25. Isi Surat

1231 Kata
Untuk Rhe - Puan Kecil yang Teramat Ku Sayang Jauh atau berpisah darimu bukanlah hal yang saya inginkan, Rhe. Jika boleh memilih saya hanya ingin terus bersama kamu, membawa kamu ke dalam setiap urusan saya tetapi rasanya saya tidak mungkin melakukan itu karena dengan begitu sama saja saya membawa kamu ke dalam masalah. Rhe, maaf ya untuk beberapa waktu kita tidak bisa bertemu, sungguh rasanya sangat berat untuk saya, tetapi saya harus tetap melakukannya karena ada urusan yang sangat penting yang harus saya selesaikan, Rhe. Rhe, saya harap selama kita tidak bertemu, kamu harus menjadi mandiri ya, Rhe. Kamu harus berani mengatakan tidak untuk hal yang tidak kamu inginkan, berani melawan orang-orang yang mencibir mu, bahkan lelaki jalang yang barangkali mencoba untuk menggoda mu. Rhe, jujur saja rasanya saya sangat tidak tenang jika harus membiarkan mu melakukan segalanya sendiri, membiarkan mu melawan orang-orang yang mencoba menyakitimu, sungguh Rhe sangat sulit rasanya, tetapi balik lagi saat ini memang harus begitu sampai segala urusan saya selesai. Rhe, kamu jangan khawatir ya, saya pasti akan selalu mengingat kamu saya tidak akan mungkin bisa melupakan kamu karena hati saya sudah sepenuhnya milik kamu, dan saya harap kamu juga begitu ya, Rhe. Rhe, saya pernah janji sama kamu 'kan kalau saya akan terus bersama kamu dan terus melindungi kamu sebisa saya dan saya akan tetap menepati janji saya itu, Rhe. Kamu tahu tidak, walaupun kita tidak bertemu tetapi saya akan tetap mengawasi kamu sebisanya, saya tidak akan membiarkan kamu melewati semuanya sendiri, Rhe. Walaupun hanya dari kejauhan yang pasti saya akan terus melindungi kamu. Rhe, jika nanti kamu melihat saya di jalan atau di sekolah atau di mana pun, namun saya tidak menemui kamu saya harap kamu mengerti ya, Rhe. Saya sengaja melakukan itu, karena jika saya menyapamu itu akan membuat pertahanan saya runtuh dan saya tidak bisa menyelesaikan urusan saya lagi karena fokus saya kembali pada mu. Rhe, percayalah untuk melakukan semua ini membutuhkan usaha yang keras, saya harus bertengkar dengan hati dan otak saya hingga akhirnya memilih keputusan ini dan saya harap kamu mengerti ya, Rhe. Rhe, mungkin itu saja yang saya katakan karena saya tidak bisa berlama-lama sebab ada urusan yang harus selesaikan. Rhe, saya mohon mengerti saya, ya. Setelah semua urusan ini selesai saya akan langsung menemui kamu, itu janji saya, Rhe. Salam Sayang dari Pria mu Gar :::: Tanpa disadari air mata ku menetes begitu saja, bukan hanya melalui ucapan ternyata Gar juga bisa membuat ku luluh dengan tulisannya. Pria itu selalu punya berjuta kata yang berhasil membuat hati ini luluh bahkan ketika aku sedang sangat marah padanya. Sungguh, aku tidak mengerti dengan diriku yang begitu mudah luluh dengan setiap ucapan Gar, padahal aku sudah mencoba beberapa kali agar tidak mudah luluh, namun entah mengapa aku tidak bisa, seperti ada hal yang menarik ku sehingga terus mengikuti setiap perkataan Gar. Jujur saja, sebenarnya bukan tanpa sebab aku bersikap seperti itu, karena setelah sekian lama mengenal Gar lelaki itu selalu menepati setiap perkataannya, bukan hanya omongan belaka layaknya kebanyakan pria lain, ia selalu membuktikan dan hal itu lah yang membuat ku mempercayainya dan seterusnya akan begitu. Sekali pun ada satu perkataan yang tidak ia tepati, aku yakin ia begitu juga demi kebaikan ku dan dirinya. Aku kembali memainkan kotak musik yang diberikan Gar, ternyata musik-musik tersebut sangat enak di dengar, membuat hati ku terasa tenang, Gar selalu tahu apa yang ku butuhkan. Tiba-tiba ponsel ku berbunyi menandakan ada satu pesan masuk, tanpa menunda aku langsung mengambil ponsel tersebut barangkali itu pesan dari Gar. Setalah melihatnya ternyata pesan tersebut bukan dari Gar, melainkan dari Bima. Bima : Rhe, jalan, yuk. Begitulah pesan dari Bima. Untuk beberapa saat aku tidak membalas pesan tersebut, sebenarnya tangan ini ingin sekali membalasnya dan menerima tawarannya, karena saat ini aku juga merasa sedikit jenuh dan perlu sedikit hiburan. Namun, mendadak aku mengingat tulisan Gar tadi yang mengatakan bahwa Gar berharap agar aku terus menjaga hati untuknya. Sejak awal kenal dan dekat dengan Bima, aku juga sudah mewanti-wanti karena jika Gar mengetahui hal ini pasti lelaki itu akan sangat kecewa pada ku, terlebih Bima datang disaat aku membutuhkan sosok pengganti seperti Gar. Dengan begitu sama saja aku mencari pengganti ketika Gar tidak ada dan itu pasti akan sangat menyakiti Gar sebab aku mengingkari janji ku padanya. Tak lama ponsel ku berbunyi lagi, kini bukan sebuah pesan masuk yang muncul melainkan panggilan telepon dari Bima. Aku tidak langsung menjawab telepon tersebut, justru malah melihat benda tersebut yang sedang berbunyi hingga berhenti dengan sendirinya. Setalah beberapa detik senyap, lagi-lagi ponsel ku berbunyi, Bima seperti tidak mau menyerah ia terus meneleponi ku. Merasa jenuh dengan suara ponsel tersebut, akhirnya aku memilih untuk menjawab panggilan itu. "Hallo, Rhea, kamu sedang apa? Kenapa tidak membalas pesan ku?" tanya Bima dari sebrang telepon. "Um, sorry ya, Bim, aku tadi tertidur. Dan aku juga gak bisa terima ajakan kamu karena aku mau istirahat." "Kamu sakit, Rhea?" "Tidak, Bim, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit kelelahan." "Kamu masih sedih, Rhea?" "Tidak, Bima. Aku sudah jauh lebih baik." "Yasudah kalau begitu, selamat istirahat, Rhea." "Terima kasih, Bim." Lalu panggilan tersebut terputus. Akhirnya aku dapat menghela napas lega, sejujurnya aku tahu tidak seharusnya berbohong seperti ini, tetapi mau gimana lagi aku harus melakukan ini agar tidak menyakiti Gar. Setelah beberapa menit bertengkar dengan pikiran ku, akhirnya aku membaringkan tubuh di kasur, menatap langit-langit kamar sambil mengingat memori yang pernah ku lewati dengan Gar. Sungguh, aku merindukan momen tersebut, tetapi tentunya aku lebih merindukan orang yang ada pada momen-momen tersebut— yaitu Gar. Saat ini aku hanya bisa berharap agar segala permasalahan yang di alami Gar dapat secepatnya selesai, agar ia bisa kembali bersamaku. Mungkin ini terkesan terlalu egois, karena aku hanya mementingkan diriku tetapi nyatanya memang begitu aku sungguh tidak bisa berpisah dengan Gar dan ku harap Gar juga begitu. Disaat sedang melamun seperti ini, tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala ku. Sebenarnya bukan sebuah ide, melainkan sebuah usaha. Tangan ku beralih mengambil ponsel yang sudah tergeletak di kasur, lalu mengetikkan nama Gar di kontak ku, setelahnya mengetikkan beberapa pesan untuknya. Halo, Gar, kamu apa kabar? Aku harap kamu sehat, ya. Gimana urusan kamu? kapan selesainya? Gar, sungguh aku sangat merindukanmu. Aku ingin cerita, Gar, sekarang aku sudah berani pergi sendirian, bahkan saat ini aku pergi ke sekolah dengan bus hehe. Oh iya, tadi sewaktu di bus aku seperti melihat kamu, aku tidak tahu itu kamu atau bukan yang pasti wajahnya sangat mirip denganmu. Gar, jaga kesehatan kamu, ya. Aku akan selalu menunggu mu disini. Oh iya, tadi aku baru membaca hadiah dan surat dari mu, sungguh aku sangat suka dengan kotak musiknya dan tentunya surat yang kau tulis untukku. Gar, kamu tahu tidak, tadinya aku sangat marah padamu karena tadi aku memanggil mu tetapi kamu malah pergi tanpa melihat ke arah ku sedikit pun. Tetapi, ketika aku membaca surat mu itu, entah kenapa aku langsung luluh, perasaan marah itu juga hilang dengan sendirinya. Gar, kenapa sih, kamu selalu berhasil meredakan amarahku hanya dengan kata-kata mu. Memang, ya, selain peramal ternyata kamu juga jago menghipnotis ku hehe:) Sudah deh itu saja, semoga kamu baca, ya, Gar. Dan satu lagi, cepat kembali, aku merindukan mu. Salam sayang Rhe— Puan Kecilnya Gar Setelah mengetik pesan tersebut aku langsung mengirimnya pada Gar. Aku sangat berharap Gar membacanya, tidak perlu membalas hanya membaca saja sudah membuat ku sangat senang. Karena apa pun itu jika sudah berhubungan dengan Gar pasti akan membahagiakan. [][][][]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN