Terbuka...
"Heeeeeiiii."
Fene merangkul bahu Bram.
"Sory lama."
Senyum Fene.
"Nggak apa-apa sweety."
Bram memeluk tubuh Fene berdiri didekatnya.
"Adrian, lo anterin gue balik ke hotel! gue sendirian, naik taxi."
Adrian kaget mendengar permintaan Holi.
"eeeeggh, sama Kevin aja deh." tolaknya.
"Hmm, Nichole cemburu." kekehnya.
"Udah lo aja, gue males."
tolak Kevin.
"Makan dulu tuh, dari tadi kalian ngobrol tanpa makan."
Kevin kembali focus pada hpnya.
"Iya, sebab berfikir itu butuh asupan gizi yang cukup,
apalagi jika kekasih selingkuh."
ujar Holi tersenyum.
"uhuug..uhuugh.."
Adrian tersedak menyeruput expresonya.
"Sory gue nggak ada niat nyindir lo kok."
Senyum Holi melahap makanan.
Fene mengedipkan matanya pada Holi.
Mengusap bahu Bram sesekali.
"Siapa yang selingkuh sweety?" bisik Bram.
Fene membalikkan tubuhnya merapatkan giginya.
"Veni sayang."
Bram menutup mulutnya,
"spechles gue."
Bola matanya membesar mengangguk pelan menatap Fene.
Fene meletakan tunjuk pada bibirnya, agar Bram tidak bersuara.
"Udah dri, lo antar aja, pakai mobil gue, gue bareng Kevin." tawanya.
"Hmmm, ntar gue khilaf gimana? atau nyasar." melirik Holi.
"Tenang, gue aman, lo khilaf,
gue juga suka khilaf kok." kekehnya.
Mata Kevin melirik Adrian dan Holi.
"Udah, jadikan."
Sorot mata kevin tak luput dari hp yang dimainkan bersama Nichole.
"Heran deh ama kalian, pacaran game mulu, pusing gue."
sindir Adrian.
"Biarin."
ejek Kevin.
"Jalan sekarang?"
Adrian mengambil kunci mobil Bram, berlalu meninggalkan sahabatnya.
"Besok gue call lo yah sis, I love you."
Holi memberi kecupan lewat tangan yang menempel pada bibirnya menghembuskan ke Fene.
Fene menerimanya mengedipkan mata indahnya.
"Vin, Veni bukan ama Petter melainkan selingkuh sama Marsel." bisik Fene.
"What, you kidding me?"
teriak Kevin meletakkan hp diatas meja.
"Ya, Veni selingkuh udah lama. hmmmmm."
Fene memikirkan perasaan Adrian.
"Jadi ngapain dong Veni nemuin gue nangis-nangis waktu itu." ucap Bram.
Mata Fene membesar menatap wajah Bram.
"Nggak sayang, kejadian dulu itu lhooo, saat kamu di racunin pria mobile legend ini." gelak Bram.
"Stop, gue nggak mau inget lagi."
Tapak tangan Kevin tegas berada diudara.
"Dengerin aja dulu, cerita Adrian. Saat ini kita silent."
Mengalihkan pembicaraan.
"Oke."
Sahut mereka berbarengan.
Lumayan lama mereka menghabiskan waktu di restorant setelah kepergian Adrian.
Wait and see.
Adrian dan Holi...
"Lo sampai kapan disini?"
tanya Holi menghibur Adrian.
"Hmm, nggak tau, pengen lama aja."
Adrian masih murung.
"Otak lo di cuci dulu gih, biar nggak semek, males gue lihatnya."
teriak Holi.
"Yeeee, suka-suka gue dong."
Adrian nyolot.
"Hmm, lo aneh yah, cewek lo selingkuh, lo uring-uringan."
jelas Holi.
"Maksud lo? siapa selingkuh?" tanya Adrian penasaran.
"Yaa, Veni lah, Veni Smith."
Holi santai melihat arah kiri sepanjang jalan.
Chiiiiit...
Adrian menginjak rem,
kepala Holi kejedot dasbor.
"Anjiiiis, sakit tau Dri, lo bisa nyetir nggak?"
kesal Holi mengusap jidatnya.
"Lo ulangi lagi, siapa yang selingkuh!"
tanya Adrian geram.
"Lo hoax kan?"
Dada Adrian bergemuruh.
"Hm, oke, kita vc sama Marsel yah."
jelas Holi, menekan nomor Marsel, membuka kamera video call.
"Ngumpet lo."
Holi memutar kameranya.
"Haaaaii, dimana lo?" tanya Holi ramah.
"Lagi sama V dong." tawa Marsel.
Ditunjukkan keberadaannya diapartemen,
Adrian tau pemiliknya.
"Syukur deh, salam yah, buat kekasih lo." tawa Holi.
"Iya, udh denger."
Suara dan wajah Veni muncul mencium Marsel.
"Lo dijalan Hol?" tanya Marsel.
"Iya, lagi bete gue, nggak ada cowok." tawanya.
"Ya udah hati-hati, gue lanjut yah Hol, bye."
Telfon tertutup,
Holi melihat wajah Adrian merah padam,
mendengar kekasihnya bersama pria lain.
"Siapa yang hoax dri.?" tanya Holi.
Adrian tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
Memukul stir mobil sekuat tenaga.
"Anjiiiiing."
ratapnya.
"Santai dong, jangan gitu, masih banyak cewek lebih baik dari dia."
Holi tersenyum.
Mata Adrian memerah, rahangnya mengeras menatap Holi.
"Lo kenal Veni?" tanya Adrian.
"Waktu dia ke Paris gue vc sama Marsel.
Makanya gue tau dia di Paris." jawab Holi santai.
"Lo taukan perasaan gue?"
tanya Adrian kesal.
"Mana gue tau, nggak urusan gue."
kekeh Holi, Adrian makin kesal.
"Lo mau minum wine ama gue?" tawar Holi.
"Hmm, gue baru kenal ama lo, males, lagi nggak mood."
jawab Adrian ketus.
"Bego lo, marah-marah nggak jelas karena cewek, bagus havefun,
toh doi juga lagi havefun."
sindir Holi.
"Oke, gue nggak tanggung jawab kalau lo gue unyek-unyek lo malam ini."
kesal Adrian.
Holi terkekeh mendengar Adrian.
"Kita lihat aja, apa lo punya nyali buat ngunyek gue, hahahaha."
Holi tertawa lebar.
'Ni cewek nekat yah.'
gerutu Adrian dalam hati.
Melajukan kecepatan menuju hotel Holi.
Cheeeers...
"Jomblo ketemu jomblo." tawa Holi.
Adrian meminum tanpa henti.
Memesan beberapa botol menghilangkan rasa kecewanya.
Adrian menangis sendiri, tertawa dan bicara sendiri.
Wajahnya memerah seperti udang rebus.
Holi meninggalkan Adrian terkekeh.
Adrian sendirian di ruang tamu, melanjutkan minumannya.
Holi memilih istirahat..
Adrian berteriak menyebut nama Fene, Adriana, maratapi nasibnya sangat menyedihkan.
Lebih sedih dari film India, hahaha.
Adrian tertidur di sofa tanpa memperdulikan dimana dirinya.
Pagiiii..
Holi bangun menggeliatkan tubuh langsingnya,
membuka pintu kamar mendapati Adrian masih tertidur, dengan wajah sembab.
"Dri."
Holi mengusap wajah Adrian.
'hmmmm, tampan.'
senyumnya.
"Dri, Adrian, wake up."
Holi menepuk lembut pipi Adrian.
Adrian membuka matanya sekalian mengusap.
"Aduuuuh, sakit banget kepala gue."
rintih Adrian.
Holi menunjuk lima botol minuman diatas meja tamu geleng-geleng kepala.
"Gue balik."
Adrian berdiri, tapi sayang Adrian pitam, disambut tubuh Holi.
Mata mereka bertemu, tubuh Adrian ada diatas Holi yang menyamping.
Holi menatap Adrian pasrah.
Menanti bibir Adrian dihadapannya.
Adrian menempelkan bibirnya pada bibir Holi, mencium lembut,
Holi menyambut ciuman Adrian.
Mengalungkan tangannya keleher Adrian.
Beberapa menit mereka terhanyut, tersentak mendorong tubuh Adrian,
"hmm, sory."
Holi gugup.
"Ya, sory.
Gue terbawa suasana, gue balik, makasih udah ngebuka mata gue, gue permisi."
Adrian berlalu, sadar bahwa harus menyelesaikan hubungannya.
"Shiiiiit, "
geramnya,
"gue harus balik."***