26. Sandiwara

982 Kata

Jam setengah tujuh pagi, Miller mengetuk pintu rumah Maugy. Dia tersenyum memandangi setangkai bunga mawar hidup yang tadi di belinya di toko bunga. Tiga menit berlalu, pintu belum juga dibuka. Sementara itu, Mario bersandar di balik pintu rumah sambil bersidekap. Dia tau siapa yang ada diluar sekarang, ntah kenapa rasanya nggak rela Miller menjemput Maugy untuk pergi kuliah bareng. Biasanya juga bareng dia. Tapi…hati kecilnya meminta untuk mengalah. Bukankah dia yang kedua? Kriek. Pintu terbuka, dilihatnya Miller yang berdiri dengan satu tangan memegang setangkai bunga mawar. Matahari belum tinggi tapi kenapa rasanya panas sekali? “Ada Maugy?” Tanya Miller. “Ada.” Jawab Mario dengan senyum tipis. “Boleh gue masuk?” “Boleh.” Mario membuka pintu lebar-lebar, membiarkan Mill

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN