“Jangan lagi bertanya. Sampai mati mauku masih sama. Hidup dan mati sendiri. Hanya itu yang bisa membuat aku bahagia.” “Baiklah. Sekarang apa yang harus aku lakukan?” “Pergilah! Aku ingin tetap disini. Aku yakin setelah kejadian tadi tidak akan ada lagi yang akan datang menemui aku. Jadi pergilah, Kak. Raihlah bahagiamu. Bukankah setelah ini kamu akan menikah? Dan satu pesanku. Jagalah istrimu dengan baik. Walaupun kamu dan dia hanya dijodohkan, belajarlah mencintainya. Lupakan Viola. Kamu juga berhak bahagia.” Yuna memutar kursi rodanya dan masuk kembali ke rumah. Di rumah sederhana itu Yuna tinggal dengan dua orang asisten rumah tangga dan satu supir pribadi, yang tidak lain adalah anak dari salah satu asisten rumah tangganya. Yogi tidak bisa lagi berkata apa-apa. Selain mengikuti

