Part 15. Madu.

845 Kata
Trip... Perjalanan Adrian dan keluarga besar Parker disambut hangat oleh Edward Lincoln di kediamannya yang megah. Bernuansa clasik modern. Edward dan Katty sudah menunggu kedatangan keluarga dan cucunya. "Hai dad." Pelukan hangat Adrian menggenggam erat jemari Jasmine. "Apa kabar? daddy merindukanmu." Edward membalas pelukan Adrian dan Jasmine. Fene dan Brian tak sabar untuk segera memeluk Edward. "Grandpa, i miss you." celoteh Brian. "Miss you too dear." bisik Edward mengecup wajah cucu kesayangannya. "Grandpa, I want to visit my daddy, do you want to accompany me?" Suara Brian, terdengar mirip suara Bram semasa kecil, "you and momy only, daddy will be here with grandpa Hanz." Senyum Edward. "Ok." Brian mengacungkan jempolnya tanda setuju. "Daddy, aku sangat merindukan masakan Maya." kekeh Kevin menggoda. "Maya tidak masak hari ini, dia hanya ingin mengurus Brian." Edward membalas godaan Kevin. Kevin memeluk Edward, melepaskan kerinduan. Sekian lama mereka sibuk dengan urusan mereka, tanpa berkunjung, saat inilah mereka dapat berkumpul kembali, tanpa Bram. Fene merangkul Katty, mulai memasuki ruang tamu kemudian berkumpul diruangan keluarga. Saling menggoda, Hanz tak melepaskan rangkulan pada sahabatnya. "Berapa lama lagi kamu akan bebas tanpa syarat?" tanya Hanz pelan. "Setahun lagi Hanz, setelah ini aku bebas kemana saja." Senyumnya. Brian sibuk mencari mainannya, diruangan bermain di temani Nichole dan Jasmine. Semenjak kelahiran Brian, Edward mempersiapkan ruangan khusus untuk cucu kesayangannya. "Hmmm, semoga kita semua dapat tenang tanpa mereka." Hanz menenangkan Edward yang masih sangat mengenang kejadian beberapa tahun silam. "Nanti malam, setelah Marisa datang aku akan berbicara serius pada mu." ucap Hanz. "Ya, aku sudah mendengar berita itu." tunduk Edward. "Siapa yang memberi kabar itu?" kejut Hanz. "Jasmine. Jasmine menelfonku." Senyumnya. "Bisa kita bicara berdua?" bisik Hanz. Edward membawa Hanz keruangan, meninggalkan anak asuhnya. Fene, duduk sendiri di kamarnya, menatap kejendela. Mengenang semua kenangannya bersama Bram saat dirumah Edward. 'Aku rapuh semenjak kau meninggalkan ku Bram.' tangisnya. Adrian mencari Fene ditiap sudut ruangan, tapi tidak menemukannya. "Mi, apakah mami melihat Fene?" tanya Adrian pada Irene. "Fene dikamarnya." Senyum Irene. "Terimakasih mi." Adrian berlalu menuju kamar Bram. Tok tok tok.. "Masuk." "Fen, bisa kita bicara?" sebelum ada izin dari Fene, Adrian lebih dulu mendekatinya. "Buka saja pintunya, aku tidak mau ada salah paham dari istrimu." sinis Fene. Adrian melakukan sesuai permintaan Fene. "Duduklah." Fene lebih dulu duduk disofa kamarnya. "Hmmm, apakah kita akan sekaku ini?" goda Adrian pada Fene. Fene menghela nafasnya kasar. "Ck, lo masih saja menggoda gue." kesal Fene. "Aku tidak pernah berhenti mendekati mu, hingga ada jawaban pasti dari bibirmu." jelas Adrian. "Dri, kita ganti topik yah. Jujur gue capek mikirin lo mulu beberapa hari ini." rundungnya. "hmmm." "Maukah kamu menikah dengan ku?" Adrian menyerahkan satu cincin berlian pada Fene. Fene membelalak, nafasnya terasa sesak. "Kamu bercanda?" "Yes or no." Adrian bersimpuh, bak sedang melamar putri raja di cerita dongeng. Fene, menutup wajah dengan kedua tapak tangannya. Ingin menolak, tapi tak mampu. Ingin menerima, tapi tak kuasa. "Ajarkan aku menjadi wanitamu." tunduk Fene. "Yes?" mata Adrian penuh harap. "Ck, Adrian." isak Fene. "Aku akan mengajarkan apapun pada mu. Apakah kamu menerima lamaranku?" tanya Adrian penasaran dengan jantung bergemuruh tak karuan. Fene bingung, benar-benar bingung. Mencintai sahabat, tapi suami sahabatnya. "Keluarlah, tinggalkan aku." mohon Fene. "Baik, aku meletakkan cincin ini disini." Adrian meletakkan cincin indah itu dimeja, berlalu pergi meninggalkan Fene. Fene menelan salivanya, termenung kagum melihat keseriusan Adrian. 'Kenapa anak itu sangat menggemaskan?" batinnya. Fene menggunakan shal di lehernya, memakai baju tebal, keluar dari kamarnya. Meminta pada sopir Edward agar mengantarkannya ke makam Bram. Fene memberitahu pada Irene. Irene mengizinkan putrinya, tersenyum kagum. Sedikit menggoda Fene, agar selalu ceria. Menjadi kedua bukan hal buruk, melainkan satu hal terbaik untuk putrinya, demi Brian yang sudah terbiasa dengan Adrian. Ternyata Adrian lebih dulu sampai disana bersama Brian, Marisa dan Jasmine. "Kenapa mereka tidak mengajakku?" tanya Fene pada sopirnya. "Mereka sekalian menjemput Marisa, nyonya." jelas sopirnya. Fene tertegun. Mengambil cincin yang ada disakunya, mencium cincin pemberian Adrian, menyematkannya ke jari manis, 'oooh, indahnya.' batinnya. Fene keluar dari mobil, menghampiri sahabat dan mami sambungnya. Adrian terkesima saat matanya tertuju pada pemberiannya, ada dijari manis Fene. Fene mencoba tersenyum ramah pada Jasmine. "Mba, saya fikir mba lagi istirahat." senyum Jasmine merangkul bahu Fene. "Hmmm, kalian membawa putraku tanpa aku." rungut Fene. Jasmine tertawa mendengar omelan Fene. Fene memandang Marisa. "Bagaimana perjalanannya mi?" tanya Fene pada Marisa. "sangat indah." goda Marisa. Fene mengetahui kemana arah pembicaraan Marisa. Jasmine merasakan satu keindahan pada jari Fene. "Apakah mba siap?" goda Jasmine. "Ajarkan aku menjadi madumu dalam Iman yang sama." bisik Fene pada Jasmine. Jasmine menutup bibirnya, menatap haru mata itu, mata biru yang indah dapat menakhlukkan semua musuh. Adrian memeluk Brian dalam dekapannya. "Apa mba yakin?" Fene mengangguk, Jasmine memeluk Fene sangat erat, "apapun yang mba minta akan aku berikan, kita akan belajar bersama." senyum Jasmine bahagia. "Makasih yah, kamu sangat menyentuh hati ku dan keluargaku." Marisa memeluk Fene, merasa bahagia dengan keputusan Fene. "Ini yang terbaik sweety, demi Brian dan kebahagiaanmu." terdengar isak Marisa. Adrian melihat bahagia ketiga wanita terbaik dalam hidupnya. Mereka berdoa bersama, agar Bram Lincoln bahagia dengan keputusan Fene. Semua demi Brian Lincoln. Cucu Edward Lincoln, dan Hanz Parker.***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN