Sebuah Pertanggungjawaban

1066 Kata
[Sampai jam segini kamu belum datang? Apa kamu ingin bermain-main denganku, Kasih?] Kasih menelan salivanya dengan susah payah ketika mendapat pesan dari Gilang. Memang dia berniat tidak akan mendatangi pria itu. Alasannya karena hari ini mood dia benar-benar buruk karena ulah suaminya. Beberapa kali Gilang menghubunginya, tapi selalu Kasih abaikan. Dia pikir nanti ketika ditanya oleh Gilang, dia bisa saja mencari alasan. Tapi, isi pesan Gilang kali ini mampu membuat nyalinya menciut. Sepertinya Gilang mengetahui kalau dirinya tengah menghindari pria itu. [Aku sedang tidak enak badan. Lain kali saja aku menemuimu.] Tangan Kasih gemetar ketika mengetik pesan tersebut. Dia sangat berharap jika Gilang akan mengerti. Namun, matanya terbelalak ketika dia mendapat balasan pesan dari Gilang. [Benarkah? Aku sudah berada di depan rumahmu, cepat buka pintunya, jangan banyak alasan!] Kasih langsung beranjak dari tempat tidurnya, dia mendekati jendela untuk melihat apakah benar Gilang berada di depan rumahnya atau tidak. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat sebuah mobil terparkir tepat di depan rumahnya, sudah dia pastikan bahwa itu punya pria itu. Apalagi saat ini para tetangga selalu melihat ke rumahnya, tak luput dari penglihatan Kasih mereka tengah berbisik-bisik. Kasih sangat yakin bahwa saat ini tengah menjadi bahan gibah dari mereka. Kasih tersentak kaget karena mendengar ponselnya berbunyi. Dengan takut dia mengangkat panggilan tersebut. Ketika dia ingin membuka mulut, Gilang lebih dulu memotong pembicaraannya. "Masih ingin mengabaikanku, heh? Cepat buka pintunya." "Oke, oke. Tunggu sebentar," kata Kasih cepat. Wanita itu langsung mematikan sambungan teleponnya, lalu buru-buru melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Tepat berada di depan pintu, Kasih menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan kasar. Dia pun membuka pintu itu secara perlahan, tak lupa juga dia memberikan senyuman kikuk pada Gilang. "H-hai," sapa Kasih gugup. Gilang tak menjawab, dia meneliti tubuh Kasih dari atas sampai bawah, dahinya mengernyit heran. "Sepertinya kamu baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda sakit," sindir Gilang. Kasih mengusap tengkuknya sambil meringis. "Itu, sebenarnya aku tadi lagi--" "Siapa yang datang, Nak?" Kasih gelagapan ketika ibunya tiba-tiba saja mendekat ke arahnya. 'Aduh, kenapa jadi seperti ini sih, ini gimana jawabnya,' keluh wanita itu dalam hati. "Siapa ya?" tanya Mutia, karena tak mendapat jawaban dari Kasih, akhirnya dia bertanya pada Gilang. "Saya Gilang," jawab pria itu sambil mengulurkan tangannya pada Mutia. Mutia ingin bertanya lebih. Namun, tak sengaja dia melihat segerombolan ibu-ibu tengah menatapnya seraya berbisik-bisik, membuat Mutia mengurungkan niatnya. "Kalau begitu silakan masuk, kita ngobrolnya di dalam aja," ajak Mutia. Tanpa berlama-lama Gilang pun langsung masuk, sebelum dia menjauh dari Kasih, Gilang sempat mencengkram pundak Kasih dengan erat, membuat Kasih meringis kesakitan. "Jadi begini, maaf kalau saya bertanya langsung pada intinya, maksud kedatangan Anda ke sini ada apa, ya? Apa kami memiliki utang pada Anda?" tanya Mutia, menatap Gilang harap-harap cemas. Pasalnya, setiap ada orang yang bertamu ke rumahnya, pasti orang-orang penagih hutang, masalahnya Mutia sangat kenal siapa-siapa saja orang yang dia pinjami uang. Untuk kali ini Mutia tidak merasa pernah meminjam uang pada pria yang saat ini tengah duduk di hadapannya. Gilang berdeham sejenak, melirik Kasih dengan sinis. "Masalahnya bukan utang-piutang. Tapi sebuah pertanggungjawaban." "Tanggung jawab? Apakah keluarga kami punya salah dengan Anda?" tanya Mutia bingung. Kasih menutup matanya rapat-rapat, tangannya sudah mulai berkeringat, bahkan gerak-geriknya menandakan bahwa saat ini dia tengah gugup. "Ya, pekerjaan--" "Sebenarnya dia itu Bosku, Bu," sela Kasih cepat. Jawaban Kasih membuat Gilang dan Mutia langsung menoleh ke arahnya, Kasih makin gugup ketika mendapat tatapan tajam dari pria itu. "Bos? Kamu kerja?" Terlihat sangat jelas bahwa saat ini wajah Mutia sangat bingung. "Iya, dia saat ini kerja sama saya. Saya sama dia menjalin partner--" "Iya, Bu. Aku kerja sebagai asisten rumah tangga, dan dia adalah Bosku." Lagi-lagi Kasih menyela ucapan Gilang. Wajahnya tampak memerah. 'Nggak, ini nggak bisa dibiarkan. Aku harus secepatnya bawa dia pergi dari sini. Dia sangat berbahaya. Bagaimana nanti kalau ibu kenapa-napa karena ucapannya? Dan lagi, masalah kerjaan nggak ada boleh yang tahu kalau aku membuat kesepakatan dengan dia,' batin Kasih. Kasih bangkit dari duduknya. "Bosku datang ke sini karena hari ini aku tidak datang ke rumahnya untuk bersih-bersih. Iya, kan, Pak?" tanya Kasih sambil memberi kode pada Gilang, agar pria itu mengiyakan ucapannya. Sayangnya yang diberi kode itu hanya diam saja, tapi kerutan di dahinya terlihat jelas, Gilang tampak bingung. Kasih akhirnya menarik tangan Gilang agar berdiri dari duduknya. "Bu, aku harus pergi dulu. Secepatnya aku akan kembali, jangan lupa obatnya diminum," ucap wanita itu sambil menjauh, menggandeng tangan Gilang dengan terpaksa. Ketika mereka sudah berada di depan rumah, barulah Kasih melepaskan tangan pria itu. "Kamu ngapain datang ke sini?" erang Kasih. "Kamu ngapain nggak datang?" tanya Gilang balik sambil melipatkan kedua tangannya di d**a. "Aku lagi sibuk, ibu aku baru aja pulang dari rumah sakit, jadi aku harus jagain dia. Harusnya kamu ngerti dong." Gilang menggeleng pelan sambil tertawa sinis. "Jangan karena aku belum menyentuhmu, kamu berbuat seenaknya padaku. Ingat, Kasih. Kamu sudah memakai uangku, jadi kamu harus--" "Iya, aku tahu. Aku nggak bakal lari dari tanggung jawab, kok. Cuma waktunya aja yang nggak tepat. Kamu minta aku datang ketika ibu aku baru keluar dari rumah sakit." "Terus kenapa kamu bilang nggak enak badan? Bukankah itu sebuah alasan. Pokoknya aku nggak mau tahu, sekarang kamu harus ikut denganku!" tegas Gilang. Kasih menghela napas panjang. "Oke, aku akan ikut kamu. Tunggu sebentar, aku mau ambil tas dulu. Tolong jangan melakukan apapun di sini. Lihat sekarang, kita sudah menjadi pusat perhatian banyak orang." Gilang mengedikkan bahunya acuh. "Aku nggak peduli, selagi kamu masih cari alasan, aku nggak akan segan-segan bicara dengan keras di sini kalau kamu--" "Iya-iya, aku masuk ke rumah cuma mau ambil tas, nggak cari alasan. Tunggu aja bentar," potong Kasih seraya memutar bola matanya malas. Dia masuk ke dalam rumah tanpa menunggu persetujuan dari pria itu. "Ternyata aku salah karena sudah mengenal pria itu. Dia sangat menyeramkan, jauh dari seperti yang aku duga. Benar kata pepatah, menilai orang itu jangan dari sampulnya aja," gumam Kasih. Kasih cepat-cepat mengambil tasnya, takut kalau Gilang akan membuat kegaduhan. Dia bernapas lega karena melihat Gilang tengah duduk di depan rumahnya. Pria itu tampak asyik dengan ponselnya. Kasih menduga bahwa saat ini pria itu tengah berbicara melalui telepon. Wanita itu berniat ingin mendekati Gilang. Namun langkahnya seketika terhenti ketika mendengar pembicaraan dari pria itu. "Iya, Sayang. Kamu di sana juga jaga diri baik-baik, ya. Bye, Sayang. Love you." Kasih mencengkram tali tas itu begitu erat, rahangnya seketika mengeras. Dadanya tampak bergemuruh hebat, dan jangan lupakan dengan wajahnya yang sudah memerah seperti tengah menahan emosi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN