26. Paket Tanpa Nama

1049 Kata
Semenjak Gar pergi demi urusannya entah kenapa aku merasa separuh dari semangat ku hilang, begitu pun dengan ayah. Biasanya ketika Gar ada disini, main ke rumah, dan mengobrol dengan ayah, aku melihat wajah ayah yang sangat berseri, ia terlihat semangat melakukan pekerjaan apa pun karena Gar selalu menemani ayah dan membantu setiap pekerjaan ayah. Sebenarnya sudah beberapa hari ini juga ayah bertanya mengenai Gar dan pertanyaannya selalu sama— "Apakah urusan Gar sudah selesai? Kapan dia main kesini lagi?" pertanyaan yang sama terus di tanyakan ayah padaku setiap harinya. Dan jawaban yang sama pula yang selalu ku berikan kepada ayah, "Rhea tidak tahu, Yah. Gar belum ada mengabari." selalu begitu. Seperti hari ini, ku lihat ayah sedang duduk di teras rumah, dengan segelas kopi dan gorengan pisang yang terletak di meja. Kopinya masih penuh, goreng pisangnya juga masih banyak seperti tidak tersentuh. Aku mendatangi ayah lalu di sebelahnya. "Ayah ..." panggilku. Ayah yang sedang melamun lantas tersentak kaget. "Rhea, sudah lama kamu disini?" tanyanya. Tuh kan benar ayah melamun. "Enggak, kok, Yah. Baru aja." Ayah hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Ayah melamun, ya? Pikirin apa, Yah?" "Tidak kok, Rhea. Ayah hanya mencari angin." "Ayah bohong, Rhea tau loh kalau ayah sedang melamun." Untuk beberapa saat ayah tidak menjawab, ia justru menyeruput kopinya yang sedari tadi tak di sentuh. "Urusan Gar sudah selesai? Dia sudah menghubungi kamu?" Kali ini pertanyaannya sedikit berbeda, namun maksudnya tetap sama. "Belum, Yah. Ayah kenapa terus bertanya tentang Gar? Padahal kan Abah ayah Rhea bukan Gar," ucap ku bergurau. Ayah tersenyum tipis, "Tidak papa, ayah hanya tidak tega melihat putri kesayangannya ayah sedih seperti ini." "Siapa yang bilang Rhea sedih? Rhea nggak sedih, kok. Lagian 'kan Gar juga pergi karena ada urusan bukan pergi untuk meninggalkan Rhea, toh nanti dia bakalan kembali kok, Yah," jelas ku. Entah lah, aku sendiri bahkan tidak terlalu yakin dengan ucapan ku sendiri, aku mengatakan ini agar ayah tidak bersedih dan tidak mengkhawatirkan ku lagi. "Ayah tahu kamu berbohong, Rhea—" "Permisi!" belum sempat ayah melanjutkan ucapannya, tiba-tiba seseorang datang dengan membawa sebuah kotak di tangannya. "Iya? Cari siapa ya?" tanya ku. "Apakah benar ini rumah Rhea Azzaela Nadhifa?" "Iya benar saya sendiri." "Saya ingin mengantar paket atas nama mbak nya," ucap sang kurir. "Paket apa ya, pak? Saya enggak ada mesan apa-apa." "Saya juga kurang tahu mbak, karena kan tugas saya hanya mengantarkan." "Kalau boleh tahu nama pengirimnya siapa ya, Pak?" Sang kurir melihat kotak tersebut, untuk memastikan siapa pengirimnya. "Disini namanya hanya Tuan saja, tidak ada diikuti nama lain," ucap sang kurir. Aku dan Ayah mengerinyit bingung, siapa yang mengirim paket itu? Kenapa tidak memberitahu namanya dan malah memilih misterius seperti ini. "Pak, kan begini saya nggak ada mesan apapun dan nama pengirimnya juga nggak jelas. Kalau paketnya tidak saya ambil gimana? karena saya takut isinya malah aneh-aneh gitu," ucapku. "Gimana, ya, mbak. Kalau saya balikkan yang ada saya yang kenak marah. Gimana kalau Mbak ambil saja, terus untuk selanjutnya terserah mbak. Mau di buang atau di simpan semuanya ada di mbak." "Yasudah Rhea ambil saja, kasihan mas nya sudah capek mengantar malah di tolak," sahut ayah. "Tapi, Ya—" "Nanti langsung kita buka disini, ayah temenin," potong ayah. Aku menurut, yasudah lah mau gimana lagi. Omongan ayah ada benarnya juga, kasihan kurir yang sudah capek-capek kesini tetapi malah di tolak. Tanpa mengatakan apapun lagi aku mengambil paket tersebut, menandatangani tanda terima lalu mengucapkan terima kasih. Begitu pun dengan sang kurir, setelah mengucapkan terima kasih ia langsung berpamitan pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. Aku dan ayah saling bertatapan, masih bertanya-tanya siapa pengirim paket tersebut. "Kira-kira ini dari siapa ya, Yah?" tanyaku. "Mana ayah tahu, ayah kan tidak kenal sama teman-teman kamu. Yang ayah tahu hanya Gar—" saat menyebutkan nama Gar mata ayah langsung berbinar, "Gar, ya, Rhea, mungkin itu dari Gar," lanjut ayah lagi. "Hah? tidak mungkin, Yah. Gar kan sedang sibuk, mana sempat dia membuat paket seperti ini." "Terus kalau bukan dari Gar dari siapa lagi?" Aku hanya menggeleng pelan. Sungguh aku sangat penasaran siapa yang mengirim paket tersebut dan apa isinya. Sebenarnya aku sangat ingin membukanya tetapi aku takut isinya malah bom atau barang lain yang menakutkan. "Coba buka, Rhea. Mana tahu di dalamnya ada nama pengirimnya," ucap ayah lagi. "Tapi, Yah, kalau isinya bom gimana?" "Mana mungkin, Rhea. Kan sebelum di kirim kesini pihak jasa pengiriman sudah memeriksa barangnya begitu pun dengan kurirnya. Jadi tidak mungkin isinya aneh-aneh." Aku terdiam sejenak, benar juga kata ayah. Lagi pula kan yang mengantarkan paket ini kurir resmi, bukan abal-abal atau malah seperti di tv yang meletakkan diam-diam di depan rumah. Ah, ternyata aku terlalu sering menonton sinetron sehingga menjadi parnoan seperti ini. Akhirnya aku membuka paket tersebut, walaupun ayah meyakinkan ku tetapi tetap saja aku masih sedikit takut. Dengan pelan aku membuka kertas yang membungkus kotak tersebut, mewanti-wanti jika ada sesuatu yang aneh di dalamnya. Ketika kotak tersebut sudah sepenuhnya terbuka dan isinya mulai terlihat; dua kotak s**u uht, beberapa roti, cokelat, dan semangkuk salad buah, serta ada kertas kecil di dalamnya. Aku langsung mengambil kertas tersebut ternyata disana ada beberapa bait yang ditulis tangan oleh sang pengirim. Semoga bisa menghilangkan rasa lelah kamu, ya. Jangan lupa di habiskan. -Bimbim- Begitu membaca surat tersebut, aku langsung tersadar. Ah, ternyata itu dari Bima. Kenapa aku bisa melupakannya dan malah mengira bahwa itu adalah dari Gar. "Apa isi suratnya?" tanya ayah penasaran. "Ha? Em, enggak kok, Yah. Ternyata ini dari teman Rhea," ucapku gugup. "Siapa? Cowok?" "Umm, iya, Yah." "Yang hari itu pernah ke sini?" tanya ayah lagi. aku menjawab dengan anggukan. Ayah hanya mengangguk-anggukan kepalanya. "Rhea ..." panggil ayah pelan. "Iya, Ayah?" "Selama Gar belum kembali, jangan dekat dengan pria lain dulu, ya. Tunggu Gar kembali, minta kejelasan darinya, dan setelah semuanya jelas minta pendapat darinya," jelas ayah. aku hanya terdiam. Aku tahu maksud ayah mengatakan hal tersebut, sebagai anak perempuan memang tidak seharusnya aku mau dekat dengan pria mana saja terlebih saat ini aku juga sedang berkomitmen dengan seseorang jadi tidak sepatutnya seperti ini. "Iya, Ayah. Rhea paham kok, Rhea dan Bima juga tidak terlalu dekat dan Rhea juga menjaga jarak dengannya karena Rhea menghargai Gar," ucapku. Ayah tersenyum, ia pasti tahu bahwa putrinya ini bisa menjaga dirinya terutama kehormatannya. Sebab sedari kecil ayah selalu mengatakan hal tersebut dan aku juga akan selalu mengingatnya. [][][][]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN