dulu dari sini."
"Kamu kenapa kok terlihat ketakutan seperti itu?"
"Tidak ada apa-apa Pak, ayo kita pergi saja,"
"Tidak apa-apa bagaimana? Wajahmu itu lho pucat sekali, apa yang kamu takutkan?"
"Tidak ada Pak, ayo kita pergi saja dari sini,"
"Ya sudah, ayo,"
Lalu Pak Slamet menyalakan mesin mobil dan kami melaju pergi meninggalkan toko itu.
Aku menghubungi pemilik toko,meminta mereka mengantarkan barang pesananku.
"Mas, maaf tadi saya buru-buru ada kepentingan mendadak, tolong nanti barang pesananku antar kerumah ya,"
"Aduh, Bu bagaiamana ya, rumah ibu terlalu jauh,"
"Tenang saja Mas, saya akan membayar ongkos kirimnya kok,"
"Tapi, terlalu mahal lho Bu ongkosnya,"
"Tidak masalah Mas, tolong antar saja, nanti saya kirim alamatnya lewat pesan,"
"Baiklah kalau Ibu mau membayar ongkosnya,"
"Iya, Mas, terima kasih,"
"Sama-sama, Bu,"
Awalnya mereka menolak karena jaraknya yang cukup jauh. Tapi karena aku mau membayar jasa pengiriman lalu mereka menyetujui untuk mengantarkan barangku. Jadi aku tinggal menunggu barangku sampai rumah, dari pada aku harus mengambil ke toko dan mas Ikhsan masih ada disana, bisa-bisa aku ketangkap olehnya.
Setelah sampai rumah, aku langsung masuk kedalam kamar. Aku kunci semua pintu, jendela dan bahkan tokoku tidak buka hari ini. Aku masih terbayang dengan mas Ikhsan tadi, rasa takut menghantuiku.
Jantungku masih berdegup kencang. Aku lalu mencoba untuk menenangkan diri ku. Aku yakin jika Mas Ikhsan tidak mungkin mengetahui keberadaanku.
Mungkin Mas Ikhsan sedang ada pekerjaan di kota ini, jadi dia ada di kota ini dan bukan untuk mencariku, aky tanamkan pikiranku seperti itu agar rasa takut yang menghantuiku segera hilang. Aku yakin jika mas Ikhsan tidak akan berpikir jika aku ada dikota ini. Apalagi jarak dari toko tadi kedesa cukup jauh. Jadi mustahil mas Ikhsan akan menemukanku. "Airin kamu aman jangan takut"gumamku
Magrib barang pesananku datang. Aku meminta mereka untuk menurunkan barang itu di dalam rumah, karena aku memang tidak memiliki gudang penyimpanan. Jadi rumahku lah yang menjadi gudangnya, to aku tidak pernah menerima tamu jadi tidak masalah jika didalam rumahku terisi penuh barang dagangan.
Setelah selesai menurunkan barang dan cukup beristirahat, mereka pamit kembali ke toko. Aku lalu membayar jasa mereka dan setelah itu mereka pamit untuk kembali ketoko.
Setelah kepergian mereka, aku kembali masuk kedalam rumah dan langsung menguncinya.
Setelah kejadian itu aku menutup toko selama tiga hari untuk menenangkan diri, setelah merasa diriku aman dan tenang, aku baru membuka toko kembali.
Banyak warga yang bertanya kepada ku, mengapa aku menutup toko, mereka khawatir jika aku sakit. Memang aku orangnya menyendiri jadi mereka sangat mengkhawatirkan kondisiku.
Tapi, setelah aku memberikan alasan yang masuk akal, akhirnya mereka mengerti dan tidak banyak bertanya lagi
Aku mulai melakukan rutinitasku seperti biasa. Pagi setelah sholat subuh aku biasanya berjalan kaki keliling kampung untuk berolahraga, sambil membeli sayur.
Setelah itu aku akan langsung membersihkan rumah dan memasak, Setelah selesai semua aku mandi dan setelah itu baru aku membuka toko. Jadi aku tidak bolak-balik masuk kedalam rumah lagi.
Karena kandunganku sudah mulai besar jadi gerakanku pun terbatas.
Aku sangat bahagia tinggal di desa ini, banyak orang yang peduli denganku. Mereka tidak mempermasalahkan kondisi ku yang hamil namun tidak ada suami yang menemaniku. Mereka juga tidak pernah memandangku sebelah mata, bahkan mereka juga tidak ada yang berpikir buruk tentangku.
?????????????
Ikhsan
Aku sampai di kota kecil ini. Sebenarnya aku sangat malas datang ke kota ini.
Aku membawa dua orang suruhanku untuk mencoba mencari Airin. Entah mengapa firasatku mengatakan jika Airin ada di kota ini.
Aku meminta orang suruhanku untuk mencari orang sebanyak mungkin agar bisa segera menemukan Airin.
Jujur aku mulai memiliki rasa terhadap Airin, setelah dia pergi meninggalkanku. Baru terasa jika aku juga mencintainya. Betapa b*d*hnya aku kenapa baru menyadarinya setelah dia pergi meninggalkan aku.
Aku juga sangat khawatir bagaimana dengan keadaannya saat ini?
Sudah satu minggu aku disini dan aku juga sudah menyelesaikan masalah di kantor cabang.
Entah mengapa aku enggan untuk kembali. Aku ingin disini untuk beberapa hari lagi.
Sore itu orang suruhanku memberitahu ku jika mereka tahu dimana keberadaan Airin.
Aku sangat senang ketika mereka mengirimkan sebuah video di mana Airin sedang melayani pembeli dengan senyum yang mengembang. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia. Aku jadi tidak tega jika orang suruhanku membawa paksa Airin.
Lalu aku memutuskan untuk diam-diam datang ke desa yang mereka sebutkan.
Setelah sampai desa itu entah mengapa aku jadi sedikit ragu untuk menemui Airin.
Akhirnya aku hanya melihat dari kejauhan. Aku lihat Airin sedang sibuk di toko sedang bercerita dengan seorang wanita. Terlihat mereka sangat akrab. Aku bahagia karena melihat perut buncit Airin.
Aku senang ternyata Airin tidak menggugurkan kandungan itu. Aku tidak mau menganggu Airin untuk sementara waktu, biarlah Dia bahagia dengan apa yang sekarang dia jalani.
Aku lalu memerintahkan orang suruhan ku untuk terus mengawasi Airin.
"Awasi Nyonya Airin dengan baik dan jangan sampai dia curiga."
"Baik Tuan."
"Laporkan apa saja kegiatan Nyonya kepada saya. Ingat! Hanya kepada saya jangan sampai Nyonya Laras tahu jika kita sudah menemukan Nyonya Airin."
"Baik Tuan."
"Ini ada uang, kamu cari rumah untuk kalian tinggal selama memantau Nyonya. Ingat! Saya tidak mau kalian sampai lalai atau sampai ketahuan jika kalian adalah orang suruhan saya!"
"Beres Tuan. Kami bisa memanfaatkan warga yang memberi tahu kami tentang keberadaan Nyonya."
"Apakah kalian bisa menjamin jika orang itu tidak akan membongkar siapa kalian?"
"Tidak Tuan. kami akan mengontrak rumahnya dengan harga mahal, pasti dia mau dan bisa menjaga rahasia."
"Baiklah kalau begitu. Saya percayakan Nyonya kepada kalian. Dan ingat rubah cara berpakaian kalian. Agar Nyonya Airin tidak curiga terhadap kalian."
"Baik, Tuan,"
Setelah itu aku kembali ke hotel. Aku bisa beristirahat dengan tenang karena Airin sudah aku temukan.
Untuk sementara aku tidak akan memberi tahu Laras jika aku sudah menemukan Airin.
Aku tidak bisa memejamkan mata, lalu aku melihat lagi video dimana Airin sedang tertawa lepas seperti tidak ada beban dalam hidupnya. Wajah bahagia inilah yang tidak pernah aku lihat selama ini.
Keesokan paginya aku kembali pulang, karena Laras sudah marah-marah karena aku tak kunjung balik dari luar kota.
Aku menyembunyikan ponsel yang ada foto dan video Airin di kantor. Karena jika aku bawa pulang takut ketahuan oleh Laras.
Setelah sampai rumah. Laras langsung memberondongku dengan pertanyaan.
"Mas! Kenapa lama sekali kamu baru pulang?"
"Maaf Sayang... Masalah di kantor cabang cukup banyak jadi sedikit lama."
"Bagaimana dengan orang suruhanmu, sudah ada kabar tentang wanita si**an itu!"
"Belum sayang... Mas juga sangat prustasi, dimana lagi kita harus mencari Airin."
"Ya sudah. Biar aku kerah kan orang suruhanku." Aku sangat terkejut mendengar ucapan Laras.
"Sudah sayang... Biar orang suruhan Mas yang mencari Airin. Kamu fokus saja dengan pekerjaanmu." Bujuk ku.
"Mas! Sebentar lagi anakku lahir jadi aku tidak bisa diam saja begini. Pokoknya aku akan mengerahkan orang suruhanku untuk mencari Airin!"
"Tidak usah sayang... Biarlah mas saja yang mengurus hal itu."
"Kamu kenapa Mas? seharusnya kamu senang aku membantu mencari Airin agar cepat ketemu! atau jangan-jangan kamu yang menyembunyikannya!"
"Tidak lah sayang... untuk apa Mas membuang uang banyak untuk mencarinya jika Mas yang menyembunyikan Airin."
"Habis kamu aneh. Aku mau bantu tapi kamu larang jadi wajar dong jika aku curiga."
"Ya sudah silahkan jika kamu ingin membantu mencari Airin."
Akhirnya aku mengalah, karena aku tidak mau jika Laras sampai curiga.
Keesokan paginya seperti biasa. Aku sibuk dengan pekerjaan ku sedang kan Laras sedang sibuk menyuruh orang suruhannya untuk mencari keberadaan Airin.
Ketika sampai kantor, aku langsung menyalakan ponsel yang aku sembunyikan dari Laras.
Ada beberapa foto Airin yang orang suruhanku kirim. Mereka memberi tahuku jika rumah dan toko itu milik Airin.
Aku sebenarnya sangat sedih melihat Airin tinggal di rumah yang aku bilang tidak layak, Dia harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya.
Lalu aku mencoba untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening Airin dan ternyata sukses terkirim. Jadi Airin masih mengaktifkan nomor rekeningnya.
Aku terus menyuruh orang suruhanku untuk memantau Airin.
Aku tidak ingin kehilangan Airin lagi, Terutama anakku.