Sudah dua hari Derris tidak bertemu dengan Hana. Ia memutuskan untuk tidak menunggu Hana di halte dan juga tidak menemui Hana ke kelasnya. Derris sedang menyusun strategi apa yang cocok untuk membuat Hana kembali menjadi pacarnya.
Rian yang biasanya tidak pernah ikut campur merasa sahabatnya kini menjadi pendiam dan sering terlihat seperti sedang berpikir dengan sangat keras.
"Bro. Kalo ada masalah cerita aja. Jangan suka mendem gitu ntar jadi penyakit." gurau Rian yang membuyarkan lamunan Derris.
"Iya bener. Biasanya juga ngga pernah ikut kumpul bareng kita di kantin." tambah temannya yang bernama Romi.
Derris tersenyum pahit. Memang benar perkataan temannya. Selama ini ia tidak pernah menghabiskan waktunya bersama teman-temannya. Ia lebih sibuk memilih mengejar Hana yang cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Pasti abis di putusin, kan?" tebak Romi sambil tertawa pelan.
Derris ikut tertawa miris dan tidak menjawab. Ia lebih memilih menghabiskan jus jeruknya. Romi yang tidak mendapat jawaban dari Derris sejak tadi tak pantang menyerah. Ia tetap melanjutkan pertanyaannya.
"Cantik ya?" tanya Romi dan mendapat anggukan kecil dari Derris. "Pantesan di kejar-kejar terus. Lagian cewek itu ngga suka terus di kejar apalagi di paksa." lanjut Romi.
Derris mulai sedikit tertarik dengan ucapan Romi, ia pun mengangkat kepalanya dan menatap Romi. Romi yang sudah mendapat respon dari Derris tersenyum simpul.
"Mau saran dari master percintaan?" tanya Romi sambil melipat kedua tangannya di depan d**a dengan angkuh.
"Jangan di denger, dia aja ngga punya pacar." kata Rian pada Derris yang hanya mendapat senyuman lebar.
"Pacar memang sih belum punya. Cuma lagi on the way." gurau Romi yang mendapat pukulan kecil dari Rian.
Dan akhirnya Rian dan Romi malah sibuk saling mengejek lalu mengalihkan pembicaraan mengenai game yang saat ini sedang ramai di perbincangkan, Derris pun pamit kepada mereka untuk kembali kelas.
Derris memilih berjalan ke arah kelas Hana dan ingin melihat keadaan Hana hari ini. Rasa rindu yang dalam membuat Derris nekat memasuki kelas Hana yang cukup ramai.
Hana yang sedang melihat ponselnya lalu mendongak menantap Derris tanpa minat. Lalu kembali melihat ponselnya.
"Hana." ucap Derris pelan. Tak ada jawaban dari Hana, Derris pun melanjutkan. "Aku ingin bicara sebentar"
"Aku sibuk." jawab Hana langsung.
"Hanya sebentar saja." pinta Derris.
"Tidak ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Jadi pergi sekarang juga." usir Hana.
Derris hanya diam sedang mempertimbangkan apakah ia harus terus memaksa Hana agar mau berbicara sebentar dengannya atau memilih pergi dan kembali lagi kesini? Derris merasa dilema. Ia pun menghembuskan nafasnya pelan. Lalu membalikkan badannya dan meninggalkan kelas Hana.
***
"Wah tidak biasanya dia langsung nurut begitu." kata Arin takjub yang kini telah berada di samping Hana.
Hana hanya mengangkat kedua tangannya. Hana pun sebenarnya tidak percaya bahwa Derris akan langsung pergi tanpa memaksa seperti biasanya. Tapi itu sudah bukan urusan Hana, harinya menjadi lebih damai setelah ia putus dengan Derris. Sudah tidak ada yang mengganggunya dan juga ponselnya tidak berisik seperti saat Hana masih berpacaran dengan Derris.
Mungkin kini Derris sudah sadar bahwa cintanya yang bertepuk sebelah tangan harus ia relakan. Derris memang menyebalkan, apalagi ia selalu membuat Hana malu dengan tingkahnya. Namun Derris bukanlah orang jahat, dia termasuk orang yang baik dan juga sabar saat menghadapi sifat Hana yang kasar. Mungkin dengan seperti ini Derris bisa sadar dan dapat menemukan orang yang akan benar-benar membalas rasa sukanya.
Istirahat kedua Hana, Sera dan Arin memutuskan untuk mengisi perutnya di kantin. Sesampainya di kantin Hana fokus mengedarkan pandangannya pada semua penjual makanan yang berada di kantin, sampai ia tidak menyadari bahwa Derris sedang memerhatikannya di meja paling ujung.
Setelah Hana membawa pesanannya, yaitu nasi dan soto ayam. Hana langsung memilih meja yang berada di belakang yang sejajar dengan deretan meja Derris. Hana sedang berbincang dengan Sera sambil memakan soto ayamnya. Derris terus menatap Hana yang kini sedang tertawa bersama Arin dan Sera. Derris pun akhirnya bangkit dan mendekati meja Hana dengan ragu.
"Hai." sapa Derris. Hana menengok pada Derris dan langsung mendapatkan tatapan sinis dari Hana. "Ini untukmu." Derris memberikan s**u coklat yang sudah di belinya sejak istirahat pertama namun belum sempat Derris berikan pada Hana.
Hana menggeser kembali s**u coklat itu pada Derris, dan berkata. "Aku tidak mau."
Derris menggeser kembali s**u itu pada Hana dan pergi tanpa berkata apapun lagi pada Hana. Hana pun bangkit dan mengikuti Derris yang kini sudah keluar dari kantin dan menuju ke koridor.
"Sumpah ya ini orang bikin emosi." geram Hana sambil terus berjalan cepat mengimbangi jalan Derris yang langkahnya lebar.
Hana pun akhirnya setengah berlari dan setelah di rasa cukup dekat jaraknya dengan Derris, Hana pun memanggil dan menyuruh Derris untuk berhenti. Derris pun seketika berhenti dan membalikkan badannya. Hana kemudian ikut berhenti, kini jaraknya dan Derris hanya sekitar lima langkah. Hana mengatur nafasnya yang sedikit memburu.
Beberapa detik Hana mengatur nafasnya lalu ia berjalan ke arah Derris dan langsung memberikan s**u coklat itu ke tangan Derris.
Derris yang bingung pun berkata, "Hei. Tidak usah di kembalikan." lalu memberikannya pada Hana.
"Kamu paham kan dengan kata 'Tidak'?" ada penekanan di kata terakhir yang Hana ucapkan dan Hana memberikan kembali s**u itu pada Derris.
Seketika mereka menjadi tontonan para siswa yang melewati koridor tersebut. Beberapa ada melirik mereka sambil bisik-bisik lalu ada pula yang dengan terang-terangan menonton perbedatan mereka. Malah mungkin ada juga yang bertaruh siapa yang akan menjadi pemenangnya.
Hana menghebuskan nafas setelah tujuannya selesai Hana pun berkata, "Aku pergi." lalu membalikkan badannya. Langkahnya terhenti karena sebelah tangan Hana di tahan oleh Derris. Hana pun lalu berbalik menghadap Derris
"Tunggu. Aku hanya ingin memberimu ini tidak ada maksud lain." kata Derris.
Hana lalu menarik tangannya yang sedang di pegang Derris. "Aku tidak mau menerimanya."
"Ayolah Hana. Aku sudah memberikannya padamu. Jadi tidak mungkin aku terima kembali." bujuk Derris.
"Aku bilang aku tidak mau." pekik Hana.
Derris yang sedari tadi menahan rasa sabarnya akhirnya kesal pada Hana lalu membuang s**u coklat itu dengan kasar. Hana yang kaget hanya bisa terdiam.
"Puas?" geram Derris sambil menatap tajam pada Hana. "Dari awal aku tahu kamu hanya mempermainkan aku."
"Kita su.."
"Aku tahu kita sudah putus. Aku juga cuma mau memberi ini saja padamu." tunjuknya pada s**u coklat yang sudah Derris buang. "Dasar gadis tidak punya hati." kata Derris sambil berlalu meninggalkan Hana yang masih terpana dengan perkataan Derris yang menyebutnya dengan tidak punya hati.
Sera dan Arin yang tak berapa lama menyusul Hana. Melihat semua kejadian itu dan ikut terpana, untuk pertama kalinya mereka melihat Derris marah dan mengatai Hana tidak punya hati. Sebenarnya Sera sudah menduga pasti suatu saat Derris akan marah dengan sikap Hana selama ini. Namun Sera tak menduga, Derris akan melakukan hal itu di koridor sekolah dan dengan keadaan yang sangat ramai.
Akhirnya Sera dan Arin menghampiri Hana yang masih terpaku di tempatnya. Sera menyentuh pelan bahu Hana. Hana pun menengok pada Sera sambil tersenyum pahit.
Jujur saja, Hana tidak pernah berpikir akan di perlakukan seperti ini oleh mantannya. Ia sadar sejak awal sudah salah karena menerima perasaan Derris dan selalu berlaku kasar padanya. Ini karmanya kata Hana dalam batinnya.
"Hana, ayo kita kembali ke kelas." bisik Sera pelan, ia sangat khawatir dengan Hana yang masih sedikit kaget dengan kejadian barusan. Hana hanya menjawab dengan anggukan. Dan mereka pun kembali ke kelas.
***
Setelah kejadian itu, setiap Hana bertemu dengan Derris di halte bis maupun di sekolah. Derris selalu menatap tajam kepadanya sambil berkata 'gadis tidak punya hati'. Akhirnya Hana memutuskan untuk sebisa mungkin tidak berpapasan dengan Derris.
Hari ini Sera izin tidak masuk karena sedang sakit. Langit yang gelap sejak siang akhirnya menurunkan hujan yang cukup deras. Hana terus mendesah menatap hujan yang sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
Hana menyesal tidak menuruti ibunya yang menyuruh Hana membawa payung sebelum berangkat sekolah tadi pagi. Akhirnya kini Hana harus menunggu hujan reda, di koridor dekat gerbang sekolahnya bersama siswa yang juga sama sedang menunggu hujan berhenti.
"Ini ambilah." kata seseorang di belakang Hana. Hana pun seketika menengok dan mendapati Derris sedang menyodorkan payung berwarna hitam kepadanya.
Sudah beberapa hari Hana tidak bertemu dengan Derris, usahanya menghindari Derris berhasil. Namun sepandai-pandainya Hana menghidar dari Derris, ia pasti akan bertemu juga dengan Derris karena mereka masih satu sekolah.
Hana pun tak menjawab lalu membalikan kepalanya dan kembali menantap hujan.
Derris mengusap mukanya dengan kesal. "Cepat ambil." kata Derris sambil menahan dirinya agar tidak meledak seperti tempo hari. Derris memang marah dengan sikap Hana, namun rasa sukanya pada Hana amatlah lebih besar sehingga membuat Derris kini menghilangkan egonya dan menawarkan payungnya untuk di pakai Hana.
"Aku tidak butuh payungmu." kata Hana angkuh.
Gadis keras kepala, pikir Derris.
Derris menarik nafas pelan. "Hana, aku hanya ingin memberikan payung ini dan tidak ada maksud lain. Jadi tolong jangan keras kepala." pinta Derris.
"Aku tidak mau." bentak Hana.
Payung yang di pegang Derris ia lempar ke depan Hana dan jatuh tepat di genangan air hujan. Hana terlonjak lalu menengok ke belakang dan menatap Derris dengan tajam. Hana yang tidak ingin berurusan kembali dengan Derris memilih berlari ke arah halte menerjang hujan yang deras.
Rian yang sejak awal berada di belakang Derris berkata, "Kasar amat. Buruan kejar sana." sambil menepuk bahu Derris.
Derris mendesah lalu memungut payung yang ia lemparkan tadi. "Sial." umpatnya sambil berlari hujan-hujanan mengejar Hana.
Di halte Hana sedang duduk sambil memeluk tas gendongnya yang berwarna putih bersama dengan tiga siswi lain yang juga sedang menunggu. Derris perlahan mendekati Hana dan berdiri di sampingnya. Tidak ada yang memulai pembicaraan keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Bis yang di tunggu pun tiba. Derris dan Hana lalu menaiki bis tersebut. Keadaan bis cukup sepi, Hana memilih duduk di kursi belakang dekat kaca. Derris yang duduk di samping Hana terus memerhatikan Hana yang terus saja menatap keluar kaca yang menampilkan hujan yang semakin deras.
"Maaf." gumam Derris. Tak ada respon dari Hana, Derris pun memilih untuk diam.
Lima belas menit kemudian, bis sampai. Mereka pun turun dari bis. Derris dengan sigap langsung membuka payung dan memayungi Hana.
Hana tidak menolak dengan perlakuan Derris. Hana sudah cukup lelah dengan hari ini yang banyak menguras tenaganya. Hana melirik sekilas pada Derris, dan Hana sedikit kaget melihat sebagian badan Derris yang basah terkena air hujan. Badan Derris hanya sedikit yang masuk ke dalam payung dan jarak mereka hanya dua jengkal. Seperti bukan Derris, yang biasanya selalu menempel dan ingin terus berdekatan dengan Hana. Payung itu memang tidak terlalu besar, namun cukup untuk tidak membuat badan mereka basah.
Sesampainya di depan pagar rumah Hana, Derris yang akan pamitan di tahan oleh Hana. Derris menurut lalu Hana berlari kecil memasuki rumahnya. Dua menit kemudian Hana kembali dan menyuruh Derris untuk masuk ke dalam teras rumahnya.
"Pakai ini." kata Hana sambil menyerahkan sweter berwarna hitam. Derris yang bingung dengan perlakuan Hana langsung menuruti perintah Hana. "Ambil ini juga. Dan kamu jangan sampai sakit." ancam Hana lalu memberikan kantong plastik putih kecil pada Derris.
Derris mengangguk pelan. "Oke makasih. Aku pergi."
"Hmm. Derris," panggil Hana pelan. Hana menunduk terlihat ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Ia pun mengangkat kepalanya, menarik dan menghembuskan nafas perlahan. "Maafkan aku." bisik Hana.
Suara Hana sangat kecil nyaris tidak terdengar, namun Derris mendengar dengan jelas bahwa Hana sedang meminta maaf padanya. Ingin rasanya Derris menggoda Hana agar ia mau mengulang kata maafnya kembali. Namun sudah cukup satu bulan ini ya mengenal Hana, alih-alih mengulang kata maafnya Hana mungkin akan lebih memilih berkata kasar atau lebih parah akan mengusirnya.
Derris tersenyum kecil lalu mendekati Hana dan tanpa di sangka, Derris mengusap kepala Hana dengan sayang. "Aku juga minta maaf."
Tanpa sadar Hana pun ikut tersenyum kecil. Merasa kini rasa bersalahnya pada Derris sedikit berkurang. Derris pun akhirnya pamit untuk pulang.