Kebelet Kawin

1139 Kata
Kasih masih terdiam ketika Gilang sudah menoleh ke arahnya. Wanita itu menatap Gilang dengan tatapan tak terbaca, begitu pun sebaliknya, Gilang juga menatap Kasih dengan senyum seringainya. "Sudah siap?" Kasih menelan salivanya dengan susah payah, dia ingin berkata tidak, tapi tidak bisa, suaranya tercekat. Gilang yang melihat wajah Kasih tampak tegang pun mengerutkan keningnya. "Are you oke? Apa kamu beneran tidak enak badan?" Kasih menggeleng, dia berdeham kecil untuk mengubah ekspresi wajahnya, berusaha keras untuk tersenyum, walaupun kaku. "Nggak, nggak apa-apa." "Kalau tidak bisa jangan dipaksakan," tegur pria itu. "Apa boleh lain kali saja?" tanya wanita itu dengan wajah berbinar. Ucapan Gilang merupakan angin segar untuknya. "Sayangnya tidak bisa. Karena aku sudah ngebet banget pengin kawin," sahut Gilang dengan santainya. Senyum Kasih perlahan memudar, dia menatap pria itu dengan malas. 'Tau gitu kenapa tadi ngomong seperti itu, kalau hasilnya juga sama aja,' gerutu Kasih dalam hati. "Yuk, aku nggak mau menunda lebih lama lagi, semakin cepat semakin bagus." Kasih menjawab dengan anggukan saja, dia mendekati mobil pria itu. Ketika dia ingin membuka pintu mobil di belakang, tiba-tiba saja tangannya dicekal oleh Gilang. "Kamu mau duduk di belakang?" "Iya, emangnya mau di mana lagi?" "Di depan! Enak aja, emangnya aku supir kamu," dengkus pria itu. "Oh, oke." Kasih langsung mengiyakan permintaan Gilang, wanita itu malas berdebat dengan pria itu. Sepanjang perjalanan Kasih larut dalam pikirannya. Masih bingung dengan jalan pikiran Gilang yang menurutnya sangat aneh. 'Sudah dua kali aku mendengar dia menyebut kata sayang. Apa dia tidak pernah merasa bersalah ketika main belakang dengan kekasihnya? Kalau dilihat-lihat, sepertinya dia cinta banget sama wanita itu. Tapi kenapa dia bisa mempunyai pikiran selingkuh? Padahal kalau dia kepengin juga bisa dengan wanitanya, kan? Kenapa harus dengan orang lain? Oke, nanti akan aku tanyakan saja padanya.' Batin Kasih bertanya-tanya. Kasih terlonjak ketika ada yang menepuk pundaknya, dia langsung menoleh ke samping. Dilihatnya Gilang tengah mengerutkan kening ke arahnya. "Dari tadi dipanggil-panggil kenapa diam aja?" "Hah? Oh, ini ... aku lagi ...." Kasih tampak kesulitan untuk berbicara, tiba-tiba saja pikirannya blank, dia hanya bisa menampilkan senyuman tipis. "Kenapa?" tanya wanita itu mengalihkan pembicaraan. "Kita sudah sampai, kamu tidak ingin turun?" Mata wanita itu mengerjap secara perlahan, dia melihat sekeliling tempat itu. "Ini di mana?" tanya Kasih bingung. "Rumahku, ayo turun." "Rumah kamu? Kamu ingin kita melakukannya di rumah kamu? Serius?" tanya Kasih dengan mata terbelalak. "Ada yang salah? Come on, di rumah itu hanya ada kita berdua, jadi kamu jangan takut." Gilang keluar dari mobil itu, dia membuka pintu mobil yang Kasih duduki, lalu mengulurkan tangannya. "Tidak usah, aku bisa sendiri," sahut Kasih. Wanita itu tidak menerima uluran tangan dari Gilang. Kasih pun turun dari mobil itu, dia mengikuti Gilang dari belakang. Tepat di depan pintu, Kasih langsung menghentikan langkahnya. Dia merasakan dadanya berdetak kencang. Seperti akan terjadi sesuatu, tapi Kasih sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi. Yang jelas, itu seperti sebuah firasat. 'Ya Tuhan, aku tahu ini adalah sebuah kesalahan besar, bukan hanya salah, tapi dosa juga. Tapi--' "Kamu ini kenapa sih dari tadi kuperhatikan selalu melamun?" tegur Gilang. Kasih menggeleng. "Ini salah, Gilang. Apa kamu nggak berpikir lagi, kalau kita akan melakukan kesalahan?" "Masih aja mikir kayak gitu. Ingat, kalau nggak karena aku, sampai saat ini mungkin ibumu masih berada di rumah sakit. Jadi aku mohon, untuk saat ini jangan banyak bicara. Lakukan saja pekerjaanmu dengan benar. Kamu dengan sadar menyetujui dan sudah menandatangani kontrak perjanjian itu. Masih mikir kalau kita salah?" tanya Gilang sambil tersenyum sinis. "Masalahnya nggak semudah itu, Gilang. Kamu tahu kalau aku ini udah punya suami, dan kamu, kamu juga udah punya kekasih, kan? Apa kamu nggak merasa bersalah kalau--" "Stop!" Geram Gilang. "Kita udah membicarakan hal ini jauh-jauh hari. Yang pasti di antara aku dan kamu juga sudah memikirkan bagaimana konsekuensinya. Sekarang masuk kamar, buka pakaian kamu, aku ingin melihatmu tidak memakai pakaian satupun!" ujar pria itu dengan tegas. "Gilang--" "Stop, Kasih. Aku tidak menerima bantahan! Cepat masuk kamar, dan turuti semua perintahku. Gini aja deh, kamu pilih di antara salah satu. Pilih buka sendiri pakaiannya, atau aku bukain secara paksa," ucap Gilang dengan senyum liciknya. "Gila!" umpat Kasih. "Di mana kamarnya?" "Tepat di depan kamu." Tanpa berlama-lama Kasih langsung masuk ke kamar itu. Dia menghentakkan kakinya dengan keras, karena terlalu sebal dengan Gilang yang tidak mau mendengarkan ucapannya. Di dalam kamar tersebut, Kasih tak menuruti perintah Gilang. Wanita itu malah meneliti ruangan itu dengan cermat. Setiap sudut tak luput dari penglihatannya, sesekali dahinya mengernyit heran. Tok ... tok ... tok .... Kasih terlonjak ketika mendengar suara ketukan pintu yang begitu keras. Sudah dia duga pasti Gilang yang melakukannya. "Kenapa lama sekali? Apa membuka baju sesusah itu?" Suara Gilang tampak menggelegar, membuat Kasih yang mendengarnya bergidik ngeri. "Iya, tunggu sebentar." Karena sudah tak sabar, pria itu membuka pintu kamar itu dengan kasar. Menatap Kasih dari atas sampai bawah, lalu menggeram kesal. "Kenapa belum dibuka? Atau kamu benar-benar ingin kupaksa rupanya, ya?" Kasih menggeleng cepat. "Nggak, itu nggak benar. A--aku akan melakukannya sekarang," ujar wanita itu gugup. Gilang manggut-manggut, dia melipatkan kedua tangannya di d**a. Terus menatap Kasih yang saat ini tengah membuka kancing blousenya satu-persatu. "Sialan! Bisa cepat dikit tidak? Jangan bertele-tele!" "Sabar," decak Kasih. "Sabar, sabar, sabar. Sudah lama aku ingin bercinta denganmu, tapi selalu ... arrggghh, kelamaan." Gilang mendekati Kasih, pria itu melucuti pakaian Kasih, saat ini Kasih hanya memakai pakaian dalam saja. Gilang yang melihatnya tersenyum puas. "Nah, kalau begini enak dipandang. Kenapa nggak dari tadi aja sih," keluh pria itu. Gilang mendekap tubuh Kasih begitu erat, mencium aroma tubuh wanita itu dengan kuat, memberikan sentuhan-sentuhan kecil untuk merangsang wanita itu. Gilang benar-benar sudah tidak tahan. Dia menangkup kedua pipi Kasih, lalu melumat bibir wanita itu begitu kasar, panas, dan menggairahkan, sampai-sampai Kasih kewalahan akibat ciuman itu. Ciuman itu perlahan berubah menjadi melembut, tangan Gilang sudah meraba ke mana-mana, dan kini dengan nakalnya tangannya meremas kedua gundukan milik Kasih. "Ouuhhhh. Gila, ini benar-benar gila," erang pria itu. Gilang merebahkan tubuh Kasih di ranjang. Pria itu juga ikut melepaskan pakaiannya satu persatu hingga saat ini tidak ada satu helai pun yang menempel di tubuhnya. "Aku mulai sekarang, ya. Aku beneran udah nggak tahan." Kasih hanya bisa mengangguk pasrah. Toh, dia tidak munafik karena dia juga menginginkan hal yang sama. Sudah lama dia tidak mendapat nafkah batin dari suaminya. "Sayang! Aku datang, surprise!" Baik Kasih dan Gilang sama-sama terlonjak kaget ketika mendengar suara lengkingan dari suara wanita yang berasal dari luar. Kasih langsung mendorong tubuh Gilang, dia menatap Gilang dengan sorot mata tajam. "Sial! Kenapa dia datang di waktu yang tidak tepat. Arggghhhh! Cepat pakai baju kamu," titah Gilang. "Kamu kenapa nggak bilang kalau pacar kamu bakal datang. Tau gitu ngapain aku dengerin ucapan kamu tadi," omel Kasih. "Masalahnya dia bukan pacar aku. Cepat pakai bajunya!" "Terus siapa? Mama kamu? Ya kali panggil kamu sayang." "Bukan, tapi istri aku," ujar Gilang sambil menjambak rambutnya. "APA?! ISTRI?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN