Gibran menatap ke dalam manik hitam Vanya. Tatapan yang begitu lembut dan penuh kasih sayang. “Abaikan orang lain. Aku mencintaimu, Van. Sangat-sangat mencintaimu. Jadi tolong. Lihat aku dan dengarkan aku. Kamu berhak bahagia dan aku pun begitu.” Gibran semakin mendekatkan wajahnya. Dalam hitungan detik, kedua bibir mereka saling bertaut. Vanya membeku. Ia berusaha untuk melepaskan ciuman diantara ia dan Gibran. Hal yang baru pertama kali dilakukan dan ibunya selalu mengatakan jangan pernah mendekati hal yang akan menjurus ke arah yang buruk. Namun, Gibran yang telah di kuasai oleh emosi dan rasa takut kehilangan Vanya, menekan tengkuk gadis itu dan memperdalam ciuman mereka. “Mmhh…” Vanya melenguh. Saat Gibran menghisap dalam lidahnya. Pria itu membawa satu tangannya meremas sa

