Kenangan Bram dan Fene...
Mata Adrian tertuju pada Jasmine, menggunakan baju hangat.
Seketika berlari kearah Adrian, memeluk erat tubuh suaminya.
"Kangen..." isak Jasmine pada Adrian.
"Sama, aku juga kangen ama kamu."
Adrian mengecup pelan kening Jasmine.
"Iya... lama banget aku jauhan ama kamu, aku kan kangen.
Pak Kevin aja yang menghibur aku di kantor ama dirumah." racau Jasmine membuat Adrian terkekeh.
"Haaaaiiii bro... terimakasih sudah menemani bini gue."
Adrian memeluk Kevin, beralih pada Nichole.
"Gimana kabar kamu dri?" tanya Nichole sangat lembut.
"Baik..."
Adrian tersenyum memeluk Jasmine, membawa Jasmine mendekati Bram dan Fene.
"Mba Fene..."
Jasmine berlari mengejar Fene, memeluk, mengelus perut buncitnya.
"I miss you mba."
Fene membalas pelukan Jasmine.
"I miss you too..."
Fene melepas pelukan Jasmine.
Beralih memeluk Nichole dan Kevin.
"Willcome zu Berlin... wie getsh."
Bram menggunakan bahasa deutch sambil tertawa.
"Alles gutte..." tambah Kevin terkekeh.
"Hayuuuk lah kita jalan... gue udh kangen banget ama bini gue." kekeh Adrian mendekap tubuh Jasmine dalam pelukannya.
Sepanjang jalan, Adrian mengecupi wajah Jasmine, tanpa memperdulikan orang sekitar.
"Hadeeeeh.... simesum ketemu yaaah gini ni." kekeh Kevin ngeloyor kepala Adrian.
"Ajeeeeb kepala yah Vin, gue remas ntar leher lo."
Adrian melepas pelukannya dari Jasmine, mengejar Kevin sambil merangkul kepala Kevin.
"Kangen tau ama bini gue." bisiknya.
"Iya... lo aja yang punya bini, kita nggak punya." tawa Kevin.
"Heeeeiiii.... udah aaaagh... kayak anak kecil, ntar diketawain anak gue lo kalian berdua."
Fene memukul gemes Adrian dan Kevin yang berlarian kearah Fene dan Bram.
"Kecengklak bini gue, gue hajar yah."
Bram melindungi tubuh Fene dari candaan mereka.
Tapi apa daya, sangking bahagianya Adrian dan Kevin tanpa sengaja mengenai bahu Fene,
Fene mau melangkah kehilangan keseimbangan tubuhnya.
BHUUK....
Fene terjatuh...
"Sayaaaaaaaang...."
Kepanikan Bram memuncak seketika.
Menyambut tubuh Fene, tapi apa daya,
Fene lebih dulu menyentuh lantai bandara.
"Aaaaaaagh.... Bram...."
Fene meringis kesakitan.
"Feeneeee...."
Adrian panik seketika menggendong tubuh Fene.
"Fen... sory Fen... i'm so sory..."
Kevin tampak panik.
Fene tak menjawab, hanya meringis kesakitan menggenggam jemari Bram dalam gendongan Adrian menuju mobil mereka.
Disusul oleh Nichole dan Jasmine tampak sangat kawatir.
Fene terus merintih saat perjalanan kerumah sakit.
"Sayang..."
Bram menatap wajah Fene yang terus meringis kesakitan.
"Dari tadi gue bilangin jangan terlalu bahagia, gini jadinya kan?" bentak Bram.
Adrian dan Kevin hanya terdiam, merasakan kepanikan Bram.
"Kenapa-napa ama anak dan bini gue, lo tanggung jawab." sarkas Bram.
Wajah Bram memerah melihat Fene terus meringis.
Saat tiba dirumah sakit, Adrian membuka pintu mobil, menggendong tubuh Fene.
Ada cairan yang mengalir bercampur darah.
"Dokter.... lakukan yang terbaik." perintah Bram memohon.
"Maafin gue Bram."
Adrian merasa bersalah pada Bram dan Fene.
Melihat Fene dibawa ke ruangan untuk dilakukan pemeriksaan.
"Hmmm.. gue panik. Fene, Dri."
Mata Bram berkaca seketika.
"Sory bro." tunduk Kevin.
Kevin dan Adrian benar-benar merasa bersalah.
Edward datang di temani Katty.
"Bagaimana Fene Bram?"
Kecemasan terpancar dari wajah Edward.
"Sedang dilakukan tindakan, dad." tangis Bram.
"Tenang dulu."
Edward menepuk pundak Bram berusaha menenangkan.
Adrian dan Kevin kembali duduk dikursi.
Jasmine dan Nichole hanya diam, duduk bersebrangan dengan suami mereka.
Wajah Bram masih tampak panik.
Tidak berapa lama, dokter keluar.
Memanggil Bram.
"Pak Bram..."
Dokter membuka masker wajahnya.
"Gimana keadaan Fene dokter?"
"Ibunya mengalami kontraksi dan pendarahan tapi jalan masih belum terbuka.
Apakah kita melakukan secsio caesar pak Bram? ini urgent, harus dilakukan, karena kondisi Fene mulai tidak stabil, Fene shock."
"Lakukan yang terbaik untuk Fene dokter,
bisakah saya menemani Fene dok?" mohon Bram.
"Bisa pak, silahkan."
Dokter membuka pintu.
"Gue ikut Bram."
Adrian teriak dari arah belakang Bram.
"Lo tetap disana, jangan ganggu Fene." perintah Bram, tapi sayang Adrian lebih dulu masuk ke ruangan Fene.
Adrian menatap Fene menggunakan selang oxigen dan beberapa alat.
"Fen... maafin gue." tangis Adrian pecah, saat melihat kondisi Fene.
Bram menggeram saat melihat Adrian menggenggam jemari Fene.
"Keluar lo!!" bisik Bram menggeram.
"Gue cuma sebentar Bram." isak Adrian sambil berbisik.
"Dri... everythink is oke... cuma sakit dikit doang."
Suara lembut Fene terdengar.
"Kuat yah Fen... i love you."
Adrian mengecup kening Fene.
Bram spontan menahan bahu Adrian,
"keluaaaar.... atau gue hajar lo disini." geram Bram.
Merasa Adrian terlalu berlebihan.
"Bram... anak kita." tangis Fene pecah seketika.
Adrian berbalik mendengar suara tangisan Fene, ada sesuatu yang menusuk di dalam lubuk hati Adrian.
"Adrian, silahkan tinggalkan ruangan ini yah.
Karena kami akan membawa Fene ke ruang operasi."
Senyum dokter yang biasa menangani keluarga Edward.
"Lakukan yang terbaik dok." isak Adrian dengan suara serak.
"Keluarlah Dri, gue disini untuk Fene." sinis Bram.
Adrian melangkah keluar, di sambut Edward dan Jasmine.
"Gimana mba Fene beib?" tanya Jasmine terlihat panik.
"Mau dibawa ke ruangan operasi." pelukan Adrian mengarah seketika ke Edward.
"Dad... Maaf kan aku." tangis Adrian pecah.
"Sudahlah... tenang, ini kecelakaan, tidak ada yang menduga, kami juga kaget mendengar berita Fene terjatuh, semoga semua baik-baik saja."
Edward mendekap tubuh Adrian.
Kevin juga mendekat pada Edward.
Drrrrt....drrrrt...
"Hanz."
Bisik Edward.
"Ya."
"Dimana kalian? aku dan Irene sudah di Berlin." tegas Hanz pada Edward.
"Rumah sakit Vaidam Health." jawab Edward.
"Oke."
Edward menutup telfonnya.
"Kita akan menunggu Hanz disini."
Edward duduk di kursi sebelah Adrian.
Sementara Nichole, Katty dan Jasmine duduk di hadapan mereka.***