Masih on...
Hanz dan Irene muncul di temani beberapa pengawal.
"Bagaimana keadaan Fene?" panik Hanz.
"Baru masuk ruang operasi, Bram didalam, menemani Fene." jelas Edward.
"Maafin aku pi, mi, aku nggak sengaja." tangis Adrian.
"Kita tunggu kabar dulu, semoga tidak terjadi hal yang membahayakan."
Irene tampak panik, menggenggam tangan Hanz, bersandar di bahu Hanz.
Lebih dari 1 jam.
Bram ditemani dokter spesialis keluar secara berbarengan.
"Pi!" tangis Bram memeluk Hanz.
"Gimana Fene Bram?"
Hanz panik, melihat Bram masih menggunakan baju hijau pasca menamani Fene.
"Kami memberi yang terbaik untuk Fene, semoga Fene segera siauman.
Anak Fene sudah lahir berjenis kelamin laki-laki, beratnya 1,3 kilo
saat ini di NICU.
Kondisi Fene koma, Fene mengalami shock, dan tekanan darah tidak normal, pompa jantungnya juga mengalami penurunan."
Dokter menepuk bahu Edward.
"Lakukan yang terbaik untuk anak dan cucuku Lois." mohon Edward.
"Pasti, Fene segera dibawa keruangan VIP, dilantai 2, khusus keluarga mu Edward." jelas Lois.
"Terimakasih om."
Adrian menatap dokter Lois.
"Sama-sama, oke Bram, Adrian, om tinggal yah, mungkin sudah dibawa ke atas." senyum Lois.
Bram, Adrian, dan Edward menuju ruangan Nicu melihat anak Fene dari kejauhan.
Sementara Jasmine, Hanz, Irene, Nichole dan Kevin menuju ruangan Icu tempat Fene terbaring.
"Maafin gue Fen, nggak nyangka semua akan terjadi begini." isak Kevin dibahu Nichole.
"Sudah... kita berdoa saja, semoga semua baik-baik saja." usap Nichole pada punggung Kevin.
Kevin berdiri melihat wajah Fene terbaring dengan mata tertutup,
"Fene..."
Teriak Kevin mendekati Fene masih menggunakan alat tercanggih di tubuhnya.
"Tenang yah Vin, Fene masih belum sadar, semoga lekas siuman." ucap dokter Lois.
Edward, Bram, dan Adrian menghampiri Fene.
Melihat Fene secara bergantian. Adrian terus menggenggam jemari Fene.
"Jangan lama-lama pegang Bini gue." sindir Bram.
"Maafin gue Bram, gue nggak bermaksud menyakiti kalian."
Suara lirih Adrian menggema diseisi ruangan.
"Jangan bahas lagi, semoga semua baik-baik saja, anak gue sedang berjuang, Fene juga berjuang, kita tenang dulu." tegas Bram.
"Gue mohon maafin gue, gue nggak nyangka rindu kita akan berakhir seperti ini Bram." isak Kevin di bahu Bram.
"Udah, kita sama-sama berdoa saja." senyum Bram.
Kevin duduk di samping tubuh Fene.
Menggenggam jemari Fene.
Melakukan hal yang sama dilakukan Adrian.
"Fen, bangun sweety.
Kevin disini buat lo.
Kevin sayang sama kamu Fen. Jangan lama-lama tidurnya.
Tidur aja kamu cantik banget Fen... Please... wake up Fen.
Ponakan gue nunggu lo Fen, minta nenen." tangis Kevin sambil mencium punggung dan tapak tangan Fene.
"Fen... gue sayang ama lo, kita sahabat paling baik Fen, gue selalu jagain lo.
Bangun dong sayang, please, cup cup cup." masih dengan racauan yang sama.
Adrian menggenggam jemari Fene.
Mencium tangan lembut itu, tidak tersisa untuk Bram.
'Sayang... sweety... bangun, buka mata mu, anak kita menunggu kehadiranmu.' batin Bram tertunduk.
"Pak Bram, sabar yah, semoga mba Fene baik-baik saja.
Mba Fene sedang istirahat, dia akan kembali membuka matanya setelah Allah mengizinkan dia untuk kembali pak."
Jasmine mengusap punggung Bram.
Bram memeluk Jasmine yang ada disebelahnya.
"Makasih yah Jasmine, kamu memang wanita paling baik." isak Bram.
"Kita sama-sama mendoakan yang terbaik pak.
Saya berharap mba Fene akan segera pulih."
Air mata Jasmine tak terbendung.
"Semoga Fene lekas pulih... dapat bertemu dengan Brian putranya." tambah Bram terus terisak di bahu Jasmine.
"Brian, Brian Lincoln?" tanya Jasmine serius menatap wajah Bram.
"Ya... Brian Lincoln."
Bram mengusap wajahnya.
"Saya akan meminta orang kantor melakukan syukuran dan doa bersama untuk mba Fene dan keponakan saya pak.
Saya akan mengirim pesan ke mba Veni."
Senyum Jasmine.
"Terserah, saya sudah tidak sanggup bicara, tentu yang terbaik." ucap Bram seraya duduk di samping Hanz dan Irene.
Pengawal Edward sudah menjaga ketat keluarganya.
Lantai 2 hanya khusus keluarga Lincoln dan Parker.
Siuaman...
Kepulangan Adrian dan Kevin dari Swiss, tidak merubah keadaan Fene.
Bram terlihat sangat frustasi.
Fene tak kunjung membuka matanya.
"Sweety, wake up, please open your eyes." isak Bram, mengecup punggung tangan Fene.
Dokter Lois meminta pada Bram, agar senantiasa bersabar.
Kondisi seperti ini tidak dapat diprediksi.
Adrian dan Kevin merangkul Bram saat tiba dirumah sakit.
"Gimana kondisi Fene Bram?" tanya Adrian masih menyiratkan kesedihan.
"Yaaaah... beginilah, tidak ada perkembangan." rundung Bram.
"Jasmine dimana?"
Adrian tidak melihat keberadaan Jasmine.
"Jasmine masih di Paris bersama Nichole, besok baru kembali." jelas Bram.
"Ooogh... iya, kemaren Jasmine nelfon gue, tapi nggak gue jawab, dan belum sempat nelfon lagi." tunduk Adrian.
"Gue nemanin Fene dulu yah."
Adrian meminta izin pada Bram.
Bram mengangguk, berlalu keluar mengambi expreso pesanannya yang dibawa Hanz.
"Fen... gue datang."
Adrian mengecup kening Fene penuh kelembutan.
"Bangun Fen... gue kangen bercanda ama lo, gue sayang banget ama lo Fen, jangan tinggalin gue, gue belum siap kehilangan lo, please Fen, buka mata lo, gue ada disini buat lo. Fen... lo pengen ngeliat Brian kan sayang? ingat kita dari dulu selalu sama-sama, kasihan Bram Fen, kusut banget dia, jelek banget wajah kami, jelek banget tanpa lo Fen.
Fene... bangun... gue kangen, gue cinta sama lo." isak Adrian tak henti-henti di telinga Fene.
"Fene... please... gue kangen banget."
Adrian memeluk tubuh Fene, mencium berkali-kali pipi Fene.
Tanpa disadari Adrian jari Fene mulai menunjukkan reaksi.
Air mata Fene mengalir dari sudut mata.
Memberi respon yang baik bagi tubuhnya.
"Fen... gue mencintai lo Fen... sangat mencintai lo, bangun Fen, untuk Bram, Brian.
Gue bener-bener minta maaf ama lo, karena gue sudah buat lo jadi begini."
Tangis Adrian makin menjadi.
Nafasnya terasa sesak.
Selama bersahabat dengan Fene, tidak pernah Adrian menangis meratap seperti ini.
Bibir Fene bergerak.
Saat Adrian mengecup bibir Fene yang kering dengan lembut.
"Dri.... Dri... gue..."
Wajah Adrian terlonjak kaget.
"Braaaaam... Fene Bram, Fene siuman."
Bram mendengar teriakan Adrian berlari menghampiri Fene, perlahan membuka mata.
"Sweety... kamu sudah bangun?"
Bram menciumi wajah Fene.
Menekan tombol agar dokter Lois memeriksa Fene kembali.
Dokter Lois berlari, menghampiri Fene.
Memohon pada Adrian dan Bram menunggu diluar.
"Alhamdulilah Fene siuman."
Adrian memeluk Bram.
"Hmmm... sebentar, lo apain bini gue."
Curiga Bram menyeruak seketika.
"Gue kecup doang bibirnya, yang penting Fene siuman."
Jujur Adrian dalam pelukan Bram.
"Kalau Fene nggak koma, udah gue hajar lo yah adek durhaka." geram Bram.
"Hmmmm."
"Syukurlah Fene membaik."
Senyum Kevin.
"Gue call Nichole dulu."
Kevin berlalu keluar ruangan.
Tak lama, dokter Lois membuka tirai, dengan wajah sumringah bahagia.
"Fene sudah siuman, sebentar lagi sudah boleh melihat Brian."
Senyum dokter Lois pada Bram.
Bram menangis memeluk tubuh Fene.
"Makasih Fen... kamu masih mau berjuang untuk aku dan Brian." isaaknya.
"Hmmm... kamu tu yah... aku hanya istirahat, bukan pergi dari kamu."
Fene mengelus punggung Bram yang memeluknya hingga naik diatas kasur.
"Aku kangen kamu sayang."
Bram masih terisak dalam pelukan Fene.
"Sama."
Senyum Fene menatap wajah Bram sambil mengelusnya.
"Daddy mana?" tanya Fene.
"Daddy dan Papi sedang di NiCU menjaga Brian. Pangeran kita sayang."
Bram mengusap wajah dari air mata bahagianya.
"Sweety... kamu udah lapar?"
Adrian menghampiri Fene, membawa semangkuk bubur kentang.***