“Karena tak ada lagi yang di tanyakan maka aku akan menjelaskan apa saja yang ada di dalam zona ini!
Orang itu mulai menjelaskan apa saja yang tersedia di dalam tempat ini mulai dari stadion untuk kebugaran, tempat hiburan seperti karaoke dan klub, serta pusat perbelanjaan yang amat sangat lengkap dengan poin sebagai mata uangnya. Poin tersebut di dapatkan saat masih berada di Game Survival sebelumnya dan meningkat dengan kontribusi yang di lakukan saat mengalahkan monster sebelumnya, namun dari semua yang ia katakan hanya ada satu tempat yang membuat ku tertarik dan penasaran ingin mencoba masuk ke dalamnya.
“Dungeon! Seperti yang kalian ketahui Dungeon merupakan sebuah tempat yang biasanya di isi oleh monster-monster, mereka biasanya bersifat teritorial dan biasanya hanya akan ada 1 jenis monster dalam 1 dungeon atau lantai dungeon.”
Mendengar kata Dungeon membuat rasa penasaran ku tergugah dan ingin mencobanya, suatu tempat fantasi yang sebelumnya tak pernah terbersit di pikiran ku bahwa eksistensinya ada sehingga saat mendengar bahwa keberadaan Dungeon itu nyata maka aku ingin segera mencobanya.
“Tapi ingatlah 1 hal! Kematian di dalam Dungeon bisa terjadi dan kami tak bertanggung jawab atas semua itu”
Mendengar hal itu, para peserta yang sebelumnya berusaha mencerna apa yang ia katakan menjadi kebingungan dan mulai mengeluarkan u*****n-u*****n yang di lontarkan pada orang yang sedang berdiri di tengah para peserta saat ini.
“Apa maksudmu kalian tak bertanggung jawab?”
“b******n! Kau membawa kami ke sini dan mau bersikap semena-mena”
“Keluar kau Game Master cacat! Permainan mu sampah begitu juga dengan kau”
Suasana kembali ricuh dengan petikan-petikan kecil yang di lakukan beberapa orang peserta, aku berusaha untuk tak mengatakan apapun dan kembali memperhatikan orang yang berdiri di tengah itu saat ini. Aku sadar bahwa ia sedari tadi merasakan marah yang luar biasa karena aura yang sebelumnya berwarna ungu saat ini berubah dan bercampur dengan aura berwarna hitam sehingga menciptakan rasa kengerian yang luar biasa pada diri ku, aku mengetahui dengan jelas bahwa orang ini sangatlah kuat namun ada sesuatu yang membuatnya tak menyerang para peserta atau yang mereka panggil dengan Spieler sehingga membuat ia hanya mempertahankan amarahnya saja.
“Diamlah kalian sampah sekalian!”
Satu kalimat pendek keluar dari mulut orang itu dengan suara yang menggelegar serta menimbulkan rasa dingin pada tengkuk ku.
“Bukankah hal ini sudah tertulis dengan jelas pada kontrak yang kalian setujui sebelumnya? Apa kalian sebegitu bodohnya sehingga tak menyadari bahwa dimana pun kehidupan berlangsung maka pasti akan ada resiko yang harus di tanggung, lagipula di dunia manapun yang namanya mati tetaplah mati! Tak ada yang bisa mengubah itu b******n”
Perkataan yang sama sekali tak bisa di bantah oleh para peserta ini membuat suasana kembali sunyi dan hening seketika, perkataan yang sangat benar adanya namun membuat kesal bagi orang-orang yang mendengarkan. Namun, rasa kesal itu yang mengatakan bahwa perkataan itu memang benar adanya karena kita sebagai manusia yang egois memang selalu bersikap seperti itu di saat ada yang mengingatkan.
“Semuanya sudah jelas dan kalian bisa bertanya kepada para petugas disini,” ucap orang itu sembari berbalik dan mulai berjalan meninggalkan kerumunan peserta yang masih tak bisa mengatup mulutnya setelah apa yang ia katakan sebelumnya.
“Oh iya 1 hal lagi! Itu adalah kesempatan terakhir kalian untuk berbicara tak sopan, sekali lagi ada dari salah satu kalian berkata kotor atau tak sopan kepada Game Master ataupun petugas lainnya maka saat itu jugalah hidup kalian akan berakhir.”
Orang itu langsung pergi setelah mengatakan itu dan menghilang seketika, peserta yang masih kebingungan membuat inisiatifnya sendiri dan beranjak pergi dari tempat mereka berkumpul. Aku yang masih memikirkan apa yang orang itu katakan sebelumnya masih berdiri di tempat ku saat ini, aku masuk ke dalam lamunan ku sendiri dan mulai memahami apa yang orang itu katakan.
“Ye Zhun! Bisakah kita pergi untuk makan? Perutku sudah kelaparan sedari tadi” ucap Lin Wan sambil menarik baju ku dan menyadarkan ku dari lamunan.
“T-Tentu,” jawab ku kaget atas apa yang ia lakukan.
“Adik Ye... Kau terlalu serius atas apa yang orang itu katakan, bukankah sudah jelas bahwa kita akan kembali ke bumi lagi?” sahut Kak Yan dengan wajah yang memelas.
Bukannya langsung menjawab dengan kata iya namun aku masih berpikir terhadap apa yang di tanyakan Kak Yan barusan, ada bagian dari diri ku yang memang ingin kembali ke dunia ku sebelumnya dengan uang yang ku inginkan dari Game Master. Tapi ada bagian dari diriku yang lain yang tak ingin kembali ke sana karena sudah muak dan ingin mencari sesuatu yang tak ada di dunia ku sebelumnya.
“Aku masih ingin memikirkan hal itu terlebih dahulu Kak Yan, entah kembali ke bumi merupakan pilihan yang tepat atau malah pergi ke dunia yang di katakan oleh Game Master yang merupakan pilihan yang tepat? Aku ingin mencari jawabannya dalam waktu 4 minggu ini” jawab ku pada Kak Yan.
“Untuk saat ini mari kita pikirkan baik-baik kemana tujuan kalian selanjutnya karena tak akan ada kesempatan kedua untuk segala pilihan yang di pilih,” tambah ku.
Orang-orang di party ku terdiam sambil menunduk sejenak memikirkan apa yang aku katakan barusan, suasana semakin terasa berat akibat perkataan ku sehingga membuat ku tak enak hati.
Crrrruuuuuukkkkckkckk....
Tiba-tiba suara dari perut yang keroncongan terdengar cukup keras di tengah-tengah keramaian para peserta yang berlalu lalang di sekitar kami, suara itu tak lain berasal dari perut Lin Wan dan ia saat ini sedang menutupi wajahnya karena malu atas suara yang di hasilkan dari perutnya itu.
“M-Maafkan aku! aku sudah sangat lapar sedari tadi” ucap Lin Wan tersipu malu.
Aku, Kak Yan serta Ying-Ying tertawa kecil melihat reaksi yang di keluarkan oleh Lin Wan barusan, aku sadar bahwa saat ini memang saat yang tepat untuk makan karena sedari tadi kami belum makan apapun dan di tambah harus memahami situasi yang rumit seperti sekarang.
“Baiklah kalau begitu! Ayo kita makan bersama” ucap ku mendorong lembut kedua perempuan yang ada di samping ku.
“Ayoo! Kak Yan yang mentraktir” sahut Ying-Ying bersemangat.
“Ha!? Kenapa harus aku?” jawab Kak Yan kebingungan atas apa yang di katakan oleh Ying-Ying.
Kami pun pergi menuju restoran yang di katakan oleh orang berpakaian Butler tersebut dengan bercanda ria sepanjang perjalanan untuk melupakan sejenak situasi yang di alami kami semua saat ini, beberapa saat kemudian kami pun sampai pada sebuah tempat yang papan namanya bertuliskan restoran. Tanpa ragu kami pun segera masuk namun langkah ku langsung terhenti seketika di saat ada sebuah tangan yang memegangi pundak ku saat ini, tenaga yang begitu kuat terpancarkan di saat tangannya menyentuh bahu ku dengan lembut. Dari tampilan tangannya aku bisa tau bahwa yang ada di belakang ku saat ini adalah seorang wanita, namun pancaran kekuatan yang di keluarkan darinya sama sekali tak mencerminkan tipikal wanita seperti biasanya yang selalu lemah lembut dan berada dalam kesan ingin di lindungi, wanita yang ada di belakang ku saat ini memberikan aura berbahaya namun juga terasa dapat di percaya.
“Apakah anda Spieler Ye Zhun?” tanya wanita itu dengan lembut.
Aku segera memalingkan wajah ku untuk melihat siapa yang saat ini berbicara dengan ku, seorang wanita cantik berbadan cukup pendek dengan rambut pirang berdiri dengan senyum indah yang menghiasi wajahnya. Aku sempat terpesona sejenak namun sadar bahwa orang ini memberikan kesan berbahaya sehingga aku menyadarkan diri ku.
“Itu benar,” jawab ku singkat.
“Kalau begitu bisakah kita berbicara secara empat mata sejenak?”