Vanya menarik nafasnya dalam-dalam. Sebelum ia masuk ke kamar Alex. Ia ingin berbicara dengan ayahnya itu tentang keinginannya. “Tumben kamu mencari ayah sampai kesini, Van?” tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop, Alex bertanya. Sebelum menjawab, Vanya lebih memilih untuk duduk terlebih dahulu di hadapan sang Ayah. “Yah… aku ingin segera menikah. Aku akan menerima siapapun pria yang ayah jodohkan untukku. Tapi, aku mohon jangan Gibran orangnya. Karena aku tidak menyukai apapun yang ada padanya. Dan aku tidak ingin orang lain memandang pernikahanku sebagai pengganti kekuasaan.” Perlahan tapi pasti, Vanya berhasil juga menyampaikan keinginannya. Jari-jari Alex yang sedang menari lincah di atas keyboard laptop berhenti. Mendengar keinginan putrinya. “Kamu yakin?” Alex memastika

