Part 16. Story

1008 Kata
Pertemuan di Bali... Kevin mengkonfirmasi pada Edward dan Bram tentang Holi Parker. Mereka bertemu disalah satu restorant Italy. Bram berdandan santai, begitu juga Fene. Bram menggandeng erat Fene memasuki restorant. Melihat kehadiran sahabatnya lebih dulu. Meski terlambat mereka menyambut kehadiran dua insan ini sangat hangat. "Hmm, m***m mulu deh otak gue ketemu kalian tu." goda Kevin memeluk Bram dan Fene secara bergantian. "Dasar... Omes." gelak Bram. "Mana Holi?" tanya Fene penasaran. "Kata orang seeeh otewe." kekeh Kevin memanggil waiters memesan beberapa makanan pembuka. Bram membuka kursi agar Fene duduk disebalahnya. Fene menatap Adrian. "Lo kenapa.?" tanya Fene lembut. "Veni minta putus." sedihnya, menunjukkan percakapannya melalui DM. "Oooogh," kejut Fene. "Udah, nikmati dulu, gue yakin Veni sedang mabuk rayuan pulau kelapanya Petter." gelak Kevin. Adrian, menatap sosok gadis cantik masuk keresto tempat mereka berkumpul, disusul mata Bram, Kevin, Fene dan Nichole. "Holi... Is beauty." batin Adrian. Fene menatap tanpa berkedip. "Wooooow...." "Haiii, Holi." panggil Kevin. Holi menghampiri mereka. Memeluk Adrian, Bram, Kevin dan Nichole secara bergantian. Terakhir Fene, mereka saling tatap. Mata kedua wanita itu basah, menangis bersama. Ada titik kerinduan dihati mereka. "Kenapa kita dipertemukan sekarang.?" Pertanyaan mereka sama. "You oke.?" Holi melepas pelukannya. Menangkup wajah Fene. Fene mengangguk. "Guys, gue dimeja sana yah, ada private sama adik gue." Fene memohon mengusap bahu Bram. "Okee sweety." izin Bram. Fene memasuki satu ruangan vip, telah disiapkan pihak restorant sesuai permintaan. Fene dan Holi saling bertatapan sesengukan bak orang baru menemukan belahan jiwa. Pada dasarnya sejak mereka lahir, mereka sudah terpisahkan. Mereka dipertemukan kembali, di usia 24 tahun. Tanpa diduga. Hati mereka rapuh. "Selamat Fen, gue seneng banget denger pernikahan lo." Holi menyeka pipinya. "Makasih sayang, gue nggak pernah tau wajah lo, ternyata kita ada kesamaan." Senyumnya. "Gue tau beberapa bulan lalu dari Aunty Marisa, gue kesal sama Papi, tega misahin kita. Gue ribut, Fen. Apalagi dengan pilihan lo, Bram. Secara kita lumayan deket sama Mami Bram." jelas Holi menghela nafas dalam. "Papi merasa Mark mempermainkannya, gue lebih memilih menghindar. Papi nggak tau gue di Bali, janjian sama temen gue Marsel, CEO Bank di Paris, gue kecewa." gerutu Holi. "Lo tau Papi Mark?" tanya Fene penasaran. "Tau donk, kan gue beberapa kali jumpa, gue lebih sering ngabisin waktu sama Oma, makanya gue nggak deket ama keluarga." tambahnya. "Ooooogh," angguk Fene mengerti. "Trus masalah bisnis papi gimana Hol? bukannya lo ada saham di Las Vegas." tanya Fene. "Aaaaagh, gue nggak pernah tertarik ama bisnis haram itu, sampai saat ini nggak pernah gue terima uangnya, haram buat gue. Mending gue urusin karier gue aja, setidaknya cukup buat gue." racau Holi. "Hmm.. gue juga nggak ngerti, sekarang gue mau hidup begini aja." jelas Fene. "Iya, lakukan yang terbaik, agar semua menjadi baik Fen." Pesannya. "Gue nggak mau pergi dikawal, nggak bebas." gelaknya. "Oooh yah, bisnis om Edward juga masih sama kan sama Papi?" Holi berbisik ketelinga Fene. "Ya." Fene menggigit bibir bawahnya. "Bram? nerusin?" tanya Holi menatap Fene. "Ya." "Ooooogh God, kalian harus hati-hati, gue nggak mau kenapa-napa sama lo Fen." sedihnya. "Di Jakarta gue ada Garmen, rencana gue mau membangun rumah sakit khusus warga kita." "Wooooow... great... good idea, gue dukung lo, berapa lo butuh dana?" Holi menggebu. "Hmm, udah cukup seeeh." jawab Fene. "Lo jangan sungkan, gue akan dukung lo, gue lihat lo makin cantik semenjak jadi istri Bram, lebih cerah. Beda ama gue, nggak pernah berhasil menjalin relationship." Holi meratapi percintaannya. Fene tertawa. Menunjuk Adrian sesekali mencuri pandang pada mereka berdua. "Dia anak Adriana kan?" bisik Holi. "Iya, dia sahabat gue." jelas Fene. "Maminya selingkuhan Mark, males gue, ntar dia selingkuhin gue." kekehnya. "Adrian beda kali Hol." Fene membela. "Siapa bilang, darah mereka kan satu." jelas Holi. "Beda dong." "Sama, percaya deh ama gue." Holi mengedipkan matanya melirik kearah Adrian. "Gue udah tau semua, makanya gue nggak respect ama dia dari awal bertemu." jelas Holi. "Yaaaah, terserah lo aja." Fene sedih melihat nasib Adrian akan penilaian Holi. "Media tau gitu?" Holi coba mencari tau. "Nggak seeeh, tapi ntahlah, gue juga males ikutin cerita saat ini." tunduk Fene. "Yang penting gue selalu dukung lo, lo butuh apa aja lo kasih tau gue, kita ini keluarga, gue cuma punya lo." Holi menggenggam erat jari Fene. Tak terasa mata Holi berembun. "Gue mau cari cowok yang bener-bener dari keluarga baik, bukan dari hasil perselingkuhan, lo beruntung dapat Bram." lanjutnya. "Tapi Hol, Adrian berbeda. Dia sahabat gue dari kecil." Bela Fene. "Sahabat?" Holi menaikkan satu alisnya. "Apa dia nggak naksir ama lo?" Fene menarik nafas dalam menatap mata Holi. "Fen, gue nggak ada maksud buat ngejelekin sahabat lo, bagi gue, jikalau seseorang dilahirkan dari hasil perselingkuhan, pasti menurun ke anaknya." Holi meyakinkan Fene. "Gue??" Bola mata Fene membulat menunjuk dirinya. "Lo anak Irane dan Hanz, tanpa pernikahan, benerkan?" "Hmm, gue nggak ngerti, yang penting gue bersyukur punya adik kayak lo, melebihi detektif." hahahhaa.... Gelak Fene. Mereka tertawa berbagi cerita. Holi melirik Adrian. "Hmm, kalau dia nemanin gue malam ini dihotel nggak apa-apakan?" kekeh Holi. "Gila lo, ngapain? mau test drive?" Fene terkekeh mendengar adiknya lebih agresif. "Yaaaa, gue colek dikit." hahahaha. "Nanti lo ajakin aja. Veni minta putus, kali aja kalian klop." jujur Fene. "Hmmm, gue ni susah, buka hati. Males ribet ama perasaan." "Kok sama.?" Fene menatap Holi. "Listen, lo bilang ceweknya Veni, Veni Smith bukan? anaknya William Smith pengusaha kuliner." "Iya, lo kenal?" tanya Fene penasaran. "Ya kenallah, dia kan pacarnya Marsel, temen gue yang di Paris, tadi jumpa sama Kevin juga." jelasnya sangat santai. "Maksud lo? mereka masih pacaran?" Fene penasaran. "Udah lama banget kali sayang." Holi mencari foto kebersamaan Veni dan Marsel di hpnya. "Inikan orangnya?" Holi memperlihatkan foto Veni. Fene menutup bibirnya. Seakan tidak percaya. Menatap Adrian. "Ooooh my God." Fene menyandarkan tubuhnya. Tidak menyangka Veni setega ini pada Adrian. "Heeeeeiiii, sekarang Marsel di Jakarta menemuinya, besok baru ke Paris." tambah Holi. "Lo kirimin Foto itu ke gue, nanti gue, " Fene ragu. "Minta aja dia temenin gue, tenang dia aman, nggak gue pretelin." kekehnya. "Yuuukz, kita gabung ama mereka, kasihan dari tadi kita tinggal." Pinta Holi. "Oke." Fene memeluk tubuh Holi lagi, tidak menyangka Holi sangat welcome padanya.***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN