Alasan

1427 Kata
Kejadian malam itu menyebar dengan sangat cepat, hal itu terjadi karena para prajurit mulai berdatangan untuk memadamkan api yang membakar markas party Coutali. Selain Aleinston serta anggota party Charles, tak ada korban jiwa dari pihak Ye Zhun. Namun dengan kematian sosok yang dianggap sangat tinggi seperti Aleinston menimbulkan rumor-rumor buruk pada mereka, tentu saja hal ini juga terdengar oleh Kerajaan Capras dan mereka segera mengirimkan utusan untuk meminta penjelasan. Pagi hari di penginapan yang di tempati Ye Zhun dan lainnya, mereka dihadang langsung oleh beberapa orang dan dimintai keterangan oleh utusan yang datang. Namun sepertinya utusan ini bukan datang dengan tugas itu saja, pasukan dan perlengkapannya sangat lengkap bahkan lebih cocok untuk memulai sebuah perang daripada datang dengan damai. Utusan yang datang bernama Danren Vador, seorang warior berlevel enam puluh dan merupakan pemimpin pasukan pengintai dari Kerajaan Capras. Sorot matanya sangat tajam dan setiap perkataannya bagaikan petir yang menggelegar, aura dari orang ini membuat tekanan yang lebih berbahaya dari monster itu sendiri. Ye Zhun yang sadar bahwa orang yang di hadapannya ini sangatlah kuat, Ye Zhun mencoba tetap tenang dan mencoba mengikuti arah pembicaraannya “Raja kami sangat tak senang dengan apa yang anda lakukan! Jika alasan yang anda berikan tak memuaskan ku maka- “Apa? Lanjutkanlah” “Maka kalian semua akan di eksekusi di tempat sekarang ini!” Ucapannya membuat Morgan dan lainnya naik pitam dan bersiap melawan prajurit yang menghalanginya, tentu saja karena mereka adalah korban dan malah menerima perlakuan seperti ini. Namun Ye Zhun mengintruksikan agar mereka tetap tenang. “Tuan Danren! Aleinston mencoba membunuh kami di dalam Cave Ruth dengan menggunakan reruntuhan, ia bahkan mencoba mengurung kami di dalam ruang harta dan juga memasang penghalang di pintu agar tak ada orang yang bisa membukanya.” “Tak hanya itu dia juga memancing kerumunan monster tingkat tinggi untuk menyerang kami!” Ye Zhun mencoba meyakinkan Danren yang tengah menatapnya sembari mengeluarkan aura membunuh yang begitu besar, kedua prajurit yang ada di belakangnya sedari tadi juga sudah tak tahan untuk menarik pedang mereka namun sepertinya mereka menunggu intruksi dari Danren. “Jangan bicara omong kosong! Tuan Aleinston adalah seorang mage, dia tak mungkin memiliki sihir seperti itu!” “Kalau begitu lihatlah ini!” Ye Zhun mengeluarkan batu merah yang ia pungut sebelumnya, batu merah yang mengeluarkan mana sehingga menarik perhatian monster yang ada di sekitar. Wajah Danren seketika berkeringat begitu melihat batu yang di keluarkan Ye Zhun, ia menjadi gugup seketika namun segera menyembunyikannya agar tak menarik perhatian Ye Zhun dan lainnya. Namun Ye Zhun segera menyadari gerak-gerik yang di keluarkan oleh Danren sehingga mengambil keputusan bahwa ia mengetahui tentang batu ini. “Dilihat dari reaksi Tuan Danren maka ku ambil kesimpulan bahwa anda mengetahui batu ini, dan dengan ini juga bisa kupastikan bahwa Tuan Danren mempercayai apa yang aku katakan adalah kebenaran.” “B-Baiklah! Aku mempercayai diri mu” Batu ini bernama Stone of Rak, sebuah batu yang mana diciptakan dengan menyatukan mana dari monster-monster yang dipadatkan. Batu ini digunakan sebagai penarik perhatian Monster oleh Kerajaan Capras dan monster-monster yang sudah berkumpul akan segera di basmi, batu ini hanya bisa di ciptakan oleh para Mage dan metode pembuatannya hanya dimiliki oleh Kerajaan Capras. Batu ini tak di produksi besar-besaran dan hanya segelintir orang yang boleh menggunakannya di Kerajaan Capras, hal ini juga yang membuat Danren mempercayai perkataan dari Ye Zhun. “Kalian. Lepaskan mereka!” Dengan satu perintah dari Danren, Party Coutali dilepaskan dari sergapan para prajuritnya saat ini. Suasana tegang yang tadi menguasai mulai berubah semakin ringan karena Danren sudah tak mengeluarkan aura membunuhnya lagi. “Jika tak keberatan... Bisakah Tuan Danren mengatakan mengapa Aleinston berusaha membunuh kami? Karena jika dilihat dari rencananya yang begitu matang, tak hanya sekali ia melakukan ini.” Hal itu terus muncul di kepala Ye Zhun, ia masih tak mengerti mengapa Aleinston sepertinya begitu membenci para Spieler yang ada di sini. Kekuatan Aleinston sudah tak bisa dibandingkan dengan para Spieler yang ada di kota Perlas, ia juga adalah seorang mage Kerajaan Capras yang mana tak mungkin kekurangan dalam harta, statusnya juga terlalu tinggi untuk kota ini namun ia tetap saja sesekali mengikuti misi yang ada di kota ini. Dengan orang sesempurna Aleinston, Ye Zhun sama sekali tak paham alasan kenapa ia membenci Spieler disini. “Huft... Yah kurasa tak apa ku katakan pada kalian dan juga Aleinston sudah mati.” “Alasan Aleinston membenci Spieler adalah keluarganya dulu di bunuh oleh Spieler seperti kalian!” ***** Pepohonan yang rindang menaungi tiga sosok manusia yang tengah beristirahat di bawahnya, angin sepoi-sepoi membuat tidur mereka semakin lelap dan tak menghiraukan apa yang tengah lewat di hadapannya saat ini. Ketiga orang ini adalah sebuah keluarga kecil yang tengah melakukan piknik di luar untuk menikmati alam, tak ada yang menganggu mereka bahkan awan juga seakan menaungi mereka agar tak terkena sinar matahari. “Sayang... Ayo bangun kita harus kembali sekarang.” Seorang pria paruh baya membangunkan dua perempuan yang merupakan anak dan istrinya, suaranya terdengar sangat halus seakan enggan membangunkan mereka. Namun siang sudah berubah menjadi petang jadi mau tak mau ia harus membangunkan keduanya. “Ayo bangun... Sebentar lagi matahari akan terbenam.” “Hooaaam... Selamat pagi ayah!” “Ha ha ha! Kau memang ada-ada saja. Ini sudah sore anakku.” “Ayo kita pulang!” ajak sang istri. Keluarga kecil ini akhirnya bangkit dan berjalan bersama menuju rumah mereka, sebuah pemandangan yang mana akan membuat iri orang-orang karena begitu bahagianya keluarga kecil ini. Ini adalah Aleinston dan keluarga kecilnya dengan kebahagiaan yang selalu terjadi di masa lalu hidupnya, ia merupakan seorang mage di desa kecil ini dengan berbagai masalah pangannya. Meskipun kehidupan keluarganya begitu bahagia namun masalah desa yang kekurangan pangan membuat ia beserta keluarganya memutuskan untuk pindah ke ibukota, mereka semua sudah tak tahan dengan keadaan di desa kecil ini meskipun terdapat berbagai kenangan indah di dalamnya. “Ayah... Kenapa kita pindah? Banyak teman-teman ku yang masih disana.” “Anakku... Di tempat yang baru kamu juga akan mendapatkan banyak teman. Disana jauh lebih banyak orang daripada di desa!” “Benarkah?” “Tentu saja! Apakah ayah pernah berbohong padamu?” “Horee!!” Bagi orang tua, melihat anak mereka tumbuh dengan baik adalah sebuah kebahagiaan. Keputusan mereka meninggalkan desa itu adalah pilihan yang paling tepat, desa itu sudah tak ada harapan bahkan mungkin tak akan bertahan beberapa tahun lagi. Sesampainya di ibukota Aleinston langsung masuk dalam party yang kebanyakan anggotanya adalah Spieler, pada awalnya ia melakukan perburuan dengan biasa-biasa saja di bawah pimpinan Spieler itu. Namun, sifat asli mereka terungkap di saat menemukan harta berharga di dalam dungeon. Mereka membunuh anggota mereka yang bukan Spieler hanya karena tak mau membagikan harta tersebut, Aleinston beruntung karena segera menyadari hal itu dan segera lari kembali ke rumahnya. Namun yang tak ia sangka-sangka, ia terkena perangkap dari salah satu Spieler partynya sehingga langsung pingsan di tempat. Dalam keadaan tak sadarkan diri ia di bawa ke tanah mati di sebelah ibu kota. “Ugh... Dimana ini? Kenapa aku disini?” Aleinston bangkit dan menemukan bahwa dirinya saat ini dalam keadaan terikat, di depannya saat ini telah ada para Spieler partynya yang tengah berkumpul sembari tertawa riang. “Hei b******n! Cepat lepaskan aku!” “Woh... Dia sudah sadar bos! Ayo segera kita lakukan itu” Mereka semua mulai berlari ke arah Aleinston dan mendudukkannya pada sebuah kursi, matanya dipaksa untuk terbuka untuk melihat apa yang ada di depannya saat ini. Aleinston kaku seketika melihat anak istrinya tengah terikat di depannya saat ini, mereka dalam keadaan tak sadarkan diri saat ini dan juga di lumuri oleh sesuatu. “Tidak! Kumohon lepaskan anak istri ku! Siksa saja aku tapi jangan apa-apakan mereka” “Ckckckc... Bukan begitu caranya bermain dengan ku Aleinston. Siapa saja yang tahu tentang diriku maka akan mati! Tapi aku suka sekali membunuh orang yang putus asa dan ini satu-satunya yang dapat memuaskan ku- “Tidak! Tidak! Jangan sakiti mereka” Aleinston memohon dengan sekuat tenaga bahkan ia mencoba melompat dan melarikan diri ke arah anak istrinya, namun ia segera di tangkap dan segera dipaksa melihat kembali apa yang akan menimpa anak istrinya. Ctik.... Sebuah pemantik api dipetikkan dan tanpa membuanh waktu orang itu membuang pemantik api itu ke arah anak istri Aleinston, dengan sekejap api mulai menyala dengan sangat besar dan melahap apapun yang ada di dalamnya. Aleinston semakin meronta-ronta berusaha melepaskan diri supaya bisa menyelamatkan keluarganya, namun semua itu sia-sia karena sudah terlambat. Anak dan istrinya sudah mati di dalam kobaran api yang sangat panas itu dan Aleinston hanya bisa meratapi mereka saat ini. “Hiks... Hanah... Rena... Maafkan aku yang lemah ini!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN