“Kalau begitu bisakah kita berbicara secara empat mata sejenak?”
Mata biru yang masih menatap tajam lurus ke mataku, senyum manis namun memancarkan aura yang menandakan bahaya darinya serta aura yang mengatakan bahwa ia bisa di percaya terlihat jelas oleh ku. Wanita ini masih berdiri diam di hadapan ku tanpa bergeming sedikit pun dan hanya melakukan kedipan mata biasa sebagai gerakan rutinitasnya, ia masih menunggu atas jawaban yang aku berikan sedari tadi atas ajakannya barusan.
Aku kembali berbalik arah dan menatap teman-teman ku yang masih menatap heran pada ku serta wanita ini, Lin Wan sepertinya paham atas gerakan ku dan ia menganggukkan kepalanya serta membawa Ying-Ying dan Kak Yan pergi masuk terlebih dahulu ke dalam restoran.
“Apa yang kau inginkan dari ku?” tanya ku penuh waspada terhadap wanita ini.
“Anda tak perlu sewaspada itu terhadap saya, saya kesini datang untuk memberikan hadiah kepada anda. Namun sebelum itu bisakah saya menyerahkannya saat kita sedang berdua saja atau keadaan tengah sepi?” jawab wanita itu sembari tersenyum.
Aku masih tak mengerti mengapa ia berkata mengenai hadiah kepada ku sedangkan orang-orang di party ku sama sekali tak mendapatkannya, namun yang pasti ada alasan di baliknya sehingga ia berkata seperti ini kepada ku.
“Kalau begitu bagaimana jika di dalam kafe itu?”ucap ku sambil menunjuk sebuah bangunan yang memiliki cahaya redup serta tak terlalu banyak pengunjungnya.
“Ide yang bagus! Biar saya yang mentraktir anda” jawabnya sembari memimpin jalan menuju bangunan yang aku tunjuk.
Kami pun berjalan menuju bangunan tersebut dan langsung masuk ke dalamnya, bangunan besar namun cukup sepi karena hanya ada beberapa pengunjung yang terlihat saat ini. Karena tak ingin berlama-lama di sini maka aku dengan segera meminta wanita ini mengatakan tujuan sebenarnya mendatangiku secara pribadi.
“Sekarang katakan apa tujuan menemui ku!” ucap ku tegas sembari duduk dan menatap tajam padanya.
“Hmm? Bukankah saya sudah bilang?” ucapnya kebingungan.
“Bukan itu... Katakan apa tujuan mu sebenarnya datang langsung kepada ku!” jawab ku menatap tajam kepadanya.
Aku merasa keanehan karena dari sekian banyak peserta atau Spieler yang lolos pada zona ini, hanya aku yang mendapat perlakuan seperti ini sehingga membuat ku tak nyaman.
Wanita ini mulai menampakkan senyum sungging yang sama sekali tak enak untuk di pandang dan hanya membuat ngeri setiap sel di dalam tubuh ku, ia saat ini secara perlahan menatap wajah ku.
“Anda sungguh melebihi ekspetasi kami, dari para Spieler yang pernah mengikuti permainan ini hanya Anda yang bisa melebihi ekspetasi kami. Namun untuk sekarang silahkan ambil ketiga hadiah yang di dapatkan oleh Anda karena telah berhasil melewati zona survival dengan poin tertinggi serta Spieler yang paling cepat menyelesaikannya,” ucap wanita itu sembari memberikan dua kertas yang berbentuk layaknya tiket.
“Bukankah ini hanya 2?” tanya ku pada wanita ini.
“Benar! Dan ini adalah yang ketiga” jawabnya sembari menunjukku.
Selang beberapa detik wanita ini menunjukku, layar notifikasi tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan poin ku yang terus bertambah hingga mencapai angka sepuluh juta poin. Ini merupakan hadiah yang berguna karena mata uang yang di gunakan di zona ini adalah poin sehingga aku bisa menggunakannya sesuka ku. Wanita ini kemudian mengambil dua kertas tadi dan mengangkatnya selaras dengan tinggi wajah ku saat ini.
“Biar saya jelaskan kegunaan dari tiket-tiket ini, yang pertama adalah Immortality pass. Tiket ini membuat kau tak bisa mati saat berada di dalam Dungeon dan durasinya selama 10 hari, tubuh mu terpotong, kepala mu terputus, kau terbelah menjadi 2 bagian atau semacamnya. Semua itu tak akan membuat kau mati selama itu terjadi di dalam Dungeon,” ucapnya menjelaskan tiket yang berwarna merah kepada ku.
Sebuah kekuatan yang sangat diinginkan oleh orang-orang di luar sana saat ini berada di dalam genggaman ku, tak bisa mati sama juga dengan keabadian namun durasinya hanya bertahan selama 10 hari. Meskipun begitu itu sudah sangat luar biasa bisa membuat orang abadi tak peduli seperti apa luka atau cedera yang di milikinya.
“Meskipun begitu Anda akan tetap merasakan sakit seperti biasa namun itu hanya reaksi biasa dari tubuh,” tambahnya dengan tersenyum kepada ku.
“O-Oke... Membuat orang tak bisa mati saja sudah cukup untukku, yang satunya itu kegunaannya apa?” tanya ku sembari menunjuk kepada tiket hitam yang ada di tangannya yang lain.
“Yang ini adalah Entry Pass untuk pergi ke The Seed of Life! Anda pergi ke sana meskipun telah kembali ke dunia Anda sebelumnya” jawabnya penuh keyakinan.
Aku mengerti dari maksud orang ini memberi Immortality Pass kepada ku, mereka menginginkan aku memasuki Dungeon dan mengasah diri ku di sana. Namun, Entry Pass inilah yang aku tak mengerti. Dengan kata lain aku bisa pergi kembali ke bumi dengan mendapatkan uang dari Game Master dan jika tak ingin berada di sana maka di saat itu juga Entry Pass ini akan melakukan pekerjaannya, yang aku tak mengerti adalah mengapa Game Master memberikan Entry Pass ini kepada ku. Apa dia sudah menebak bahwa aku akan pergi ke dunianya dan meninggalkan bumi dengan segala hal yang ku miliki.
Di saat tengah dilanda oleh kebingungan, wanita yang memberikan hadiah-hadiah ini pun beranjak dari tempat duduknya sehingga aku kembali sadar dari lamunan ku.
“Ingatlah Spieler Ye Zhun! Kedua Pass ini hanya bisa di gunakan satu kali dan pada diri mu sendiri jadi gunakanlah secara bijak” ucapnya sambil memegangi bahu ku dan mulai beranjak pergi.
Tak bisa berkata-kata oleh tingkahnya membuat ku terdiam memperhatikan kepergiannya yang semakin lama semakin meninggalkan ku, namun tiba-tiba ia berhenti di saat akan membuka pintu keluarga dan kemudian kembali berbalik arah untuk melihat ku kembali.
“Cari saja aku jika kau dalam kesulitan! Tanyakan saja pada para Symvoulus seperti ku maka mereka akan mengantar mu” ucapnya sembari menatap ku tajam.
“Tapi aku belum tau siapa namamu?” ucap ku kebingungan.
“Panggil saja aku Clara! Sampai jumpa Spieler Ye Zhun” jawabnya sembari pergi keluar dari bangunan ini.
Sungguh wanita yang meninggalkan kesan misterius terhadap ku, sikapnya berubah-ubah sehingga membuat ku kesulitan untuk memahami seperti apa karakternya yang sebenarnya. Namun dengan kata-kata terakhir yang di lontarkannya barusan maka akan ada waktu dimana kami di pertemukan kembali dan aku rasa itu akan terjadi tak lama lagi.
Aku menyimpan semua Pass yang di berikan Clara barusan, aku rasa aku hanya akan menggunakannya di saat genting saja sehingga kegunaannya akan benar-benar terbukti di saat itu juga. Aku dengan segera menyusul teman-teman separty ku yang sedari tadi menunggu ku di restoran untuk makan bersama, karena jaraknya tak terlalu jauh maka dengan cepat aku langsung sampai ke restorannya dan Lin Wan mulai melambaikan tangannya kepada ku.
“Ye Zhun...! Di sini...!”